
Sore hari Ratih sedang bersantai menikmati pemandangan kembaran gunung yang nampak jauh di seberang sana. Ratih membaringkan badannya di kursi santai dengan tangan memegang jus melon kesukaannya, kini dia berada di taman belakang mansion. entah kenapa hari ini Ratih terasa sangat ingin bermalam malas terasa badannya sangat butuh istirahat.
"Han... kenapa jus ini terasa sangat asin." gerutu Ratih seraya mencibir mulutnya.
"Benarkah nyonya." sahut Han dengan nada paniknya. Ia langsung segera mengambil air putih berada di atas meja dan menyodorkannya ke arah Ratih.
Ratih dengan segera meminum minuman yang di berikan Kasim Han terasa lidahnya sangat asin.
"Kenapa kamu menaruhkan garam sih." protes Ratih.
"Maafkan saya nyonya saya kurang hati-hati, saya pantas di hukum. mohon ampuni saya." tutur Han kini berlutut di hadapan Ratih.
"Hey. apa apaan ini jangan berlutut padaku cepat berdiri." ucap Ratih segera bangkit dari kursi menghampiri Han.
"Maafkan saya nyonya, saya telah melakukan kesalahan fatal saya pantas di hukum." tutur Kasim Han kini menundukan kepalanya.
"Aku ini cuma ke asinan buka keracunan." gerutu Ratih.
"Cepat bangun jangan berlutut di hadapanku. sudah seperti di kerajaan film cina sana."
"Tapi nyonya."
"Cepat bangun aku tidak menyuruhmu berlutut di hadapanku." perintah Ratih tegas.
"Baik nyonya." sahut Kasim Han sembari berdiri.
"Kenapa kamu sampai berlutut di hadapanku...?? apa ini juga peraturan dari mansion ini..??" tanya Ratih.
"Iya nyonya. jika pelayan seperti kami melakukan kesalahan maka kami harus berlutut meminta maaf." jawab Kasim Han.
"Kalau tidak di maafkan apa akan mendapat hukuman...?? tanya lagi Ratih masih penasaran.
"Jika kami melakukan kesalahan fatal dan tidak bisa di maafkan maka kami akan di asingkan atau kami akan di hukum mati."
Jawaban yang di berikan Kasim Han berhasil membuat Ratih menelan ludahnya dengan sangat kasar." Apa aku juga akan di asingkan atau aku di hukum mati jika melakukan kesalahan. batin Ratih.
"Sayang kamu di sini." ucap seseorang di belakang Ratih.
Ratih pun menoleh ke arah suara." ibu."
__ADS_1
"Sayang kamu ngapain di sini...??" tanya ibu Susi yang kini duduk di kursi yang di sediakan.
"Ratih cuma ingin menikmati pemandangan. cuacanya juga sejuk Ratih sangat suka." jawab Ratih.
"Sayang kemari lah ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan ke padamu." tutur ibu Susi.
Ratih mendekat melangkah mendekati ibu Susi dan langsung duduk di kursi bersebelahan dengan ibu Susi.
"Sayang ibu besok akan pergi ke India. mungkin ibu akan pergi dalam waktu yang lama jadi ibu berharap sama kamu tolong kamu jaga Ricko ya buat ibu. ibu tidak mau sampai Ricko berhubungan lagi sama wanita ular itu. jadi kamu harus terus lengket sama Ricko ya nak, agar kamu terus bisa mengontrol dia. Ricko anaknya sangat keras kepala dia juga sangat posesif sama orang yang ia cintai. ibu takut kalau Ricko akan kembali ke dalam pelukan wanita ular itu." tutur ibu Susi.
"Kenapa ibu harus pergi...??" hanya itu yang terucap di bibir Ratih dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Terdengar ibu Susi menghela nafas kasarnya."Sebenarnya ibu tidak ingin pergi tapi apa boleh buat Amitabh Bachchan memaksa ibu pergi." gerutu ibu Susi.
"M-maksud ibu Amitabh Bachchan p-pemain film India...??" tanya Ratih dengan bibir gemetar dia masih belum mencerna apa yang di katakan ibu Susi.
"Bukan. bukan Amitabh Bachchan yang itu tapi Amitabh Bachchan yang lain." ucap ibu Susi berhasil membuat Ratih mengerutkan keningnya dalam dalam.
"Sebenarnya nama dia itu Satria kulit hitam, ibu sedikit risih dengan nama itu jadi ibu ubah saja namanya menjadi Amitabh Bachchan biar kelihatan keren." sambung ibu Susi lagi seraya menaikan kedua alisnya sambil tersenyum kecil.
"Kenapa tingkah ibu sangat aneh, sudah seperti ABG jatuh cinta saja." batin Ratih.
"Sayang bagaimana pendapatmu apa itu keren...??" tanya ibu Susi sudah tidak sabar ingin mendengar pendapat Ratih.
"Ibu sudah menduga kalau kamu akan mengatakan hal seperti itu. tapi kalau kamu melihatnya nanti kamu pasti akan terkejut sama seperti Tia dulu. Tian mengatakan kalau nama itu kurang cocok tapi setelah ia melihatnya Tias langsung tak berkedip." ucap ibu Susi tersenyum senyum sendiri mengigat kejadian waktu itu.
Pipi Tias langsung merah merona setalah mendengar perkataan ibu Susi dia merasa sangat malu sekarang.
Ratih segera memalingkan wajahnya melihat Tias yang kini menundukkan kepalanya merasa malu.
"Namanya saja sudah sangat aneh apa lagi orangnya." batin Ratih.
"Sayang bagaimana kamu mau kan jaga Ricko untuk ibu...??" tanya ibu Susi karena masih belum mendapat jawab dari Ratih.
"Ratih akan melakukan sebisa Ratih." jawab Ratih kini kembali menatap ibu Susi.
"Terima kasih, kamu memang menantu idaman." ucap ibu Susi memeluk singkat Ratih lalu setelah itu bangun dari kursi.
"Tias ayo cepat kita harus bersiap siap sekarang." ucap ibu Susi seraya menarik tangan Tias dengan cepat dan langsung pergi tampa menunggu sahutan dari Tias.
__ADS_1
"Han..." panggil Ratih dengan pandangan masih terus menatap punggung ibu Susi hingga hilang dari pandanganya.
"Iya nyonya." sahut Han.
"Apa sekarang dunia sudah terbalik...??" tanya Ratih.
"Maksud nyonya." jawab Han tidak bisa mencerna perkataan Ratih barusan.
"Kamu tidak lihat barusan, ibu ibu jaman sekarang sudah seperti ABG saja." tutur Ratih.
"Itu mungkin perasaan nyonya saja." sahut Han.
Ratih hanya menggeleng kepalan mendengar sahutan Han." Ayo kita masuk cuacanya semakin dingin." ajak Ratih.
****
"Vin bagaiman apa kamu sudah mencari dokter operasi plastik...??" tanya Ricko kini berada di dalam mobil dalam perjalan pulang.
"Sudah bos. dokter dalam perjalan menuju ke mansion sekarang." jawab Kevin.
"Tapi kalau saya boleh tau biawak yang mana yang ingin bos bedah..??" tanya Kevin yang sudah dari tadi pertanyaan itu menghantuinya.
"Nanti kamu juga akan tahu biawak mana yang akan aku suruh bedah." jawab Ricko.
"Tapi di mansion tidak ada biawak bos yang ada hanya tokek."
"Ada, dia biawak jadi jadian." ketus Ricko.
"Tapi bos belum pernah ada dokter yang bisa merubah wajah biawak menjadi musang."
"Maka dari itu kita dulu yang menciptakannya lumayan kan nanti bisa masuk on the spot."
"Hahaha....emang mau di buat judul apa bos kalau masuk on the spot...??" tanya Kevin merasa konyol dengan perkataan Ricko barusan.
"Tujuh biawak yang terkenak dobel azab menjadi musang king." jawab Ricko seraya tertawa kecil
"Sudah seperti judul di film emak saya nonton aja bos."
**Bersambung ......
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
Maaf yak udah nunggu lama maklum lah namanya aja lebaran. asik pigi rumah sodara makam kue gratis 😁 kapan lagi coba kalau bukan hati lebaran 🤭🙏🙏🙏**