
"Kali ini aku harus berhasil, kalau tidak semua harapan ku selama ini akan sia-sia." guma Mawar pada dirinya sendiri wanita itu masih saja menatap dirinya di cermin raksasa yang berdiri tegak di samping ranjang tempat tidurnya.
"Perfect." guma wanita itu lagi seraya berputar beberapa kali di depan cermin."Pokoknya kali ini Kevin harus tunduk padaku, aku yakin kali ini dia pasti akan terpesona dengan ku.hemmm." Mawar mengembangkan senyumnya."Tania kamu pikir kamu bisa bersaing denganku ya he, kita lihat saja siapa yang lebih cantik di antara kita dan pastinya siapa yang cantik dialah yang berhak mendapatkan Kevin." Mawar tersenyum sinis.
*****
Di ruangan keluarga.
"Ratih, ibu sudah menemukan nama yang cocok untuk anakmu dan ibu yakin kamu pasti suka." ucap ibu Susi.
"Benarkah, hem tapi kenapa cepat sekali ibu mencari nama untuk cucu ibu. bukankah kita memberikan nama setelah anak ini lahir...??" tanya Ratih.
"Ya ampun sayang tidak apa-apa mencari nama lebih awal lagi pula tidak lama lagi kamu akan segera melahirkan. jadi ibu yang akan menentukan nama untuk cucu ibu nanti." jawab ibu Susi.
"Tapi mas Ricko bilang dia yang akan menamai tidak boleh orang lain."
"Ibu yang akan menamainya percayalah suamimu itu pasti akan suka dengan nama yang ibu berikan. kalau anakmu nanti anak laki-laki maka ibu akan menamainya Joko Mulyono Adiningrat. dan kalau anak perempuan maka ibu akan menamainya Jeng Putri Ayu Adiningrat. baimana bagus kan, itu adalah nama paling bagus." Ibu Susi tersenyum penuh bangga.
Sedangkan Ratih yang mendengarkan nama nama itu mengerutkan keningnya,"Kenapa nama orang Jawa semua." guma Ratih kecil namun sedikit terdengar di telinga ibu Susi.
"Kau mengatakan sesuatu sayang...??" tanya ibu Susi.
"Tidak Bu itu nama yang sangat bagus." jawab Ratih merasa tidak enak jika dia menolak.
"Ibu sudah menduganya kamu pasti sangat suka kan dengan nama yang ibu pilih,Hem. sekarang bagaimana menurutmu Tias apa nama itu bagus...??" kini ibu Susi bertanya pada Tias.
"Bagus sih nyonya tapi, apa nama itu tidak terlalu kolot, sekarang kan sudah zaman modern nyonya kenapa tidak menamainya dengan nama-nama yang keren." jawab Tias mengajukan pendapat.
"Apa kau bilang kolot." Ibu Susi membulatkan matanya penuh.
__ADS_1
"Bukan nyonya, bukan begitu maksud saya." elak Tias.
"Ibu tenang Bu, apa yang di katakan Tias itu benarnya juga Bu. maksud Ratih ini kan sudah dua ribu dua puluh sudah zaman modern masak kita menamainya dengan nama Jawa semua Bu." bela Ratih dia juga sebenarnya ingin mengajukan pendapat.
"Lalu siapa nama yang cocok...??" tanya ibu ibu Susi menatap ke arah Tias.
"Kalau menurut saya sih nyonya, bagaimana kalau anak laki-laki diberi nama Lee Min Ho dan kalau anak perempuan Kim Go Eun.hemm." jawab Tias penuh percaya diri.
"Astaga." Ratih menepuk jidatnya sendiri."Kenapa makin parah."
"Tidak, tidak boleh Lee Min Ho. masak nanti aku mengidolakan cucu sendiri sih. apalagi sampai menghayal dia kan enggak mungkin." bantah Ibu Susi.
"Tapi kan nyonya suka dengan Lee Min Ho." ucap Tias.
"Iya aku suka dengan Lee Min Ho tapi aku tidak suka dia menjadi cucuku tapi aku suka dia menjadi suamiku." sahut ibu Susi keceplosan.
"Aduh kenapa aku sampai mengatakan hal itu." batin ibu Susi.
"Tidak perlu terkejut nyonya muda, pergilah dan lihatlah di kamar nyonya besar anda pasti pasti akan lebih terkejut lagi." ujar Tias menatap ke arah Ratih.
"Tias...." teriak Ibu Susi.
"Mau taru di mana wajahku ini kalau sampai Ratih dan Riko masuk ke kamarku."
*****
"Sudah sampai." ucap Kevin menghentikan mobil di depan kampus.
"Terimakasih kak, maaf aku sudah merepotkan kakak." Tania merasa tidak enak.
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf. Hem, apa nanti siang kau ada janji...??" tanya Kevin.
"Tidak, nanti siang aku tidak ada janji." jawab Tania.
"Kalau begitu tunggu di sini aku akan menjemputmu nanti, kabari aku kalau kamu sudah siap kuliah."
"Memangnya kita mau kemana...??"
"Rahasia."
"Kok rahasia sih kak."
"Rahasia pokoknya tempat itu sangat rahasia."
Tania memanyunkan bibirnya."Kalau tidak di bilang Nia enggak mau pergi." ancam Tania.
"Nanti juga kamu akan tau. udah sana turun nanti kamu telat lagi."
"Aaaahhh kakak enggak seru." Tania berusaha melepaskan sabuk pengaman namun sepertinya tidak bisa. hingga membuat dia kesusahan.
Kevin yang melihat itupun dengan cepat membantu Tania.
Dug...
Dug...
Dug...
Bersambung.....
__ADS_1