Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 90


__ADS_3

Tepat pukul setengah sepuluh siang sebuah mobil Alphard mewah berwarna putih keluar dari mansion. mobil itupun berjalan dengan santainya menelusuri jalan raya, Ratih yang berada di dalam mobil itu menurunkan sedikit kaca mobil mencoba melihat langsung bagaimana padanya jalan raya yang di penuhi berbagai macam mobil dan motor.


Kota yang indah, kota yang banyak di penuhi berbagai gedung pencakar langit tak terhitung jumlahnya tapi cukup membuat Ratih terkagum-kagum dengan gedung pencakar langit itu. "Bagus." hanya itu yang keluar dari mulut Ratih, wanita itu masih saja menatap gedung pencakar langit.


"Pak Rahma." panggil Ratih menoleh ke arah supir.


"Iya nyonya." sahut pak Rahmat cepat yang merupakan supir pribadi khusus keluarga Adiningrat.


"Ehm, apa saya boleh bertanya sesuatu...??" tanya Ratih merasa tidak enak jika Langsung bertanya pada intinya.


"Silahkan nyonya. ada boleh bertanya apa saja apapun yang ingin nyonya ketahui." Jawab pak Rahmat.


"Saya cuma ingin tau sudah berapa lama bapak berkeja di keluarga Adiningrat...??"


"Sudah 15 tahun nyonya."


"Hahhh 15 tahun, lama sekali."


"Benar nyonya saya bekerja di sini semenjak tuan muda masih berumur 12 tahun."


"Hebat... bapak hebat sekali sudah selama itu bapak berkeja di sini."


"Hanya inilah nyonya mata pencaharian saya, kalau saya tidak bekerja di sini saya juga tidak tau harus bekerja dimana."


"Ehm, benar juga."


"Nyonya kita sudah hampir sampai." tutur pak Rahmat.


"Hah ya, ehm. setelah bapak mengantar saya bapak boleh pulang." ucap Ratih.


"Tidak nyonya saya akan menunggu anda sampai anda selesai." sahut pak Rahmat.


"Tidak perlu bapak boleh langsung pulang, nanti bapak bisa langsung istirahat lagian nanti saya pulang bersama pak Ricko." ucap Ratih lagi.


"Tapi nyonya."


"Tidak perlu khawatir saya baik baik saja."


"Baiklah nyonya terima kasih atas perhatiannya."


****


Meeting selesai semua orang saling berjabat tangan.


"Selamat pak Ricko atas kemenangan ada hari ini." ucap seseorang paruh baya seraya menjabat tangan Ricko.


"Terimakasih." tutur Ricko.


"Kalau begitu saya pamit dulu selamat siang." ucap orang itu lalu langsung pergi meninggalkan ruangan meeting.


"Siang."

__ADS_1


"Pak Ricko selamat, saya benar benar kagum dengan kepintaran anda, anda benar benar sangat jenius." ucap tuan Fernandez.


"Anda terlalu memuji tuan Fernandez." sahut Ricko.


"Kalau saja anda mau menikah dengan anak saya Katrina pasti saya sangat bahagia, saya akan menjadi orang yang beruntung di dunia ini."


"Maaf tuan Fernandez masalah itu tolong jangan di bahas lagi karena saya sudah menikah saya tidak ingin gara gara masalah kecil ini hubungan saya dan istri saya jadi rentak." tegas Ricko sengaja mengataka hal itu.


"Sepertinya anda sangat mencintai istri anda." tutur tuan Fernandez lagi segaja memancing.


"Tentu karena istri saya adalah segalanya buat saya. dia bagaikan harta Karun yang begitu berharga jadi saya tidak akan pernah melepaskannya." tegas Ricko.


"Tapi bukankah laki laki itu bisa menikah lagi." ucap tuan Fernandez penuh maksud.


"Bagi saya pernikahan satu kali adalah seumur hidup."


"Tuan Ricko." tuan Fernandez menepuk bahu Ricko pelan."Anda boleh mengatakan itu sekarang tapi bagaimana suatu hari nanti istri anda meninggal apa anda tidak akan menikah lagi." sambung tuan Fernandez seraya tersenyum licik.


"Tuan Fernandez." tegas Ricko mulai muak dengan apa yang ia dengar barusan.


"Tuan Ricko anda tidak perlu meningkatkan suara anda, karena hidup ini kita tidak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya, ehm. bagaimana kalau kita makan siang bersama." ajak tuan Fernandez.


"Tapi kata kata anda cukup membuat saya tersinggung tuan Fernandez yang terhormat."


"Ehm, mari tuan Ricko kita makan siang bersama."


"Maaf tuan Fernandez sepertinya saya tidak bisa karena siang ini saya akan makan bersama istri tercinta saya." Ricko menekan kata kata terakhirnya lalu langsung pergi meninggalkan tuan Fernandez.


*****


Di ruangan Ricko


"Kevin apa Ratih ku sudah sampai...??" tanya Ricko.


"Belum bos, sepertinya nona lagi berkeliling kota." jawab Kevin.


"Kenapa lama sekali." guma Ricko mendengus kesal.


Tok... Tok... Tok...


"Itu pasti Ratih, cepat buka pintu." perintah Ricko. dengan cepat Kevin bergegas membuka pintu.


"Selamat siang tuan Ricko." ucap Katrina seraya melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Katrina."


"Tuan Ricko saya membawakan makan siang saya tau anda pasti belum makan bukan." Katrina meletakkan makanan yang ia bawa di meja kerja Ricko.


"Tidak perlu repot-repot nona Katrina karena tuan muda sebentar lagi akan maka bersama istrinya." sahut Kevin dari arah belakang.


"Benarkah, tapi kenapa sampai sekarang belum datang. aku rasa nona Ratih pasti lupa." tutur Katrina.

__ADS_1


"Kamu salah Katrina dia pasti akan datang tunggu sebentar lagi." kali ini Ricko yang berbicara.


Clek... suara pintu terbuka.


"Panjang umur, akhirnya nona datang juga." ucap Kevin mengembangkan senyumnya penuh.


"Kevin jangan tersenyum pada istriku." Ricko melototi Kevin.


Sementara Katrina yang melihat Ratih datang dan menghampiri Ricko merubah wajah menjadi masam, ketidak sukaan terlihat jelas di wajah Katrina.


"Sayang akhirnya kamu datang juga." Ricko beranjak dari kursi kebesarannya melangkah mendekati Ratih.


"Aku membawakan makanan kesukaan mu." ujar Ratih.


"Benarkah, ehm baunya sangat enak.


"ibu bilang rasanya sudah pas tapi aku tidak tau nanti rasanya bagaimana."


"Sayang masakan apapun yang kamu masak pasti akan sangat enak bahkan kamu tidak perlu menaruh penyedapnya cukup melihat dirimu saja makanannya sudah enak." gombal Ricko.


"Hueeekkk.... hueeekkk..." Kevin berpura pura mual.


"Kevin kamu kenapa...??" tanya Ratih cepat mengalihkan pandangan.


"Tidak apa apa nona mungkin saya cuma masuk angin saja." elak Kevin. sementara Ricko sudah menatap membunuh ke arah Kevin.


"Nona Katrina." guma Ratih sedikit terkejut.


"selamat siang nona Ratih." sapa Katrina.


"Senang sekali bisa bertemu dengan mu di sini." ucap Ratih basa basi.


"Saya juga senang bisa melihat anda, kalau begitu saya permisi ada sesuatu yang harus saya kerjakan." pamit Katrina.


"Kenapa terburu-buru nona Katrina aku membawakan makanan ayo kita makan bersama." ajak Ratih.


"Tidak nona terimakasih lain kali saja." elak Katrina lalu langsung pergi.


"Jangan menatapnya." ucap Ratih.


"Sayang aku tidak menatapnya." elak Ricko.


"Tapi matamu terus memperhatikannya."


"Aku hanya melihat pintu saja."


"Awas kalau macam macam, aku pastikan ubi karet mu itu tidak akan berguna lagi." tegas Ratih, sedangkan Ricko menelan ludahnya dengan kasar ia sudah tau apa maksud dari Ratih.


**Bersambung....


Makasih untuk semuanya, bantu vote dan like kakak🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2