Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 49


__ADS_3

"Pergi jangan pernah mendekatiku lagi." teriak Ricko dengan mata sayup sayup.


"Emang siapa yang mau mendekati bapak. kalau bapak tidak mau saya obati ya sudah tidak perlu berteriak seperti itu." sahut Ratih dengan nada kesalnya.


"Mentang mentang pemilik rumah seenaknya saja mengusir orang." ketus Ratih sambil mengambil bantal dan selimut. Ratih memilih tidur di sofa dari pada dia harus mendengar teriakan Ricko lagi.


"Kalau aku di suruh milih lebih baik aku menikah sama bule Tenggik dari pada harus sama dia." seraya menatap sinis ke arah Ricko yang sudah terlelap tidur.


"Bau apa ini." guma Ratih mencium bau sangat menyengat.


Ratih berjalan ke arah Ricko seraya mencari dari mana asal bau yang menyengat."Kenapa bau sekali." Ratih membulatkan matanya lebar lebar saat mencium bau menyengat itu berasal dari kaos kaki yang di pakai Ricko.


"Ni kaos kaki apa tempe busuk sih." guma Ratih seraya melepaskan satu persatu kau kaki Ricko. Ratih mencoba menarik nafas dalam dalam tapi bau itu tetap masih menusuk hidung Ratih.


"Astaga kenapa bau itu masih ada." gerutu Ratih lalu matanya melirik ke arah baju Ricko yang nampak basah di penuhi dengan keringat.


"Ya Tuhan. ini keringat apa jigong kebo." guma Ratih berusaha melepaskan baju yang melekat di tubuh Ricko.


Ratih menelan ludahnya dalam dalam saat melihat belahan dada sixpack Ricko yang banyak di tumbuhi bulu bulu kecil. tampa sadar Ratih menyentuh dada Ricko dengan sangat lembut seraya mengigit bibir bawahnya.



"Astaga Ratih apa yang kamu lakukan. ckckck kenapa bulu bulu ini membuatku gagal fokus." berdecak Ratih lalu hendak berdiri namun dengan cepat Ricko menarik Ratih hingga terjatuh tepat di belahan dada sixpack Ricko. Perlahan lahan mata Ricko terbuka menatap Ratih penuh nafsu.


Ratih mengedipkan-ngedipkan matanya seraya mengigit kasar bibir bawahnya." P-pak apa yang b-bapak lakukan." tanya Ratih dengan bibir gemetar.


Tampa menjawab pertanyaan Ratih, Ricko dengan cepat membalikkan posisi dan menindih tubuh Ratih hingga tidak mendapat celah sedikitpun untuk melawan.


Tampa menunggu lebih lama Ricko langsung menyerang tubuh Ratih dengan sangat rakusnya.


Ricko melepas paksa baju Ratih dengan sangat kasar hingga membuat Ratih menjerit karena terkejut.( jangan terlalu di hayati 🧐 )


Ratih sudah berusaha memberontak melawan namun usahanya sia-sia. kekuatan Ricko jauh lebih kuat ketimbang dirinya.


Apalagi dengan Ricko yang sehat dan bugar hal itu membuatnya tidak mudah lelah dalam bertempur menikmati surga dunia.


Lebih dari 6 jam pertempuran akhirnya selesai. dengan perasaan lemas dan mata sayup sayup Ratih menatap ke arah Ricko yang sudah terlelap di sampingnya hingga membuatnya tertidur dengan posisi miring menghadap wajah Ricko.

__ADS_1


***


"Pagi Bu." tutur Tania seraya menuju meja makan.


"Pagi juga sayang." sahut ibu Susi.


"Kak Ratih belum turun..??" tanya Tania seraya menarik bangku di samping ibu Susi.


"Jangan tanya lagi sudah pasti mereka kewalahan membuat keponakan untukmu." jawab ibu Susi.


"Ibu mengasih jamu itu lagi...??" tanya Tania tak habis pikir."


"Jangan khawatir ini cuma tes." jawab ibu Susi.


"Ujian kali Bu di tes segala."


"Percaya sama ibu sebentar lagi kakakmu pasti akan segera mengasih kita baby yang lucu."


"Nia mulai besok kamu bisa langsung kuliah di universitas kedokteran." sambung ibu Susi.


Tania menaikan alisnya,"Maksud ibu Nia besok bisa langsung kuliah...??"


"Benarkah. terima kasih Bu. Nia sayang ibu." ucap Nia seraya berdiri memeluk ibu Susi dari belakang.


"Ibu juga sayang kamu."


***


Ratih menatap dirinya di cermin wastafel yang sudah di penuhi tanda merah sekujur badan."Kenapa sakit sekali." guma Ratih menahan rasa sakit di area sensitifnya.


"Berati benar kalau pak Ricko yang meminum jamu itu. seharusnya aku membuangnya saja sebelum pak Ricko pulang. ckckck." Ratih berdecak kesal.


"Sekarang lihat badanku sudah seperti sisik ikan."


Ricko mengedipkan matanya karena silaunya matahari yang menembus jendela kamarnya. perlahan lahan Ricko meraih ponsel di atas nakas mengucek-ngucek matanya seraya menatap layar ponsel.


"Astaga." guma Ricko terkejutnya karena dia telah bangun kesiangan. Ricko sontak saja bangun dari atas ranjang hendak ke kamar mandi namun langkahnya terhenti ketika ia baru menyadari kalau dia dalam ke adaan polos.

__ADS_1


"Aku kenapa." guma Ricko lebih terkejut lagi saat menatap dirinya kini dalam keadaan telanjang. karena belum pernah seumur hidup Ricko kalau dia tidur dalam ke adaan telanjang.


Ricko menggaruk kepalanya mencoba mengigat ingat apa yang telah terjadi ke padanya. namun tetap Ricko tidak begitu mengigat apa yang telah terjadi, yang Ricko ingat kalau dia sedang bercumbu dengan Selfi di dalam mimpinya.


Suara tetesan air menyadarkan Ricko dari lamunannya. Ricko melangkah pelan pelan ke arah kamar mandi setelah sesaat ia meraih handuk menutupi area pinggangnya.


"Siapa di dalam...??" tanya Ricko dari luar namun tidak mendapat jawab. Ricko memegang handle pintu mencoba membuka.


"Pintunya tidak di kunci." guma Ricko seraya membuka pelan pelan pintu.


Ricko menaikan alisnya ketika melihat seseorang mandi di shower. dengan perasaan penasaran Ricko meraih kain yang menjadi tebing mandi.


"Aaaaa...." teriak Ratih kepleset karena terkejut dengan Ricko tiba tiba ada di depannya.


Dengan sigap tangan kekar Ricko menarik Ratih hingga jatuh ke pelukannya. tatapan mereka bertemu, tiada jarak sama sekali sehingga membuat nafas Ricko begitu terasa di bibir Ratih.


"Ngapain kamu di sini." ucap Ricko setelah sadar dan langsung melepaskan pelukan.


"Saya seharunya bertanya ngapain bapak main masuk aja. enggak tahu orang lagi mandi apa." sahut Ratih.


"Ini kamar mandi ku. aku tanya kamu ngapain di sini pakek madi segalak lagi." tutur Ricko.


"Terus saya harus mandi di mana kalau bukan disini. kamar mandi bapak kamar mandi saya juga, kan saya istri bapak sekarang." sahut Ratih cepat.


"Istriku." tutur Ricko mengerutkan keningnya.


"Bapak jangan pura pura amnesia ya setelah enak enakan dengan tubuh saya terus bapak lupa gitu. awas kalau coba coba lupa tak potong tu senjata tak jadikan sate seratus tusuk." sahut Ratih dengan kesal.


Setelah berhasil mengigat semuanya Ricko berdecak lalu keluar dari kamar mandi dengan perasan di limuti kekesalan.


"Apa yang terjadi kenapa aku tidak mengigat kejadian tadi malam." guma Ricko mondar mandir di samping ranjang. tampa sengaja matanya menatap ke arah ranjang yang nampak bercak bercak darah hampir memenuhi seprei.


**Bersambung......



Maaf banget kak author pigi kondangan tadi jadi enggak sempat up 😁**

__ADS_1


πŸ‘‰πŸ‘‰Bantu vote dan like πŸ‘‡πŸ‘‡


__ADS_2