
"Ratih...." Teriak Ricko dari kejauha.
"Aaaaggrrr....."
"Pak Kevin." ucap Ratih pelan dengan tubuh yang sudah gemetar.
"Cepat pergi dari sini." terdengar suara Kevin sedikit serak karena menahan rasa sakit.
"Satpam." teriak Ricko seraya berlari menghampiri Ratih.
"Kamu tidak apa apa...??" tanya Ricko saat baru sampai di depan Ratih.
"Saya tidak apa apa tapi p-pak Kevin." jawab Ratih dengan masih gemetar.
"Cepat bawa Ratih ke ruangan saya." ucap Ricko pada Zahra yang sadari tadi berdiri mematung.
"B-Baik pak." sahut Zahra yang sama gemetarnya dengan Ratih.
"Vin... Bagun Vin." teriak Ricko ketika melihat Kevin sudah mulai sayup sayup mau pingsan.
"Pak Kevin Ra, pak Kevi..." ucap Ratih tiba tiba pingsan.
"P-pak Ricko Ratih p-pingsan." teriak Zahra dengan nada paniknya.
"Cepat bawa Kevin ke rumah sakit dan temukan ular itu." perintah Ricko pada anak buahnya.
Dengan sigap Ricko mengendong tubuh Ratih Ratih ke dan membawa Ratih menuju mobilnya. semua para karyawan menjadi ricuh tak terkecuali Rani dan Lilis.
"Aaahhh sial kenapa pak Kevin yang kenak." tutur Rani memukul meja di depannya.
"Rani gue takut banget Ran. ide loe benar benar gila gue enggak mau masuk kantor polisi." ujar Lilis sudah yang sudah panas dingin ketakutan.
"Sssuuuttttt..... loe bisa diem enggak sih. kita enggak bakal masuk kantor polisi kalau loe bisa diem." sahut Rani sambil menutup mulut Lilis rapat rapat.
"Ingat, masalah ini cuma kita yang tahu." sambung Rani lagi.
Sementara di salah satu rumah sakit ternama seorang pria sedang di larikan menuju ruangan UGD. sementara Ratih kini berada salah satu VVIP lantai 20 yang di temani Ricko dan ibu Susi.
"Bagaimana ke adaan Ratih..??" tanya ibu Susi.
__ADS_1
"Nyonya tidak perlu khawatir nona Ratih tidak apa apa dia hanya syok saja sebentar lagi juga siuman." jawab dokter yang memeriksa keadaan Ratih.
"Syukurlah terima kasih Tuhan." ucap ibu Susi.
"Bu aku keruangan Kevin sebentar." pamit Ricko.
"Ricko kok bisa di kantor kamu ada ular...??" tanya ibu Susi.
"Ricko juga tidak tahu Bu, tapi secepatnya kita akan segera tahu dari mana asal ular itu." jawab Ricko.
"Pergilah temani Kevin, biar Ratih ibu aja temani." ucap ibu Susi.
"Oh Tuhan lindungilah anak dan calon mantuku dari bahaya Tuhan." batin ibu Susi.
"Kak Ricko bagaimana keadaan Kevin...??" tanya mawar ketika baru sampai di depan ruangan UGD.
"Kakak belum tahu, dokter juga belum keluar." jawab Ricko seraya mengangkat ke dua bahunya.
"Pokonya kalau sampai terjadi sesuatu pada Kevin, mawar enggak akan maafin kak Ricko. ucap mawar sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa kakak yang di salahkan." sahut Ricko tak terima.
"Kakak juga tidak tahu. kenapa kakak juga yang di salahkan." sahut Ricko yang kini juga melipatkan kedua tangannya.
"Pokonya kalau sampai terjadi sesuatu pada Kevin mawar enggak mau bicara sama kakak lagi." tutur Mawar memanyunkan bibirnya.
"Bagus dong kalau kamu tidak mau bicara sama kakak lagi, jadi kakak tidak perlu lagi mendengar kamu mintak ini mintak itu." sahut Ricko sambil duduk di kursi yang di sediakan.
"Kakak...." rengek Mawar.
"Kenapa salah kakak lagi." ucap Ricko. sementara Mawar mendengus dengan kesal sambil menghantamkan kakinya ke lantai.
Selang beberapa menit beberapa dokter yang memeriksa keadaan Kevin keluar dari ruangan UGD.
"Dok bagaimana keadaan Kevin dok...??" tanya Mawar tergesah-gesah.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar semua racun sudah kami keluarkan, untuk saja pak Kevin datang tepat waktu sebelum racunnya menyebar." jawab dokter yang memeriksa keadaan Kevin.
"Hahhh...." terdengar Mawar bernafas dengan lega.
__ADS_1
"Tuan muda Ricko." tutur para dokter seraya memberi hormat kepada Ricko selaku pemilik rumah sakit yang mereka pijak sekarang.
Sementara Ricko membalas dengan senyuman." pindahkan Kevin di kamar bersebelahan dengan calon istri saya." pinta Ricko pada perawat.
"Baik tuan muda." jawab mereka serentak.
"Jagalah Kevin, kakak mau ke ruangan Ratih dulu." ucap Ricko.
"Tidak perlu kakak suruh pun aku akan tetap menjada Kevin." ketus Mawar yang masih memanyunkan bibirnya.
"Jagalah dia agar dia segera menerima cintamu." ejek Ricko lalu langsung pergi.
"Kakak..."
Ratih baru saja siuman, perlahan lahan Ratih membukakan matanya dia melihat langit langit kamar setelah itu berpaling melihat tiang infus yang berada di sampingnya. Ratih bisa menebak kalau dia berada di rumah sakit sekarang Ratih menoleh ke kiri teryata ada ibu Susi yang tersenyum manis ke padanya.
"Kamu sudah sadar sayang minumlah." ucap ibu Susi sambil menyodorkan minum ke mulut Ratih.
"Pak Kevin." ucap Ratih yang baru ingat apa yang telah terjadi.
"Pak Kevin, Tante bagaimana keadaan pak Kevin...??" tanya Ratih dengan nada khawatirnya.
"Dia baik baik saja tidak perlu menghawatirkannya." Jawab Ricko yang menyambar jawab dari ibu Susi.
"Tante, Ratih ingin bertemu pak Kevin." tutur Ratih yang berusaha bangun dari ranjang.
"Hey. siapa yang mengizinkanmu bertemu Kevin. aku bilang dia baik baik saja ya baik baik saja jadi tidak perlu menghawatirkannya lagi." sahut Ricko kesal.
"Anak Tenggik." ucap ibu Susi lalu memukul bahu Ricko.
"Kalau kamu tidak ingin Ratih menghawatirkan Kevin seharusnya kamu yang menolong Ratih bukan Kevin. kamu yang seharusnya menjaga Ratih karena kamu itu calon suaminya bukan orang lain. sekarang ibu tanya di mana kamu saat Ratih hampir di patok ular...??" tanya ibu Susi.
"Ricko...." belum Ricko selesai menjawab sudah di potong oleh ibu Susi.
"Sudah tidak perlu kamu jawab ibu sudah tahu jawabannya. ayo sayang kita pergi ke ruangan Kevin, Tante juga ingin lihat bagaimana ke adaan Kevin." ajak ibu Susi seraya membatu Ratih turun dari ranjang.
"Kevinnnn....."
**Bersambung......
__ADS_1
👉👉Ayo kak bantu vote dan like dong kak😁👇👇**