
Hari ini adalah hari di mana Ratih akan menjadi seorang istri dari salah satu pengusaha muda yang berpengaruh di negara kelahirannya. Ratih menatap dirinya di cermin dengan tatapan kosong tampa ia perintah sebuah air mata mengalir begitu saja. Ratih tidak tahu apakan ini air mata bahagia karena dia sudah menjadi pengantin yang di impikan setiap wanita, atau ini air mata penderitaannya. tampa sengaja Ratih melirik ke arah kalung peninggalan ayahnya yang tergeletak rapi di atas meja.
"Ayah, ibu, apakah kalian bisa melihat diriku. hari ini Ratih akan menikah ayah, ibu sebentar lagi Ratih akan menjadi seorang istri. tapi Ratih sedih ayah ibu, karena kalian tidak ada di samping Ratih sekarang di saat Ratih akan mengubah status hidup Ratih." batin Ratih dengan air mata yang mengalir setetes demi setetes.
"Kak..." panggil Tania yang masih di ambang pintu.
Ratih yang mendengar nama Tania memanggil dirinya dengan gerak cepat Ratih mengusap pipinya dengan ibu jari dan berusaha mengedipkan matanya.
"Kakak..." panggil Tania lagi yang kini berada di punggung Ratih seraya mengantungkan lehernya di bahu Ratih.
"Kakak habis nangis." sambung Tania lagi saat melihat wajah Ratih sedikit sembab dari cermin.
"Enggak kok kakak cuma kelilipan aja tadi." ucap Ratih berusaha menutupi matanya yang sembab dengan bedak.
"Kakak jangan sedih lagi ya karena aku akan selalu di samping kakak." ucap Tania seraya memeluk Ratih dari belakang.
"Makasih ya selama ini kamu sudah mau menjadi adik yang baik buat kakak." tutur Ratih.
"Tentu dong, kalau aku tidak baik mana mungkin kakak bisa menikah sama bos kakak sendiri iya enggak." sahut Tania sambil menaikan alisnya.
"Iya kamu benar banget sampek sampek kakak harus terpaksa menikah, sudah seperti gadis pelunas utang aja." ketus Ratih.
"Ha...ha... yang sabar ya kak namanya aja takdir." sahut Tania seraya tertawa renyah.
"Iya kamu sangat benar ini sudah menjadi takdir Kaka menikah sama pria yang sama sekali tidak mencintai kakak." ketus Ratih lagi.
"Nyonya...??" panggil seseorang di ambang pintu. yang berhasil membuat dua wanita di depan cermin itu menoleh kepadanya.
"Iya ada apa...??" tanya Ratih.
"Nyonya semua orang sedang menunggu ke datangan anda. kami para pelayan siap mengantar anda." jawab pelayan itu seraya selalu menundukkan kepalanya.
"Baiklah sebentar lagi aku akan turun." sahut Ratih yang kini kembali menatap dirinya kembali di cermin.
"Tuh kan gara gara kakak kelilipan bedaknya jadi luntur." tutur Tania.
__ADS_1
"Kamu mengejek kakak...??" tanya Ratih yang menatap Tania dari cermin.
"Sudah diem jangan ribut, biar aku aja yang bantu make up kakak enggak usah panggil banci itu lagi jijik aku lihatnya." ketus Tania.
"Jangan menghina orang seperti itu." tegas Ratih yang tak suka mendengar perkataan Tania barusan.
"Aku bilang itu ke nyataan kak, emang kakak enggak lihat bagaimana caranya berbicara huppp. sungguh membuat gigiku ngilu." sahut Tania.
"Ayo cepat Make up kaka kalau enggak kakak panggil dia ni." tutur Ratih.
"Iya iya." sahut Tania sambil mengambil beberapa peralatan make up.
Setelah lebih sepuluh menit Tania menghias Ratih akhirnya selesai juga. kini penampilan Ratih jauh lebih sempurna dari sebelumnya . Ratih mengunakan gaun berwarna putih cerah yang di hiasi manik manik berkilauan berhasil membuat dirinya bagaikan Ratu bidadari.
"Ya ampun kak." ucap Tania terkejut sambil menelan ludahnya.
"Kakak cantik banget, sumpah aku belum pernah melihat kakak secantik ini sebelumnya." sambung Tania lagi yang masih terpesona dengan kecantikan Ratih, memang kali ini Ratih lebih cantik dari pada make up sebelumnya.
Sementara Ratih dia memegang wajahnya dengan tangannya sendiri, Ratih sama halnya juga dengan Tania. dia juga begitu terkejut dengan dirinya sekarang sudah sangat cantik.
"Tentu dong. udah ayo kak kita segera turun sekarang pasti pak Ricko sudah tidak sabar
inggin melihat kakakku yang cantik ini, aku yakin pak Ricko pasti langsung jatuh cinta ketika melihat kakak yang sudah seperti ibu peri." tutur Tania sambil merangkul lengan Ratih.
"Ayo, bismillah semoga ini yang terbaik." ucap Ratih sambil melangkah.
Pernikahan Ratih dan Ricko di adakan di gedung terbesar di kota ini, gedung yang mempunyai luas 5 hektar dan terdiri dari 10 lantai ini merupak milik dari keluarga Siregar yaitu milik Aldi Siregar yang merupakan teman dekat Ricko. Ratih kini berjalan menuju anak tangga yang di ikuti Tania dan enam para pelayan di belakang Ratih.
Semua para tamu undang sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana wajah istri seorang Ricko Adiningrat yang merupakan pengusaha terbesar dan sangat berpengaruh di negeri ini.
"Gue benar benar enggak nyangka kalau loe sekarang menikah sama gadis yang loe sendiri jadikan dia barang taruhan." tutur Aldi sambil tersenyum kencur.
"Kata nyokap gue sih ini sudah menjadi takdir." sahut Ricko seraya mengeluarkan nafas dengan kasar.
"Hahaha... takdir yang sangat bagus buat loe. tapi tenang bro gue yakin dia sebelas dua belas lah sama Selfi." ucap Aldi lagi.
__ADS_1
Ricko sama sekali tidak merespon lagi perkataan Aldi, dia menaikan satu alisnya ketika melihat semua orang menatap ke arah anak tangga dengan tatapan penuh kagum. akhirnya bola mata Ricko pun juga ikut melirik ke arah anak tangga. tatapan Ricko seketika mematung melihat siapa yang menuruni anak tangga.
Sedangkan Kevin yang selalu berada di samping Ricko, terukir senyuman manis di bibirnya saat melihat Ratih turun dari anak tangga layaknya seorang Ratu di kerajaan Cina yang di ikuti para dayang.
Berbeda dengan Aldi yang sudah melongok dari tadi saat melihat siapa yang turun, dia benar benar tidak menyangka kalau Ratih yang berasal dari desa bakal seperti ini.
Ricko sudah berkali kali menelan ludahnya, bahkan dia menelannya dengan sangat kasar. mata Ricko bahkan tak berkedip sama sekali dia terus saja menatap Ratih yang kini sedang berjalan ke arahnya. lamunan Ricko pun buyar saat mendengar Ratih memanggilnya beberapa kali.
"Pak Ricko..." panggil Ratih namun tidak ada respon sama sekali.
"Pak Ricko..." panggil Ratih lagi.
"Pak Ricko..." panggil Ratih dengan sedikit berteriak.
"Iya..." sahut Ricko baru sadar lamunannya.
"Kamu sudah siap...??" sambung Ricko lagi. dia tidak tahu harus mengatakan apa sekarang.
"Sudah dari tadi, emang bapak tidak nyadar apa semua orang sudah menatap kita dari tadi." sahut Ratih cepat.
ini visual Ricko dan Ratih, semoga cocok π€
**Bersambung.......
πΉπΉπΉπΉπΉ**
**Maaf kalau ada typo kak maklum masih belajar π€π
ππsangat di tunggu vote dan like kakππ**
__ADS_1