Gadis Galak Jadi Istri CEO

Gadis Galak Jadi Istri CEO
BAB 50


__ADS_3

Ratih keluar dari kamar mandi sudah siap dengan pakaian dress warna merah tua di pandu sedikit warna hitam. berhasil membuat dirinya terlihat cantik dan anggun. apalagi pakaian yang Ratih kenakan ini di rancang khusus oleh designer ternama. ya, semenjak Ratih menikah dengan Ricko, ibu Susi telah membuat banyak baju khusus untuk Ratih dan harganya pun begitu fantastis.


Ratih berjalan Melangkah menuju meja rias menatap dirinya dari pantulan cermin. sementara Ricko kini berada di kamar mandi bergantian dengan Ratih.


Setelah usai menghias diri dan mengantikan sprei Ratih turun dari kamar dia sudah merasa bosan berada di kamar terus tampa melakukan kegiatan apapun. Ratih menuruni anak tangga dengan sangat hati hati karena memang dia masih merasakan nyeri di area sensitifnya ketika harus melangkah lebar.


"Nyonya, anda sudah turun." tutur Kasim Han saat melihat Ratih kini telah turun dari anak tangga.


"Pagi kasim Han." sapa Ratih dengan senyuman mengembang.


"Ibu mana...??" tanya Ratih dengan sorot mata melirik ke kanan kiri mencari keberadaan ibu Susi.


"Nyonya besar sedang berada di taman belakang." jawab Kasim Han.


"Apa masih ada makanan di meja makan. aku sangat lapar...??" tanya Ratih seraya tangan mengelus-ngelus perutnya.


"Tentu ada nyonya. akan kami siapkan sekarang nona silahkan menunggu di meja makan saja." jawab Kasim Han.


Ratih berjalan mengikuti Kasim Han menuju meja makan dia sudah tidak sabar ingin langsung melahap makanan.


"Kasim Han kamu mau kemana...??" tanya Ratih saat melihat Han pergi menjauh darinya.


"Saya mau ke dapur menyiapkan sarapan untuk nyonya muda." jawab Kasim Han setelah membalikkan badannya.


"Ke marilah ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."


"Tapi nyonya."


"Hey aku majikanmu sekarang jadi kamu harus mematuhi perintahku juga."


Tampa menunggu lebih lama Han langsung menghampiri Rati sesaat setelah dia memberi tahu para pelayan untuk meyiapkan sarapan untuk Ratih.


"Ayo duduk." perintah Ratih. namun Han tidak bergeming dari tempat.

__ADS_1


"Ayo cepat duduk kamu juga harus mendengarkan apa yang aku bilang, ini perintah cepat duduk."


"Tapi nyonya, saya belum pernah menduduki bangku ini sebelumnya." tolak Kasim Han.


"Jangan ngeyel cepat duduk. kalau kamu belum pernah duduk di sini maka aku akan membuatmu duduk sekarang." tutur Ratih lalu bangun dari kursi langsung berjalan menarik bangku untuk kasih Han.


"Cepat duduk, tidak perlu merasa tidak enak aku juga sama sepertimu disini. lagipula tidak ada yang melihat kita bukan. jadi cepat duduk temani aku makan."


"Nyonya." ucap Kasim Han dengan tatapan memohon dia sudah tau apa yang akan terjadi dengannya jika dia menduduki bangku itu.


"Percayalah tidak ada yang akan memarahi mu, aku akan menjamin keselamatanmu. ayo cepat duduk jangan membuat aku bertambah kesal." ujar Ratih lalu mendorong tubuh Han hingga dia duduk di bangku yang di sediakan Ratih tadi.


"Nah ginikan enak." ucap Ratih duduk kembali di tempatnya.


"Berapa usiamu...??" tanya Ratih memecahkan keheningan karena sadari tadi mereka hanya diam saja.


"24 tahun nyonya." jawab kasih Han dengan kepala menunduk.


"Wah... wah... ternyata kamu masih sangat mudanya. kenapa kamu tidak kuliah malah bekerja di sini. apa menjadi pelayan itu cita-citamu...??" pertanyaan Ratih berhasil membuat raut wajah Han terlihat sedih.


Ratih bisa melihat dari raut wajah yang di tunjukkan Han nampak sedih dan takut. karena hal itu membuatnya semakin penasaran dan ingin mengorek lebih dalam.


Ratih melirik ke kanan dan ke kiri lalu setelah itu ia kembali menatap ke arah Han." Hey. jangan berbohong ke padaku, aku tahu kamu pasti berbohong tadi. mana mungkin ada manusia ingin bercita cita jadi pelayan. jadi jangan coba-coba membodohi ku, aku ini tamat sekolah jurusan menerawang. aku juga seperguruan dengan Roy Kiyoshi, aku bisa lihat dari wajahmu ada bau bau mistis. ayo cepat ceritakan anggap saja aku ini teman curhatmu." ucap Ratih dengan sedikit berbisik.


"maksud nyonya apa. s-saya tidak berbohong." ucap Kasim han seraya menundukkan kepalanya.


"Dengar ya aku ini sama sepertimu. aku hanya manusia biasa dari kalangan bawah. kamu tahu aku menikah sama pak Ricko itu atas paksaan bahkan kami tidak mengenal satu sama lain." perkataan Ratih membuat Han mendongkakkan kepalanya menatap kembali Ratih dengan tampang terkejut ya.


"Kamu tahu aku di sini hanyalah gadis pelunas utang." lagi lagi perkataan Ratih berhasil membuat hat terkejut.


"Maksud nyonya."


"Aku di paksa oleh ibu Susi. aku tidak tau apa yang di lakukan Tania adikku itu di hotel tempat ia bekerja hingga membuat kerugian mencapai milyaran. dan teryata pemilik hotel itu adalah ibu Susi bahkan beliau berencana akan menjebloskan Tania ke penjara jadi aku berusaha keras menolong Tania agar dia tidak masuk pencara. dengan cara aku menikahi pak Ricko." ucap Ratih dengan raut wajah tampak seduh.

__ADS_1


"Itu mungkin nyonya besar melakukan itu semua karena beliau tidak ingin tuan muda menikahi nona Selfi." sahut Kasim Han.


"Bisa jadi. aku dijadikan sebagai boneka di sini, setelah mereka puas pasti mereka akan menghempaskan ku. kamu tahu pak Ricko itu sangat nyebelin dan juga sangat menjengkelkan. kalau aku di suruh milih antara ubi karet itu dan dirimu lebih baik aku memilihmu dari harus menikah sama dia. kamu itu jauh lebih tampan dan lebih macho ketimbang dia." ucap Ratih dengan sedikit kesal.


"Nyonya jangan bicara seperti itu nanti kalau tuan muda dengar bagaimana." tutur Kasim Han sudah mulai takut.


"Apa yang aku bilang itu kenyataan. kamu tahu apa yang lebih parah. bahkan tadi pagi dia lupa kalau aku istrinya padahal semalam dia sudah enak-enakan sama tu-. maksudku jus lemon. aku sudah membuat jus lemon seenak mungkin untuk dirinya." ucap Ratih hampir keceplosan dengan segera dia menutup mulutnya rapat rapat.


Sedangkan Han mengerutkan keningnya karena dia tahu kalau semalam Ratih tidak keluar kamar sama sekali jadi bagaimana mungkin Ratih bisa membuat jus lemon.


"Tapi nyonya kan tidak keluar kamar seharian penuh. bagaimana bisa nyonya bisa membuat jus lemon..??" tanya Kasim Han bingung.


"Adu... sepertinya perutku sakit. kamu bawakan saja sarapan paginya ke kamar ya." ucap Ratih memegang perutnya lalu melangkah pergi.


Semetara sadari tadi Ricko sudah mendengarkan semua apa yang di katakan Ratih maupun Han. Ricko yang berada di balik dinding menendang dinding itu dengan keras. saat mendengar kalau Han jauh lebih tampan darinya.


Dengan perasaan diliputi kekesalan Ricko langsung bergegas pergi ke kantor. tadinya saat melihat Ratih di meja makan Ricko ingin sarapan pagi tapi langkahnya terhenti saat mendengar percakapan Ratih dan Kasim Han.


****


"Vin cepat kamu carikan dokter operasi plastik." tutur Ricko saat menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


Kevin menaikan alisnya."Bos mau operasi plastik...??" pertanyaan Kevin berhasil mendapat lemparan spidol dari Ricko.


"Enak aja loe ngomong. gue enggak perlu operasi plastik aja semua cewek pada tergila gila ama gue." sahut Ricko setelah melemparkan spidol ke arak Kevin.


"Jadi untuk apa bos...??" tanya Kevin lagi yang sudah sangat penasaran.


"Bos enggak rencana mau operasi wajah nona Ratih kan bos." sambung Kevin lagi.


"Gak ada guna operasi wajah dia. carikan saja aku mau merubah wajah biawak menjadi musang." ketus Ricko.


**Bersambung........

__ADS_1


Ada yang tahu untuk apa ricko mencari dokter bedah plastik ??


👉👉 sangat di tunggu vote dan like kakak👇👇**


__ADS_2