
Satu Minggu telah berlalu kini rada rada bau yang di cium Ratih di tubuh Ricko pun, mulai sedikit demi sedikit menghilang. Ratih tidak perlu memakai masker lagi jika berbicara atau pun tidur dengan Ricko. tapi rasa mual setiap hari masih melanda di mulut Ratih, wanita itu benar benar bingung menghadapi rasa mual yang kapan saja bisa datang.
Perjalanan bulan madu Ratih dan Ricko ke Australia pun di batalkan mengigat kondisi Ratih lagi hamil, Ricko tidak mau mengambil resiko akan hal itu apa lagi Ratib saat ini sering mengalami pusing tiba tiba. hal itupun membuat Ricko tidak konsen dalam bekerja. Ricko bahkan pulang lebih awal dari biasanya sebentar saja jauh dari Ratih, bagi Ricko bagaikan sebulan seperti sekarang. Ricko sangat ingin pulang cepat, ya, kini Ricko berada di kantor.
"Vin apa meeting ya tidak bisa di lanjutkan besok...??" tanya Ricko, laki laki itu benar benar tidak sabar.
"Tidak bisa bos, meeting kali ini sangat penting kita tidak bisa melanjutkan besok apa lagi besok kita akan ke Paris." Jawab Kevin.
"Ckckck. meeting itu benar benar membuat aku kesal." gerutu Ricko.
"Besok kau saja yang pergi ke Paris, aku mau menjaga istriku di rumah." sambung Ricko lagi.
"Itu yang paling tidak bisa lagi bos, tuan Fernandes akan sangat murka jika bos tidak datang. apa lagi malam besok bertepatan dengan acara ulang tahun putri beliau." sahut Kevin cepat.
"Aaggrrr.... kenapa Fernandes itu lama lama bikin aku pusing, kemaren dia menjodohkan aku dengan putrinya dan sekarang dia menyuruhku menghadiri acara ulang tahun putrinya juga." gerutu Ricko.
"Bos, apa bos sudah memberi tahu tentang keberangkatan besok pada nona Ratih...??" tanya Kevin.
"Belum, aku pikir aku tidak mau pergi jadi aku tidak membicarakan nya dengan istriku tapi kalau Fernandes memaksa apa boleh buat. tua bangka itu benar benar menyusahkan awas saja kalau sampai dia menjodohkan ku lagi dengan putrinya." tutur Ricko, laki laki itu sangat kesal bagaimana tidak sebentar lagi dia akan pergi jauh dari istrinya.
******
__ADS_1
Di mansion
Ratih bolak balik dari kamar ke kamar mandi wanita itu terus saja memuntahkan semua isi perutnya. sesudah merasa mendingan Ratih turun ke lantai bawah mencari udara segara tampa sengaja matanya melirik ke arah tv yang menyala. siaran tv pun menampakkan dua orang yang sedang asik memakan mie goreng Aceh terasa sangat mengiurkan siapapun yang menontonnya termasuk Ratih sekarang wanita bumil itu benar benar menginginkannya.
Ratih sudah beberapa kali mencoba menghubungi Ricko namun panggilannya tidak terhubung hal itu membuat bumi kesal. lebih baik ia pergi saja sendiri dari pada harus di temani oleh Ricko toh dia pergi bersama supir pikir Ratih. tapi sebelum sesaat Ratih pergi Ratih sempat mengirim pesan ke pada Ricko yang menyatakan kalau dia akan pergi memakan mie goreng Aceh.
"Nyonya anda mau kemana...??" tanya Kasim Han dari arah belakang Ratih berhasil membuat langkah Ratih terhenti dan menoleh ke arahnya.
"Aku mau memakan mie goreng Aceh." jawab Ratih singkat lalu hendak kembali melangkah namun lagi lagi Han menghentikan langkahnya.
"Nyonya jangan pergi nanti tuan muda bisa marah, biarkan saya saja yang akan membelinya nyonya." tawar Han.
"Tidak, aku tidak mau yang di bungkus aku mau makan langsung di situ." gerutu Ratih.
"Tidak ada tapi tapi Han, kamu tenang saja aku akan pulang cepat nanti aku hanya makan mie saja lalu setelah itu langsung pulang jadi tidak perlu khawatir." bantah Ratih lalu langsung melangkah meninggalkan Han.
"Pak tolong antar kan saya ke cafe xxx." tutur Ratih ke pada pak supir setelah sesaat ia mencari cafe yang menyediakan mie goreng Aceh di google bicara.
Dua puluh menit pun telah Ratih lalui akhirnya Ratih pun tiba di tempat yang dia inginkan. Ratih mengembangkan senyumannya setelah ia turun dari mobil, wanita itu benar benar ingin segera makan mie goreng Aceh. Ratih melangkah memasuki cafe dan langsung memesan makanan yang ia inginkan. sambil menunggu Ratih memainkan game ular yang berada di ponsel ya. ya, hanya game itulah yang ada di ponsel Ratih karena memang ponsel Ratih sangat jadul. bukannya Ratih tidak mempunyai ponsel keluaran terbaru tapi karena Ratih tidak terbiasa memegang ponsel canggih. bahkan Ricko membelikan Ratih ponsel super mahal dan Ricko pun memesannya dari luar negri.
"Mbak ini pesanannya." tutur pelayan cafe seraya menaruhkan mangkok berisi mie goreng Aceh yang sudah di taruh daging sapi di atasnya.
__ADS_1
"Iya terima kasih." sahut Ratih seraya tersenyum hangat.
"Sama sama selamat menikmati makanan anda." ucap pelayan itu lalu langsung pergi.
"Duh baunya sangat wangi, sabar ya baby makanan akan segera meluncur." guma Ratih seraya mengelus-ngelus perutnya yang masih nampak rata.
Ratih sangat menikmati makannya sampai sampai dia tidak mendengarkan getaran ponsel yang terus saja bergetar. ya, karena kekesalannya dengan Ricko yang tidak mengangkat panggilannya Ratih pun mengaktifkan mode diam di ponselnya.
"Hay...." tutur Seseorang di samping Ratih yang tak lain adalah Selfi. ya, tanpa sengaja saat Selfi masuk ke cafe Selfi melihat wanita yang sangat ia kenal sedang asik menyantap makanan.
Ratih pun mendongakkan kepalanya menatap ke arah sumber suara.
"Bagaimana ke adaan mu.?? akhirnya kita ketemu lagi." ucap Selfi basa basi seraya duduk di depan Ratih. Ratih nampak diam dia malah melanjutkan makanannya yang belum abis.
"Aku dengar kamu lagi hamil selamatnya atas kehamilan mu." tutur Selfi mencoba memancing mancing Ratih, wanita itu menatap tajam ke arah Ratih ketika Ratih tidak melihat ke arahnya.
"Terimakasih." sahut Ratih singkat tanpa menoleh.
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti mu." gerutu Selfi lagi berhasil membuat Ratih segera menoleh ke arahnya.
"Maksudmu...??"
__ADS_1
"Maksudku aku pernah berada di posisimu, yaitu hamil anak Ricko." ucap Selfi.