
Daddy Arthur menarik nafasnya sambil memandang ke arah putrinya.
"Minerva suka sama Emir?" tanya Daddy Arthur to the point.
Kini semua pandangan mengarah ke Minerva menunggu jawaban yang keluar dari mulut Minerva. Sedangkan Minerva jadi merasa salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Minerva sama Kak Emir memang udah deket sejak SMA. Kita emang sahabatan dari dulu, Dad. Apa ada yang salah?" jawab Minerva.
"Tapi Minerva punya perasaan khusus gak buat Emir?" tanya Mommy Moona yang merasa tidak puas dengan jawaban Minerva kali ini.
"Kita gak akan marah dengan jawaban kamu, dek. Kita cuma mau saling terbuka aja satu sama lain agar saling memahami." timpal Austin yang menunggu kejujuran dari Minerva.
"Tunggu, tunggu. Sebenarnya apa yang membuat semuanya bertanya seperti ini sama Minerva? Jika Daddy, Mommy, kakak terbuka mengemukakan alasannya, maka Minerva juga akan terbuka untuk bercerita tentang siapa yang sebenarnya Minerva suka." ucap Minerva panjang lebar.
"Mommy hanya takut kehilanganmu, sayang. Ketika Minerva sudah menyukai seorang pria dan kemudian kalian menikah, tentu akan sulit bagi Mommy untuk bersama denganmu."
"Mommy tau, ini adalah keegoisan Mommy. Terlebih mengingat usia putri Mommy ini sudah 24 tahun. Tapi entah mengapa Mommy sangat takut Minerva jauh lagi dari Mommy. Mommy belum puas mengasuhmu, sayang." ucap Mommy sambil menggenggam tangan Putrinya.
"Daddy pun sama, masih sangat ingin mengasuh putri Daddy, memanjakan putri Daddy di sisa usia Daddy, untuk membayar 24 tahun silam. Daddy juga sudah memutuskan untuk menetap di sini untuk menikmati keutuhan keluarga kita." jelas Daddy Arthur.
"Kakak juga sudah memutuskan tinggal di Mansion untuk selalu menjaga adik perempuan kesayangan kakak satu-satunya." ucap Austin.
Mendengar kejujuran dari daddy, mommy dan juga kakaknya membuat Minerva terharu. Ia belum pernah merasakan kebahagiaan ini sebelumnya.
"Sekarang kami berharap Minerva ungkapkan segala isi hati Minerva." timpal Austin lagi.
Kebimbangan mulai menyelimuti hati Minerva. Ia memang memiliki perasaan khusus terhadap Emir. Apalagi Emir juga sepertinya begitu menginginkan mereka berdua memiliki ikatan yang kuat. Tetapi Minerva tidak boleh egois, mempertaruhkan kebahagiaan keluarganya hanya untuk mengejar cintanya.
Minerva memandangi Daddy, Mommy dan kakaknya secara bergantian. "Minerva sangat menyayangi kalian. Keinginan Minerva juga tidak berbeda, masih sangat ingin merasakan keluarga yang utuh yang tidak pernah Minerva rasakan sebelumnya."
"Perasaan khusus untuk Kak Emir memang ada. Tapi jika membicarakan tentang pernikahan, itu sama sekali belum terfikir dalam benak Minerva. Karena Minerva masih ingin bersama kalian. Minerva masih ingin merasakan dimanja oleh Daddy, Mommy dan juga kakak." jawab Minerva.
__ADS_1
Mendengar jawaban Minerva, Austin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku kalah." gumam Austin pelan yang tentunya masih terdengar di telinga keluarganya.
Minerva kini berpindah duduk di samping kakaknya dan menarik tangan Austin yang menutupi wajahnya.
"Kalah?" Minerva mengulangi kata yang diucapkan Austin barusan. "Apa aku masih belum kakak anggap sebagai adik kandung kakak?" tanya Minerva kemudian.
Austin menatap Minerva dengan intens dan menangkupkan kedua tangannya dipipi Minerva.
"Semua butuh proses, Minerva. Bersabarlah. Aku akan terus belajar menjadi kakak yang baik untukmu. Meski berat, tapi aku akan terus berusaha untuk itu. Kau tahu kan, usaha tidak akan mengkhianati sebuah hasil." ucap Austin.
Seketika Minerva memeluk Austin dengan sangat erat membuat Austin sangat terkejut. Austin tidak membalas pelukan Minerva dan justru mengusap kepalanya dengan sangat lembut.
"Kakak sangat beruntung memiliki adik secantik bidadari. Semoga keberuntungan kakak terus berkelanjutan sampai kakak mendapatkan istri secantik dirimu, Minerva." ucap Austin.
"Aku doakan agar kakak mendapatkan istri yang lebih cantik dariku." timpal Minerva.
Kini mereka benar benar menikmati keutuhan keluarga yang sudah lama mereka dambakan.
Sedangkan di sisi lain, Lilies baru saja mengetahui bahwa Minerva adalah dalang dari kehancuran pabriknya. Ia mengetahui dari Amer dan Romy yang terus mencari tahu siapa yang melaporkan kegiatan di pabrik, terlebih laporan tersebut sangat detail dan tersusun dengan rapi.
Bahkan Lilies juga mengetahui bahwa Minerva adalah orang yang berhasil melepaskan Yolanda dari sekapannya.
"Si*lan! Aku fikir dia adalah wanita yang baik. Ternyata kecerdasannya sangat merugikan perusahaanku." umpat Lilies yang sangat kecewa dengan kabar yang baru saja ia terima.
"Gara-gara dia, karir ku hancur, harga diriku juga diinjak-injak karena aku sampai bertekuk lutut meminta maaf dengan Yolanda. Aaaaaarrrrggghhhh!" teriak Lilies kesal.
Dia benar-benar sangat tidak menyangka, bahwa wanita yang sangat ia percaya dan sangat Lilies kagumi kecerdasannya ternyata adalah musuh dalam selimut baginya.
"Aku tidak akan tinggal diam, aku harus buat perhitungan dengan Minerva. Dia juga sudah membuatku terus menerus diteror oleh perusahaan yang bekerja sama denganku." gumam Lilies sambil mengetuk kan jarinya di atas meja.
__ADS_1
"Jangan terlalu diambil hati, baby." ucap Amer menenangkan hati kekasihnya. "Minerva juga sudah melepaskanmu dari penjara. Aku rasa, dia hanya sekedar memberi peringatan saja." timpal Amer membuat Lilies tidak terima.
"Kamu lebih membela Minerva dari pada aku, kekasihmu sendiri?" sarkas Lilies. "Katakan! Siapa sekarang yang lebih penting? aku atau Minerva?" tanya Lilies dengan mata yang mulai berkaca - kaca.
Amer langsung memeluk Lilies dengan sangat erat dan mengusap punggungnya. Melihat kemesraan sepasang kekasih itu, Romy pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Lilies.
"Tentu saja aku membelamu, baby. Aku hanya tidak ingin kau bertindak gegabah yang akan merugikan dirimu sendiri sayang. Aku sungguh sangat mengkhawatirkan mu. Aku hanya ingin kita hidup bahagia. Ku mohon jangan membuat masalah baru di saat kita sudah hampir menikah sebentar lagi." pinta Amer.
Lilies mulai berfikir tentang apa yang diucapkan oleh Amer barusan. Ia memang mengakui kecerdasan Minerva sampai mampu menguak rahasia terbesar dalam perusahaannya, tapi Lilies juga masih belum menerima jika ternyata Minerva adalah musuh dalam selimut baginya.
"Bantu aku melenyapkan Minerva jika kau memang sangat mencintaiku, Amer." ucap Lilies membuat Amer sangat terkejut.
"Fikirkan baik-baik apa yang ucapkan barusan, Baby." timpal Amer yang masih belum setuju dengan permintaan kekasihnya.
"Aku akan mengemas semua rencanaku dengan sangat baik. Kita lenyapkan dengan perlahan lahan agar tidak seorangpun mencurigai kita. Aku akan melenyapkan nya bukan dari tanganku sendiri. Melainkan dari tangan orang lain." ucap Lilies.
"Bilang pada Romy, cari kelemahan Minerva dan segera komunikasikan denganku." ucap Lilies memberikan perintah.
Mau tidak mau, Amer kini menuruti keinginan dari Lilies. Ia segera menemu Romy dan menyampaikan apa yang sudah diperintahkan oleh Lilies.
"Kau cari mati, ya?" tanya Romy terkejut setelah mendengarkan ucapan Amer.
"Kamu gak lihat banyak pihak yang ada bersama Minerva. Sedangkan kita hanya bertiga saja dengan Nona Lilies. Aku kini mengkhawatirkan masa depanku, Amer." ucap Romy yang kurang setuju dengan ajakan Amer.
"Ikuti perintahku atau kau akan menyesal Romy!" ucap Lilies yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Romy dan juga Amer.
"Lakukan dengan pendekatan yang baik dan jangan brutal. Maka kita dengan mudah akan mengetahui kelemahan Minerva." ucap Lilies.
Akhirnya mau tidak mau Romy dan Amer pun menyetujui beberapa rencana Lilies untuk melenyapkan Minerva.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mampir yuuuk ke Novel Terbaru aku. Judulnya COMPLICATED MISSION. Aku tunggu jejak kalian yaaa.