
Minerva mengerjapkan matanya dan mencari ponselnya. Layar di ponselnya memperlihatkan angka 19.30 dan pesan masuk dari Jovita.
^^^Jovita^^^
^^^Maafkan aku Minerva, aku tak jadi mengunjungimu hari ini karena harus mengantar Mami ke Rumah Sakit. Next day aku sempatkan untuk main ya. See you.^^^
Minerva
Mami sakit apa?
Setelah membalas pesan dari Jovita, Minerva langsung menuju wastafel dan mencuci mukanya. Setelah itu ia membuka box meal makan siangnya yang tertunda sangat lama.
Di tengah makan, Minerva teringat Yolanda yang belum ia beritahukan bahwa Minerva sudah menemukan tempat yang baru.
Ia pun membuka sistem scorpio untuk melacak nomor ponsel milik Yolanda dan mengirim pesan kepadanya.
^^^Minerva^^^
^^^Hai Yolanda, aku Minerva. Maaf tidak sempat mengabarimu, tadi. Aku sudah mendapatkan apartemen baru. Kemungkinan malam ini aku sudah tidak kembali ke hotel. Aku menyewa kamar hotel itu selama satu minggu dan baru menempatinya selama tiga malam. Nikmati saja fasilitas hotelnya sampai hari terakhir, See you.^^^
Setelah mengirimkan pesan untuk Yolanda, Minerva segera melanjutkan makan siangnya yang tertunda sangat lama.
Tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi. Minerva segera mencuci tangannya dan membukakan pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung.
Wanita setengah baya terlihat berdiri di depan pintu apartemen Minerva. Kalau ditaksir usianya sekitar lima puluh tahunan, hanya saja ia masih terlihat cantik di usianya yang sudah setengah abad itu.
"Maaf Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Minerva terdengar sangat ramah.
Wanita tadi langsung terkesima dengan aura kecantikan yang Minerva pancarkan. Ia langsung tersenyum dan menarik tangan Minerva masuk ke dalam.
"Putraku pasti belum mengenalkan aku denganmu ya? Dia pasti sangat sibuk sampai tidak memperlihatkan fotoku padamu."
"Kau tau gadis cantik? Bahkan putraku juga tidak pernah bercerita padaku jika dia sudah menemukan wanita secantik dirimu. Pantas saja dia selalu menolak pulang ke rumah dan sangat betah tinggal di apartemennya."
Wanita setengah baya yang sama sekali tidak Minerva kenal dan masuk ke dalam apartemennya membuat Minerva menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terlebih Minerva sangat tidak paham apa yang sedang wanita itu bicarakan. Minerva juga tidak bisa mengerem ucapan yang keluar dari bibir wanita itu karena sedari tadi terus berbicara tanpa jeda sedikitpun.
__ADS_1
"Hai, Gadis cantik. Mengapa kau makan makanan cepat saji seperti ini." wanita setengah baya itu kini menemukan box meal Minerva yang belum sempat habis dimakan.
"Ini sangat tidak sehat, lebih baik membeli buah dan sayuran untuk di stok di dalam kulkas. Jika kau tidak sempat memasak, bilang saja pada putraku. Dia pasti dengan senang hati akan memasak gadis cantik sepertimu."
"Oh iya, aku belum sempat berkenalan denganmu. Siapa namamu sayang?" tanya wanita setengah baya tadi sambil menatap Minerva secara intens.
"Minerva, tante." jawab Minerva dengan singkat dan langsung ditimpali oleh wanita setengah baya tadi.
"Nama yang sangat cantik, secantik orangnya. Aduh Minerva, jangan panggil aku tante. Panggil saja mama seperti putraku memanggilku."
"Oh iya, dimana putraku? Apa dia juga belum pulang bekerja?" tanya wanita tadi sambil mengetik nama putranya di ponselnya dan menelfonnya.
"Mama dimana? Aku sudah menunggu mama dari tadi. Kenapa belum sampai juga?"
^^^"Mama sudah berada di kamarmu dengan kekasihmu. Mama yang harusnya bertanya kau ada dimana?"^^^
"Kekasih? Mama jangan mengada-ada. Mama pasti salah masuk kamar."
^^^"Salah masuk kamar? Fourth floor Nomor 44 kan?"^^^
"Nomor 44 A mama."
"Disini nomor 44 B tante. Nomor 44 A berhadap-hadapan dengan yang B." jelas Minerva sambil menunjukkan ke arah pintu keluar.
Wanita setengah baya tadi langsung menutup ponselnya dan meminta maaf pada Minerva. "Maaf, aku sudah salah masuk kamar. Maafkan aku, Minerva." ucap wanita setengah baya tadi.
"Tidak apa-apa, tante."
"Aku senang mengenalmu, Minerva. Kenalkan aku Risa. Apa kau mau berkenalan dengan putraku?" tanya Mama Risa.
Belum sempat menjawab pertanyaan Risa, bel apartemen Minerva kembali berbunyi. "Oh sepertinya itu putra anda. Biar saya bukakan pintu." Minerva segera berjalan ke arah pintu.
"Minerva!" Kali ini Dwayne yang terkejut melihat Minerva berdiri di balik pintu. "Kau tinggal disini?"
"Oh, hai Tuan Dwayne. Saya baru saja membeli apartemen ini hari ini." jawab Minerva santai.
__ADS_1
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Mama Risa. "Waaah kebetulan sekali, bagaimana jika kita menyambut tetangga baru kita dengan secangkir teh atau kopi, Dwayne?" Mama Risa meminta persetujuan putranya.
"Jangan Ma, emmmh aku takut mengganggu kesibukan Minerva." ucap Dwayne menutupi dirinya sendiri yang sebenarnya sangat ingin Minerva datang ke apartemennya.
"Oh iya tante, sebenarnya saya juga ada janji dengan seseorang malam ini. Mungkin lain kali saya akan berkunjung." ucap Minerva yang melihat Dwayne sepertinya sangat keberatan jika ia datang ke apartemennya.
"Saya permisi dulu, tante." Minerva membungkukkan tubuhnya dan masuk ke dalam apartemennya.
"Dwayne, kau memang laki-laki yang sangat payah. Mama memintanya datang berkunjung agar kalian bisa saling mengenal lebih dekat lagi." gerutu Mama Risa kesal sambil melangkahkan kakinya ke apartemen putranya.
"Usiamu sudah hampir kepala tiga, tapi belum juga mengenalkan seorang kekasih pun pada mama. Mama curiga, sebenarnya kau itu laki-laki normal atau tidak?" tanya Mama Risa sambil memukul bahu putranya.
"Lihat Minerva, dia sangat cantik dan sopan. Mama juga yakin dia pasti pandai dan mandiri melihatnya hanya tinggal sendiri di apartemen mewah seperti ini. Apa kau juga tidak memiliki perasaan khusus padanya?"
"Meski baru saja bertemu, mama sudah jatuh cinta pada Minerva. Melihatmu seperti ini membuat mama ingin membawamu ke psikiater seperti saran sahabat mama."
Mama Risa terus saja mengoceh sampai Dwayne sama sekali tidak sempat menimpali ocehan mamanya.
"Diminum dulu, Ma. Sepertinya banyak bicara membuat mama sangat kehausan." Dwayne memberikan teh hangat pada mamanya.
"Aku pria yang normal ma. Suatu saat nanti gadis pilihanku pasti tidak akan membuat mama kecewa."
"Huft, mama harap kau tidak akan berbohong soal ini Dwayne." gumam Mama Risa.
Malam ini Mama Risa sengaja menginap di apartemen Dwayne karena sudah lama mereka tidak saling bercerita. Bukan saling bercerita, lebih tepatnya Mama Risa yang terus bercerita dan Dwayne menjadi pendengar setia.
Berkali-kali Dwayne menguap mendengar cerita dari mamanya, hingga akhirnya tepat pukul sepuluh malam, mamanya memutuskan untuk tidur.
Dwayne menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan saat mendapati mamanya masuk ke dalam kamar dan beristirahat.
Sedangkan Dwayne yang sudah sangat lelah pun juga masuk ke dalam kamarnya. Tapi bayangan Minerva terus saja berada di pelupuk matanya jingga matanya sulit terpejam.
"Minerva menjadi tetangga baruku?" gumam Dwayne dalam hati. "Ini bukan suatu kebetulan bukan? Aku yakin inilah yang dinamakan jodoh." batin Dwayne.
"Aku sangat ingin mengatakan pada Minerva bahwa aku adalah Emir. Tapi kenapa aku tidak berani untuk mengatakannya?"
__ADS_1
"Bahkan aku masih terlihat sangat dingin saat menghadapi Minerva. Hemmm, bagaimana ya cara aku mengungkapkan semuanya pada Minerva?"
Dwayne yang terus saja memikirkan Minerva, lama kelamaan Dwayne makin terjaga dan sulit untuk memejamkan matanya. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.