Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Masih Belum Terima


__ADS_3

Meeting panjang hari ini benar-benar membuat kedua pihak perusahaan sangat puas dengan hasilnya. Kini tiba waktunya perjamuan makan siang di Resto LoveBee. Emir langsung mendekati Minerva dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Minerva menuju ke tempat makan siang.


"Aku sangat tidak menyangka kau sehebat ini Minerva." puji Emir.


"Biasa aja dong kaak. Jangan bikin aku malu deh." ucap Minerva setengah berbisik.


Melihat Minerva jalan berdampingan dengan Emir, membuat Austin menyeruak di tengah-tengah mereka.


"Minerva, setelah makan siang segera ke ruanganku. Ada yang perlu segera kita bahas." ucap Austin yang kemudian berlalu begitu saja.


"Baik Tuan." jawab Minerva santai dan masih berada di samping Emir.


"Kenapa tuh orang? Sewot amat." celetuk Emir.


Minerva hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Emir. Sesampainya di Resto, Minerva langsung dipanggil Austin untuk makan satu meja dengannya.


"Bisa gak Minerva bilang sama bosnya untuk makan siang bareng sama kakak?" tanya Emir dan Minerva pun langsung menganggukkan kepalanya berjalan ke arah Austin.


"Maaf Tuan, bisa tidak jika kali ini saya makan siang bersama Tuan Dwayne?" tanya Minerva yang langsung mendapat tatapan tajam dari Austin.


"Oh, baiklah. Saya akan duduk di sini saja." ucap Minerva duduk tepat di hadapan Austin.


Dari kejauhan Emir hanya tersenyum melihat Minerva yang tidak diijinkan untuk makan siang bersamanya. Ia pun melangkahkan kakinya mendekat ke meja Austin dan Minerva.


"Boleh bergabung?" tanya Emir.


"Tidak!" jawab Austin ketus.


Tapi Emir tidak mengindahkan penolakan dari Austin dan tetap duduk di samping Minerva.


"Minerva, bos kamu ini galak sekali ya. Kalau memang sudah tidak nyaman bekerja di sini, perusahaanku dengan senang hati menerima mu untuk bergabung." ucap Emir.


Austin langsung menatap tajam ke arah Emir. Kali ini ia menyadari bahwa dirinya terlalu formal dengan Minerva saat bekerja. Ia pun mulai merasa takut jika Minerva merasa tidak nyaman dengan sikapnya selama bekerja.


"Saya cukup nyaman bekerja disini Tuan Dwayne." ucap Minerva.


Austin pun tersenyum dan mulai menyantap makan siangnya. "Anda dengar sendiri bukan, dia nyaman bekerja denganku."


"Maaf Tuan Austin, bisa saya koreksi sedikit ya kalimat anda. Minerva CUKUP nyaman bekerja di sini. Dan aku rasa dia akan merasa LEBIH nyaman jika bekerja bersamaku." timpal Emir membuat Austin mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Melihat kedua Direktur perusahaan ini saling melemparkan tatapan tajam, Minerva memutuskan untuk berpindah meja dan duduk dengan Karyawan yang lain.


"Sepertinya saya akan makan di meja yang lain." Minerva langsung berdiri membawa makannya dan berpindah ke meja Reyna dan Siska.


Kedua Direktur ini terdiam melihat kepergian Minerva.


"Lihat, Minerva sudah benar benar tidak nyaman makan bersama anda. Aku pastikan sebentar lagi dia pasti mengajukan surat pengunduran diri." celetuk Emir.


"Ck, dia pergi karena ada anda Tuan Dwayne." balas Austin.


"Baiklah, kali ini aku tidak akan membantah ucapan calon kakak iparku sendiri." ucap Emir yang mulai menyantap makan siangnya.


"Ciiih, bahkan aku tidak sudi menjadi kakak iparmu. Ingat Emir! Kita masih akan bersaing dengan sportif." Austin menatap tajam ke arah Emir sambil menusuk daging steak nya.


"Yap, kita memang masih bersaing dan kita akan Sama-sama menang bukan? Kau tetap mendapatkan Minerva sebagai adikmu dan aku akan mendapatkan Minerva sebagai ISTRIKU." Emir membalas tatapan tajam Austin.


Austin membuang nafasnya kasar dan segera mengakhiri makan siangnya. Ia sama sekali tidak menanggapi ucapan Emir kali ini. Setelah makan pun ia langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Dasar kakak ipar yang aneh." gumam Emir yang masih menikmati makan siangnya.


Setelah Emir menghabiskan makannya, Minerva pun berjalan ke arah meja Emir.


"Kak, dimana bosku?" tanya Minerva.


Minerva menganggukkan kepalanya dan kemudian langsung menggelengkan kepalanya. "Gak usah kak, Daddy sama Mommy mau jemput katanya." balas Minerva.


"Emm, kalo nanti malem ada acara gak?"


"Belum ada sih, kenapa kak?"


"Kita nonton yuk, ada film bagus loh di bioskop." ajak Emir.


"Nanti aku bilang Mommy dulu yaa. See you kak." Minerva meninggalkan Emir sambil melambaikan tangannya.


...☘️☘️☘️...


Sedangkan Austin kini di ruangannya sedang menghubungi Dokter Malvin untuk menanyakan perkembangan hasil dari tes DNA yang ia lakukan tadi pagi.


📲 "Dokter Malvin, apa sudah ada titik terang dari tes DNA tadi pagi?" tanya Austin saat panggilannya sudah terhubung.

__ADS_1


📲 "Untuk hasil keseluruhan memang belum ada, saya juga baru memeriksa milik anda dan jugaTuan Arthur. Sampai saat ini baru ada kecocokan genetik antara Tuan Arthur dengan anda yang terbukti sebesar 98%" jelas Dokter Malvin membuat Austin terduduk lemas.


Austin langsung mematikan panggilannya secara sepihak. Jika ia dan Tuan Arthur sudah ada kecocokan genetik, pasti dengan Mommy Moona pun sama. Karena ia ingat betul bagaimana daddynya bercerita tentang perjuangan Mommy yang akan melahirkan dirinya.


Ia melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing bajunya yang paling atas. Ia pun mengacak acak rambutnya, masih belum terima dengan kenyataan yang ada. Tak lama kemudian Minerva masuk kedalam ruangannya.


"Maaf Tuan, tugas apa yang harus saya kerjakan?" tanya Minerva.


Austin berbalik dan memandang ke arah Minerva dengan keadaan yang kacau.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Minerva.


"Apa kau senang menjadi anak dari Moona Beatrice?" tanya Austin tiba-tiba.


"Apa kau bangga menjadi anak dari Arthur Wycliff?"


"Bagaimana perasaanmu saat kau mengetahui semua kebenaran ini yang tentunya sangat membuat aku terpukul, Minerva?!!"


Austin memegang bahu Minerva dan menatapnya netra Minerva secara intens. "Apa kau juga bahagia telah membuat aku terpuruk seperti sekarang?"


"Jawab aku, Minerva!" suara Austin naik satu oktaf membuat Minerva meloloskan satu bulir air mata di pipinya.


"Aku tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Bahkan aku pun tidak pernah ingin bertemu dengan kakak sebelumnya." jawab Minerva menepis tangan Austin dari bahunya.


"Jika kakak tidak bahagia karena kehadiranku, maka dengan senang hati aku akan pergi menjauh dari kehidupan kakak dan juga orang tua kakak."


"Aku lebih baik sendiri dari pada harus ribut seperti ini."


Minerva langsung berbalik dan keluar dari ruangan Austin. Ia pun langsung membereskan tas nya dan melangkahkan kakinya meninggalkan meja kerjanya.


Sedangkan kepergian Minerva dari ruangannya membuat Austin mengusap wajahnya kasar. Dia kini sadar sudah kelewatan melupakan semua kekesalannya pada Minerva.


"Minerva!" panggil Austin yang kemudian menuju ke meja kerja Minerva.


Kosong! Bahkan ia tidak menemukan satu pun barang milik Minerva di meja kerjanya.


"Kenapa ia cepat sekali menghilang." gumam Austin yang kemudian mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Minerva.


Tidak Tersambung!

__ADS_1


"Oh My God, maafkan aku Minerva."


Austin segera melangkahkan kakinya dan mencari tahu kemana Minerva pergi.


__ADS_2