
Selama sarapan berlangsung, Emir terus menerus mencuri pandang ke arah Minerva. Sedangkan Austin sengaja membuat Emir cemburu di meja makan.
"Sini kak, Minerva ambilin nasi." Minerva mengambil piring Austin dan menyendokkan nasi ke atas piringnya.
"Thanks, sayang." jawab Austin yang kemudian meletakkan tangannya di atas kursi belakang punggung Minerva hingga keduanya terlihat begitu dekat dan nampak seperti Austin merangkul Minerva.
Daddy Arthur dan Mommy Moona hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra mereka. Berbeda dengan Emir yang tampak biasa saja dan tidak memperlihatkan kecemburuannya sedikit pun.
Emir kali ini justru terlihat santai mengambil nasinya dan lauk untuknya sendiri. Melihat Emir biasa saja, membuat Austin makin melancarkan jurusnya untuk makin membuat Emir cemburu.
"Dek, kita suap suapan yuk. Kakak pingin banget disuapin kamu." Austin mulai menyendokkan nasi ke mu lut Minerva.
Minerva pun membuka mulutnya dan langsung menerima suapan Austin, begitu pula sebaliknya dengan Austin. Sayangnya Emir tidak bergeming sedikit pun. Ia justru mengajak ngobrol Tuan Arthur dan mengacuhkan Austin begitu saja.
Austin pun sedikit melirik ke arah Emir yang mengacuhkan dia. "Si*l! Kenapa tuh pelembut pakaian gak cemburu sih." gerutu Austin dalam hati. "Hemmm, sepertinya aku salah trik untuk membuat dia hengkang dari sisi Minerva." batin Austin kemudian.
Sedangkan Emir kini mati-matian menahan rasa cemburunya melihat Austin yang dengan asyiknya berdekatan dengan Minerva. Meskipun Emir sadar keduanya adalah saudara kandung, tetap saja ia merasa sangat cemburu melihat Minerva lebih dekat dengan Austin dari pada dirinya.
"Dasar bule gak waras! Gak sadar apa kalo dia itu hanya kakak kandung Minerva yang tidak akan memiliki Minerva seutuhnya. Minerva kan nantinya tetap akan jadi milik suaminya." gerutu Emir dalam hati sambil mencuri pandang ke arah Minerva dan juga Austin.
"Tapi aku juga belum tentu menjadi suami Minerva," batin Emir geram. Ia kali ini sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. "Oh iya, Austin gak penting buat aku, lebih baik aku mendekati Om Arthur dan Tante Moona. Setidaknya aku mendapatkan izin dari mereka berdua." gumam Emir dalam hati dan terus saja mengacuhkan Austin.
Saat Emir selesai sarapan, Austin yang merasa sudah gagal membuatnya cemburu langsung mengingatkannya untuk mengambil sepedanya.
"Emir!" panggil Austin. "Jangan lupa ambil sepedaku!" ucapnya lagi.
Dengan santai Emir meletakkan tangannya di pelipis keningnya. "Siap Abang." jawab Emir membuat Austin semakin kesal.
"Aku bukan abangmu!" jelas Austin.
Melihat signal-signal pertempuran antara Kakaknya dan Emir membuat Minerva langsung menengahinya. "Kaaaak." tepuk Minerva di lengan Austin. "Mendingan kakak tunggu aja Kak Emir ambil sepeda di luar." tambah Minerva.
__ADS_1
"Dari pada kakak ribut di sini." bisik Minerva. Kali ini Emir langsung membuang mukanya dan mukanya benar-benar memerah. Rasa cemburu Emir benar-benar sudah tidak dapat disembunyikan lagi.
"Aku akan mengambilnya sekarang." ucap Emir yang tidak lagi memandang ke arah Minerva. "Om, tante, terima kasih banyak atas sarapannya. Saya pamit dulu ya." ucap Emir yang terdengar sangat santun.
"Kami sangat senang kamu bergabung dengan kami seperti ini. Om juga sangat senang mengobrol denganmu Emir. Kembalilah kemari setelah urusanmu selesai." ucap Daddy Arthur.
"Tante juga senang sekali Emir, Risa juga pastinya senang jika anak kita berdua tampak akrab seperti ini." tambah Mommy Moona.
Kini justru Austin semakin kesal dengan penerimaan kedua orang tuanya terhadap Emir. "Ck, Gakk usah cari muka deh. Buruan gih ambil sepedanya." ucap Austin dan Emir pun segera meninggalkan meja makan.
Setelah kepergian Emir, Tuan Arthur pun langsung menegur putranya atas sikapnya tadi. "Austin, Daddy rasa sikap kamu itu keterlaluan."
"Yap, Mommy juga setuju dengan penilaian Daddy." timpal Mommy Moona.
Saat Austin terpojok dengan kedua orang tuanya, Minerva pun angkat suara untuk membela kakaknya. "Dad, Mom, ini tidak seperti yang kalian lihat." ucap Minerva menengahi.
"Kakak dengan Kak Emir memang sering cekcok atau adu mulut, tapi keduanya itu saling sayang loh." jelas Minerva membuat bibir Mommy nya langsung merekah kan senyumannya.
"Tentu saja. Buktinya mereka berdua saling bekerja sama untuk mencari Minerva kemarin. bukan begitu Kakak?" jawab Minerva dan Austin masih diam saja tidak menimpali.
"Bahkan Kak Austin sudah dua kali loh menginap di apartemen Kak Emir." tambah Minerva lagi.
"Waaaaah, good boy, Austin." puji Mommy Moona.
"I am Not a boy, Mommy. Aku sudah dewasa Dan bukan anak kecil lagi." ucap Austin yang kemudian beranjak meninggalkan meja makan dan berjalan menuju ke teras luar untuk menunggu Emir tiba membawa pulang sepedanya.
Betapa terkejutnya Austin saat mendapati Emir yang duduk manis di teras rumahnya.
"Pelembut pakaian! ngapain masih di sini?" tanya Austin.
Emir tidak menjawab dan justru menunjuk ke arah pohon di depan villa. "Gak lihat tuh, sepedanya udah nangkring di situ."
__ADS_1
Austin mengarahkan pandangannya ke arah pohon yang di tunjuk oleh Emir. Di liatnya sepedanya kini sudah tidak kempes lagi bahkan terlihat seperti habis di cuci karena awal ia pakai tadi masih kotor.
"Huuuh. Lagi - lagi kali ini aku yang kalah telak dengannya." gumam Austin dalam hati.
"Bagaimana kakak ipar?" tanya Emir.
"Oke, sekarang kau boleh pulang." ucap Austin sambil berbalik badan hendak masuk kembali ke dalam villa.
"Eiitzzz," Emir menahan bahu Austin. "Aku datang ke Bali hanya untuk mengajak Minerva berkencan, jadi aku tidak akan pulang." timpal Emir.
"Berkencan?"
"Berkencan lah dalam mimpimu! Aku tidak akan mengizinkan adik perempuanku berkencan denganmu. Lagi pula keluargaku akan menikmati liburan kami tanpamu." jelas Austin yang langsung ke dalam villa meninggalkan Emir.
Emir kini mengusap wajahnya kasar. Ia kini merasa bahwa Austin adalah tantangan terbesarnya untuk mendapatkan Minerva. Terlebih sampai saat ini Minerva belum juga menganggapnya spesial. Tiba-tiba ponsel Emir berdering dan tampak nama Maria di layar ponselnya.
"Halooo, Tuan Dwayne. Saya menunggu anda di tempat prosesi pernikahan Naomi. Nanti saya share loc ya. Saya sudah menunggu anda." ucap Maria di ujung panggilan.
"Oke Maria. Aku akan segera kesana. Apakah anak buah ku sudah tiba?" tanya Emir kemudian.
"Sudah, Tuan. Mereka bahkan datang sebelum waktu yang disepakati kemarin." jelas Maria.
Emir pun langsung mematikan panggilannya dan menunggu kiriman lokasi dari Maria.
Blink! Pesan lokasi dari Maria pun sampai dan Emir langsung mengamatinya dengan seksama.
"Gedung Serba Guna // Balai pertemuan Buleleng. " gumam Emir. "Ini sangat dekat sekali dengan posisi ku sekarang.
Benar saja, Emir cukup lima menit berjalan dan kini ia hampir sampai di tempat yang dimaksud. Sesampainya di depan Gedung Serba Guna, Emir bertemu dengan sosok yang ia baru kenal tadi pagi.
"Narayan!" panggil Emir, "Kau di sini?"
__ADS_1