Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Mami Has Died


__ADS_3

Satu pesan dari Jovita membuat Minerva tidak jadi memejamkan matanya.


^^^Jovita^^^


^^^Mami udah meninggal. Mami udah gak sakit lagi, Minerva. Mami udah sembuh. Maafin semua kesalahan Mami ya.^^^


Minerva sangat terkejut setelah membaca pesan dari Jovita. Ia pun segera menanyakan dimana posisi Jovita sekarang. Dua kali Minerva menelfon Jovita, sayangnya tidak ada jawaban sama sekali.


Minerva


Kamu dimana, Jo? Share loc, please!


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan Minerva masih terjaga sambil menunggu balasan pesan dari Jovita.


^^^Jovita^^^


^^^Aku masih di Rumah Sakit Gezond bersama papi. Jenazah Mami baru saja dimandikan.^^^


Melihat balasan dari Jovita, Minerva langsung mengambil jaket dan tasnya. Tanpa pikir panjang, Minerva bersiap-siap untuk menuju ke rumah sakit.


Tepat saat Minerva keluar dari apartemennya, ia berpapasan dengan Dwayne yang juga baru keluar dari apartemennya karena sangat sulit memejamkan matanya.


"Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Dwayne melihat Minerva yang mengenakan jaket dan membawa tasnya.


"Rumah Sakit Gezond, Mamiku meninggal." jawab Minerva dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Minerva sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya saat mengetahui Mami Peny meninggal dunia. Terlebih mengingat Mami Peny selalu berlaku jahat padanya.


"Tunggu, biar aku antar." ucap Dwayne yang kembali masuk ke dalam apartemennya untuk mengambil kunci mobil.


Minerva tidak mencegah Dwayne yang ingin mengantarnya karena saat ini ia memang butuh akomodasi menuju ke rumah sakit. Sebenarnya bisa saja Minerva memesan taksi, tapi ia pikir akan lebih cepat sampai jika Dwayne mengantarkannya.


Kini mereka berdua sudah berada dalam lift. Dwayne melihat ke arah Minerva yang tampak tidak terlalu sedih. Ia sangat paham siapa Mami yang dimaksud oleh Minerva. Meskipun ia lama menghabiskan waktu di luar negeri, tapi ia tidak melupakan segala hal yang berkaitan dengan Minerva.


"Apa kau sedih?" Dwayne memberanikan diri bertanya pada Minerva.


"Entahlah, aku tidak paham bagaimana perasaanku saat ini. Aku memanggilnya Mami, tapi ia tidak pernah menganggapku anaknya karena aku memang bukan anaknya. Hal yang lucu, bukan?" timpal Minerva panjang lebar.


"Ups, maaf Tuan. Seharusnya aku tidak mengatakan hal tadi. Terima kasih sudah bersedia mengantarku ke rumah sakit."


Dwayne justru dibuat kikuk saat Minerva berkata seperti itu. Ada perasaan kesal dalam dirinya saat mendapati Minerva memanggilnya dengan sebutan Tuan.

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan. Aku hanya membalas kebaikanmu yang sudah membantu Yolanda." jawab Dwayne.


Minerva langsung memandang ke arah Dwayne dan kali ini Dwayne salah tingkah mendapat tatapan dari Minerva.


"Anda pasti memiliki perasaan khusus terhadap Yolanda." tebak Minerva.


"Haaaah, bagaimana kau bisa beranggapan seperti itu?" tanya Dwayne kesal dan langsung membuang mukanya.


"Buktinya anda baik terhadapku karena aku sudah menolong Yolanda." tukas Minerva dan kini pintu lift terbuka.


Dwayne tidak menghiraukan ucapan Minerva dan langsung berjalan ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Sedangkan Minerva dimintanya untuk menunggu di lobby.


Keduanya sama-sama terdiam saat mobil membelah jalanan menuju ke rumah sakit. Dwayne mengemudi mobil sambil merutuki kebodohannya yang mengatakan bahwa ia melakukan ini karena membalas kebaikan Minerva. Entah mengapa ia jadi sering membohongi dirinya sendiri saat bersama Minerva.


"Minerva, apa hubunganmu dengan Austin?" tanya Dwayne memecah keheningan.


"Hubungan?" Minerva mengulangi pertanyaan Dwayne. "Hubungan apa yang anda maksud, Tuan?" Minerva balik bertanya pada Dwayne.


"Kau ini ditanya malah balik bertanya." suara Dwayne mulai terdengar kesal. "Aku melihat kau sangat dekat dengannya, bahkan aku juga melihat kalian berdua berpegangan tangan."


"Apa Austin kekasihmu?" kini Dwayne bertanya langsung pada poinnya.


"Aku baru saja tiba di sini setelah delapan tahun lebih tidak menginjak negara ini. Aku memiliki beberapa kenangan di sini salah satunya Kak Austin yang tiba-tiba bertemu denganku saat aku memesan kamar di hotel Bee."


"Kak Austin yang sekarang sangat berbeda dengan delapan tahun yang lalu. Dia terlihat sangat humble dan baik. Sikapnya kali ini mengingatkanku pada seseorang yang dulu pernah dekat denganku. Namanya Kak Emir." ucap Minerva dan Dwayne langsung batuk batuk saat mendengar namanya keluar dari bibir Minerva.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan? Anda seperti tersedak, padahal tidak sedang makan atau minum sedikit pun." Minerva menepuk lengan Dwayne untuk sedikit meredakan batuknya.


Dwayne melihat ke arah tangan Minerva yang menempel di lengannya. "Upz, maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa, Tuan." Minerva langsung menjauhkan tangannya dari lengan Dwayne.


"Kak Emir?" tanya Dwayne dan Minerva menganggukkan kepalanya.


"Entahlah dimana dia sekarang. Aku pernah bertanya tentang Kak Emir pada Kak Austin."


"Lalu, apa jawaban Austin?" potong Dwayne penasaran apa yang Austin katakan pada Minerva tentang dirinya.


"Aku hanya bertanya apa dia pernah bertemu dengan Kak Emir. Jawabannya, iya. Sayangnya Kak Emir dan Kak Austin tidak terlalu akur karena kejadian delapan tahun yang lalu." jelas Minerva.


"Apa kau merindukan Kak Emir mu itu, Minerva?"


"Tentu saja. Bahkan aku sangat ingin bertemu dengannya. Sayangnya aku tidak bisa terus menerus meminta tolong pada Kak Austin untuk membawaku bertemu dengannya karena dia saat ini sangat sibuk."

__ADS_1


"Anda tahu sendiri bukan jika Direktur Lilies itu sepupunya dan kini sedang ditahan oleh polisi."


Dwayne hanya menganggukkan kepalanya. Kini mereka tidak melanjutkan percakapan mereka karena mobil Austin sudah sampai di rumah sakit Gezond.


Dwayne langsung mengajak Minerva masuk melalui pintu Barat dan menuju ke tempat pemulasaran jenazah karena ia yakin jenazah Mami yang dimaksud Minerva pasti ada disana.


Benar saja, terlihat Jovita duduk sambil menunduk di samping Papi Aris.


"Jovita!" panggil Minerva.


Jovita langsung mengangkat kepalanya dan menghambur memeluk Minerva dengan sangat erat.


"Maafin Mami ya, tolong maafin Mami." isak Jovita dan Minerva mengusap punggung Jovita untuk menenangkannya.


"Iya, Jo. Kamu yang sabar yaa."


Jovita langsung melepaskan pelukannya dan kini Minerva menemui papi Aris. Papi Aris langsung memeluk Minerva dengan sangat erat.


"Papi sangat bersyukur kamu masih hidup Minerva. Papi sangat kalut saat mendengar kabarmu yang hilang karena ledakan jet ski yang kamu naiki. Papi kira kita tidak akan bertemu lagi seperti ini, Minerva."


"Aku baik-baik saja, Pi." Minerva melepaskan pelukannya dan duduk di antara Papi Aris dan Jovita.


Sedangkan Dwayne memilih keluar ruangan untuk memberikan waktu Minerva bersua dengan Jovita dan Papi Aris.


"Maafkan Mami, Minerva. Dia mengalih statuskan semua kepemilikanmu menjadi milik Mami. Aku sudah menentang Mami saat itu, tapi Mami tidak pernah mengindahkan omongan aku."


"Mami kembali bergabung dengan teman sosialitanya dan perlahan-lahan Mami menjual satu per satu aset perhiasan yang dimilikinya hanya demi bisa berkumpul dengan teman-temannya."


"Meskipun Mami bekerja, tapi hasilnya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari kami. Tepat saat aku lulus SMA, harta yang kita miliki hanya rumah karena semua barang yang ada di rumah sudah terjual oleh Mami."


"Akhirnya kami menjual rumah untuk biaya kuliah aku dan membeli rumah yang hanya ada satu kamar. Sejak saat itu, Mami dijauhi oleh teman-teman sosialitanya. Mami bekerja untuk makan sehari-hari, dan aku juga akhirnya mencari pekerjaan untuk biaya kuliah aku selama ini."


"Saat aku lulus kuliah, Mami memberanikan dirinya untuk hutang online yang bunganya makin lama makin membengkak. Padahal saat Mami mengajukan pinjaman online, aku sudah bekerja di Bank."


"Mami terus dikejar kejar oleh para rentenir untuk segera melunasi hutangnya selama satu tahun belakangan ini sampai akhirnya sore ini aku mendapati Mami bunuh diri di kamar."


Jovita bercerita panjang lebar sambil beruraian air mata. Sedangkan Minerva hanya mampu memeluk Jovita dan mengusap punggungnya agar Jovita sedikit tenang.


Papi Aris yang tidak sanggup melihat kesedihan putrinya pun keluar dari ruangan dan duduk bersama Dwayne.


Tak lama kemudian, jenazah Mami Peny sudah selesai dimandikan dan Tim dari rumah sakit siap menguburkannya malam ini juga.

__ADS_1


__ADS_2