
Keesokan harinya, Austin sudah berada di kamar Minerva saat Minerva masih berada di dalam kamar mandi. Matanya nampak memerah dan rambutnya terlihat sangat berantakan. Austin kini menyandarkan tubuhnya di sofa kamar Minerva.
Saat Minerva sudah menyelesaikan mandinya, ia sangat terkejut dengan penampilan kakaknya pagi ini. "Ada apa dengan kakak?" tanya Minerva yang langsung duduk di samping kakaknya.
"Kenapa dia tidak menemuiku sebelum pergi?"
"Kenapa sampai sekarang juga dia tidak bisa dihubungi?"
"Apa yang sebenarnya ada dalam fikirannya, meninggalkan aku begitu saja? Lagi pula kerjaan dia masih sangat banyak di sini. Dasar tidak bertanggung jawab!"
Pertanyaan Austin yang bertubi-tubi membuat Minerva mengerutkan dahinya. "Siapa yang kakak maksud?" tanya Minerva memegang bahu kakaknya.
"Maria." ucap Austin kesal.
"Oooooh itu." Kali ini Minerva langsung tersenyum melihat kekacauan kakaknya.
"Kakak kehilangan kak Maria yaaa?" tanya Minerva dengan sedikit menggoda.
"Ck, kau ini yaa. Tentu saja aku kehi..." Austin tidak melanjutkan kalimatnya saat ia melihat Minerva seperti meledeknya.
"Ehmm, kakak udah mulai membuka hati ya?" tanya Minerva membuat Austin mengalihkan pandangannya ke luar balkon kamar Minerva.
"Kak Maria cantik bukan? Udah gitu mandiri dan terlihat sangat cocok jika berdampingan dengan kakak." tambah Minerva.
Austin kini terdiam tidak membalas ucapan Minerva sama sekali. Dia mulai bertanya dalam hatinya sendiri mengenai perasaannya terhadap Maria.
"Kaaaak." Minerva menggoyang-goyangkan tubuh Austin. "Kok malah diem sih."
"Aku tidak mungkin jatuh cinta dengan Maria." ucap Austin.
"Ck, masih saja gak ngaku. Apa sih susahnya tinggal bilang cinta?" timpal Minerva.
"Aku hanya menganggapnya teman kerja Minerva, tidak lebih. Kamu tahu sendiri kan, proyek besar yang sedang aku jalani dengan Maria?" ucap Austin yang masih berkelit tentang perasaannya.
Minerva pun tersenyum mendengar ucapan Austin yang masih saja tidak mau mengakui perasaannya sendiri.
"Kak Maria pulang karena mau menemui mantan suaminya." cap Minerva membuat Austin meradang.
"Apaa?!" pekik Austin mengusap wajahnya kasar. "Kenapa dia menjadi orang yang sangat bodoh dengan kembali lagi ke mantan yang pantas dibuang dan tidak difikirkan."
"Makanya kak, kalo memang cinta, bilang aja cinta." ucap Minerva.
__ADS_1
"Bukan cinta, Minerva. Ini hanya rasa peduli antara rekan saja. Tidak lebih." jawab Austin yang masih saja berkilah.
"Susah deh ngomong sama kakak. Sini deh ikut aku ke kaca." Minerva menarik lengan Austin untuk mengikutinya ke meja rias.
"Lihat diri kakak sendiri! Mata memerah dengan cekungan yang sedikit menghitam. Rambut juga awut awutan udah kayak sarang burung."
"Kakak itu udah capek seharian dan sekarang kakak terlihat tidak tidur semalaman, aku yakin kakak terus memikirkan kak Maria bukan, sampai seperti ini. Itu namanya cinta kak." ucap Minerva membuat Austin tertegun.
Lebih baik kakak sekarang mandi, dan kita sarapan ke bawah. Setelah itu kakak bisa istirahat. Nanti aku yang akan meminta Kak Maria untuk kembali." ucap Minerva membuat mata Austin seketika berbinar.
"Kakak mandi dulu yaa." ucap Austin mengusap kepala Minerva dan kemudian berlalu.
Setelah Austin keluar dari kamarnya, Minerva pun langsung turun ke bawah untuk membantu memasak. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Jovita dan juga Papi Aris duduk di ruang tamu bersama dengan Daddy Arthur.
"Papiii!" pekik Minerva ke girangan. Ia langsung menuruni tangga dengan terburu-buru sampai hampir saja terjatuh.
"Hati-hati Minerva!" teriak Daddy Arthur mengingatkan Putrinya.
Sesampainya di tangga paling bawah, Minerva pun berlari ke arah papinya dan langsung memeluknya dengan sangat erat. "Aku merindukan papi." ucap Minerva.
"Papi juga merindukanmu, sayang. Bagaimana kabarmu?" tanya Papi Aris.
"Aku sangat baik papi, Daddy dan Mommy menjagamu dengan sangat baik." jawab Minerva.
Minerva pun melepaskan pelukannya pada papi dan berganti memeluk Jovita.
"Aku sangat merindukanmu, Minerva. Kau tampak sangat cantik di layar kaca. Setiap hari aku hanya mengobati rindu dengan melihatmu di sana." ucap Jovita.
"Aku juga sangat merindukanmu, Jo." timpal Minerva. "Hari ini menginap di sini yaaa?" pinta Minerva.
"Daddy sangat setuju dengan Minerva. Nah, kalian berdua bercerita lah sesuka hati kalian. Daddy akan mengajak Tuan Aris untuk ke taman." ucap Daddy Arthur.
"Mari Tuan Aris."
Papi Aris pun mengikuti langkah Daddy Arthur ke taman belakang, sedangkan Minerva dan Jovita memutuskan untuk pindah ke depan televisi.
"Aku akan menikah, Minerva." ucap Jovita saat mereka sudah duduk di depan televisi.
"Wow, Great News Jovita. Dengan siapa?" tanya Minerva.
"Nanti malam dia akan datang, kamu juga datang ke rumah papi ya." ajak Jovita dan Minerva pun mengangguk.
__ADS_1
"Spill fotonya dong, Jo." pinta Minerva.
"Aku rasa kau mengenalnya, Minerva." balas Jovita.
"Ayolah Jo, tunjukkan saja fotonya padaku."
Dengan malu-malu Jovita memperlihatkan foto calon suaminya. Minerva pun langsung membelikan matanya saat melihat siapa laki-laki yang disebut sebagai calon suami Jovita.
"Katakan dimana kalian bertemu." ucap Minerva.
"Aku baru mengenalnya satu bulan yang lalu saat ia mengurus dana perusahaan. Sejak saat itu kita sering bertemu. Dan kemarin ia baru saja memintaku secara pribadi untuk menjadi istrinya."
"Kau tahu Minerva, dia itu sangat tampan dan juga perhatian. Nanti malam dia akan datang dengan keluarganya untuk melmarku." ucap Jovita.
"Kau yakin dengan perasaanmu, Jo?" tanya Minerva.
"Tentu saja, dia juga sudah bertemu dengan papi berkali-kali." jawab Jovita.
"Apa kau sudah tahu seluk beluk nya?" tanya Minerva lagi.
"Ayahnya sudah lama meninggal, ibunya bekerja sebagai buruh cuci. ibunya juga sudah bertemu denganku dan kita berduapernah berbelanja bersama." jelas Jovita.
"Kau tahu Minerva, ibunya sudah sangat menginginkan seorang cucu."
Minerva kini tidak lagi bertanya kepada Jovita karena ia rasa Jovita sudah sangat nyaman dengan keputusannya. Tetapi Minerva kini langsung menghubungi Emir untuk segera menjemputnya ke Mansion untuk mengantarkan ke suatu tempat.
"Aku harus membuat perhitungan dengannya." gumam Minerva dalam hati.
Tak lama kemudian Mommy Moona pun memanggil mereka untuk segera sarapan.
"Mommy udah manggil tuh. Kita sarapan yuk." ajak Minerva.
"Oke, oh iya Minerva. Kapan kau akan menikah dengan Kak Emir?" tanya Jovita yang terdengar oleh Mommy Moona.
"Doakan ya Jo, bulan depan Minerva akan menikah dengan Emir." ucap Mommy Moona membuat Minerva sangat terkejut.
"Mommy. Kenapa cepat sekali?" tanya Minerva yang langsung mendekat ke arah Mommynya.
"Cepat atau lambat, putri Mommy tetap akan menikah. Lagi pula Risa, Mama Emir juga sudah sangat tidak sabar untuk menjadikanmu sebagai menantunya." jawab Mommy Moona.
"Waaaah, ini kabar yang sangat menggembirakan, Nyonya. Nanti malam, putri saya Jovita juga akan dilamar oleh kekasihnya. Saya mengharapkan kehadiran anda sekeluarga ke rumah saya." ucap Papi Aris yang baru masuk dari taman.
__ADS_1
Mommy Moona dan juga Daddy Arthur pun menyanggupi untuk hadir. Kini mereka pun menikmati sarapan yang sudah disiapkan oleh mommy Moona.