
"Kereeeeen Kak Emir. Seperti itu memang seharusnya caramu mengungkapkan semua perasaanmu. Aku yakin wanita itu pasti langsung menerima lamaran mu dan mau menjadi istrimu." ucap Minerva membuat Emir langsung melepas genggamannya dan membuang nafasnya kasar.
"Huuuuuh, begini saja sudah membuatku panas dingiiin Minerva." ucap Emir ngos ngosan seperti habis berlari.
"No! Sepertinya aku sudah menyerah kali ini." Emir mengusap wajahnya menyeka keringatnya yang menetes lewat pelipis dahinya.
Minerva mengerutkan dahinya melihat sikap Emir yang sangat berbeda dari Emir yang dikenalnya dulu. "Aku sangat tidak menyangka ternyata jatuh cinta bisa membuatmu berubah menjadi seperti ini." ucap Minerva kemudian.
Ia pun mengambil piring bekas makannya dan membawanya ke tempat cuci piring untuk mencucinya. Sedangkan Emir membiarkan apa yang kini dilakukan oleh Minerva karena ia masih menetralkan gemuruh di dadanya.
"Aku akan kembali ke apartemenku biar kakak bisa istirahat. Terima kasih banyak atas makan malamnya. Besok aku akan membuatkan sarapan untuk kakak. Kakak jadi mengantar jemput aku untuk pergi ke kantor kan?" tanya Minerva sebelum ia pergi meninggalkan apartemen Emir.
"Yap, besok aku akan mengantar mu sampai di ruang kerjamu." balas Emir yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala Minerva.
PoV Emirio Dwayne
Ternyata Minerva menganggap keseriusan hanya seperti latihan atau mungkin hanya main-main saja. Ternyata kamu gak pernah berubah, Minerva. Yang hanya menganggapku sebagai kakak laki-laki dan sahabat saja.
Tak bisakah kau menganggapku lebih dari itu? Sebagai pacar mungkin atau calon suami karena kita sudah sama-sama dewasa. Sekarang aku harus bagaimana?
Katamu aku harus mengungkapkan semua perasaanku dan wanita yang aku sukai itu pasti menerimanya. Tapi ternyata anggapannya sangat jauh dari apa yang aku bayangkan.
Kini keputusanku sudah bulat, jalani saja seperti ini asal kau merasa nyaman denganku. Aku yakin suatu saat nanti kau akan tahu dan paham siapa wanita yang sangat aku cintai, bahkan semenjak pertama kali kita bertemu.
PoV Minerva Bee
Huuuuuh, Bisa-bisanya sih Kak Emir ngomong kayak gitu sama aku? Gak ngerti apa kalo aku jadi baper gini.
Dari awal bilang dulu kek kalo mau latihan ngungkapin perasaannya sama wanita yang disukainya. Untung aja aku gak terbawa suasana waktu Kak Emir ngungkapin perasaannya sama aku.
__ADS_1
Eittzzz. Sama aku? Ya Ampuuuun Minerva.. Gimana bisa sama kamu sih? itu tadi Kak Emir baru cuma percobaan aja. Dan ingeeet, kamu hanya kelinci percobaan, bukan wanita yang asli yang Kak Emir cintai. Jangan ke-Pede-an deh!
Tapi, aku jadi penasaran deh, siapa ya kira-kira wanita yang dicintai sama Kak Emir?
Minerva kini berdiri tepat di depan meja rias kamarnya. Ia mengamati dirinya di depan cermin sambil berputar sekali.
Emmmm, udahlah Minerva. Yang jelas wanita itu bukan kamu.
...🍵🍵🍵...
Bel apartemen Minerva berbunyi dan Minerva segera membukakan pintu untuk Yolanda.
"Sorry ya tadi aku ketiduran di apartemen Kak Emir." ucap Minerva sambil mempersilahkan Yolanda masuk ke dalam apartemennya.
"Gak pa pa kaliii. Santai aja. Oh iya, kamu harus traktir aku loh yaaa. Kamu pasti udah jadian kan?" tukas Yolanda sambil duduk di sofa.
"Jadian? Sama siapa?" Minerva balik bertanya. "Jangan-jangan kamu lagi yang barusan jadian." tebak Minerva membuat Yolanda tiba-tiba terbatuk-batuk seperti tersedak padahal tidak sedang makan atau minum sesuatu.
Saat batunya sudah berhenti, Yolanda hanya tersenyum melihat kan gigi-giginya dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Benarkah?" teriak Minerva antusias dan Yolanda kembali menganggukkan kepalanya. "Ceritakan padaku, siapa yang menjadi pacar barumu? Waaah, atau jangan-jangan Romy ya yang hampir me no dai dirimu di gudang waktu kau disekap." timpal Minerva panjang lebar.
"Diiiih, bukan dia. Tapi Andre." jawab Yolanda jujur dan kemudian menceritakan tentang awal hubungannya dengan Andre. Bahkan Yolanda juga menceritakan dimana pada awalnya Andre menyukai Minerva dan dirinya begitu menyukai Tuan Dwayne. Tapi mereka justru terjebak dengan kedekatan mereka selama ini.
"Oh iya, Yolanda. Menurutmu ada tidak anggota MackTan yang sudah mengetahui keberadaanku karena berita viral yang ada di media sosial?" tanya Minerva.
"Aku rasa tidak ada karena saat ini kebanyakan anggota dari MackTan sedang fokus dalam project besar yang diadakan oleh Titan Mack." jawab Yolanda.
"Oh, syukurlah."
__ADS_1
"Tapi maaf, Minerva aku tidak bisa mengatakannya padamu project besar apa yang sedang diadakan oleh Titan Mack karena ini adalah rahasia perusahaan." timpal Yolanda lagi.
"Tidak masalah Yolanda. Aku bisa memahamimu." balas Minerva.
"Seandainya suatu saat memang mengenai dirimu, maka aku akan tetap memberi tahukan padamu. Aku berjanji meski harus menggadaikan nyawaku, Minerva." jelas Yolanda sambil memeluk Minerva dengan sangat erat.
"Terima kasih banyak, Yolanda. Aku sangat bersyukur bertemu denganmu." Minerva pun membalas pelukan Yolanda.
"Oh iya Minerva, di antara Tuan Austin dan Tuan Dwayne, siapa yang paling kau sukai?" tanya Yolanda kemudian.
"Tentu saja dua-duanya. Mereka semua sangat baik dan perhatian padaku." jawab Minerva.
"Hei, mana bisa begitu? Kau harus memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pendamping hidupmu." sanggah Yolanda.
Minerva kini bangun dari tempat duduknya dan menuju ke pantry untuk mengambil air minum. "Aku belum memikirkan untuk pendamping hidup." timpal Minerva.
"Setidaknya pilih saja salah satu Minerva, aku hanya ingin tau aja kok gak lebih." Yolanda terus mendesak Minerva.
"Kamu kepo deh. Udahlah istirahat aja, besok kita harus bekerja lagi kan cari cuan." ucap Minerva. "Kau bisa tidur di sana." Minerva menunjukkan kamar untuk Yolanda.
"Ayolah Minerva. Ini kan masih jam sepuluh. Kita masih punya waktu untuk mengobrol." Yolanda kini mengikuti langkah Minerva yang berjalan menuju ke kamar.
Minerva pun menghentikan langkahnya dan berbalik. "Memang apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Minerva. "Jika hanya untuk menanyakan antara Kak Austin atau Kak Emir, aku sangat tidak tertarik, Yolanda."
"Kenapa?" tanya Yolanda. "Bukankah hal yang wajar jika sesama perempuan bercerita tentang perasaannya kepada seorang pria. Aku bisa jadi teman cerita yang baik untukmu, Minerva."
"Apa kau begitu tertutup untuk menceritakan tentang perasaanmu?" tanya Yolanda kemudian.
"Entahlah Yolanda. Aku hanya lelah dan ingin segera beristirahat." jawab Minerva.
__ADS_1
Kali ini Yolanda tidak lagi memaksa Minerva untuk berbicara padanya. "Baiklah. Selamat malam, Minerva." Yolanda melambaikan tangannya ke arah Minerva dan berjalan ke kamar yang tadi ditunjukkan Minerva.
"Selamat malam, Yolanda." balas Minerva yang kemudian masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur menatap langit-langit kamarnya.