Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Pilih Adik / Sepupu


__ADS_3

Austin menemui Emir dan dengan berat hati ia menceritakan tentang Lilies yang sudah mengetahui bahwa Minerva adalah orang di balik penangkapannya. Dan Austin juga menyampaikan bahwa Minerva kini sedang dalam bahaya, karena Austin yakin jika Lilies tidak mungkin diam saja tanpa membalas dendam.


Emir langsung mengepalkan tangannya geram saat mendengar cerita dari Austin. "Kita tidak bisa diam saja. Aku akan mengembalikan Lilies masuk ke dalam bui lagi jika ia berani menyentuh Minerva sedikit pun." ucap Emir geram.


"Jangan gegabah Emir. Anak buah Lilies sangat banyak. Aku ingin bicara baik-baik dengannya. Mau bagaimana pun dia adalah sepupu ku." ucap Austin sambil mengusap wajahnya kasar.


"Yang jelas kita harus terus menjaga Minerva. Aku sangat mengkhawatirkannya." ucap Austin.


Kini Emir membuang nafasnya kasar. Ia tidak mengira jika Austin masih ada rasa iba terhadap Lilies yang sudah jelas terbukti akan mencelakai Minerva.


"Kau tidak bisa berada di pihak kedua-duanya, Kakak Ipar. Kau harus pilih salah satu. Pihak Adik kandungmu, Minerva. Atau pihak sepupu mu, Lilies." timpal Emir dengan nada yang sedikit geram.


"Jika kau masih tetap bersikeras memihak keduanya, maka relakan Minerva agar segera menikah denganku. Karena aku sendiri yang akan menjaga Minerva dengan baik." ucap Emir yang sedikit terdengar seperti ancaman untuk Austin.


"Oke oke. Aku akan memikirkannya nanti." ucap Austin.


"Jangan terlalu lama berfikir karena waktu akan terus berjalan. Tentukan sekarang karena aku sangat mengkhawatirkan keselamatan Minerva." timpal Emir dengan sangat tegas.


Austin kini sudah tidak bisa berfikir lagi, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Austin mulai melonggarkan dasinya.


"Aku akan berpihak kepada Minerva, adik kandungmu sendiri." jawab Austin mantap.


"Cih, dasar! Aku pikir aku akan segera bisa memiliki Minerva." gerutu Emir.


"Tidak semudah itu, Emir. Oh iya. Apa yang membawamu kemari?" tanya Austin kemudian.

__ADS_1


Kini Emir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ternyata masalah ini membuat kakak ipar ku pikun seketika ya. Bukankah aku datang untuk membicarakan tentang kerja sama kita. Dua hari lagi aku akan menggunakan ballroom hotel untuk beberapa acara sampai dua minggu ke depan." jawab Emir.


"Bahkan pada cara yang terakhir adalah pernikahan Lilies dan juga Amer yang akan diselenggarakan di sini bukan?" tanya Emir memastikan kepada Austin.


Mendengar Emir seolah merendahkannya, Austin dsedikit terkekeh. "Aku hanya mengetesmu saja Emir." kilah Austin yang langsung disambut tawa oleh Emir.


Kini mereka berdua pun membicarakan tentang kerja sama mereka.


...🧩🧩🧩...


Sedangkan Lilies dan Amer yang kini berada di mobil saling melontarkan rasa kesalnya. Lilies menceritakan bahwa Austin sama sekali tidak membela dirinya dan justru menyalahkan dirinya. Padahal sebelumnya, Austin tidak pernah menggertaknya atau berbicara pada Lilies dengan nada yang tinggi.


Austin memang kerap menasehati dirinya, tetapi selalu saja dengan nada yang lembut kepada orang karena selama ini Austin menganggap Lilies seperti adik kandungnya menggantikan posisi adik kandung Austin yang hilang. Begitu pula anggapan Mommy Moona dan juga Daddy Arthur.


Tapi kini semua berubah setelah kehadiran Minerva dalam hidupnya.


Belum selesai Amer bicara, Lilies langsung memotongnya. "Apa kamu juga Kali ini berpihak pada Minerva?" tanya Lilies geram.


"Bukan seperti itu baby. Bukankah kita sudah setuju akan melenyapkan Minerva bukan dengan tangan kita sendiri, melainkan dengan tang orang lain?" timpal Amer mengingatkan Lilies.


"Benar juga katamu. Tapi entah kenapa melihat wajah Minerva saja aku jadi sangat geram." balas Lilies.


Amer mengulurkan tangannya mengusap kepala Lilies, "Bersabarlah, aku yakin semua akan berjalan dengan baik." ucap Amer menenangkan Lilies.


Lilies kemudian menghubungi beberapa orang anak buahnya untuk segera mengatur strategi melenyapkan Minerva dengan bayaran yang sangat menggiurkan.

__ADS_1


Mendengar nominal uang yang dijanjikan Lilies pada anak buahnya membuat Amer sangat terkejut. "Baby, uang sebanyak itu bukankah lebih baik kita tabung untuk hidup kita ke depan?" tanya Amer setelah Lilies menutup panggilannya.


Biaya 10 M bagi Amer sangatlah besar dan bisa digunakan untuk banyak hal dari pada untuk melenyapkan satu orang saja. Bahkan satu hal yang Amer takutkan adalah jika misi melenyapkan Minerva itu gagal, maka kerugian akan berpihak pada Lilies. Ia akan kehilangan uang dan tidak akan mendapat apa-apa.


"Oh My God, Amer. Kenapa mental miskinmu ini masih saja merajalela? Kau tidak melihat akan menikah dengan siapa?" tukas Lilies.


"Aku faham kau punya banyak uang baby. Aku hanya tidak mau nantinya kau akan mendapatkan kerugian yang besar." timpal Amer menasehati Lilies.


Sayangnya Lilies masih tetap dengan pendiriannya ingin melenyapkan Minerva. Ia mulai melupakan janjinya dulu saat dibebaskan Emir dari penjara, karena Lilies akan segera pergi dari negara ini dan kembali ke negaranya.


...🧩🧩🧩...


Hai Guys, mampir yuk ke Novel temen aku.


Nama Pena :Aveeiiii


Judul Novel : CEO Dingin, Kau Milikku


“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.


“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”


“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.


Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.

__ADS_1



__ADS_2