Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Ups! Kelepasan


__ADS_3

"Hai Kak Austin," sapa Minerva membuyarkan tatapan tajam antara Austin dan Dwayne.


"Hai Minerva. Maaf aku baru bisa mengunjungimu. Kau mau pergi kemana?" tanya Austin yang langsung meraih pergelangan tangan Minerva.


"Emmm, aku mau ke rumah Papi."


Mendengar jawaban Minerva, Austin langsung memandang ke arah Dwayne.


"Tuan Dwayne, aku tidak tahu bagaimana anda bisa bersama Minerva. Tapi kali ini, aku yang akan mengantar Minerva ke rumah papinya." ucap Austin yang terus saja menggenggam tangan Minerva.


"Silahkan saja. Aku juga tidak berniat untuk mengantarkannya karena hari ini aku sangat sibuk." timpal Dwayne yang berlalu begitu saja melewati Austin dan Minerva.


Setelah Dwayne tidak terlihat, Minerva berusaha melepas genggaman tangan Austin.


"Jangan dilepas." Austin makin mengeratkan genggamannya. "Biarkan tetap seperti ini." pinta Austin sambil membawa Minerva menuju mobilnya.


Austin dan Minerva duduk di kursi belakang sambil tetap berpegangan tangan. Minerva sedikit merasa tidak enak atas sikap Austin kali ini. Tapi ia memahami bahwa Austin saat ini masih banyak masalah yang harus ia fikirkan.


"Bagaimana apartemen barumu, Minerva?" tanya Austin. "Aku semalam ingin mengunjungimu, tapi aku terlalu lelah memikirkan Lilies yang sangat keras kepala."


"It's okay Kak. Apartemenku sangat nyaman." jawab Minerva.


"Aku menyayangkan sesuatu, Minerva. Kenapa kau tidak mengatakan sebelumnya jika kau ingin mencari apartemen?" gerutu Austin. "Apartemen yang aku tempati juga pastinya akan membuatmu nyaman."


"Maaf kak. Aku hanya tidak ingin membebanimu." jawab Minerva.


"Bagaimana jika aku ingin selalu kau bebani?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.


Minerva langsung membuang wajahnya ke luar jendela. Tapi Austin kembali menarik dagu Minerva untuk tetap menatap ke arah nya.


"Katakan padaku, bagaimana jika aku ingin selalu kau bebani, Minerva?" Austin mengulangi pertanyaannya dan kali ini membuat Minerva sedikit kikuk.


"Aku tidak tahu kak." jawab Minerva. "Oh Iya Pak Mamat, kita ke alamat ini ya." Minerva mengalihkan pertanyaan Austin dan menyodorkan ponselnya memperlihatkan alamat Jovita pada Pak Mamat.


"Baik Non. Saya sangat hafal alamat itu. Kebetulan saya juga tinggal di sekitar itu." jelas Pak Mamat.


Austin tiba-tiba merebut ponsel Minerva dan mengetikkan nomor ponselnya. "Simpan nomor ponselku ya. Dan aku akan menyimpan nomor ponselmu." ucap Austin dan kembali memberikan ponsel Minerva.

__ADS_1


"Okey," jawab Minerva. "Oh iya. Apa kakak tidak bekerja?"


"Aku akan bekerja setelah mengantar mu, Minerva. Kapan kau akan mulai bekerja denganku?"


Pertanyaan Austin sedikit membuat Minerva bimbang. Ia bingung memilih harus bekerja dengan Austin atau dengan Dwayne.


"Memang kakak bekerja dimana? Lalu apa saja pekerjaanku nanti saat bekerja dengan kakak?" tanya Minerva.


"Kau akan menjadi sekretaris pribadiku Minerva. Tugasmu tentunya mengatur, membuat jadwal konferensi dan beberapa pertemuan, tugas lainnya adalah mendistribusikan catatan penting hasil rapat. Selain itu sekretaris juga akan mengetik atau menulis serta membuat laporan dari hasil meeting atau rapat penting lainnya. Dengan begitu aku akan terus mengawasi mu dan memastikan kau akan baik-baik saja, Minerva." jelas Austin panjang lebar.


"Tempat kerjamu nanti ada di Hotel Bee." tambah Austin lagi.


"Hotel Bee?" Minerva mengulangi perkataan Austin. "Is that Yours?" tanya Minerva dan Austin langsung menganggukkan kepalanya.


"Kenapa namanya Bee? Itu kan nama belakangku." tanya Minerva penasaran.


"Karena aku sangat mencintaimu, Minerva." jawab Austin.


Minerva langsung mengerutkan dahinya. "Apa??!!"


“Ups!" Austin langsung menutup mulutnya. Ia tidak seharusnya mengatakan hal itu di situasi yang begini. Untungnya saat ini mereka sudah sampai di tempat yang dituju oleh Minerva.


"Oh Iya Pak. Aku turun dulu ya kak. Masalah yang tadi nanti kita bicarakan lagi." ucap Minerva sambil membuka pintu mobil Austin.


Minerva melambaikan tangannya saat mobil Austin mulai menjauh dari tempatnya berdiri.


"Aduh Pak Mamat, untung aja tadi udah sampe tempat yang dituju sama Minerva." ucap Austin membuang nafasnya kasar.


"Iya Den, saya juga paham Den Austin tadi pasti kelepasan." timpal Pak Mamat.


"Aku benar-benar tidak bisa mengontrol ucapanku tadi. Seharusnya aku mengutarakan perasaanku di tempat yang romantis." gumam Austin yang masih terdengar oleh telinga Pak Mamat.


"Oh iya pak, pagi ini aku ingin menemui Dwayne di perusahaannya. Aku harus membicarakan masalah Lilies padanya."


"Baik Den, saya akan menuju ke Perusahaan EOEB segera." ucap Pak Mamat.


***

__ADS_1


Sedangkan Minerva kini masih berdiri di luar pintu rumah papi sambil terngiang-ngiang ucapan Austin tadi.


"Gak mungkin kak Austin mencintaiku." Minerva menggelengkan kepalanya dan mengetuk pintu rumah papi.


Tak lama kemudian Jovita keluar dengan wajah yang sembab dan langsung mempersilahkan Minerva masuk ke dalam rumah.


"Duduklah dulu Minerva, Papi sedang berbelanja ke pasar. Aku akan membuatkan minuman dulu untukmu." ucap Jovita yang langsung menuju ke dapur.


Sepeninggalan Jovita, Minerva pun langsung mengaktifkan sistem scorpio. Kali ini ia mencoba mencari tahu tentang bagaimana perasaan Austin padanya. Sayangnya sistem scorpio tidak dapat mendeteksi perasaan manusia.


"Ternyata ini salah satu kelemahan sistem scorpio, tidak bisa mendeteksi perasaan manusia." gumam Minerva.


Minerva kembali menyimpan sistem scorpio tadi dan melihat sekeliling ruang tamu rumah papi. Ada beberapa foto Jovita, Mami, dan papi di atas meja sudut. Tidak hanya itu, Minerva juga melihat foto dirinya saat berdiri tepat di depan pintu rumahnya yang lama.


"Wah, ternyata ada fotoku juga. Tapi foto ini kapan diambil ya?" tanya Minerva sambil memegang foto dirinya.


"Aku dulu sempat mengambil gambarmu diam-diam satu hari sebelum kau pergi wisata ke pantai." ucap Jovita sambil membawakan teh hangat untuk Minerva.


"Kau tahu Minerva, saat itu aku sudah sangat menyayangimu. Kau bagaikan peri baik hati yang menyelamatkanku dan Mami dari masalah yang saat itu aku tidak mampu menghadapinya."


"Sayangnya aku terlambat untuk meminta maaf padamu. Itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku, Minerva. Dan kini aku sangat bersyukur dapat kembali bertemu denganmu."


Minerva berbalik dan menatap Jovita yang matanya sudah berkaca-kaca. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Wajahmu jadi tidak cantik jika terus menangis." Minerva mengusap satu bulir air mata yang terjatuh di pipi Jovita.


Minerva kembali melihat gambar dirinya dan membalik fotonya. Disitu tertulis tulisan tangan Jovita.


[Aku sangat menyayangimu, Peri Baik Hati. Ternyata begini rasanya sakit karena kehilangan dirimu. Pulanglah, Minerva. Aku sangat ingin memelukmu.]


Minerva kini terharu membaca coretan tangan Jovita yang ada di belakang fotonya.


"Sejak saat itu, Kak Emir berubah menjadi orang ynge pendiam dan sangat ketus. Setelah kelulusanya, ia memutuskan untuk mengambil kuliah di luar Negeri dan sampai saat ini aku sudah tidak mengetahui bagaimana kabarnya."


"Kau belum bercerita padaku, Minerva. Bagaimana keadaanmu saat jet ski yang kau naiki meledak?"


Pertanyaan Jovita kali ini membuat Minerva bingung harus menjawab apa.


...☘️☘️☘️...

__ADS_1


Hai Guys, mampir juga yuk ke novel temen aku.



__ADS_2