Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Lemparan Bunga


__ADS_3

Minerva mematut dirinya di depan kaca dan membenarkan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan. Ia menganggap Emir sudah menjalin hubungan yang spesial dengan wanita itu dalam waktu yang sudah lama. Terlebih Minerva kini merasa Emir tidak terbuka dengannya tentang masalah ini. Padahal mereka berdua sangat dekat akhir-akhir ini.


Minerva pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Come on, Minerva. Tidak perlu merasa kecewa melihat kenyataan di depan mata." ucap Minerva menyemangati dirinya sendiri.


Setelah Minerva menguatkan dirinya sendiri, Ia pun keluar dari toilet dan tanpa sengaja bertabrakan dengan wanita yang Minerva anggap sebagai kekasih Emir.


"Maaf, aku sedang buru-buru sampai tidak melihatmu." ucap wanita yang menabrak Minerva.


"It's okey." balas Minerva yang kemudian duduk kembali di samping Austin.


Kali ini Minerva sama sekali tidak mengedarkan pandangannya untuk mencari Emir, melainkan fokus pada setiap prosesi pernikahan yang sedang berlangsung.


Minerva kini mulai menikmati setiap acara yang berlangsung. Setelah prosesi akad nikah, Daddy dan Mommy terlihat menyapa beberapa kolega mereka di Bali. Sedangkan Austin terus menggenggam tangan Minerva dan memperkenalkan teman sepermainan Austin saat ia berlibur di Bali.


"Hai Austin, Whats'up bro." sapa salah satu teman sepermainan Austin yang kini menjadi groomsmen dalam acara pernikahan Narayan.


"I'm Okey. Kenalin nih adik aku. Namanya Minerva." ucap Austin memperkenalkan Minerva pada teman-temannya.


Mendengar Austin memperkenalkan Minerva sebagai adiknya dan bukan sebagai kekasihnya membuat para groomsmen berlomba lomba menjabat tangan Minerva.


Mereka terus melontarkan pujian pada Minerva sambil memperkenalkan diri mereka satu persatu. Ada Abim, Kala, Rajit, Wayan, dan Satya. Di antara mereka berlima, hanya Satya yang tidak banyak bicara.


Minerva tidak hanya berkenalan dengan pada groomsmen, tapi ia juga berkenalan dengan para bridesmaid yang juga teman sepermainan Narayan karena mempelai wanita bukanlah penduduk asli Bali. Ada Aida, Devi, Ines, Laksmi, dan juga Sachi. Akhirnya kini Minerva saling mengobrol dengan para Bridesmaid.


Minerva dengan cepat membaur dan beradaptasi dengan mereka membuat para gadis Bali senang dengan kepribadian Minerva yang dinilai tidak sombong dan sangat rendah hati.


Kini tiba waktunya acara tradisi lempar bunga yang paling ditunggu oleh semua tamu kalangan muda. Para bridesmaid dan groomsmen langsung berlarian mendekati mempelai wanita yang sudah siap melemparkan bunganya.


Riuh ramai menyelimuti suasana pernikahan Narayan dan Naomi. Wanita yang tadi mendampingi Naomi pun ikut juga di tengah tengah para bridesmaid yang siap menangkap lemparan bunga dari Naomi. Berbeda dengan Minerva yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Sama halnya dengan Austin yang hanya mengamati dari kejauhan.


Melihat Minerva hanya diam berdiri tanpa bergabung, Austin pun berjalan mendekati adik perempuannya itu. "Gak ikut gabung?" tanya Austin dan Minerva langsung menggelengkan kepalanya.


Pembawa acara terdengar mulai menghitung mundur dan diimbangi dengan sorakan para pemuda dan pemudi yang datang.

__ADS_1


"Satu." teriak pembawa acara.


"Aku kan belum ada tambatan hati kak, gimana bisa gabung?" Minerva balik bertanya pada Austin tanpa memperhatikan ke arah pelaminan.


"Dua." lanjut pembawa acara dan Minerva mulai mengalihkan perhatiannya ke arah bunga yang dipegang oleh Naomi dan Narayan.


"Tiiiii..." suara pembawa acara terputus sejenak membuat suasana semakin gaduh. "Tigaaa!"


Bunga terlempar cukup tinggi dan hampir saja mengenai kepala Minerva. Dengan sigap Minerva mengangkat tangannya untuk menutupi kepalanya.


Hap! Bunga tersebut jatuh tepat di tangan Minerva. Tetapi satu hal yang membuat Minerva heran, ia tidak sendiri menangkap bunga tersebut. Melainkan ada tangan yang juga mencangkup kedua tangan Minerva.


Awalnya Minerva berfikir bahwa ia menangkapnya bersama dengan Austin. Tetapi saat Minerva menoleh ke arah kakaknya yang berdiri di sebelah kanan, ternyata bukan tangan kakaknya yang kini sedang menggenggam tangannya.


Minerva langsung berbalik menoleh ke sebelah kiri, dan betapa terkejutnya saat ia melihat Emir berdiri tepat di sampingnya. Buru-buru Minerva melepaskan tangannya, tapi ia terlambat karena pembawa acara sudah berdiri di hadapannya.


"Congratulations, cantik. Boleh aku tahu siapa namamu?" tanya pembawa Acara sambil menyodorkan mic nya ke arah Minerva dan Emir secara bergantian.


"Minerva."


"Pasangan yang beruntung kali ini adalah Minerva dan Emir. Woooow, pasangan yang sangat serasi bukan?" ucap pembawa acara yang disambut dengan sorak para tamu yang sudah hadir.


Kini pembawa acara kembali ke depan, sedangkan Minerva langsung menarik tangannya dari genggaman Emir. Gemuruh dalam diri Minerva benar-benar tidak karuan. Di sisi lain ia merasa sangat gembira, tetapi di sisi lain ia sangat takut jika kekasih Emir datang mendampratnya habis-habisan.


"Minerva, apa kabar?" tanya Emir.


"Baik." jawab Minerva singkat. Minerva sangat ingin pergi dari samping Emir dan mengajak kakaknya untuk segera pulang.


Tapi saat Minerva menoleh ke kanan, ternyata Austin sedang mengobrol dengan orang lain.


"Ada apa denganmu, Minerva?" tanya Emir yang melihat Minerva tidak sehangat biasanya. "Kenapa pesan dariku hanya kau baca tanpa kau balas?"


"Aku tidak sempat." jawab Minerva asal. "Emmm, maaf kak. Aku harus ke sana dulu." ucap Minerva melangkahkan kakinya menjauh dari Emir dan mendekati Austin.

__ADS_1


Melihat perubahan sikap Minerva, membuat Emir makin bertanya-tanya. Ia pun terus mengikuti Minerva yang kini berdiri di dekat Austin. Sedangkan Minerva kini berpindah mendekati Mommy nya.


"Mom, pulang yuk." bisik Minerva yang mulai tidak nyaman dengan kehadiran Emir.


"Aduh, sayang. Mommy lagi nemenin kolega Daddy." bisik Mommy Moona yang kemudian matanya tertuju pada Emir yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Emir, kamu di sini juga?" tanya Mommy Moona.


Emir pun mengangguk dan menjabat tangan Moona.


"Kebetulan sekali, Minerva ingin pulang villa. Tante Bisa minta tolong gak sama kamu untuk antar Minerva?" tanya Mommy Moona membuat Minerva langsung membelalakkan matanya.


"Mommy, Kak Emir kan lagi sibuk urusin acara di sini." balas Minerva. "Minerva pulang sendiri aja Mom, toh jaraknya juga gak jauh." gerutu Minerva.


"Emir lagi gak sibuk kok tante. Ayo Minerva, biar aku anter." Emir meraih tangan Minerva dan dengan cepat Minerva menepisnya.


"Kalo gitu Minerva pulang dulu ya Mom."ucap Minerva yang kemudian berjalan mendahului Emir.


Kali ini Emir semakin yakin jika Minerva sedang menghindarinya sejak tadi malam. Selama ini Minerva sama sekali tidak pernah bersikap sedingin ini dengannya. Bahkan kemarin pagi mereka sempat bercanda bersama di atas sepeda.


"Apa Austin sedang mengancam Minerva agar tidak dekat denganku?" gumam Emir dalam hati.


"Ck, tidak mungkin. Selama ini kita selalu fair dalam bersaing." batin Emir menepis prasangka buruknya terhadap Austin.


"Lalu ada apa dengan Minerva?"


...🧚‍♀️🧚‍♀️🧚‍♀️...


Hai Readers, mampir yuk ke Novel temen Author.


Nama Pena : Samy nOer


Judul Novel : Senja di Ujung Jalan

__ADS_1



__ADS_2