
Pagi harinya, Emir sudah sampai di villa keluarga Wycliff saat Minerva baru saja keluar dari pintu hendak lari pagi.
"Kak Emir!" pekik Minerva melihat Emir sudah berdiri di hadapannya. "Kapan datang?"
Emir tidak menjawab pertanyaan Minerva melainkan terus saja memandangi Minerva lekat lekat. Tiba-tiba Emir memeluk Minerva dengan sangat erat, Minerva sedikit terkejut atas perlakuan Emir kali ini. Tapi Minerva tidak mengelak sedikit pun dari Emir.
"Aku sangat takut kehilanganmu untuk kedua kalinya Minerva." ucap Emir dengan sedikit gemetar.
"Maaf sudah membuatmu khawatir Kak. Aku baik-baik saja." balas Minerva.
Keduanya masih berpelukan saat Austin mengeluarkan sepeda dari pintu samping.
"Ehmmm!" Austin sengaja berdehem dengan suara yang sedikit kencang dan Minerva langsung melepaskan pelukannya.
"Minerva! Ayoo ikut denganku. Kita akan bersepeda ke arah danau." ajak Austin tanpa menyapa Emir sedikit pun.
Minerva melihat sepeda dinaiki kakaknya tidak ada tempat duduk di belakangnya untuk membonceng. Ia pun mulai mengerutkan keningnya, "Trus aku duduk dimana kak?" tanya Minerva.
Austin langsung menunjuk ke besi di depannya dan Minerva langsung menggelengkan kepalanya. Tentu saja jika seperti itu ia akan terus dalam dekapan kakak kandungnya selama bersepeda.
Sedangkan Emir langsung melipat tangannya dan berjalan ke arah Austin.
"Selamat Pagi Kakak Austin." sapa Emir membuat Austin memutar bola matanya malas.
"Pagi juga Emirio Dwayne. Tapi maaf, aku bukanlah kakakmu!" jawab Austin dengan nada yang ketus.
Minerva kini tidak habis fikir melihat sikap Kakaknya dengan Emir yang selalu saja terlihat seperti kucing dengan anjing, tidak pernah akur. Ia pun mengalihkan pandangannya dan melihat Narayan mendekat ke Villa dengan mengendarai sepeda.
Minerva langsung berjalan mendekati Narayan sampai Narayan merasa grogi saat melihat Nona mudanya mendekat. Saking groginya, Narayan sampai terjatuh dari sepeda.
Bruukkkk! Narayan tersungkur di atas tanah. Emir dan Austin pun langsung mengalihkan pandangannya ke asal suara.
"Ya Ampuuuun Narayan. Kamu gak papa?" tanya Minerva sambil membantu Narayan berdiri.
Narayan semakin salah tingkah saat tangan Minerva memegang kedua lengannya. Kegugupannya kali ini sampai membuatnya berkeringat dingin. Minerva pun merasakan lengan Narayan yang sangat dingin.
"Kamu dingin banget Narayan." ucap Minerva dan Narayan hanya menundukkan kepalanya.
"Sini biar kakak yang bantu." Austin langsung membantu Narayan berdiri. "Kamu gak papa kan? kok bisa jatuh sih?" tanya Austin.
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkan kalian, saya hanya tidak hati-hati." jawab Narayan yang kemudian menuju sepedanya yang kini dipegang oleh Emir.
"Kau pasti grogi ya melihat adikku berlari ke arahmu?" tebak Austin yang melihat muka merah Narayan dan mendapati lengannya yang sangat dingin.
Belum sempat Narayan menjawab tebakan Austin, Minerva pun angkat suara. "Narayan, maaf jika kau terjatuh karena aku. Aku tadi hanya ingin meminjam sepedamu."
"Oh, silahkan Nona. Pakai saja sepeda saya." jawab Narayan. "Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus segera menyiapkan sarapan." ucap Narayan yang kemudian langsung berjalan menuju ke villa.
"Thanks Narayaaan." teriak Minerva dan langsung berjalan ke arah Emir yang dari tadi sudah memegang sepeda Narayan.
"Ayo Kak Emir, boncengin aku." pinta Minerva dan dengan senang hati Emir langsung naik sepeda.
"Gak bisa gitu dong." sanggah Austin. "Minerva sama aku, kamu naik sepeda yang ini aja." lanjut Austin tidak terima Emir memboncengkan adik perempuannya.
"Emmmh, begini saja. Kali ini aku biar sama kak Emir. Nanti pulangnya bareng sama kakak. Gimana?" tanya Minerva.
Austin sama sekali tidak menimpali pertanyaan Minerva dan langsung mengayuh sepedanya begitu saja meninggalkan Minerva.
"Jiaaah, ngambek tuh." celetuk Emir. "Dah yuk kita kejar kakak kita yang lagi ngambek." ucap Emir membuat Minerva terkekeh.
"Bisa aja Kak Emir nih." balas Minerva yang mulai melingkarkan tangannya ke perut Emir.
Kring! Kring! Emir sengaja membunyikan bel sepedanya saat melewati Austin. "Duluaaan yaaa kakak Austin." goda Emir membuat Austin sangat kesal. Terlebih saat Minerva melambaikan tangannya ke arahnya.
"Awaaas kalian yaaa." teriak Austin yang kemudian mengayuh sepedanya dengan lebih kencang.
Kini mereka benar-benar seperti lomba balap sepeda. Emir mengayuh sepedanya lebih kencang hingga Minerva makin mengeratkan pelukannya. Senyum Emir langsung merekah sempurna dan membuat Austin semakin kesal padanya.
"Perlombaan kali ini sangat mengasyikkan yaaa." teriak Emir yang beriringan dengan Austin.
"Asyiiik banget kaak." timpal Minerva.
"Ciiih, gak asyik." balas Austin mulai meninggalkan keduanya di belakang.
Kekesalan Austin makin membuat Emir tertawa lepas akan kemenangannya kali ini. "Kaak, udah napa jangan ketawa terus. Kalah kapan kita jadinya." ucap Minerva.
"Iya deeh, Kakak kejar lagi."
Setelah dua puluh lima menit terlewati, kini mereka bertiga sampai di tepi danau. Austin dan Emir langsung menuju ke penjual minuman. Satu botol langsung habis mereka teguk membuat Minerva benar benar sangat terhibur dengan apa yang lihat saat ini.
__ADS_1
"Capek banget ya kak?" tanya Minerva sambil mengusap peluh yang menetes di dahi Austin.
Austin langsung menarik Minerva untuk terus di sampingnya dan mengajaknya untuk meninggalkan Emir.
"Bukan cuma capek, tapi keseeeel banget. Kamu nih gimana sih dek. Bukannya dukung kakak sendiri." gerutu Austin meluapkan kekesalannya.
Minerva tersentak saat mendengar Austin memanggilnya dengan sebutan 'dek'. Ada rasa gembira dan haru dalam hatinya saat mendengar panggilan itu. Ia kini makin yakin jika Austin benar-benar sudah menganggapnya sebagai adik.
"Kakak barusan panggil aku apa?" tanya Minerva dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Austin menangkupkan kedua telapak tangannya memegang pipi Minerva. "Aku memanggilmu, DEK." jelas Austin. "Apa ada yang salah?"
Minerva langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu saja tidak." jawab Minerva mengulum senyumnya dan langsung menggenggam tangan kakaknya dengan sangat erat.
"Entah kenapa aku merasa sangaaaaat bahagia mendengar panggilan itu." ucap Minerva.
"Benarkah?" tanya Austin.
"Tentu saja. Bahkan bukan hanya Minerva yang bahagia. Aku pun juga merasa sangat bahagia." timpal Emir yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Minerva. "Apalagi jika Kak Austin juga memanggilku dengan panggilan itu." goda Emir lagi.
Austin langsung menarik Minerva lagi untuk tidak dekat dengan Emir. "Kau tahu Minerva. Sejak dulu dia adalah musuh terbesar dalam hidupku." ucap Austin menunjuk ke arah Emir.
"Oh yaaaa." gumam Minerva. "Aku justru mengira kalian adalah sahabat dekat." timpal Minerva. "Bukankah kemarin kalian juga bekerja sama untuk mencari keberadaanku?"
Austin dan Emir sama sama terkejut atas ucapan Minerva barusan.
"Dari mana kau tahu?" tanya Emir dan Austin secara bersamaan.
...💞💞💞...
Hai Readers tercinta.
Mampir yuk ke Novel bestie aku.
Nama Pena : Yanktie Ino
Judul Novel : Tell Laura I Love Her
__ADS_1