
"Apa kau sedang merayuku?" tanya Austin sambil mengernyitkan dahinya dan menatap ke arah Emir.
Emir langsung terkekeh saat mendengar pertanyaan Austin. "Aku masih normal, mana mungkin aku merayu seorang pria tampan sepertimu, Austin." jawab Emir yang kemudian juga membuat Minerva tergelak.
"Kakaaaak, sejak kapan kakak jadi baper begini?" tanya Minerva di tengah tawanya.
"Haish! Sudah jelas jelas Emir sedang merayuku agar bisa mendekati adik perempuanku se suka hatinya." celetuk Austin.
Kini Minerva langsung menghentikan tawanya seketika dan memandang ke arah Emir.
"Waaah, caramu gentle sekali Kak Emir. Apa benar begitu?" tanya Minerva.
Emir hanya menyunggingkan senyumnya tanpa menjawab sepatah kata pun.
Sedangkan Austin makin jengah melihat Minerva dan Emir yang semakin dekat.
"Baiklah, sebagai Sekretaris perusahaan yang baik, apa yang harus aku lakukan sekarang untuk bahan pertemuan hari ini?" tanya Minerva mengingat ini adalah kerja sama yang mendadak dan tentunya belum dipersiapkan sama sekali oleh Minerva.
Sayangnya Austin justru mengacuhkan pertanyaan Minerva dan berjalan keluar dari kamar khususnya.
Minerva yang kini keadaannya sudah lebih baik pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan mengekor kakaknya. Sedangkan Emir menyusul di belakangnya.
Austin segera duduk di kursi kerjanya dan menyalakan macbooknya untuk membuat bahan presentasi.
"Ada yang bisa aku bantu, Kak?" tanya Minerva lagi.
"Tidak ada." jawab Austin tegas. "Aku sudah menghubungi pak Mamat untuk menjemputmu." timpal Austin lagi.
"Beristirahatlah di Mansion, dan Emir." Austin memanggil Emir yang sedang mengemasi macbook ke dalam tas kerjanya.
"Yaaa!" jawab Emir.
"Tolong jaga Minerva sampai pak Mamat tiba menjemputnya di Lobby." lanjut Austin.
"Siaappp!!" jawab Emir yang sudah berdiri di samping Minerva sambil menenteng tasnya.
"Ayo Minerva. Kau harus istirahat dan aku akan berkunjung ke Mansion nanti malam" ucap Emir sambil melingkar kan tangannya ke bahu Minerva dan mengajaknya berbalik meninggalkan Austin.
Mendengar Emir hendak mengunjungi Mansionnya nanti malam, membuat Austin berdecih.
"Cihh, Emir! Tidak akan mudah bagimu untuk menemui Minerva di Mansion nanti malam. Ingat itu!" ancam Austin yang kemudian kembali fokus menatap ke layar Macbook miliknya.
"Kau dengar sendiri kan Minerva, betapa pelitnya abangmu itu." bisik Emir di telinga Minerva.
__ADS_1
...☕☕☕...
Kini Minerva dan Emir sudah berada di lobby menunggu kedatangan Pak Mamat. Lima menit kemudian mobil yang dikendarai Pak Mamat tiba dan Minerva langsung masuk ke dalam mobil.
"See you, Kak Emir." ucap Minerva sambil melambaikan tangannya ke arah Emir,
"See you, cinta." balas Emir dan mobil yang dinaiki Minerva pun langsung melesat meninggalkan Lobby.
Emir pun langsung melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya. Tapi saat ia menoleh ke belakang, ia melihat ada satu mobil yang mengikuti mobil Minerva.
"Minerva dalam bahaya." gumam Emir dalam hati yang langsung berlari ke arah mobilnya dan mengejar mobil Minerva dan mobil yang mengejar Minerva.
"Aku harus segera menghubungi Austin." gumam Emir yang langsung mendial nomor ponsel Austin.
Sayangnya panggilan Emir tidak terhubung. Akhirnya Emir mengirimkan voice note kepada Austin dan berharap ia segera mendengarkannya.
Kini Emir terjebak kemacetan dalam kota dan jarak antara mobilnya dengan mobil yang mengejar Minerva terpaut cukup jauh. "Arrrghhh!" Emir mengacak-acak rambutnya.
"Seharusnya aku saja yang mengantarkan Minerva pulang tadi." gerutu nya kesal.
Emir pun tidak kehilangan akal. Ia segera menghubungi Minerva untuk mengirim lokasi terkini pada Emir dan memberitahukan pada Minerva untuk berhati-hati karena mobil jeep dibelakang mobilnya sedang mengikutinya.
"Terima kasih informasinya, Kak. Jangan khawatir, aku akan lebih berjaga-jaga." ucap Minerva sebelum mengakhiri panggilannya dengan Emir.
"Ooooh, tidak apa-apa Pak Mamat. Aku hanya terlambat makan pagi ini, dan aku tadi dan aku akan berjaga-jaga agar tidak terlambat makan lagi." ucap Minerva sambil memainkan ponselnya.
"Waaaaah, perhatian sekali yaa orang itu." timpal Pak Mamat dan Minerva hanya tersenyum simpul.
"Oh iya, non. Kita mampir dulu ke butik Nyonya yaa. Nona Lilies minta dijemput dan diantarkan ke Mansion." ucap Pak Mamat.
Minerva hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia kembali teringat saat Amer berani menuduhnya di depan Lilies dan membuat Lilies malah kepadanya
"Sepertinya ada yang mulai bermain api." gumam Minerva dalam hati. Ia pun menyalakan sistem scorpio yang disetting masuk dalam ponselnya agar ia bisa menyimpan beberapa bukti sebagai pegangan Minerva jika Lilies nantinya menuduh dirinya merayu tunangannya, Amer.
Kini mobil yang dikendarai Pak Mamat sudah sampai di depan butik Mommy Moona. Tampak di sana Lilies sudah menunggu dan langsung mendekat ke arah mobil Minerva.
Lilies memilih duduk di samping Pak Mamat daripada duduk di samping Minerva. "Terima kasih pak sudah mau menjemputku." ucap Lilies tanpa melihat ke arah Minerva sedikit pun.
Dari raut wajahnya, tampak Lilies masih memendam amarah dengan Minerva, tai Minerva sama sekali tidak menggubris semua itu. Ia tetap memainkan ponselnya.
"Pak Mamat pernah selingkuh?" tanya Lilies.
"Wah, Non Lilies kok tanya begitu sama saya. Saya kan jadi malu." jawab Pak Mamat salah tingkah.
__ADS_1
"Wajar aja sih Pak. Tapi kalo boleh tau, kenapa bisa selingkuh ya pak? ceweknya yang godain dulu ya?" tanya Lilies lagi. Ia sengaja membuat Minerva marah kali ini dengan mengungkit kejadian di kantor tadi pagi.
"Iya non,. Abis jaman sekarang cowok mana yang gak tergoda kalo perempuannya godain terus. Ibaratnya nih ya Non, ada kucing dikasih ikan asin pasti dicaplok. Apalagi dikasih pa ha ayam yang mon tok." jawab Pak Mamat.
"Tapi untungnya istri saya gak tahu non. Kalo tahu tuh cewek pasti udah dicabik-cabik sama istri saya." tambah Pak Mamat.
"Kalo saya jadi istri bapak, udah saya bunuh tuh selingkuh bapak. Trus mending saya cari laki-laki yang lain." timpal Lilies dengan nada bicara geram.
"Aduuuh, ngeri juga ya." ucap pak Mamat. "Tapi saya gak terusin kok jalan sama selingkuh sama non."
"Udah santai aja kali pak. Saya cuma ngajak ngobrol aja kok. Soalnya saya tadi pagi lagi kesel ngeliat calon suami saya digodain sama perempuan mu ra han." tukas Lilies.
"Trus calon suami Non Lilies gimana?" tanya Pak Mamat penasaran.
"Awal calon suami saya gak mau pak. Tapi perempuan mura han itu maksa minta dicium dan mengancam akan mencelakai saya. Gimana saya gak kesel coba Pak>" ucap Lilies menggebu gebu.
Ia berharap Minerva menjambak rambutnya atau memukulnya agar ia bisa mengadukan hal ini pada Moona dan juga Arthur. Lilies paham betul bagaimana prinsip yang dibangun dalam keluarga Wycliff dimana semua keturunannya dilarang keras bersikap mu ra han, apalagi sampai menggoda pasangan orang lain dan selingkuh.
"Sial, Minerva kenapa diem aja sih. Bukannya marah nyerang aku?" gumam Lilies dalam hati.
Dia pun kini memaksakan dirinya untuk menghadap ke kursi belakang. Tapi tiba-tiba Pak Mamat menginjak rem mobil secara mendadak membuat Lilies dan juga Minerva sama-sama terkejut.
...🧩🧩🧩...
Hai Readers setia aku. Mampir yuk ke karya temenan Author yang ceritanya pasti seru banget.
Nama Pena : R. Angela
Judul Novel : terjerat Gairah Sang Pelakor
Blurb :
Rayana Hasianna, tidak pernah menyangka rumah tangga yang sudah dibina selama 2 dua tahun, harus kandas di tangan pelakor yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.
Rayana tidak pernah menyangka kalau sore itu dia akan melihat ranjang yang selama ini menjadi milik pribadinya bersama suami, harus digantikan oleh, Lani, sahabatnya sendiri.
Bertekad ingin membalas dendam atau menyelamatkan rumah tangganya, Ray memilih pura-pura tidak mengetahui perbuatan mesum kedua orang yang sangat dia sayangi itu.
Bagaimana kisah Ray? akankah hati yang sudah hancur berkeping-keping bisa ditata kembali?
Akankah Ray berhasil mendapatkan cinta suaminya lagi, atau memang takdir berkata lain?
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi tidak untuk melupakan, rasa sakit ini." - Rayana Hasianna.
__ADS_1