
Minerva langsung mencoba untuk mempelajari masalah yang kini sedang dialami Jovita. Ia langsung menyalakan sistem Scorpio miliknya yang disandingkan dengan macbook yang juga sudah mulai di nyalakan.
Minerva juga mencoba meretas CCTV Bank tempat Jovita bekerja menggunakan kode yang diberikan oleh sistem scorpio. Kini mulai tampak saat Nasabah mulai datang dan duduk berhadapan dengan Jovita.
Ternyata nasabah tersebut sempat memberikan Jovita permen dan percakapan antara keduanya terlihat sangat akrab.
"Hemm, ternyata Jovita sudah terkena hipnotis melewati permen ini." gumam Minerva.
Setelah itu nasabah memberikan uang dua juta dan menuliskan angka pada selembar kertas sebesar dua ratus juta. Nominal yang ada di kertas lah yang kemudian dimasukkan Jovita ke dalam rekening nasabah tadi.
Saat Minerva sedang asyik mengotak atik macbooknya, tiba-tiba Dwayne mengirimnya pesan singkat.
^^^Kak Emir^^^
^^^Aku ingin mengajakmu pergi malam ini. Apa kau ada waktu, Minerva?^^^
Minerva langsung tersenyum melihat pesan dari Dwayne. Ia pun langsung membalasnya tanpa menunggu lama.
Minerva
Boleh saja. Kak Emir mau mengajakku kemana?
^^^Kak Emir^^^
^^^Bukit Bintang. Tapi bukan yang di Kuala Lumpur ataupun di Jogja.^^^
Minerva
Oke.
^^^Kak Emir^^^
^^^Tepat jam tujuh malam aku sudah ada di apartemenmu^^^
Minerva menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan untuk mengotak atik macbooknya. Kali ini nasabah tersebut memang sudah mengambil uang dua ratus juta dan memindahkannya ke rekening bank miliknya yang sudah lama.
Dengan cepat Minerva meretas buku tabungan atas nama nasabah tersebut dan kembali memindahkan uang tersebut ke dalam rekeningnya sendiri.
"Hemm, tapi jika begini. Jovita fikir nanti semua uangnya adalah milikku yang aku berikan kepadanya." gumam Minerva.
__ADS_1
Saat Minerva sedikit bingung, sistem scorpio pun memberi langkah selanjutnya. Jovita tetap harus pergi bekerja dan setelah itu fokus pada rekening nasabah.
Jovita harus konsen pada hal yang satu ini. Saat Minerva sudah berhasil mengirimkan uang dua ratus juta ke rekening nasabah tersebut, dengan cepat Jovita dapat menarik uang yang ada dalam rekening dan mengembalikannya pada Bank.
"Wow! It's so amazing!" teriak Minerva dengan mata yang berbinar.
Teriakan Minerva ternyata membangunkan Jovita. Ia mengerjapkan matanya perlahan-lahan dan langsung membulat sempurna saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam.
Jovita langsung meloncat dari tempat tidur dan menemui Minerva.
"Aku ternyata sudah tidur terlalu lama." ucap Jovita. "Apa yang sudah kamu lakukan Minerva? Apa kau menemukan jalan keluar dari Masalah ku?" tanya nya kemudian.
Minerva mengangguk dan kini membuat mata Jovita berbinar. "Aku sudah menemukan jalan keluarnya, tapi itu tidak gratis sayang." ucap Minerva sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Aku akan membayarmu berapapun kau mau, Minerva ku sayaaang." timpal Jovita sambil memeluk Minerva dengan sangat erat.
"Memangnya kau punya uang?" tanya Minerva.
"Tentu saja tidak. Sudah jelas uangmu lebih banyak dari uangku." jawab Jovita terkekeh.
"Tapi aku siap melakukan apapun untukmu Minerva. Aku janji." ucap Jovita kemudian.
"Aku sudah mengirimkan pesan untuk papi dan papi juga sudah memperbolehkannya." ucap Jovita melapor pada Minerva.
"Baiklah, sekarang aku akan mandi dan bantu aku bersiap untuk pergi." jelas Minerva yang mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Kau mau mengajakku pergi?" tanya Jovita dan Minerva langsung menggelengkan kepalanya.
"Lalu? Kau akan pergi dengan siapa?" tanya Jovita mengikuti langkah Minerva.
"Kak Emir. Dia mengajakku ke bukit bintang." jawab Minerva sambil mengulum senyumnya.
"What??!!! Kak Emir??!! Benarkah?!!" teriak Jovita.
"Hei! Jangan berteriak! suaramu memekakkan telingaku." epuk Minerva pada bahu Jovita.
"Jika kau pergi dengan Kak Emir, lebih baik kau berikan bule tampan Austin itu padaku. Kau lebih mencintai Kak Emir kan daripada bule itu?" tanya Jovita.
Minerva hanya tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, tapi kemudian ia kembali membuka pintu kamar mandinya.
__ADS_1
"Jo! kau bisa mandi di kamar mandi yang satunya. Ada handuk bersih dan pakaian ganti di sana yang bisa kau pakai." ucap Minerva.
"Diiiih, kamu nih ya. Bukannya jawab pertanyaan aku malah nyuruh aku mandi. Tapi aku sangat lapar. Aku boleh mengacak pantry milikmu kan?" teriak Jovita.
"Okeeee." Minerva balas berteriak dari dalam kamar mandi.
...☘️☘️☘️...
Sedangkan Austin kini sudah sangat rapi dan bersiap untuk mengajak Minerva makan malam. Austin memang tidak mengirim pesan kepada Minerva lebih dahulu karena ia sengaja ingin memberikan surprise.
Austin masih berdiri di depan kaca sambil mengagumi ketampanan nya sendiri yang saat ini memakai kemeja berwarna soft grey, dipadukan dengan blazer dan celana chinos.
"Aku tampan, mana mungkin Minerva bisa menolak ketampanan ku. Buktinya tadi saja jantungnya hampir berhenti berdetak." gumam Austin sambil tersenyum.
Austin langsung melangkahkan kakinya ke luar dari apartemennya. Ia juga tak lupa membawa goodie bag yang berisi dress untuk Minerva.
Setelah membelah jalanan malam di kota, ia pun sampai di apartemen milik Minerva. Ia bergegas masuk ke dalam lift dan langsung memencet angka lantai dimana Minerva tinggal.
Ting! Pintu lift terbuka. Dan lagi-lagi ia harus berhadapan dengan Dwayne yang kali ini mengenakan hoodie yang dipadukan dengan celana jeans. Dwayne sendiri tidak kalah tampan dari Austin karena ia juga menuruni ketampanan papanya yang berdarah Belanda.
"Untuk apa kau kemari? Aku sudah lebih dulu membuat janji dengan Minerva." sarkas Dwayne.
"Tentu saja bukan untuk menemui mu, Emirio Dwayne." jawab Austin. "Aku ingin mengajak Minerva berkencan malam ini."
Dwayne yang hendak membuka pintu apartemen Minerva kini mengurungkan niatnya. "Tidak bisa!" suara Dwayne terdengar sangat ketus.
"Aku sudah lebih dulu membuat janji dengan Minerva. Pulanglah! kedatanganmu kali ini hanya sia-sia belaka."
Austin tidak mengindahkan usiran Dwayne. Ia tetap melangkahkan kakinya dan memencet bel apartemen milik Minerva.
"Baiklah, jangan menyesal jika Minerva menolak kedatanganmu dan lebih memilih diriku malam ini." ucap Dwayne kemudian.
"Buah memang tidak jatuh dari pohonnya ya. Bahkan kebawelan tante Risa kini menurun kepada putranya." ledek Austin.
"Jangan bawa-bawa mamaku!" gertak Dwayne.
Kini Dwayne diam - diam membuka kunci pintu apartemen Minerva dan buru-buru masuk ke dalam. Tidak hanya itu, Dwayne pun langsung menutup kembali pintunya tanpa memberikan ruang pada Austin untuk masuk ke dalam.
"Si*l! Dia malah msuk sendiri tanpa mengajakku." gerutu Austin yang kemudian kembali menekan bel pintu apartemen Minerva.
__ADS_1
Sedangkan Dwayne yang sudah berada di dalam hanya tertawa melihat Austin yang sudah kalah langkah dari dia.