
Emir kini terdiam tidak bertanya lagi dengan Maria karena melihat Maria yang mati matian menahan tangisannya. Terlebih kini Emir melihat Maria yang tidak lepas memandang putranya terus menerus dari kejauhan.
Hingga matahari sudah mulai hampir tidak terlihat, Maria baru mengalihkan pandangannya karena putra dan mantan suaminya sudah meninggalkan Danau. Maria pun berdiri dan meninggalkan Emir begitu saja.
Emir yang kini mulai memahami kesedihan Maria pun nampak berlari mengejarnya dan keduanya kini masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Danau Tamblingan. Tapi sejenak ia menghentikan langkahnya saat Emir merasa diperhatikan oleh seseorang yang berdiri di antara pura.
"Aku seperti merasa ada yang memperhatikanku sejak tadi." gumam Emir yang tidak melihat seorang pun memperhatikannya di sekitar pura.
Beberapa orang di sekitar pura memang sibuk dengan diri mereka masing-masing. "Oh, sudahlah, mungkin ini hanya perasaanku saja." gumam nya lagi yang kemudian kembali berlari mengejar Maria.
"Dimana penginapanmu? Biar aku antarkan ke sana." ucap Emir.
Maria kemudian memberikan ponselnya yang sudah tersetting peta arah pulang ke villa milik Naomi yang terletak tidak jauh dengan Villa keluarga Wycliff.
"Waaah, ini sangat dekat dengan Villa Minerva. Aku bisa mengunjunginya malam ini." gumam Emir yang masih terdengar dengan telinga Maria.
"Siapa Minerva?" tanya Maria kemudian. "Kekasihmu?" tebaknya lagi.
Emir hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan dari Maria. Ia pun segera mengemudikan mobilnya untuk mengantar Maria pulang.
"Oh iya Maria, apa aku bisa menumpang mandi di Villa Naomi? Aku ingin menemui seorang gadis di dekat Villa Naomi." ucap Emir.
"Kau mau mengunjungi Minerva? Dia pasti orang yang kau maksud dengan 'seorang gadis'?" tanya Maria dan Emir lagi-lagi hanya menyunggingkan senyumannya.
"Huuuuh." Maria membuang nafasnya pelan. "Betapa beruntungnya Minerva, dicintai orang yang sangat baik dan bertanggung jawab sepertimu." ucap Maria kemudian.
"Tidak seperti aku, yang dibayar untuk menikahi putra pengusaha kaya raya dan melahirkan seorang putra untuknya." ucap Maria sendu.
Emir sangat terkejut mendengar cerita dari Maria, tetapi ia belum mau menimpalinya agar Maria meneruskan dulu ceritanya.
"Aku ternyata hanya wanita lemah yang ternyata sangat mencintai mantan suamiku dan berharap ia juga mencintaiku. Dia selalu bersikap baik padaku, Emir. Bahkan saat aku melahirkan seorang anak laki-laki yang akan menjadi pewaris untuknya, dia begitu memperhatikan diriku dan semua keperluanku."
"Tapi ternyata aku telah mengharapkan suatu hal yang sia-sia. Setelah dua tahun aku mengurus putraku bersamanya, ia memberikanku imbalan yang sangat besar dan dia meninggalkan aku dengan membawa Kenzi bersamanya."
__ADS_1
"Aku benar-benar sangat kecewa saat itu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Uang yang aku dapatkan, berhasil aku gunakan untuk membangun perusahaan hingga sebesar ini."
"Dan bodohnya aku, aku masih menyimpan rasa cintaku untuknya dan aku belum bisa melupakannya sedikit pun." ungkap Maria yang sudah tidak lagi mengeluarkan air matanya.
"Ups, maaf maaf. Seharusnya aku tidak menceritakan in padamu." ucap Maria kemudian.
"Aku tidak bisa memberikan komentar apapun Maria. Semoga kelak kau akan bahagia dengan lelaki yang baik untukmu." ucap Emir membuat senyum Maria merekah.
"Thanks Emir, aku pikir kau adalah orang yang sangat tertutup dan dingin. Ternyata aku sudah salah menilaimu." ucap Maria.
"Aku doakan semoga kau juga bahagia dengan wanita pilihanmu." balas Maria.
Kini mobil yang dikemudian Emir sudah sampai di depan Villa Naomi. Maria pun mengajak Emir masuk melewati pintu samping karena di depan sedang ramai berkumpul para keluarga Naomi.
Emir tidak ingin membuang waktunya lama-lama. Ia pun segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. Setelah itu ia menghubungi sopir hotel yang sudah dimintanya untuk menjemputnya.
"Maria, terima kasih sudah memperbolehkan aku membersihkan diri di sini." ucap Emir yang baru saja mandi di kamar mandi belakang di dekat dapur.
Setelah mengucapkan terima kasih, Emir pun segera berpamitan dan menuju ke mobil sopirnya yang baru saja sampai. Emir melambaikan tangannya kepada Mari dan mobilnya pun menjauh meninggalkan villa Naomi.
"Naomi!" pekik Maria. "Kau mengagetkan aku." gerutu Maria.
Naomi hanya terkekeh tanpa merasa bersalah. "Sepupuku sepertinya sudah move on yaa?" ledek Naomi dan Maria langsung menggelengkan kepalanya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Bohoooong! Buktinya dia sampai rela mengantarmu dan mandi di sini." celetuk Naomi.
"Kenapa tadi tidak dipersilahkan saja mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarmu, sepupu?" bisik Naomi yang langsung dicubit oleh Maria.
"Hei, jangan macam-macam yaaa! emir adalah laki-laki yang jauh dari lelaki yang ada dalam pikiran kotormu, Naomi." tukas Maria.
"Ck, Memangnya lelaki yang dalam pikiranku itu bagaimana sepupu?" tanya Naomi.
"Lelaki mesum."
__ADS_1
Naomi langsung membulatkan matanya dan menepuk lengan Maria. "Enak saja. Meskipun aku playgirl, tetap saja aku memilih lelaki yang baik untuk menjadi suamiku." ucap Naomi.
"Tapi apakah lelaki sebaik Narayan mau menerimamu yang sudah tidak perawan?" tanya Maria kemudian.
"Tentu saja. Dia juga berkali kali mengatakan padaku jika dia akan menerima diriku apa adanya." jelas Naomi dengan sangat mantap.
"Syukurlah. Aku sangat senang melihatmu bahagia Naomi. Semoga pernikahanmu tidak seperti pernikahanku yang menyakitkan."
"Ayolah sepupu. Lupakan mantan suamimu itu. Kau itu sangat cantik" puji Naomi. "Aku yakin kau bisa mendapatkan lelaki yang baik untukmu." ucap Naomi kemudian yang sangat paham dengan sepupunya yang masih sangat mencintai mantan suaminya.
Maria tidak menanggapi perkataan sepupunya dan masuk ke dalam kamarnya. Naomi pun terus saja mengikuti Maria yang kini merebahkan tubuhnya di atas ranjang nya.
"Sore ini aku bertemu dengannya dan Kenzi di Danau Tambligan." ucap Maria.
"Whatttt???!!!" teriak Naomi.
"Sssssttttt!" Maria meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
"Pantas saja matamu bengkak. Kau pasti tadi menangisi dia lagi?" tanya Naomi dengan nada yang tidak suka dan Maria pun menganggukkan kepalanya.
"Ya Ampuuuun, Maria. Sampai kapan kau bodoh seperti ini? Kenapa kau membiarkan dirimu hidup tidak bahagia? Sudah lima tahun berlalu dan kau masih saja mengharapkan mantan suami yang tidak pernah mencintaimu." ucap Naomi kesal.
"Tapi dulu dia sangat perhatian padaku, Naomi. Kenapa kau tidak pernah mengingat kebaikannya yang telah melepaskan keluarga kita dari kemiskinan?" balas Maria.
"Itu adalah hubungan timbal balik yang sesuai, Maria. Kau sudah memberikan keluarga besarnya seorang putra, pewaris perusahaan yang sangat di idam diamkan. Dan kita menikmati bayaran yang setimpal hingga perusahaanmu maju seperti sekarang. Impas bukan?" timpal Naomi.
"Tapi aku benar-benar tidak bisa melupakannya Naomi. Dan aku sekarang sadar bahwa perasaan tidak bisa diperjual belikan." gumam Maria pelan.
"Kau menyesal?"
"Entahlah. Aku tidak tahu harus menyesal atau tidak. Yang jelas aku masih sangat mencintainya." ucap Maria.
"Ya sudahlah, terserah padamu saja. Istirahatlah, besok kau akan menjadi pendamping di pernikahanku." ucap Naomi yang kemudian meninggalkan Maria seorang diri.
__ADS_1
Tak lama setelah Naomi keluar dari kamarnya, Maria pun langsung terlelap dalam tidurnya.