Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Be My Wife


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Minerva langsung bersiap-siap menuju ke apartemen Emir untuk membantunya menyiapkan makan malam mereka. Saat hendak membuka pintu, ponselnya pun berdering dan nampak Yolanda sedang menghubunginya.


📲 "Halo, Minerva. Andre mengajakku makan malam di luar. Apa kau ingin menitip sesuatu?" tanya Yolanda diujung panggilan.


📲 "Tidak perlu Yolanda. Aku juga sedang menyiapkan makan malam." jawab Minerva yang pada kenyataannya baru akan menyiapkan.


📲 "Baiklah, aku akan datang setelah makan malam ya." ucap Yolanda kemudian sebelum panggilannya terputus.


📲 "Okey, take your time Yolanda." balas Minerva dan panggilan pun terputus.


Setelah menyimpan kembali ponselnya, Minerva bergegas menuju apartemen Emir dan menekan bel nya. Setelah tiga kali menekan bel dan tak kunjung dibukakan pintu oleh Emir, kini Minerva membuka sendiri pintu apartemen Emir dengan memencet sandi yang sama persis dengan miliknya.


"Kaaaak." panggil Minerva sambil masuk ke arah ruang tengah. Ia melihat apartemen Emir begitu sepi seperti tak berpenghuni.


"Kan sudah aku bilang tinggal masuk aja. Kenapa sih pake pencet bel segala?" tanya Emir yang kini berdiri tepat di belakang Minerva dan masih berbalut handuk.


Minerva berbalik dan langsung menutup matanya melihat Emir yang baru saja selesai mandi dan belum mengenakan pakaian. Bau segar tubuh Emir menusuk ke dalam penciuman Minerva membuat Minerva sedikit terbuai dengan keharumannya.


Melihat Minerva menutup matanya, membuat Emir tersenyum dan berniat menggoda Minerva. "Kamu ditanya kok gak jawab sih?" tanya Emir sambil melepaskan tangan Minerva yang menutupi mukanya.


Minerva menelan lu dah nya ka sar saat dihadapkan dengan tubuh atletis Emir yang dijatuhi tetesan air dari rambutnya yang masih basah. Emir terlihat sangat tampan di mata Minerva membuat li dah nya kelu tidak bisa menjawab pertanyaan Emir.


Emir kini memberanikan dirinya memegang dagu Minerva dan kini kedua netra mereka saling menatap dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan. "Aku ganti ba ju dulu ya. Kamu bisa tunggu di sofa depan TV atau mau menunggu di kamar?" tanya Emir membuyarkan lamunan Minerva.


"Oh, em... aa.. i.. iya kak. Aku tunggu di depan TV saja." jawab Minerva tergagap yang kemudian berbalik menuju ke sofa dan menyalakan TV milik Emir untuk menghilangkan rasa canggung nya.


Minerva kini memegangi dadanya yang berdegub dengan kencang sambil mengatur nafasnya. "Ya Ampuuuun Minerva, kamu nih kenapa sih?" gumam Minerva pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menetralkan gemuruh dalam dadanya.


Lama kelamaan mata Minerva pun terpejam karena memang hari ini begitu melelahkan bagi Minerva. Saat Emir keluar dari kamar dan mendapati Minerva tertidur, ia pun mengambilkan selimut untuk Minerva.


"Harimu pasti sangat melelahkan." gumam Emir sambil menyelimuti Minerva. Ia pun kemudian menuju ke pantry dan mulai mengolah makanan untuk makan malamnya bersama Minerva.


Tak perlu menghabiskan waktu yang lama., nasi hainan, ayam panggang dan juga sambalnya sudah siap di meja makan. Tidak hanya itu, Emir juga sudah menyiapkan orange juice dan susu untuk Minerva.


Sayangnya Minerva terlihat masih nyenyak dalam tidurnya membuat Emir tidak tega untuk membangunkannya. Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi dan Emir segera melihat siapa yang datang.


"Yolanda."

__ADS_1


"Maaf Tuan Dwayne, aku sudah memencet bel apartemen Minerva dari tadi tapi tidak dibuka juga pintunya. Aku tidak bisa menghubungi Minerva karena ponselku mati." jelas Yolanda sambil memperlihatkan ponselnya.


"Minerva sepertinya kelelahan sampai tertidur di sofa apartemen ku. Aku sendiri tidak tega membangunkan dirinya." balas Emir. Di sisi lain dia juga tidak berani mempersilahkan Yolanda untuk memasuki apartemen milik Minerva.


"Oh, tidak apa-apa Tuan. Aku akan menunggu Minerva di sini saja." ucap Yolanda duduk di sofa yang disiapkan di depan apartemen.


"Sebentar, lebih baik aku memanggil Andre untuk menemanimu." Emir langsung menelfon Andre dan memintanya untuk menemani Yolanda.


"Andre akan datang menemanimu, jika kau mau, kau bisa menyewa satu ruang karaoke di bawah bersama Andre. Nanti aku yang akan membayarnya." ucap Emir membuat mata Yolanda langsung berbinar.


"Terima kasih Tuan Dwayne, aku tidak akan menyia-nyiakan tawaran emas dari anda." ucap Yolanda yang kemudian membungkukkan tubuhnya sebagai ungkapan terima kasih pada Emir.


Yolanda langsung masuk ke dalam lift dan Emir pun kembali masuk ke dalam apartemennya.


"Siapa yang datang kak? Apa itu Yolanda?" tanya Minerva yang baru saja membuka matanya.


Emir tersenyum dan mengangguk mendengar pertanyaan Minerva. "Tapi aku sudah menyuruhnya menunggumu di ruang karaoke bawah bersama Andre." jelas Emir.


"Maaf kak, aku jadi tertidur di sini." ucap Minerva yang sudah duduk manis sambil merapikan rambutnya.


Emir kini duduk tepat di samping Minerva sambil menatap ke arah Minerva. "Kau terlihat sangat lelah, Minerva. Lebih baik resign saja dan bekerja denganku. Aku tidak akan membuatmu kelelahan seperti ini." tawar Emir sambil menyelipkan rambut Minerva ke belakang telinganya.


"Aku tidak tega mengganggu tidurmu, Minerva. Makan yuk, aku yakin cacing di perutmu sudah demo minta di beri makan." ajak Emir sambil menarik tangan Minerva dan mengajaknya ke meja makan.


"Nasi hainan." mata Minerva berbinar saat melihat apa yang sudah dimasak oleh Emir kali ini.


Emir langsung menyendokkan nasi hainan dan menyuapkannya ke mulut Minerva. "Bagaimana rasanya?" tanya Emir.


"Ini sangat lezat kak Emir. Bahkan buatan ku kalah jauh dengan buatan Kak Emir." puji Minerva.


Emir tersenyum lebar dan segera mengambilkannya untuk Minerva. Kini mereka berdua menikmati makan malam mereka sambil mengobrol.


"Kak boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu saja boleh. Memang apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa kakak mempunyai pacar?" tanya Minerva.

__ADS_1


"Belum." jawab Emir santai.


"Kalo mantan pacar?"


"Tidak ada."


"Emmmh, tapi kakak pernah jatuh cinta kan?"


"Pernah."


"Terus pernah mengungkapkan perasaan kakak sama orang yang kakak sukai atau belum?"


Kali ini Emir hanya mengedikkan bahunya dan tidak menjawab pertanyaan Minerva. Semua pertanyaan Minerva dijawab secara singkat dengan Emir membuat Minerva sedikit jenuh dengan obrolan mereka.


"Kak Emir selalu menjawab singkat semua pertanyaanku." gerutu Minerva.


"Memang harus dijawab seperti apa Minerva?" tanya Emir balik.


Minerva langsung menggelengkan kepalanya dan menghabiskan makan malamnya.


"Apa ada hal yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Emir dan Minerva menggelengkan kepalanya.


"Kalau kakak mencintai seorang wanita, lebih baik dikatakan saja pada wanita itu atau kakak bisa tunjukkan padaku siapa wanita itu. Nanti aku akan bantu membuatnya jatuh cinta dengan kakak. Bagaimana?" tawar Minerva.


"Benarkah?" tanya Emir dengan nada tidak percaya.


"Yup, karena aku yakin itu adalah hal mudah bagiku. Apalagi melihat ketampanan kak Emir. Wanita yang mampu menolak ketampanan kakak." jawab Minerva.


"Tapi aku takut wanita itu menolak perasaanku, Minerva." ucap Emir yang kini sudah menghabiskan makanannya.


"Kau hanya terlalu pesimis kak, belum tentu apa yang kau takutkan itu benar." balas Minerva. "Percayalah, aku sangat mendukungmu untuk selalu optimis."


Mendengar ucapan Minerva, membuat Emir tersenyum tipis. "Terima kasih banyak Minerva. Aku akan mencobanya."


Emir menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia kemudian menggenggam tangan Minerva dan kedua netra mereka kini saling bertemu.


"Aku mencintaimu dan begitu menyayangimu. Namun, sangat sulit bagiku mengungkapkan semua isi hatiku karena entah mengapa li dah ku selalu kelu dan sulit untuk berucap saat berhadapan denganmu."

__ADS_1


"Aku hanya ingin selalu bersamamu, menjalani hidup denganmu, dan menua bersamamu. Be my wife, please."


Emir telah berhasil menumpahkan segala perasaannya pada Minerva dan kini ia tinggal menunggu jawaban dari Minerva atas ungkapan perasaannya.


__ADS_2