
Minerva masuk ke dalam kamarnya dan langsung memutuskan untuk berendam di bathtub. Dia harus merefresh pikirannya yang sudah tercemar pagi ini. Bayangan tubuh atletis Dwayne terus saja menari-nari dalam benak Minerva.
Minerva membasuh mukanya berkali-kali untuk berusaha menepis bayangan Dwayne. Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.
"Siapa lagi yang datang di saat gak tepat gini sih?" gerutu Minerva.
Minerva membilas tubuhnya dengan kilat dan menyambar bathrobe nya karena bel apartemennya terus berbunyi berulang kali.
Minerva berjalan ke pintu dan mengintip siapa yang datang dan langsung membuka pintu apartemennya.
"Ada apa lagi Tuan?" gerutu Minerva merasa sangat terganggu dengan kedatangan Dwayne.
Kali ini gantian Dwayne yang harus menelan ludahnya kasar melihat rambut basah Minerva dan tubuhnya yang dibalut bathrobe. Penampilan Minerva kali ini membuat Dwayne membayangkan yang tidak-tidak.
"Tuan Dwayne!" panggil Minerva dengan nada sedikit kencang hingga membuyarkan lamunan Dwayne.
"Apa kau mau membalas dendam padaku, Minerva? Kau sedang menggodaku ya?" tanya Dwayne.
"Hei, anda datang di saat yang tidak tepat dan terus saja memencet bel apartemenku, Tuan." sarkas Minerva tidak terima dikatakan menggoda Dwayne.
"Jadi apa tujuan anda datang kemari?" tanya Minerva kesal.
"Mama mengundangmu sarapan bersamanya. Dia sudah memasak khusus untukmu."
Mendengar jawaban Dwayne, Minerva sangat ingin menolak karena ia ingin segera ke rumah Papi Aris seperti janjinya tadi malam.
"Bagaimana jika aku tidak bisa? Ada banyak hal yang harus aku lakukan pagi ini."
Penolakan Minerva kali ini membuat Dwayne sedikit merasa kecewa, tapi ia tidak kehilangan akal untuk memaksa Minerva untuk tetap datang.
"Aku tidak bisa pastikan bagaimana nantinya jika kamu tidak memenuhi undangan mamaku. Hanya saja aku sedikit khawatir jika dia tiba-tiba datang bersama papa untuk melamarmu karena dia sudah sangat menginginkan cucu." ucap Dwayne sambil berbalik menuju apartemennya.
"Bersiaplah! Setengah jam lagi kau harus sudah duduk di ruang makanku."
"Dasar Gila!" pekik Minerva.
"Huft! Bisa-bisanya aku bertetangga dengan orang seperti dia." gerutu Minerva sambil menutup kembali pintu apartemennya.
"Sudah mamanya kalau bicara tidak bisa direm. Yang ini anaknya juga aneh."
Minerva masuk lagi ke dalam kamar mandi dan menuntaskan mandi ya yang tertunda. Setelah itu Minerva langsung memakai dressnya dan mengeringkan rambutnya.
Kini Minerva tinggal menunggu waktu untuk memenuhi undangan Mama Risa sambil mengecek beberapa pesan yang masuk.
__ADS_1
Yolanda
Akhirnya kau menghubungiku, Minerva. Aku menunggumu pulang sejak kemarin sore. Kirimkan alamat apartemenmu ya. Aku akan berkunjung nanti.
Jovita
Terima kasih sudah mengantar Mami ke pemakaman. Jangan sungkan untuk mengunjungi kami ya. Aku akan menjemputmu kapan kau siap untuk datang kemari.
Minerva tidak langsung membalas pesan mereka dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tapi kemudian ponselnya berdering dan ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
^^^"Halooo." Minerva menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.^^^
"Mama dan aku sudah menunggumu. Segeralah kemari takut supnya nanti dingin karena lama menunggumu!" suara Barito Dwayne memekakkan telinga Minerva.
Dengan kesal Minerva langsung mematikan panggilannya sepihak dan keluar dari apartemennya. Ia langsung masuk ke dalam apartemen Dwayne karena kebetulan pintunya tidak tertutup.
"Hai sayang, duduklah disini dekat mama." panggil Mama Risa yang langsung mengamit lengan Minerva.
"Kau harus mencicipi sup buatan mama." Mama Risa langsung menyuapkan sup buatannya ke mulut Minerva.
Minerva langsung membuka mulutnya dan menerima suapan Mama Risa. "Ini adalah sup ternikmat yang pernah aku makan, tante." puji Minerva.
"Benarkah? Kalau begitu aku ingin mencobanya Ma." Dwayne langsung membuka mulutnya dan minta disuapi oleh mama Risa juga.
"Emmmh, rasanya tidak ada yang istimewa. Seperti sup biasa yang mama buat." ucap Dwayne.
Kini Dwayne tersadar bahwa Minerva tumbuh tidak dengan kasih sayang orang tua yang lengkap. Ia teringat bagaimana dulu Minerva saat baru pertama kali bertemu padanya yang kerap disiksa oleh Jovita.
"Silahkan nikmati supnya sayang. Mama akan sering mengunjungi Dwayne dan memasak untukmu kalau begitu." Mama Risa menyodorkan sup buatannya pada Minerva.
"Aku tidak mau merepotkan tante. Ini juga sudah lebih dari cukup." jawab Minerva.
"Benar kata Minerva, sup Mama kali ini sangat nikmat." puji Dwayne sambil menyuapkan sup ke dalam mulutnya.
"Kalian tahu kenapa?"
Kini Minerva dan Mama Risa menunggu Dwayne meneruskan kalimatnya.
"Karena sendok yang aku pakai bekas dari kamu." ucap Dwayne menunjuk ke arah Minerva.
Sontak wajah Minerva langsung merona, sedangkan mama Risa tersenyum mendengar celotehan putranya kali ini. Baru kali ini Mama Risa menganggap putranya normal.
Melihat wajah Minerva yang merona, Mama Risa mencoba mengalihkan pembicaraan. "Oh iya Minerva, apa kesibukanmu saat ini?" tanya Mama Risa.
__ADS_1
"Saya masih mencari pekerjaan, tante." jawab Minerva jujur. "Kemarin sudah sempat bekerja satu hari, tapi setelah itu perusahaannya langsung ada masalah."
"Dwayne, bukankah di kantormu ada lowongan pekerjaan?" tanya Mama Risa sambil mengedipkan matanya ke arah putranya.
"Ada. Tapi sepertinya aku tidak mampu menggaji karyawan seperti Minerva, Ma." jawab Dwayne yang sudah menghabiskan supnya.
"Kenapa?" tanya Minerva dan Mama Risa bersamaan. "Apa karena perusahaan Tuan Dwayne sedang banyak hutang?" timpal Minerva.
"Enak saja. Gaji bulananmu nanti tidak akan sanggup membayar cicilan apartemenmu." tukas Dwayne.
"Helloooo, aku bayar tunai Tuan Dwayne yang terhormat."
Dwayne hanya tersenyum kecil. Entah mengapa jawaban dari bibir Minerva barusan membuat hatinya sangat bahagia. Karena itu artinya Minerva akan terus tinggal dekat dengannya.
"Kalau begitu, selesaikan sarapanmu. Kita akan pergi bekerja." ucap Dwayne yang kemudian mengelap mulutnya.
"Aku tidak mau bekerja denganmu, Tuan. Bisa darah tinggi nanti aku terus menerus di dekat anda."
Kali ini gantian Mama Risa yang diam sambil mengulum senyumnya melihat percekcokan kecil antara mereka berdua di meja makan.
"Sudahlah Minerva, ikut saja dulu dengan Dwayne. Barangkali kerjaanmya cocok sama kamu. Kalau misalnya gak cocok, kamu bisa kok mundur dan cari kerja yang lain." ucap Mama Risa.
"Tapi tante ..." belum sempat Minerva melanjutkan kalimatnya, Dwayne sudah menarik lengan Minerva.
"Ayo kita berangkat." ajak Dwayne. "Aku pamit dulu ya Ma."
"Hati-hati ya sayang. Siang nanti sepertinya mama akan pulang.."
"Minerva, kau mama tunggu untuk berkunjung ke rumah ya." ucap Mama Risa sambil melambaikan tangannya ke arah Minerva.
...☘️☘️☘️...
"Aku tidak mau bekerja dengan anda. Banyak hal yang harus aku lakukan hari ini." ucap Minerva saat keduanya berada di dalam lift.
"Kau mau kemana?"
"Jovita dan Papi Aris sedang membutuhkan aku. Aku juga sudah berjanji untuk menemuinya hari ini." jawab Minerva.
"Aku akan mengantar mu."
"Tidak perlu, Tuan. Kita sudah impas bukan? Anda sudah mengantar saya tadi malam." tolak Minerva yang sebenarnya tidak mau terlalu jauh masuk dalam kehidupan Dwayne.
Pintu lift pun terbuka dan terlihat Austin berdiri tepat di depan pintu lift.
__ADS_1
Mereka bertiga sama-sama terkejut dan saling melemparkan pandang satu sama lain.