
"Minerva, aku minta maaf soal kemarin. Wanita itu bukanlah siapa-siapa untukku. Dia hanya rekan bisnis saja. Tidak lebih." jelas Emir yang sudah paham alasan dari kemarahan dan tamparan dari Minerva barusan.
Minerva langsung membuka ponselnya dan memperlihatkan foto foto yang sengaja diambilnya kemarin kepada Emir.
"Ini yang kakak maksud rekan bisnis? Apa memang seperti sikap kakak dengan semua rekan bisnis perempuan kakak?" sarkas Minerva.
Emir mengusap wajahnya kasar. Ia sangat tidak menyangka jika Minerva mengabadikan dirinya saat dipeluk oleh Maria kemarin. Terlebih dalam foto tersebut memang ia terlihat sangat dekat dengan Maria.
"Kumohon jangan marah, Minerva. Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku tidak memeluknya, tapi Maria yang memelukku dan menangis histeris karena ia bertemu dengan mantan suaminya dan putranya yang kebetulan juga datang ke Danau sore kemarin." jelas Emir yang tidak ingin menunda untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin sore.
Minerva kini terdiam mencerna cerita dari Emir yang terus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Minerva menatap kedua netra Emir dan tidak nampak ada kebohongan dalam ceritanya.
"Aku sudah berusaha melepaskan pelukan Maria. Tapi aku tidak tega melihatnya terpukul seperti itu. Maafkan aku, Minerva. Sungguh ini tidak seperti apa yang kau fikirkan. Percayalah."
"Dari dulu cuma kamu satu-satunya wanita yang sudah mengisi hatiku dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh orang lain. Ku mohon percayalah." pinta Emir sungguh-sungguh.
Kini Minerva terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Ia tidak tau harus mengatakan apa pada Emir. Yang jelas saat ini Minerva sudah merasa lebih tenang dengan penjelasan Emir barusan.
"Maafkan aku, Minerva." ucap Emir.
Minerva hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Jika boleh jujur, kali ini Minerva merasa sedikit malu. Tanpa ia sadari ia sudah cemburu buta tanpa mencari tahu apa yang sudah terjadi.
Emir yang melihat Minerva terus diam dan bahkan tidak memandang ke arahnya pun hanya tersenyum. Ia tidak menyangka Minerva sangat marah kepadanya saat ia dekat dengan wanita lain. Dari sikap Minerva kali ini, Emir sedikit bisa menyimpulkan bahwa Minerva juga ada perasaan khusus padanya.
"Minerva, bolehkah aku menanyakan suatu hal kepadamu?" tanya Emir.
"Hemmm." jawab Minerva dengan hanya berdehem pelan.
"Apa kau merasa cemburu saat aku dekat dengan wanita lain?" tanya Emir.
Minerva sangat terkejut dengan pertanyaan Emir kali ini. Mana mungkin ia mengatakan pada Emir bahwa ia memang sangat cemburu.
"Tidak!" jawab Minerva singkat.
"Aku hanya kecewa saja jika kakak memiliki kekasih, kenapa tidak sedikit pun cerita denganku. Bukankah kata kakak. Kita ini bersahabat?" timpal Minerva.
"Apa kau benar-benar hanya menganggap ku sebagai sahabat saja Minerva?" tanya Emir dengan raut wajah yang sedikit kecewa.
__ADS_1
Minerva mengulum senyumnya melihat raut wajah Emir yang kecewa. Tiba-tiba tangan Emir memegang dagu Minerva dan keduanya kini saling melemparkan pandangan.
"Aku ingin tahu kejujuran dari Sorot matamu, Minerva." ucap Emir.
Emir menelan ludahnya kasar saat Minerva menatap kedua netra milik nya. Pandangan Minerva benar-benar seperti membius dirinya untuk segera memiliki Minerva seutuhnya.
Minerva yang mulai salah tingkah dengan tatapan Emir pun mulai meng gi git bibir bawahnya. Degub dalam da danya juga makin tidak karuan hingga Minerva sedikit merasakan sesak.
Emir semakin gemas melihat Minerva yang menggigit bi bir nya. Ia pun semakin berani mendekatkan wajahnya ke wajah Minerva hingga Minerva memejamkan matanya.
"Jangan di gi git bi bir nya, biar nanti aku yang akan me lu matnya setelah kita menikah nanti." bisik Emir tepat di telinga Minerva.
Seketika tu buh Minerva pun me re mang dan satu ke cu pan hangat dari Emir mendarat sempurna di kening Minerva.
"Aku sangat mencintaimu, Minerva," Emir mengusap pipi Minerva yang mulai merona dengan sangat lembut.
Minerva menghentikan usapan tangan Emir dan mulai membuka matanya. "Kaaak."
Kini telunjuk Emir yang kemudian mendarat di bi bir Minerva.
Minerva makin tersipu dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Tangan Emir langsung menggenggam tangan Minerva.
"Kita ke arah sana yuk, aku rasa pemandangannya lebih menarik." ajak Emir.
Minerva pun mengikuti langkah Emir menuju ke tempat dimana dari situ mereka melihat air terjun yang sangat indah. Setelah puas menikmati pemandangan di sana dan mengambil gambar, Emir mengajak Minerva berpindah ke tempat yang lain dengan spot pemandangan yang berbeda.
Emir kali ini benar-benar membuat Minerva bahagia. Bagaimana tidak, ia terus saja menggenggam tangan Minerva dan tidak membiarkan Minerva jauh dari nya sedikit pun. Dan Minerva sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan Emir, bahkan ia juga merasa sangat nyaman saat Emir makin dekat dengannya.
"Kita makan yuk." ajak Emir. "Sayangku mau makan apa?"
"Kaaaak!" pekik Minerva sambil melotot.
"Iya kenapa sayang?" tanya Emir lagi menggoda Minerva.
"Jangan manggil gitu, gak enak nanti kalau di dengar sama yang lain." gerutu Minerva manja.
"Malu ya?" tanya Emir sambil mengusap kepala Minerva. "Kakak seneng banget lihat Minerva tersipu gini. Kita makan di situ yuk, habis itu kakak antar pulang. Takut calon mertua kakak khawatir nyari anak gadisnya yang gak pulang-pulang." ucap Emir sambil melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan jam 1 siang.
__ADS_1
Benar saja yang dikatakan Emir. Tiba-tiba ponsel Minerva berdering dan terlihat nama Austin sedang memanggil Minerva.
📱"Deeek, kamu dimana? Mommy nyariin kamu nih." ucap Austin di ujung panggilan.
📱"Pergi ke Puncak Wanagiri kak, bentar lagi pulang kok." jawab Minerva.
📱"Tunggu di sana biar kakak jemput."
📱"Emmm, gak usah kak. Kan Minerva di sini sama Kak Emir. Tunggu aja di villa ya." ucap Minerva yang kemudian mematikan panggilannya.
"Good Girl." puji Emir sambil menoel hidung Minerva.
Emir tersenyum karena bau kemenangan dari persaingannya dengan Austin sudah mulai tercium. Meskipun Minerva memang belum mengutarakan bagaimana perasaannya terhadap Emir, tetap saja Sorot mata Minerva saat menatap Emir bisa diartikan bahwa Minerva juga menginginkan dirinya.
Apalagi saat Minerva nampak sangat marah saat ia tertangkap sedang bersama dengan seorang wanita. Pancaran kecemburuan Minerva membuat Emir semakin yakin bahwa perasaannya untuk Minerva akan berbalas dengan sangat baik.
Kini keduanya sudah sampai di rumah makan yang mereka tuju. Setelah memesan menu yang mereka inginkan, Emir kembali membicarakan tentang mereka berdua.
"Minerva, berapa usiamu sekarang?" tanya Emir.
Minerva mengerutkan dahinya menatap Emir. "Mana mungkin kakak tidak ingat, sudah tentu usiaku 24 tahun." jawab Minerva.
"Aku hanya bertanya dan belum tentu aku tidak mengingatnya. Apa di usiamu yang sekarang ini kau siap menikah denganku, Minerva?" tanya Emir lagi.
Minerva kini mulai menyunggingkan senyumnya. Ia sendiri tidak mengira jika pertanyaan Emir mengarah ke sini.
"Kakak tahu sendiri kan, Kak Austin belum menikah, bahkan aku rasa ia juga belum menemukan seorang wanita yang ingin ia nikahi." jelas Minerva.
"Lagi pula Kakak ini terlalu narsis. Aku juga belum tahu akan menikah dengan siapa nantinya." timpal Minerva lagi.
"Oke oke. Aku rasa aku yang sangat tidak sabar untuk segera memilikimu, Minerva." ucap Emir dan keduanya tertawa bersama.
...📯📯📯...
Mampir juga yuk ke Novel aku yang lain.
__ADS_1