Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
PhP


__ADS_3

"Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Tuan?" tanya Yolanda.


Yolanda kini sedang berbunga-bunga karena baru kali ini Tuan Dwayne mengajak bicara seorang perempuan dan itu hanya empat mata saja.


"Seberapa jauh kau mengenal Minerva?" tanya Dwayne.


Yolanda mengerutkan dahinya, ia pikir Tuan Muda menanyakan tentang dirinya. Khayalan Yolanda seketika langsung buyar mendengar pertanyaan dari Dwayne.


Minerva memang sangat cantik jauh di atas rata-rata, apalagi jika dibandingkan dengan dirinya. Tapi Yolanda juga masih dalam kategori cantik dibandingkan dengan cewek-cewek yang kurang cantik.


"Bisa dikatakan Minerva yang lebih mengenal aku dibanding aku yang mengenalnya. Yang aku tahu, dia adalah Gadis Penyelamat bagiku." jawab Yolanda.


"Kau tidak tahu dimana Minerva selama ini? Tinggal dimana? Berasal dari mana? Dan kenapa dia tiba-tiba muncul dan menyelamatkanmu begitu saja?" Dwayne melayangkan pertanyaan secara bertubi-tubi pada Yolanda.


Kini Yolanda bingung harus menjawab apa. Dia juga belum bertanya dengan Minerva dimana dia selama ini. Yolanda bahkan juga tidak tahu kenapa Minerva bertemu dengannya dengan tiba-tiba dan akhirnya menyelamatkannya.


Yang Yolanda tahu hanya satu, Minerva adalah Putri Dewi Metis dan Dewa Zeus yang sedang diincar oleh Titan Mack, petinggi mavia MackTan untuk membalas dendam Peperangan Titan dulu.


"Aku tidak tahu." jawab Yolanda yang tidak mungkin mengatakan pada Dwayne darimana Minerva berasal.


"Baiklah, kau boleh keluar." ucap Dwayne yang kemudian berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


"Tunggu, Tuan." cegah Yolanda yang sedikit kecewa.


Langkah Dwayne terhenti dan berbalik, "Ada apa? Apa kau punya informasi tentang Minerva?"


Yolanda menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi apakah anda ingin berbicara empat mata hanya untuk bertanya soal Minerva?" tanya Yolanda.


"Iya, sayangnya itu hanya sia-sia karena kau tidak tahu apa-apa tentangnya."


"Jika aku boleh bertanya, Kenapa anda ingin tahu tentang Minerva, Tuan? Apa anda memiliki perasaan khusus terhadapnya?"


Kali ini Yolanda memberanikan diri untuk bertanya dengan Dwayne meskipun ia ragu akan mendapat jawaban yang pasti atau tidak.


"Itu bukan urusanmu, Yolanda. Kembalilah ke kamarmu dan bersiap untuk bekerja. Pekerjaan sudah menantimu." ucap Dwayne sambil meninggalkan Yolanda.


"Sudah kuduga. Aku kira Direktur Ga-Nas itu sudah berubah bertekuk lutut padaku dan mengemis cinta. Ternyata aku salah." gerutu Yolanda sambil keluar dari kamar 709.


Dengan kesal Yolanda kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk bekerja. Setelah mengemas tasnya, Yolanda pun segera keluar dari kamarnya.


"Yol, gimana tadi?" Andre menepuk bahu Yolanda.


Yolanda yang terkejut langsung balik memukul lengan Andre. "Apaan sih, ngagetin aja!"

__ADS_1


"Yaelaaah, sewot amat ditanyain baik-baik." balas Andre.


"Gimana gak sewot coba, dateng dateng langsung ngagetin aja. Dugaan kamu dan aku salah besar."


"Tuan Dwayne minta aku bicara empat mata cuma buat nanyain Minerva, No More." ucap Yolanda terlihat sangat kecewa.


"Whatttt?!! Ini gak bisa dibiarin. Masa iya sih aku harus saingan sama dia. Duuuuh, bisa bisanya sih saingan berat aku harus Tuan ___" Andre tidak melanjutkan kalimatnya saat ia melihat Tuan Dwayne keluar dari kamarnya dan menatapnya tajam.


"Tuan siapa yang menjadi saingan beratmu?" tanya Dwayne.


"Oh tidak tidak Tuan. Sepertinya anda salah dengar. Mau berangkat ke kantor sekarang?" tanya Andre.


"Yap, dan kau Yolanda lebih baik ikut denganku dan duduk di samping Andre biar tidak terlambat." ucap Dwayne yang segera melangkah menuju ke lift.


Yolanda dan Andre jalan di belakang Dwayne sambil bertukar pandang dan memainkan kedua alisnya.


Saat di dalam lift, Andre pun mengetikkan pesan untuk Yolanda.


^^^Andre^^^


^^^Percakapan kita belum selesai. Jam makan siang aku tunggu di kantin.^^^


Yolanda


Oke.


"Oh, mana mungkin Tuan Dwayne. Ini pesan dari Minerva." ucap Yolanda berbohong.


"Oh yaa, kalau begitu nanti kirimkan nomor ponsel Minerva kepadaku. Ada beberapa masalah yang harus aku bicarakan dengan dia." timpal Dwayne membuat Yolanda menggigit bibir bawahnya.


"Si*l, Kenapa harus cari mati sih Yolanda. Bukannya kamu dan Minerva belum saling bertukar nomor ponsel?" gumam Yolanda dalam hati.


Sedangkan Andre melirik ke arah Yolanda sambil mengetikkan pesan.


^^^Andre^^^


^^^Aku juga mau nomor ponsel Minerva.^^^


Blink!!! Ponsel Yolanda kembali berdering lagi dan kali ini Yolanda membaca pesan Andre dan melirik ya dengan sangat kesal.


...****************...


Sedangkan pagi ini, keadaan Lies Food Company benar-benar sangat ramai dipadati oleh para wartawan. Mereka ingin mewawancarai salah satu karyawan Lies Food Company untuk mendapatkan bukti kebenaran dari berita yang sangat viral di media sosial.

__ADS_1


Kali ini Romy dan Amer meladeni para wartawan dan mengatakan bahwa berita yang ada di media sosial adalah hoax. Bahkan Romy juga membawa anak yang mengeluh sakit tenggorokan bersama dengan orang tuanya untuk meminta maaf kepada media bahwa berita yang mereka sebarkan tidak benar.


Direktur Lilies sedikit lega saat Romy dengan cepat membawa anak tersebut dan orang tuanya untuk menghadap pada Lilies. Lilies memberikan uang yang tidak seberapa dan juga ancaman pedas agar mereka mau meminta maaf kepada media.


Hari ini, kasus yang menjatuhkan Lies Food Company akhirnya terleraikan dan berita klarifikasi serta permohonan maaf sudah tersebar luas. Setidaknya kali ini Lilies bisa bernafas lega.


Sayangnya Lilies melupakan Yolanda yang terlepas dari gudang begitu pula Amer. Sedangkan Romy masih saja mencari tahu dimana keberadaan Yolanda saat ini dengan meretas ponsel milik Yolanda.


"Yolanda kini sudah berada di EOEB, kantor tempat ia bekerja. Adakah ia akan melaporkan segala hal yang ia ketahui tentang perusahaan ini?" tanya Romy dalam hati.


Romy pun segera memberitahukan hal ini pada Amer dan juga Direktur Lilies.


"Usahamu sangat baik, Romy. Tapi yang membuat aku sedikit heran. Apakah kau sudah mengenal Yolanda dengan baik sebelumnya?" selidik Direktur Lilies.


"Tentu saja tidak, Nona. Saya mengetahui data tentang Yolanda saat berkunjung ke kontrakannya dan kosong. Saya juga mendapat nomor ponsel Yolanda dari ibu kostnya, Nona." jelas Romy.


Direktur Lilies pun mengangguk. Berbeda dengan Amer yang merasa tersaingi dengan Romy. Ia menganggap Romy sedang mencari perhatian dengan bosnya sendiri.


"Satu jam lagi kita akan menemui Yolanda di kantornya. Bersiaplah!" perintah Direktur Lilies dan Romy pun kembali ke ruangannya.


"Tunggu, Romy." tahan Amer. "Apa kau sedang mencari muka di hadapan Direktur Lilies?"


Mendengar pertanyaan Amer, Romy pun mengusap wajahnya kasar. "Apa maksud dari pertanyaanmu Amer? Bukankah Direktur Lilies sendiri yang memberi perintah? Dan aku juga hanya menjalankan perintahnya." ucap Romy kesal.


Jika disuruh memilih, ia sama sekali tidak mau menjerumuskan wanita yang sangat ia cintai. Tapi penolakan Yolanda terhadapnya kemarin sangat membuat Romy sakit hati hingga ia harus memilih untuk berada di pihak bosnya sendiri, yaitu Direktur Lilies.


"Maaf sudah mencurigaimu Romy." Amer menepuk bahu teman kerjanya.


"Apa yang membuatmu curiga terhadapku, Amer?" tanya Romy yang tidak habis fikir dengan sikap Amer.


"Aku hanya emmm, aku sebenarnya ____."


"Jangan bilang kau mencintai Direktur Lilies." tebak Romy.


"Bagaimana jika tebakanmu benar?" tanya Amer.


Romy berdecih pelan. "Meski mimpimu terlalu tinggi, tapi aku yakin tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Berjuanglah!" ucap Romy yang kemudian meninggalkan Amer yang masih berdiri di depan pintu ruangannya.


...🍒🍒🍒...


Teman-teman, mampir yuk ke novel temen aku.


Karya : Neng Syantik

__ADS_1


Judulnya : Pandawa (Pesona Janda Anak Dua)



__ADS_2