
Minerva dan Austin kini sudah berada di Bank Internasional.
"Kak, boleh aku pinjam berkas ku untuk membuat rekening baru. Aku membutuhkan kartu identitas."
Austin pun langsung memberikan berkas yang ada di dalam tasnya pada Minerva. "Bagaimana jika aku tinggal ke toilet sebentar?" tanya Austin.
"Oke." jawab Minerva.
Kini Minerva sedang menunggu gilirannya untuk dipanggil oleh customer service.
[Nomor Antrian Delapan, Silahkan menuju ke Customer Service A]
Mendengar nomornya dipanggil, Minerva pun segera menuju ke meja Customer Service A. Minerva sedikit memicingkan matanya melihat nama di meja Customer Service adalah nama yang ia kenal.
"Jovita? Tapi kenapa wajahnya tidak mirip ya?" gumam Minerva dalam hati sambil duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Selamat Pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya customer service dengan sangat ramah.
"Selamat Pagi, saya ingin membuat rekening baru. Hanya saja seluruh uang saya ada di dompet digital." ucap Minerva.
"Itu bukan masalah, Nona. Silahkan anda isi data anda di formulir ini dan saya akan memasukkan data anda." ucap customer service memberikan lembaran formulir pada Minerva.
Minerva langsung mengisi formulir yang diberi oleh customer service. Sedangkan kini gantian customer service yang terkejut melihat nama customernya kali ini.
"Minerva Bee," ucap customer service.
"Yes I am." jawab Minerva yang masih fokus mengisi formulir.
Customer service tersebut meninggalkan meja komputernya dan berjalan ke arah Minerva. Minerva pun menatap customer service tadi dengan tatapan bingung terlebih dirinya tiba-tiba dipeluk dengan sangat erat.
"Kamu benar-benar Minerva Bee." ucapnya sambil menangis. "Kamu masih secantik dulu dan tidak berubah sedikit pun." puji customer service tersebut.
Kini Minerva tersadar bahwa yang memeluknya kini adalah Jovita. "Kau Jovita anak papi Aris?" tanya Minerva dan Jovita langsung mengangguk.
Minerva pun langsung membalas pelukan Jovita dengan erat. "Aku dan Mami sangat kehilanganmu, Minerva. Kami benar-benar menyesal karena belum sempat meminta maaf padamu." ucap Jovita ditengah isak tangisnya.
__ADS_1
"Sudahlah Jo, aku sudah memaafkan kalian sejak lama. Sekarang bekerjalah dulu, aku masih harus membuat rekening baru." tukas Minerva merasa tidak enak dilihat oleh rekan kerja Jovita.
"Oh iya, maaf aku kelepasan karena begitu senang bertemu denganmu." balas Jovita yang kemudian melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat duduknya.
Jovita pun segera memasukkan data milik Minerva dan memindahkan uang di ponsel Minerva ke dalam buku tabungan.
"Ini buku tabungannya dan kartu ATM milikmu." ucap Jovita sambil menyerahkan buku tabungan dan ATM Minerva.
"Terima kasih banyak, Jo." ucap Minerva.
"Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, Minerva. Sayangnya aku masih harus bekerja. Boleh aku meminta nomor ponselmu?" tanya Jovita kemudian sambil menyerahkan ponselnya ke arah Minerva.
Minerva pun mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Jovita dan menyerahkan kembali pada Jovita.
"Thanks, Minerva. Aku akan mengunjungimu sepulang kerja nanti. Jangan lupa share loc ya."
"Oke, aku akan menunggumu nanti." jawab Minerva yang kemudian berjalan ke arah tempat dimana Austin duduk menunggunya.
"Maaf sudah menunggu lama." ucap Minerva.
"No problem, Minerva. Hanya saja kenapa dari tadi perasaanku sangat tidak enak ya." ucap Austin sedikit gusar.
"Bukan aku, Tapi Lilies. Entah mengapa aku sangat mengkhawatirkannya." jawab Austin.
"Baru saja aku lihat di media sosial bahwa berita viral kemarin adalah hoax. Bahkan yang bersangkutan juga susah meminta maaf bukan?" timpal Minerva.
"Aku juga sudah melihatnya. Tapi itu justru kebohongan baru yang diciptakan oleh Lilies lagi."
"Kau tahu Minerva, anak buah Lilies memang diperintahkan untuk mencari anak itu dan orang tuanya dan membawanya menghadap pada Lilies. Setelah itu Lilies memberikan uang yang tidak seberapa dan mengancam mereka untuk mengklarifikasi bahwa mereka telah berbohong." jelas Austin.
"Dia benar-benar sudah kelewatan." timpal Minerva yang turut kesal mendengar cerita Austin.
"Begitu juga menurutku. Entahlah bagaimana nasibnya nanti."
"Bagaimana kalau kita mendinginkan suasana hati kita di istana Ice Cream?" ajak Minerva.
__ADS_1
"Good Idea, Minerva." balas Austin yang kemudian menggenggam tangan Minerva menuju Istana Ice Cream yang Minerva maksud.
...☘️☘️☘️...
Sedangkan di jalanan menuju Lies Food Company, Sirine mobil polisi meraung raung dan berhenti tepat di pintu lobby Lies Food Company. Ini membuat Direktur Lilies dan semua karyawannya terkejut. Amer dan Romy pun bergegas menuju ruangan Direktur Lilies.
"Romy, bukankah masalah yang di media sosial sudah clear? Ada apa polisi datang kemari?" tanya Lilies dengan wajah yang sudah mulai pucat.
"Saya tidak tahu pasti, Nona. Saya akan menemui polisi tersebut di Lobby. Amer, kau dan Direktur Lilies tetap disini dan jangan panik." ucap Romy yang kemudian keluar dan segera menuju Lobby.
"Selamat Pagi menjelang Siang, saya mendapat laporan ada sesuatu yang mencurigakan di pabrik ini." ucap salah satu komandan kepolisian.
"Bagaimana jika kita bicarakan di ruang Direktur Lilies agar lebih jelas apa permasalahan yang sedang terjadi." ajak Romy santai.
Tak lama kemudian, Ruben selaku KaPolRes masuk dari pintu lobby. "Saya sendiri yang akan menemui Direktur perusahaan ini. Kalian tetap tunggu komando dari saya." ucap Ruben.
Melihat KaPolRes turun langsung membuat Romy sedikit khawatir akan terkuaknya semua rahasia yang selama ini ditutupi oleh Lies Food Company. "Boleh saya tahu, apa yang membuat anda datang kemari Pak Ruben?" tanya Romy melihat nama yang tertempel di baju dinas milik Ruben.
"Adakah masalah berita yang sedang viral di media sosial tentang anak yang sakit tenggorokan karena makan hasil produksi dari perusahaan kami?" tanya Romy memberanikan diri.
"Bukankah itu sudah diklarifikasitadi pagi? Aku sudah melihat videonya." jawab Ruben santai.
"Benar sekali. Lalu bolehlah saya tahu maksud tujuan kedatangan anda kemari?" lagi-lagi Romy bertanya.
"Kita akan bicarakan ini semua di ruangan pemilik perusahaan." ucap Ruben.
Kini keduanya sudah sampai di ruangan Direktur Lilies. Kedatangan Ruben membuat Lilies mulai gemetar, tapi sebisa mungkin dia mencoba untuk tidak panik dan santai.
"Selamat datang Pak Ruben," Direktur Lilies menjabat tangan Ruben. "Silahkan duduk. Perkenalkan saya Lilies, pemilik Lies Food Company, Ada yang bisa saya bantu?"
Ruben duduk dan memberi isyarat pada anak buahnya untuk membuka laptop yang dibawanya. "Direktur Lilies, saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya kemari."
"Saya membawa surat penangkapan untuk anda dengan beberapa bukti yang kami dapatkan. Kami juga akan menyelidiki semua kegiatan yang ada di perusahaan anda selama satu minggu ini, dan akan menguji semua hasil produksi ke laboratorium untuk melihat apakah produk ini berbahaya atau tidak untuk dikonsumsi." jelas KaPolRes Ruben panjang lebar.
Lutut Lilies langsung terasa lemas seketika mendengar penjelasan Ruben. Terlebih saat anak buahnya memperlihatkan beberapa bukti yang selama ini adalah rahasia besar perusahaannya. Lama-lama pandangan mata Lilies kabur dan ia mulai tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Pingsannya Lilies kali ini justru memudahkan pihak kepolisian melakukan penangkapan karena tidak ada drama perlawanan sedikit pun, sedangkan Romy dan Amer kini langsung menghubungi Austin karena dia adalah saudara terdekat Lilies.
...🚧🚧🚧🚧🚧🚧🚧🚧🚧🚧🚧🚧🚧...