
Sore harinya, Narayan sudah siap untuk menemani Minerva mengelilingi desa dimana Villa milik keluarga Wycliff berada.
Kali ini ia ingin mengajak Minerva ke kebun buah milik keluarga Wycliff. Kebetulan di kebun ada beberapa pohon buah yang sedang berbuah dan siap untuk dipetik seperti buah mangga, alpukat, kelengkeng dan juga buah ceremai.
Minerva keluar dari Villa dengan mengenakan kaos pendek yang dibalut blazer dan celana panjangnya. Kali ini ia memutuskan untuk memakai sandal jepit yang ada di villa dan langsung berdiri di hadapan Narayan yang memandangnya sampai tidak berkedip.
Penampilan sederhana Minerva membuat Narayan terpaku dan membisu. Melihat Narayan terus saja menatapnya, membuat Minerva menggerakkan tangannya di depan wajah Narayan berkali-kali.
"Bli, kita bisa pergi sekarang?" tanya Minerva dan Narayan masih belum tersadar dari lamunannya.
Plak! Pak Made tiba - tiba datang mendekat dan menepuk bahu putranya yang masih terpaku.
"Narayan!" panggil Pak Made membuat Narayan terkejut. "Nona muda sudah menunggu. Kenapa kamu ini malah diam saja?" tanya Pak Made.
"Oh iya, Maaf Nona. Mari saya antarkan ke kebun buah milik Tuan Wycliff. Kebetulan banyak buah yang sudah matang dan kita bisa memetiknya sekarang." ucap Narayan yang kemudian melangkahkan kakinya lebih dulu.
Minerva pun mengikuti langkah Narayan. "Ada buah apa di sana?" tanya Minerva.
Belum sempat Narayan menjawab pertanyaan Minerva, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka hingga mereka harus menghentikan langkah mereka.
Pintu mobil terbuka dan nampak Austin keluar dari mobil. Matanya langsung tertuju ke arah Minerva dan keduanya saling melempar pandang.
Melihat kedatangan Tuan sekaligus teman karibnya, Narayan pun langsung menyambut kedatangan Austin. "Bagaimana kabar anda tuan muda?" tanya Narayan.
Austin kini beralih ke arah Narayan dan langsung memeluk sahabat karibnya itu. "Aku sangat baik, Narayan." Austin menepuk punggung sahabatnya.
Austin kemudian melepaskan pelukannya dan beralih kembali memandang Minerva. "Minerva, akhirnya aku menemukan." ucap Austin.
Kali ini Narayan mulai mengerutkan dahinya setelah mendengarkan ucapan Austin.
"Narayan, banyak hal yang ingin aku obrolan denganmu. Tapi kali ini aku ingin mengobrol dengan adik perempuanku yang cantik ini." ucap Austin sambil merangkul Minerva.
"Kami baru saja bertengkar dan ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya." ucap Austin memandang ke arah Minerva.
Austin sengaja mengusir Narayan dengan sangat lembut dan Narayan pun paham jika kini dirinya harus segera undur diri dari hadapan Austin dan juga Minerva.
__ADS_1
"Baiklah, panggil aku kapan pun anda perlu, Tuan Muda." ucap Narayan yang kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Narayan, Austin langsung mengajak Minerva untuk duduk di lincak yang terletak di depan kebun buah.
"Kau sangat pandai mengusir orang dengan bahasa yang sangat halus dan juga sebaliknya." celetuk Minerva membuat Austin menarik nafasnya pelan dan menghembuskan.
"Maafkan aku, Minerva. Aku sudah menyakiti hatimu dengan ucapan dan juga sikapku." ucap Austin sambil terus menggenggam tangan Minerva dan menatapnya lekat-lekat.
"Aku sungguh sangat menyesal tidak bisa mengontrol emosiku saat itu, Minerva. Aku benar-benar tidak sanggup menerima kenyataan bahwa kita adalah saudara kandung."
Minerva membalas tatapan Austin yang nampak sangat menyesali semua ucapannya kemarin.
"Kau tidak tahu bagaimana remuknya hatiku sangat mendengar hasil sementara Tes DNA itu, Minerva." Austin menggerakkan tangannya untuk menyelipkan rambut Minerva ke belakang telinganya.
"Aku kecewa." Austin kembali menghela nafasnya. "Aku hancur dan aku merasa sangat rapuh hingga aku seperti tidak mampu berdiri untuk menghadapi semua kenyataan ini."
"Tapi aku makin rapuh saat kau kembali menghilang dan tidak bisa dihubungi."
"Aku semakin kalut dan ketakutan saat kau pergi lagi meninggalkan aku, Minerva."
"Dari situ aku mulai tersadar bahwa aku tidak bisa terus menerus mengedepankan egoku. Aku ___." Austin menghentikan kalimatnya dan menarik nafasnya lagi.
Austin langsung memeluk erat Minerva. Satu per satu bulir air mata menetes membasahi pipi Minerva. Ucapan tulus Austin kali ini bagaikan siraman air yang sangat menyejukkan hati Minerva. Hidupnya kini terasa makin lengkap setelah mendengar pengakuan kakak kandungnya.
Austin kini mulai merasakan hal yang berbeda dalam dirinya. Segala ambisinya untuk memiliki Minerva sebagai pasangan hidupnya kini berangsur angsur memudar dan tergantikan dengan rasa sayang antara seorang kakak kepada adiknya.
"Terima kasih Kak. Terima kasih sudah menerima sebagai adik kandung kakak." ucap Minerva d di tengah isak tangisnya.
"Maafkan kakakmu yang tidak tahu diri ini, Minerva." ucap Austin makin mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah memaafkan kakak. Aku juga paham bagaimana rasa kecewa kakak saat itu." balas Minerva.
Setelah sama-sama meluahkan perasaan mereka, kini Austin mengajak Minerva masuk ke dalam kebun buah.
Minerva sangat takjub dengan penataan kebuh buah yang dikelola oleh keluarga Pak Made. Kebun buah tersebut tampak sangat bersih dan terkelola dengan baik. Di tengah kebun buah, tampak ada saung berukuran lumayan besar dan sering digunakan untuk bersantai atau tempat untuk mengumpulkan hasil panenan buahnya.
__ADS_1
"Kaaaak, itu mangganya udah masak pohon!" teriak Minerva menunjuk salah satu pohon mangga yang berdampingan dengan pohon Alpukat.
Dengan sigap Austin mengambil galah panjang dan memetikkan mangga untuk Minerva.
"Ini namanya mangga alpukat. Aku sempat menggabungkan dua jenis buah ini dalam satu pohon. Dan kau tahu, semua ini membuahkan hasil yang sangat luar biasa." jelas Austin yang kini sudah mendapatkan buah yang ditunjuk Minerva tadi.
"Waaaah, kereeen,." gumam Minerva yang mulai mengumpulkan buah mangga yang dipetik oleh Austin.
Setelah terkumpul beberapa buah, Austin mengajak Minerva ke saung yang ada di tengah kebun. Minerva langsung mengupas buah mangga tersebut satu persatu dan meletakkannya di piring yang sudah tersedia di sana.
Austin terus saja mengamati Minerva yang tampak sangat bahagia. Di mata Austin, Minerva memang gadis yang sangat sempurna. Dia pandai dalam segala hal, memasak, mengurus pekerjaan kantor, mengurus pekerjaan rumah, dan mungkin banyak hal yang belum Austin tahu tentang Minerva.
Bahkan sampai detik ini, Austin belum sekali pun melihat kekurangan dari Minerva.
"Kak, jangan melamun dong." Minerva menyuapkan sepotong mangga ke mulut Austin.
Austin membuka mulutnya dan menerima suapan Minerva. "Aku akan selalu menjagamu, Minerva. Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti dirimu." ucap Austin.
"Aku tahu kakak begitu menyayangiku. Aku pun akan selalu menyayangi kakak." balas Minerva.
Kini keduanya semakin akrab bertukar cerita hingga senja tiba dan mereka pun kembali ke villa.
...🥭🥭🥭...
Mampir yuk ke novel temen aku.
Nama Pena : Haryani
Judul Novel : Wanita Bahu Laweyan
Blurb :
Terlahir sebagai putri seorang ningrat, terbiasa dengan aturan yang begitu ketat membuatnya susah didekati kaum Adam.
Terpaksa menikah karena perjodohan, tetapi sebelum pernikahan terjadi sang mempelai pria justru meninggal karena hal mistik.
__ADS_1
Konon karena ia adalah perempuan spesial dengan sebutan "Bahu Laweyan". Akankah ia mampu bertahan di atas kutukan yang tidak pernah ia minta?