
Lilies masih terus mengumpat Minerva sepanjang jalan dengan kesal. Tak lama kemudian, Amer datang menjemputnya.
"Ada apa denganmu, Baby?" tanya Amer saat melihat kondisi Lilies yang acak acakan.
"Diam!" gertak Lilies kesal. "Jalankan mobilnya dan bawa aku pulang." ucap Lilies yang sudah duduk di dalam mobil.
"Jangan kesal seperti itu Baby. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" tanya Amer sambil mengusap bahu Lilies.
"Menikah?" Lilies mengulang perkataan Amer.
"Iya. Bukankah acaranya juga tinggal menghitung hari lagi?" timpal Amer.
"Kau tidak bisa dengan mudah menikahiku, Amer. Sebelum kau mendapatkan Minerva dan melenyapkan nya." ucap Lilies membuang wajahnya keluar jendela.
Amer terhenyak dengan ucapan Lilies barusan. Amer tidak habis fikir ternyata wanita yang ada di sampingnya sangat mudah berubah sikap. Ia pikir Lilies benar-benar berubah menjadi wanita yang baik. Apalagi setalah dimasukkan ke dalam bui.
Tapi Amer kini benar-benar mengetahui ambisi Lilies jika ia tidak suka dengan seseorang. Orang tersebut harus benar-benar lenyap dari pandangannya dan tersiksa.
Amer mengusap wajahnya kasar. "Jangan gila! Aku mohon, Baby. Fikirkan kebahagian kita. Aku akan menjadi suami yang baik untukmu dan ___"
"Stop Amer! Kau sudah melewati batasmu! Ikuti keinginanku, atau kita tidak akan menikah!" ucap Lilies memutus kalimat Amer
"Kenapa kita jadi seperti ini, Baby? Bukankah hubungan kita sebelumnya baik-baik saja tanpa ada percekcokan sama sekali?" tanya Amer.
Lilies terdiam cukup lama tanpa menanggapi ucapan Amer hingga sampai di apartemen Lilies.
"Maafkan aku." ucap Amer menggenggam tangan Lilies dengan sangat erat.
"Aku akan melenyapkan Minerva untukmu, Baby." bisik Amer tepat di telinga Lilies.
__ADS_1
Seketika senyuman Lilies merekah dengan lebarnya. "Benarkah?" tanya Lilies memandang Amer dengan mata berbinar.
"Tentu saja. Katakan saja apa yang harus aku lakukan?" ucap Amer. "Aku yakin akan sulit untuk memancing Minerva keluar dari Mansion dan kita tidak bisa menggunakan cara seperti tadi."
"Lalu, apa yang saat ini kau fikirkan Amer?" tanya Lilies.
"Minta maaf dan kita gunakan cara yang lembut." jawab Amer.
"Tapi aku bukanlah orang pandai berpura-pura Amer." keluh Lilies.
"Jika kita pakai cara extrim, aku takut ini justru akan membahayakan dirimu, Baby." ucap Amer sambil mengusap kepala Lilies.
"Baiklah." ucap Lilies dengan suara yang lemah.
...♾️♾️♾️...
Di sisi lain, Minerva kini sudah sampai di gerbang Mansion.
Emir langsung menggelengkan kepalanya. "Kakak masih banyak kerjaan di kantor. Selamat istirahat yaa." ucap Emir melambaikan tangannya ke arah Minerva.
Minerva membalas lambaian tangan Emir dan langsung masuk ke dalam Mansion. Tapi saat tiba di pintu Mansion, langkah kaki Minerva terhenti.
"Nah, itu dia putri kesayanganku." ucap Mommy Moona yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Minerva.
Tampak ada beberapa orang berkumpul di Mansionnya kali ini. Dan diantara orang yang berkumpul di sana, hanya tante Risa yang Minerva kenal.
"Minerva sayang, Mommy kenalin yuk sama sahabat Mommy." ucap Mommy Moona yang langsung menggandeng tangan Putrinya.
"Oh iya. Ini ada kakak kandung Mommy juga. Daddynya Lilies." ucap Mommy Moona mengenalkan Minerva pada Abangnya.
__ADS_1
Minerva menelan ludahnya kasar saat bertatapan dengan abang Mommynya itu. 'Jadi daddynya Lilies ada di sini?' tanya Minerva dalam hati sambil mengulurkan tangannya ke arah Daddy Lilies.
"Waaaaah, so beautiful you are, Minerva. Kenalkan, Pakde Tio. Tapi panggil saja Uncle Tio." ucap Tio menyambut uluran tangan Minerva.
"Salam kenal Uncle Tio." ucap Minerva santun.
Setelah itu Minerva duduk di antara Mommy Moona dan Tante Risa sambil dikenalkan dengan teman Mommynya satu persatu. Semua teman Mommynya adalah teman saat Mommynya di SMA.
"Minerva makin cantik aja sih." puji Tante Risa sambil menggenggam erat tangan Minerva.
"Tante Risa juga sangat cantik loo," balas Minerva.
Meskipun Minerva baru saja mengenal teman-teman Mommynya, namun ia sangat cepat berbaur dan beradaptasi dengan mereka semua. Hampir semua teman Mommynya yang hadir di Mansion mendambakan Minerva menjadi anak menantunya, begitu juga dengan Risa. Tapi dengan senyum manisnya, Mommy Moona menimpali dengan santai.
"Kalo aku pribadi sih gimana Minerva aja. Tapi ko aku lihat, sepertinya Minerva udah punya tambatan hati deh." ucap Moona sambil memeluk Putrinya.
Seketika pipi Minerva merona dan teman Mommynya kini jadi menggoda Minerva dengan menanyakan siapa pria yang kini sedang dekat dengannya.
Minerva nampak enggan untuk menjawab, ia pun akhirnya undur diri ke kamar dengan alasan ingin ke kamar kecil.
Akhirnya Minerva terbebas dari pertanyaan teman teman Mommynya. Kini Minerva merebahkan tubuhnya di atas kasur dan tak lama kemudian matanya mulai terpejam karena kelelahan.
...😴😴😴😴😴...
Hai Guys, mampir yuk ke Novel temen aku.
Nama pena: Unchi
Judul Novel : terpaksa Menikahi Mantan Napi
__ADS_1