
Setelah sampai di tepi pantai, Daddy Arthur langsung bersiap untuk keluar dari sedangkan Austin langsung menahannya.
"Tunggu, Daddy. Kita tidak bisa langsung keluar begitu saja." ucap Austin.
"Kita harus menyamar sama seperti anak buah Daddy yang aku perintahkan untuk menyamar sebagai Pedagang Pinggir pantai atau Tim SAR.." jelas Austin.
"Tapi Daddy tidak bisa menyelam jika menyamar sebagai Tim SAR."
"Tenang saja Om, Emir sudah membawakan Om baju nelayan beserta jaringnya." ucap Emir yang kemudian mengeluarkan baju dari as yang ia bawa.
"Oh, baiklah. Tetap berjaga-jaga dan kita harus keluar satu per satu agar tidak ada yang curiga." ucap Daddy Arthur yang mulai bersiap keluar dari mobil.
Setelah Daddy Arthur keluar dan menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, kini Austin dan juga Emir langsung mengganti baju mereka dengan seragam Tim SAR di dalam mobil.
"Kita harus berpencar, Emir dan pastikan bahwa kita mendapatkan anak buah Titan yang masih tersisa." ucap Austin.
"Siap kakak ipar." ucap Emir yang langsung keluar dari mobil dan bergabung dengan para Tim SAR lainnya.
Emir mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu dimana anak buah Titan yang masih tersisa. Sama halnya dengan Austin yang langsung bergabung dengan tim SAR yang lebih dekat dengan pantai.
Gelombang ombak sudah tidak setinggi tadi dan para anggota tim SAR langsung menyiapkan kapal untuk menuju ke tengah laut dan ada pula yang akan menyelam.
Kali ini Austin ikut masuk dalam rombongan yang ada di kapal, sedangkan Emir terus berjaga jaga di tepi pantai. Tiba-tiba dari belakang Emir, ada tiga orang pria bertubuh kekar yang berdiri mendapat ke arah laut lepas dengan tatapan cemas.
"Melihat kapalnya hancur, apakah ada kemungkinan orang yang ada di dalamnya selamat?" tanya salah satu orang pria kepada Emir.
"Kemungkinan selamat memang sangat kecil. Tapi apakah anda mengenal orangyang ada di dalam kapal tersebut?" tanya Emir kemudian.
"Ya, mereka adalah tim kami beserta dengan ketua tim kami." jawabnya lagi.
'Bukankah tim dari Titan Mack itu orang luar negeri, tapi kenapa dia sangat lancar menggunakan Bahasa Indonesia ya?' gumam Emir dalam hati.
__ADS_1
"Tim kami juga belum mengetahui sebab ledakan di dalam kapal tersebut. Karena informasi dari pihak awak kapal, kondisi kapal sangat baik." ucap Emir membuat ketiga orang tadi mulai pucat.
Karena ketiganya takut terbongkar dengan apa yang dilakukan mereka bersama bosnya, akhirnya ketiga pemuda tadi pun pelan-pelan menjauh dari Emir.
"Tunggu!" Teriak Emir sambil berlari ke arah pemuda tadi.
Sayangnya ketiga pemuda tadi langsung berlari menjauh dari Emir. Untungnya saja anak buah Daddy Arthur langsung sigap menangkap ketiga pemuda tadi dan membawanya menuju kantor polisi untuk dimintai keterangan sebagai orang terdekat dari korban ledakan kapal di tengah laut.
"Om akan ikut ke kantor polisi. Kau lebih baik menunggu disini sampai Austin kembali." ucap Daddy Arthur dan Emir pun langsung mengangguk setuju.
Emir kini langsung membantu para Tim SAR untuk mempersiapkan keperluan Tim yang sedang di tengah laut.
...🍀🍀🍀...
Sore pun tiba, Austin sudah kembali ke tepi pantai dan Emir langsung menyambutnya. Beberapa tim yang lain juga sudah menemukan beberapa kepingan tubuh manusia dan juga puing kapal pun langsung mengangkatnya ke daratan.
"Kita langsung pulang saja. Aku sudah lelah." ucap Austin.
Setelah selesai makan, mereka pun menuju ke mobil dan bersiap untuk pulang.
"Titan Mack sudah tewas, Emir." ucap Austin dengan mata yang berbinar. "Aku sendiri yang tadi menyelam dan menemukannya."
"Syukurlah jika seperti itu. Setidaknya Minerva sudah tidak perlu khawatir lagi." timpal Emir.
"Yaa. Dan kita sudah menang tanpa perlawanan. Aku yakin, bom yang meledak itu pasti buatan mereka sendiri." ucap Austin.
"Seperti 8 tahun yang lalu bukan? Dan kali ini senjata makan tuan." balas Emir dan Austin pun menganggukkan kepalanya.
"Oh iya Emir. Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." ucap Austin sambil menyandarkan kepalanya di bedrest.
"Apa kau sungguh mencintai adikku, Minerva.?"
__ADS_1
"Pertanyaan Retoris yang kau sendiri sudah tau jawabannya." jawab Emir. "Tapi aku akan menganggapnya bahwa saat ini aku sedang di tanya oleh calon kakak iparku sendiri."
"Ya. Aku sangat mencintai adik anda, Tuan Austin yang terhormat." jawab Emir dengan mantap.
"Kalau begitu, kau boleh segera melamar Minerva. Dia bisa menikah lebih dulu meskipun aku harus dilewati olehnya."
Ucapan Austin kali ini bagaikan air sejuk yang disiramkan ke dalam hatinya.
"Terima kasih banyak kakak ipar. Aku akan segera melamar adik anda." ucap Emir berbunga-bunga.
...🍀🍀☘️...
Sedangkan di sisi lain, Maria kini datang bersama Kenzi ke Mansion Wycliff. Mereka berdua hendak berpamitan untuk kembali ke Jepang.
"Kenzi, aku akan sangat merindukanmu nantinya." ucap Minerva saat Maria telah menyampaikan tujuan kedatangannya.
"I will miss you so much, Minerva San." ucap Kenzi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau harus mengunjungi ku ke Jepang karena aku akan selalu menunggu kedatanganmu." tambah Kenzi lagi dan langsung memeluk Minerva dengan sangat erat.
"Aku pasti akan mengunjungi mu, Kenzi sayang." ucap Minerva sambil mengusap punggung anak tersebut.
...****************...
Readers tercinta. Mampir yuuuk ke Novel bestie aku,
Judul Novel : Suamiku Ternyata gigolo.
Karya : CovieVy
__ADS_1