
Kini mereka berempat sudah sampai di Bukit Bintang, Austin cepat-cepat turun dari mobil Dwayne dan membukakan pintu untuk Minerva. Kali ini ia tidak mau kalah dari Dwayne yang masih duduk di depan kemudi.
Dwayne melihat Austin mengambil kesempatan seperti itu hanya berdecih sambil keluar dari mobilnya. "Ciiih, parasit yang satu ini benar-benar membuatku sangat muak." gerutu Dwayne yang kemudian mengikuti langkah Austin dan Minerva dari belakang.
Merasa sedikit terabaikan, Jovita pun menyapa dan mengajak ngobrol Dwayne.
"Kak Emir, kau apa kabar? Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu." Jovita mulai angkat bicara dan Dwayne pun menoleh ke arah Jovita.
"Baik. Bagaimana denganmu?" jawab Emir yang terdengar sangat datar.
Di sela-sela obrolan Dwayne dan Jovita, Austin sengaja mengeratkan genggamannya pada Minerva saat hendak naik ke atas tangga bukit yang lebih tinggi.
"Jauh lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana perasaan kakak saat kembali bertemu dengan Minerva? Kau pasti sangat senang bukan, sebagaimana diriku yang akhirnya kembali bertemu dengan Minerva." tanya Jovita yang terdengar basa basi saja daripada tidak ada perbincangan antara mereka berdua.
"Emmmh, aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu bukan?" jawab Emir yang kemudian berjalan lebih dulu dan langsung mengamit tangan Minerva dari belakang.
"Aku ajak naik tangga yang di sebelah sana yuk. Pemandangannya lebih indah dari pada disini." ajak Emir membuat langkah Minerva terhenti.
"Oh ya?" tanya Minerva yang belum langsung mengikuti langkah Emir yang sudah mengamit tangannya.
"Tentu saja, Kau bisa melihat rasi bintang scorpio, orion, canis major dan masih banyak lagi."
Mendengar penjelasan dari Dwayne, Minerva pun langsung setuju.
"Tunggu!" Minerva berbalik ke arah Austin. "Kakak jalan bareng sama Jovita yaa ke atas. Aku mau sama Kak Emir jalan ke sana." ucap Minerva sambil melepaskan tangan Austin yang masih menggenggamnya.
"Lebih baik aku ikut ___"
Belum selesai Austin melanjutkan kalimatnya, Dwayne dengan cepat memotongnya. "Sudahlah Bro, lanjutkan saja langkahmu bersama Jovita." ucap Emir yang sudah bergandengan dengan Minerva sambil melemparkan senyum yang terlihat mengejek pada Austin.
Austin membuang nafasnya kasar. "Huft! Kau bisa lihat sendiri bagaimana pewangi sachet itu merebut Minerva ku." gerutu Austin kesal sambil meneruskan langkahnya naik ke atas tangga yang disusul oleh langkah Jovita.
__ADS_1
Jovita terkekeh pelan saat Austin mengatai Kak Emir dengan sebutan pewangi sachet.
"Apa anda begitu mencintai Minerva?" tanya Jovita.
"Tentu saja, bahkan bisa dikatakan bukan hanya aku, tapi Mommy ku juga sangat mencintai Minerva." jawab Austin dengan penuh percaya diri.
"Wooow, berita sangat yang sangat mengejutkan." tukas Jovita.
"Nantikan aku dan keluarga besarku datang untuk melamar Minerva pada papimu ya." Austin semakin berani mengungkapkan khayalan nya pada Jovita.
Kini keduanya sudah sampai di atas sambil menikmati pandangan indah di atas bukit bintang. Austin tipe orang yang sangat humble dan mudah berbaur atau mengobrol degan siapa saja.
Austin dan Jovita pun saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Sedangkan di sisi yang lain, Emir kini memanfaatkan waktu kebersamaannya dengan Minerva malam ini.
Minerva tampak kagum dengan pemandangan langit malam ini sampai tidak sadar jika Emir terus menerus memandang ke arah Minerva.
"Cantik banget ya pemandangannya." ucap Minerva yang terus memandang ke atas langit sambil duduk di atas rumput.
Mendengar jawaban Emir membuat Minerva menoleh ke arahnya dan kemudian mengerutkan dahinya. "Emang apanya yang cantik, Kak?" tanya Minerva.
"Kamu." jawab Emir sambil menyunggingkan senyumnya yang menawan.
Minerva langsung salah tingkah mendengar jawaban Emir. Ia pun menepuk bahu Emir sambil mencebik pelan. "Ck, Kak Emir ngaco deh. Itu loh pemandangan langitnya yang cantik banget." ucap Minerva sambil menunjuk ke langit.
Emir mengikuti arah tangan Minerva yang menunjuk ke langit, tapi hanya sekejap dan kembali lagi memandangi Minerva. "Tapi kamu lebih cantik." ucap Emir lagi dan seketika wajah Minerva angsung merona.
"Ternyata bos dingin kayak kakak bisa nge gombal juga ya." celetuk Minerva kembali menatap ke langit.
Emir tiba-tiba memegang kedua bahu Minerva dan membaringkan nya di atas rumput. Minerva menelan ludahnya kasar saat wajah Emir kini berhadapan tepat dengan wajahnya dan mengikis jarak di antara keduanya.
Minerva langsung memejamkan matanya saat Emir bergerak lebih mendekat ke arahnya. Jantungnya mulai berdetak kencang dan nafasnya mulai memburu tidak karuan.
__ADS_1
Ada perasaan yang sangat berbeda yang kini Minerva rasakan, bahkan ia tidak berniat untuk menghindar sedikit pun dari Emir. Kini hembusan nafas Emir begitu terasa di pipinya membuat gemurh dalam da da Minerva semakin tidak karuan.
Minerva yang semakin gugup dengan tingkah Emir kali ini hanya mampu menggigit bibir bawahnya untuk meredam gejolak hebat dalam dirinya.
Emir hanya tersenyum melihat Minerva yang memejamkan matanya dengan rona di pipinya. Wajar jika Emir sangat ingin menci cipi bibir ranum Minerva yang kini sudah digi git bagian ba wahnya. Tapi ia menahan dirinya karena ia sama sekali tidak ingin merusak atau menodai Minerva sedikitpun.
"Kalo mandangin langitnya sambil berbaring gini, pasti lebih indah." bisik Emir yang seketika membuat Minerva langsung membuka matanya dan sedikit me re mang.
Setelah berbisik, Emir pun membaringkan tubuhnya di samping Minerva dan ikut memandangi langit. Minerva kini makin tersipu saat Emir mulai mengeratkan tangannya menggenggam jemari Minerva.
"Kau tahu Minerva, aku begitu terpukul saat kehilanganmu. Aku sangat menyesal kenapa saat itu aku lengah dalam menjagamu. Mulai saat itu, aku tidak lagi bersikap hangat kepada siapa pun itu. Meskipun itu orang tuaku." ucap Emir yang makin mengeratkan genggamannya.
"Bahkan saat aku kuliah, aku tidak memiliki teman wanita satu pun karena jelas tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di sisiku." jelas Emir yang kini mengarahkan kepalanya memandang ke arah Minerva.
Minerva kini membalas tatapan Emir, laki-laki yang pertama kali sangat berarti bagi Minerva. Laki-laki yang sangat mengerti Minerva di tengah keterpurukannya saat disiksa oleh Mami tirinya dan juga Jovita. Laki-laki yang selalu ada untuk Minerva meskipun mereka baru saling mengenal saat itu.
"Bagaimana jika aku benar-benar tidak kembali lagi, Kak?" tanya Minerva.
"Aku tidak tahu, yang jelas kini kau sudah kembali di sisiku." jawab Emir.
"Minerva, aku ____"
Belum sempat Emir mengungkapkan perasaannya, teriakan Austin mengalihkan perhatian Minerva.
"Waaaaah, ternyata benar kata pelembut pakaian. Pemandangan disini lebih indah." teriak Austin yang sengaja mengacaukan kebersamaan Minerva dengan Emir.
Austin langsung membaringkan tubuhnya tepat di samping Minerva. "Minerva, bisakah kau sebutkan nama-nama rasi bintang yang terlihat dari sini." pinta Austin.
"Emmmh, coba kakak tunjukin yang mana." timpal Minerva yang kini beralih memperhatikan Austin.
Emir mengusap wajahnya kasar. Kali ini ia gagal mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
"Sabar, Emir. Lain kali kau harus mengajak Minerva di luar sepengetahuan Austin agar dia tidak lagi menjadi pengganggu." gumam Emir dalam hati.