Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Bukit Bintang 2


__ADS_3

Austin menunjukkan salah satu rasi bintang dan pandangan Minerva mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Austin.


"Yang paling terang itu namanya bintang apa ya?" tanya Austin menunjukkan bintang yang berkilau berwarna putih kebiruan.


"Emmmh, itu Sirius, bintang yang paling terang." jawab Minerva.


"Kau tahu tidak kenapa dinamakan Sirius?" Austin bertanya sambil memandang ke arah Minerva.


"Memangnya kenapa?" Minerva balik bertanya pada Austin.


"Karena aku benar-benar serius padamu, Minerva."


Austin kini mantap untuk mengungkapkan perasaannya pada Minerva lebih dulu. Ia tidak mau kalah langkah dari Emir sedikit pun.


"Haaaah?!!!" Minerva mengerutkan dahinya sambil memandang kearah Austin.


"Aku serius mencintai dan menyayangimu, Minerva. Aku ingin kita tidak hanya sekedar teman dekat atau sahabat. Aku ingin kau menjadi istriku, menjadi pendamping hidupku, teman tidurku, dan juga bidadariku."


Minerva terdiam mendengar ucapan Austin kali ini. Dia tidak tahu harus menjawab apa kali ini. Ini kedua kalinya Austin mengungkapkan perasaannya pada Minerva.


"Aku tidak pernah bercanda tentang perasaanku. Emmm, dan aku sudah mencintaimu sejak awal kita bertemu. Kau sudah berhasil membuatku jatuh cinta saat mengalahkanku bermain game saat itu."


Austin kini memberanikan dirinya mengusap wajah Minerva dan tentu saja membuat seorang Emirio Dwayne terbakar cemburu.


Emir langsung bangun dan meninggalkan Minerva dan Austin begitu saja sampai Minerva terkejut dan terduduk sempurna. Sedangkan Jovita kini berlari mengejar Emir.


"Kaaak, mau kemana?" teriak Jovita.


"Aku akan menunggu di mobil." jawab Emir tanpa menoleh atau berhenti sedikit pun.


Melihat kepergian Emir dan Jovita, membuat Austin dan Minerva memiliki ruang untuk berbicara.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa." ucap Minerva kemudian sambil memandang ke arah Austin.


"Setidaknya beri tahu aku, bagaimana perasaanmu terhadapku, Minerva?" tanya Austin kemudian yang berharap satu kepastian dari Minerva.

__ADS_1


Minerva menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku sayang sama kakak. Seperti apa yang aku katakan kemarin. Aku mengaggapmu sebagai kakakku sendiri." jelas Minerva.


Sayangnya, Austin masih belum puas dengan jawaban Minerva.


"Lalu bagaimana kau menganggap Emir? Apa sama seperti kau menganggap diriku?" tanya Austin kemudian.


Tiba-tiba ponsel Austin berdering dan muncul nama Dwayne di layar ponselnya. Austin memutar bola matanya malas dan menerima panggilan dari Emir.


📲📲📲


"*Segera bawa Minerva turun dan pulang." ucap Emir di ujung panggilan.


"Kalau kau mau pulang dulu, silahkan. Aku bisa memesan taksi untuk pulang." jawab Austin kesal dan langsung mematikan panggilannya*.


📲📲📲


"Kak, kita pulang bareng aja yuk." ajak Minerva yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka di telfon.


Austin membuang nafasnya kasar mendengar permintaan Minerva. "Baiklah," balas Austin yang kemudian langsung memegang tangan Minerva.


"Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa begitu menyukaimu, Minerva. Bukankah cinta tidak memerlukan alasan?" Austin bertanya balik pada Minerva.


"Cinta memang tidak butuh alasan, tetapi untuk menikah tidak semudah dengan apa yang kakak bayangkan." timpal Minerva lagi sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Austin.


"Menikah itu tidak hanya menyatukan dua manusia yang saling mencintai, tetapi juga menyatukan dua keluarga yang memiliki sudut pandang dan karakter berbeda." jelas Minerva yang kali ini membuat Austin membisu mencerna ucapan Minerva.


'Apa Minerva masih mempermasalahkan tentang Daddy yang dulu hampir menghilangkan nyawanya. Tapi bukankah Daddy sudah meminta maaf padanya. Atau Minerva trauma dengan Daddy, makanya ia tidak ingin menjalin hubungan yang lebih dekat bersamaku?' tanya Austin dalam hati. Berbagai rasa berkecamuk di dalam hatinya.


Keduanya kini sama-sama terdiam menuju ke mobil. Sedangkan Emir dengan kesal memukul setirnya melihat Austin yang terus saja menggenggam tangan gadis pujaan hatinya.


'Apa Minerva sudah menerima cinta Austin?' batin Emir sambil mengusap wajahnya kasar. 'Aku kalah. Aku sudah kalah dengan bule si*lan itu.' rutuk Emir dalam hati.


Sesampainya di mobil, Minerva langsung masuk ke dalam dan duduk di samping Jovita. Begitu pula Austin yang langsung duduk di samping Emir tanpa ba bi bu sedikit pun.


Emir hanya melirik sekilas ke arah Austin dan kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan bukit bintang.

__ADS_1


"Emir, kau mau mengantarkan aku ke apartemen atau mempersilahkanku menginap lagi di apartemenmu?" tanya Austin memecah keheningan.


"Aku hanya ingin mengantarkanmu ke Tempat Pembuangan Sampah. Parasit sepertimu harus dikirimkan ke sana." jawab Emir ketus.


Austin hanya terkekeh mendengarnya. Ia pun menepuk bahu Emir pelan. "Bukankah dari awal kita sudah setuju untuk saling sportif?" tanya Austin pelan yang kemudian langsung dibalas dengan lirikan tajam dari Dwayne.


"Cih, ini bukan sportif. Kau curang!" gerutu Emir kesal.


Austin hanya tersenyum simpul melihat kekesalan Emir. Dia belum merasa menang dari Emir karena Minerva memang sangat sulit untuk ia dapatkan. Sedangkan Emir sendiri mengira bahwa dirinya sudah kalah langkah dari Austin.


Meskipun dalam hati Emir sama sekali tidak menerima kekalahan itu, tapi ia juga tidak bisa memaksa Minerva untuk mencintainya atau bersama dengannya.


Kini mobil Emir sudah sampai di Mansion milik keluarga Wycliff karena yang searah dengan jalan pulang bukanlah apartemen Austin melainkan Mansionnya.


"Thanks Bro! Lain kali kalau pergi ajak aku ya." ucap Austin sambil keluar dari mobil.


"Hanya orang bodoh lah yang mempersilahkan parasit menempel dalam dirinya." jawab Emir ketus dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan Mansion Wycliff.


Emir melihat dari kaca spion mobilnya, ternyata Jovita dan Minerva sama-sama terlelap di belakang. Akhirnya Emir mampir terlebih dahulu untuk membeli makanan untuk dirinya, Minerva dan Jovita, karena memang mereka belum makan malam ini.


Sesampainya di apartemen, Emir membangunkan Jovita. Tapi setelah Jovita membuka matanya, ia meminta Emir untuk tidak membangunkan Minerva.


"Lebih baik Minerva digendong saja. Dia kecapekan deh kayaknya." ucap Jovita.


Emir pun setuju dan tanpa menunggu lama, kini Minerva sudah ada dalam dekapannya. Mereka bertiga segera menuju ke lantai dimana letak apartemen mereka.


Sesampainya di depan apartemen Minerva, Emir membuka kunci apartemennya dan Jovita angsung ngeluyur masuk begitu saja tanpa memperhatikan Emir.


Jovita langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa menunggu lama, mata Jovita pun kembali terpejam dan masuk ke dalam mimpinya.


Sedangkan Emir kini merebahkan tubuh Minerva ke atas tempat tidur dan menyelimuti nya. Tangan Emir pun tergerak untuk membelai kepala Minerva sambil duduk di tepi ranjang nya.


"Aku kecewa Minerva. Mengapa kau lebih memilih Austin dari pada aku? Aku mengenalmu lebih dulu dari pada Austin. Bahkan aku juga yang lebih dulu memiliki perasaan cinta dan sayang padamu, Minerva." gumam Emir sambil terus memandangi wajah cantik Minerva.


"Meskipun kali ini aku kalah, aku masih punya harapan untuk hidup bersama denganmu, Minerva." ucap Emir yang kemudian meninggalkan kamar Minerva dan kembali ke apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2