
Setelah selesai makan siang bersama, mereka kembali ke ruang Mommy Moona. Tapi tiba-tiba ponsel Minerva berdering dan Minerva langsung menerima panggilan dari Jovita.
...📲📲📲...
^^^"Halo, Minerva. Bisakah aku mengunjungimu siang ini? Aku sedang dalam masalah besar Minerva." suara Jovita terdengar sangat kalut di ujung panggilan.^^^
"Oh baiklah. Kau ingin kita bertemu dimana?" tanya Minerva kemudian.
^^^"Aku sekarang masih ada di kantor. Bagaimana jika ke apartemenmu saja?" pinta Jovita.^^^
"Baiklah, aku tunggu ya. Nanti aku akan kirim alamatnya."
^^^"Terima kasih, Minerva. See you." ucap Jovita di akhir panggilannya.^^^
...📲📲📲...
Setelah Minerva mematikan panggilannya, ia pun menatap ke arah Austin.
"Kak, sepertinya aku..."
"Tidak perlu khawatir, Mommy biar Pak Mamat dulu yang jaga. Ayo aku antar." tawar Austin yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Tidak perlu diantar kak. Aku bisa pulang sendiri." tolak Minerva. "Kakak jaga Tante aja. Sampaikan juga salamku untuk Tante Moona."
"Aku antar atau kau tidak pergi sama sekali?" ancam Austin yang langsung mengamit pergelangan tangan Minerva dan mengajaknya ke arah lobby rumah sakit.
"Tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil." ucap Austin kemudian.
Minerva pun mengangguk setuju dan duduk di salah satu kursi panjang di lobby.
Tidak berapa lama, Austin pun tiba dan Minerva langsung masuk ke dalam mobil.
"Thanks ya kak. Maaf sudah merepotkan mu." ucap Minerva. "Lain waktu biarkan aku pergi sendiri. Aku tidak mau terus menerus merepotkan mu." Minerva sedikit merasa tidak enak karena terus merepotkan Austin.
Berbeda dengan Austin yang memang selalu ingin menjaga Minerva. Sepertinya menunggu waktu yang tepat, menyiapkan tempat yang romantis, dan juga surprise indah untuk mengungkapkan isi hatinya bukanlah solusi yang terbaik untuk Austin. Karena Minerva tidak peka dengan perhatiannya selama ini.
"Aku tetap tidak akan membiarkan Minerva ku pergi sendirian. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk terus menjagamu saat aku telah menemukanmu, Minerva."
Minerva menganggap kata-kata Austin kali ini hanyalah dari perasaan bersalahnya delapan tahun yang lalu.
"Kau hanya terlalu merasa bersalah atas kejadian delapan tahun yang lalu kak. Padahal kau sama sekali tidak bersalah saat itu. Dan, aku bukanlah anak bayi yang harus kau ikuti kemana pun aku pergi." tukas Minerva.
__ADS_1
"Emmmh, dan satu lagi. Aku tidak mau suatu saat nanti ada wanita yang tiba-tiba datang kepadaku dan marah-marah karena kekasihnya dekat dengan wanita lain." lanjut Minerva sambil terkekeh membayangkan apa yang baru saja ia ucapkan.
Austin menepikan mobilnya dan seketika tawa Minerva langsung terhenti.
"Ups, maaf kak. Aku tidak bermaksud membuatmu marah."
Austin tersenyum sambil memandang ke arah Minerva. "Aku tidak marah, Minerva." Austin mulai mendekatkan tubuhnya ke arah Minerva dan berbisik tepat di telinganya.
"Tapi yang harus kau tahu, aku sangat mencintaimu, Minerva. Tidak ada wanita lain di hatiku selain dirimu."
Minerva sontak terkejut dan refleks mendorong tubuh Austin untuk menjauh darinya. "Kaaak. Jangan bercanda seperti ini dooong." gerutu Minerva.
"Kenapa memangnya?" tanya Austin.
"Kau membuat jantungku seperti hampir berhenti berdetak." tambah Minerva lagi dan Austin langsung menoel hidung Minerva.
"Kalau seperti itu tandanya kau juga mencintai aku. Bagaimana kalau kita pacaran saja?"
Minerva langsung menggelengkan kepalanya saat mendengar ajakan Austin untuk berpacaran.
"Kau menolakku?" tanya Austin sedikit gusar.
Minerva langsung membuang nafasnya kasar. "Ayolah kaaak, aku harus segera bertemu dengan Jovita. Kita bicarakan ini nanti ya." Minerva.
"Minerva, apa kau menyayangiku?" tanya Austin kemudian.
"Tentu saja, kau seperti kakak untukku." jawab Minerva.
"Hanya kakak?" tanya Austin lagi. Ia benar-benar berharap Minerva memiliki perasaan yang lebih dan menganggapnya lebih dari sekedar kakak.
"Emmmh, bisa juga sahabat." jawab Minerva.
Meskipun kecewa dengan jawaban yang keluar dari mulut Minerva, setidaknya Minerva tidak menganggap dirinya sebagai musuh. Kini mobil Austin sudah sampai di depan lobby apartemen Minerva.
"Terima kasih sudah mengantar ku." Minerva bersiap untuk turun dari mobil Austin.
"Aku akan mengunjungimu lagi nanti. Kabari aku jika ada apa-apa." pesan Austin sebelum meninggalkan Minerva.
"Okee." Minerva langsung keluar dari mobil Austin dan melambaikan tangannya.
Tepat saat mobil Austin sudah tidak terlihat, taksi yang ditumpangi oleh Jovita berhenti tepat di depan Minerva.
__ADS_1
"Minerva!" Apa kau menungguku?" tanya Jovita yang baru saja keluar dari taksi.
Minerva hanya tersenyum dan langsung mengamit lengan Jovita mengajaknya ke apartemennya.
"Aku juga baru saja sampai. Apa kau sedang ada masalah besar?" tanya Minerva kemudian.
Jovita langsung menganggukkan kepalanya. "Aku butuh teman cerita." ucap Jovita lagi.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di apartemen Minerva.
"Wooow, apartemen milikmu sangat mewah, Minerva." puji Jovita.
"Tidak se mewah Mansion papi dulu kan?" timpal Minerva sambil mengambilkan minuman dingin untuk Jovita. "Minumlah dulu, Jo." Minerva menyodorkan minuman untuk Jovita.
"Thanks ya."
Setelah mendinginkan tenggorokannya, Jovita langsung menceritakan tentang masalahnya pada Minerva.
Hari ini Jovita sedang menjalani hukuman karena kesalahan yang baru saja ia lakukan. Jovita salah memasukkan nominal angka milik nasabah baru di Bank tempat ia bekerja.
Nasabah tersebut menyetorkan uang awal di rekening barunya sebesar dua juta, tetapi Jovita justru menuliskan nominalnya sebanyak dua ratus juta. Jovita sama sekali tidak sadar jika ia melakukan kesalahan.
Saat hendak diusut dan nominalnya ia perbaiki, ternyata sebesar dua ratus juta tersebut sudah di ambil oleh nasabahnya dan sampai saat ini, terhitung sudah tiga hari sudah tidak dapat dihubungi. Pihak Bank tempat Jovita bekerja kini jadi mengalami kerugian sebesar 198 jutaan ia harus mengganti kerugian Bank secara keseluruhan.
"Aku benar-benar harus segera menemukan nasabah itu, Minerva. Tetapi di sisi lain, aku harus bekerja untuk membayar semua kerugian karena kesalahanku." jawab Jovita.
"Apa kau membawa data nasabah tadi Jovita?" tanya Minerva kemudian. "Aku yakin, dia pasti tidak mungkin memakai uang tersebut dalam waktu sekejap. Tapi dia pasti sudah memindahkannya ke rekening yang lainnya."
"Oh, ada. Kebetulan aku membawanya." Jovita langsung mengambil berkas milik nasabah barunya dan menyerahkannya pada MInerva.
"Nanti akan aku cek dan aku coba fikirkan untuk jalan keluar dari masalahmu ini." ucap Minerva.
"Kau mau istirahat atau mau makan?" tawar Minerva kemudian.
"Sepertinya aku ingin beristirahat saja. Masalah ini cukup menguras fikiranku." ucap Jovita.
"Kau bisa beristirahat di sana." Minerva menunjuk kamar yang ada di samping kamarnya. "Aku kan coba mencari tahu siapa nasabahmu kali ini."
Jovita langsung memeluk Minerva dengan sangat erat. "Maafkan aku yang selalu saja membuatmu sangat repot."
"Tidak masalah. Kita kan saudara." jawab Minerva membuat mata Jovita jadi berkaca-kaca.
__ADS_1
"Terima kasih banyak Minerva. Kau benar-benar peri baik hatiku." Setelah itu Jovita langsungmenujuke kamar yang ditunjuk Minerva.