
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang membuat Narayan yang sedang berdiri bersama Maria menoleh ke arah Emir.
"Hei, kalian sudah saling kenal?" tanya Maria yang mendengar Emir memanggil Narayan.
"Aku sudah tahu nama dia, tapi sepertinya Narayan belum tahu namaku." jelas Emir.. "Kenalkan, aku Emirio Dwayne. Terima kasih sudah meminjamkan sepedamu tadi pagi." Emir mengulurkan tangannya dan langsung disambut dengan Narayan.
"Suatu kehormatan bagi saya dapat mengenal anda Tuan Emir. Saya sedang mengurus beberapa urusan untuk acara pernikahan saya besok." ucap Narayan dengan sangat santun.
"Waaah, kamu ternyata calon suami Naomi yaa. Selamat ya Narayan, doakan aku semoga bisa cepat menyusul." ucap Emir.
"Siap Tuan. Semoga anda mendapatkan wanita yang tepat untuk mendampingi anda." ucap Narayan.
"Aamiin. Jangan lupa nanti dikenakan dengan saya, Tuan." timpal Maria.
Kini ketiganya langsung mempersiapkan acara pernikahan Narayan yang akan dihelat keesokan harinya. Emir dan Maria tampak sangat kompak dalam berkolaborasi menyusun rangkaian bunga di pelaminan.
Bahkan Emir berulang kali memuji kepiawaian Maria dalam menyusun rangkaian bunganya. Keduanya sama-sama bekerja dengan sangat profesional. Maria tidak sedikit pun mencoba untuk mendekati Emir dan begitu pula sebaiknya.
Sampai sore tiba, Maria dan juga Emir memutuskan untuk beristirahat.
"Anda seharusnya tidak perlu turun tangan Nona Maria. Bukankah anda sudah menyerahkan tugas ini pada Organizer milik saya?" tanya Emir yang kini duduk di samping Maria sambil meminum minumannya.
"Apa salah jika saya membantu? Lagi pula saya sangat senang membantu mempersiapkan pernikahan sepupu Naomi." timpal Maria dan Emir pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Saya dengar di sini ada danau dengan pemandangan senja yang indah. Bagaimana jika kita melepas penat di sana?" ajak Maria. "Kebetulan saya juga membawa mobil Naomi. Hanya saja saya tidak punya teman untuk menuju ke sana. "
Emir sejenak terdiam sambil berfikir. Kedatangannya di Bali memang untuk mengejar Minerva, tapi ia juga ada bisnis dadakan dengan Maria. Maria juga wanita yang humble dan enak untuk diajak ngobrol.
Ia tidak seperti wanita lainnya yang selalu mencari perhatian Emir.
Tawaran Maria kali ini juga bisa dijadikan wawasan untuk Emir dimana ia akan menyatakan perasaannya kepada Minerva.
"Emmm, baiklah. Berikan kunci mobilnya. Biar aku yang saja yang bawa." balas Emir.
Maria pun langsung memberikan kunci mobil kepada Emir dan keduanya langsung beranjak menuju ke danau Tamblingan yang dimaksud oleh Maria.
Emir langsung mengemudikan mobilnya dan Maria duduk di samping Emir menunujuk arah jalan mana yang harus mereka tuju. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk menuju ke Danau Tamblingan. Cukup tiga puluh menit mereka berdua sudah sampai di sana.
__ADS_1
Keduanya kini benar-benar berdecak kagum dengan pemandangan alam yang disajikan oleh Danau Tamblingan. Danau Tamblingan yang Emir dan Maria kunjungi ini dikelilingi oleh hutan dan udara yang sejuk. Tidak hanya itu, pura yang ada di Danau ini memberikan nuansa spiritual dan alam yang menyatu membuat siapa pun yang datang mendapatkan suasana yang tenang, sejuk yang datang dari pepohonan dan akan jauh dari kebisingan.
"Wooow, anda tidak salah mengajak saya untuk datang kemari." ucap Emir.
"Emmm, bukankah kita sedang tidak berada di dalam kantor atau pun urusan bisnis. Bisakah kita tidak terlalu formal?" tanya Maria kemudian.
"Kau bisa memanggilku Maria dan aku memanggilmu Emir. Aku rasa usia kita tidak terpaut jauh."
Emir kini memandangi kolega bisnisnya sekejap dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. "Oke." jawab Emir singkat. Kini ia mulai berfikir tidak ingin terlalu dekat dengan Maria.
Maria memang tidak terlihat mencari celah untuk lebih dekat dengan Emir, ia justru terlihat memberi jarak antara dirinya dengan Emir saat berjalan. Bahkan mereka berdua tidak saling bersentuhan satu sama lain.
Tapi Emir sama sekali tidak ingin memiliki hubungan dekat dengan wanita mana pun karena ia hanya ingin Minerva saja yang dekat dengannya.
Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki yang berlari dan tanpa sengaja menabrak Maria hingga Maria hampir terjatuh. Untungnya dengan sigap Emir menangkap tubuh Maria dan membantunya untuk berdiri.
"Are you okey?" tanya Emir dan Maria langsung mengangguk.
Sedangkan anak yang menabrak Maria tadi langsung meminta maaf padanya.
"I am so Sorry, aunty." ucap anak tersebut dengan logat jepangnya.
"Jikai wa chūi ga hitsuyōdesu (lain kali kau harus lebih berhati-hati ya)." balas Maria dengan bahasa jepang yang sangat fasih.
"Nihonjindesu ka (Apa kamu orang Jepang)?" tanya anak tadi dan Maria hanya menganggukkan kepalanya.
"Shōkai shimasu, watashinonamaeha ___ (kenalkan, namaku adalah ...)" Belum sempat anak laki-laki itu menyebutkan namanya, lengan anak tadi langsung ditarik oleh ayahnya.
"Maafkan putraku, Nona." ucap pria tadi dengan logat Jepangnya.
Maria memandang ke arah pria Jepang itu dan langsung menutup mulutnya. Entah mengapa lidahnya justru kelu tak dapat mengucap satu patah kata pun sampai pria tersebut pergi meninggalkannya.
Maria yang masih sangat terkejut kini diam mematung, membuat Emir kemudian menggoyangkan bahunya.
"Are you okey?" pertanyaan yang sama kembali terlontar dari mulut Emir dan Maria langsung menangis sambil memeluk Emir dengan sangat erat.
Emir sangat terkejut dengan tingkah laku Maria barusan. Ia berusaha melepaskan pelukan Maria tapi Maria justru memeluknya semakin kencang.
__ADS_1
"Hai, apa yang terjadi padamu?" tanya Emir saat Maria makin terisak dalam tangisannya dan membuat Emir semakin bingung.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Maria yang tersengguk sengguk, akhirnya Emir mengusap punggung Maria dan mencoba menenangkannya. Ia pun mengajak Maria duduk di salah satu bangku panjang di dekat pura. Ia tidak sadar jika ada sepasang mata yang sedang mengamati dirinya dari kejauhan.
"Tenanglah Maria, ceritakan padaku apa yang terjadi?" tanya Emir.
Maria kini mulai sadar bahwa dirinya sudah membuat kemeja Emir basah dengan air matanya. Ia pun cepat-cepat melepaskan pelukannya dan menepuk nepuk dada Emir.
"Maaf sudah membuat kemejamu basah dan kotor. Aku akan bertanggung jawab dengan semua ini." ucap Maria merasa bersalah.
"Sudahlah, jangan urus masalah kemejaku. Sekarang katakan kepadaku, apa masalahmu? Kenapa tiba-tiba kau menangis tersedu-sedu?" tanya Emir.
Maria bukan menjawab pertanyaan Emir malah justru kembali menangis.
"Yaaaaah, nangis lagi." gerutu Emir yang kemudian melepaskan kemejanya yang basah dan mengibas kibaskannya. Kini Emir hanya menggunakan kaos lengan pendek polos yang membuatnya terlihat makin tampan dan cool.
"Dia ..." Maria mulai menjawab di tengah isak tangisnya.
"Dia ..."
Dengan sabar Emir masih menunggu kalimat selanjutnya dari Maria.
"Dia ..."
Kini Emir menepuk dahinya kesal.
"Sudahlah, tak perlu dijawab jika kau hanya bisa menyebutkan satu kata saja." timpal Emir yang langsung berdiri dari tempat duduknya. "Lebih baik kita pulang saja."
"Dia adalah mantan suamiku." jawab Maria dan kini Emir langsung mengerutkan dahinya.
"Mantan suami?" tanya Emir dan Maria mengangguk.
Emir kini mengurungkan niatnya untuk pulang dan kembali duduk di samping Maria.
"Lalu siapa anak laki-laki yang tadi menabrak mu?" tanya Emir kemudian.
Maria terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah anak laki-laki yang kini sedang berlari lari dengan ayahnya dan juga seorang wanita. Kini masker anak tersebut dan juga topinya sudah terlepas sehingga Maria bisa melihatnya dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Dia putraku." jawab Maria sambil menggi git bi bir ba wahnya menahan dirinya agar tidak menangis lagi.