Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Tidak Selamat


__ADS_3

Emir menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata karena darah yang ada di bahu Uncle Tio terus mengucur dengan sangat deras. Sedangkan Austin terus berupaya membantu menghentikan darah yang mengucur di bahu Uncle Tio.


"A aku menyesal." ucap Uncle Tio terbata-bata karena tubuhnya sudah mulai melemah.


"Sikap Lilies sama persis dengan mendiang ibunya dulu. Aku menyesal menganggapnya sebagai anak kandungmu." ucap Uncle Tio.


Uncle Tio menikahi ibunya Lilies saat Lilies sudah terlahir ke dunia. Saat itu ibunya memohon dengan sangat agar ia menjadi ayah dari Putrinya, dan Tio pun setuju karena ibu Lilies memang cantik dan Tio mencintainya.


Tapi lambat laun terlihat watak asli ibu Lilies yang sangat berambisi terhadap segala hal. Bahkan ibunya Lilies juga meninggal saat melakukan kejahatan karena ambisinya yang tidak terpenuhi.


Dan saat itu Lilies masih berusia dua puluh tahun, hingga kini Uncle Tio pun tidak memutuskan untuk menikah lagi.


Austin yang sangat paham dengan posisi kehidupan Uncle Tio pun hanya diam sambil terus berusaha menghentikan pendarahan. Emir juga tidak begitu menanggapi karena dia memang tidak tahu apa-apa.


Saat mobil mereka hampir sampai di rumah sakit, Emir terjebak dalam kemacetan panjang karena ada laka lantas antara truk dengan bus tepat di depan rumah sakit.


"Bagaimana ini?" tanya Emir mulai panik. Melihat jarak e rumah sakit tinggal 500 meter tapi ia justru terjebak kemacetan panjang.


"Aku akan menelfon rumah sakit untuk membawa dragbar darurat kesini dan membawa Uncle Tio ke rumah sakit." ucap Austin yang segera menghubungi pihak rumah sakit.


Benar saja, sepuluh menit kemudian nampak tim dari rumah sakit berlarian membawa dragbar menuju mobil Emir. Dengan sigap Austin membawa Uncle nya yang sudah sangat lemah ke rumah sakit bersama tim dari rumah sakit.


Sedangkan Emir masih terjebak dalam kemacetan dan setelah satu jam baru ia sampai di rumah sakit. Emir segera menuju ke ruang gawat darurat untuk menemui Austin.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Emir menanyakan Uncle Tio.


"Uncle sudah tidak bisa diselamatkan. Dia sudah kehabisan banyak darah selama di perjalanan. Mungkin sebentar lagi ia akan di pindahkan ke pemulasaran jenazah." jawab Austin dimana seluruh pakaiannya sudah bersimbah darah yang mulai mengering.


"Ini pakaian ganti untukmu, ganti dulu dan aku akan mengurusnya." ucap Emir.


Austin pun menerima pakaian yang disodorkan oleh Emir dan langsung menggantinya. Emir kini menunggu di depan ruang Instalasi Gawat Darurat dan jenazah Uncle Tio pun kini di dorong menuju ruang pemulasaran jenazah.


Emir mengikuti dari belakang menyusuri setiap selasar rumah sakit sambil mengetikkan pesan untuk Austin jika Uncle Tio sudah dibawa menuju ke tempat pemandian jenazah.


Tepat saat pesan Emir terkirim, ponselnya langsung mati karena kehabisan daya. Tak lama kemudian Austin pun menampakkan dirinya yang sudah berganti pakaian milik Emir.


"Setelah menerima pesan darimu, ponsel ku kehabisan daya. Apa akau bisa meminjam ponselmu untuk memberi kabar kepada Mommy dan Daddy?" tanya Austin.


Emir tidak menjawab pertanyaan dari Austin, ia hanya memperlihatkan ponselnya yang juga kehabisan daya, membuat Austin langsung menepuk jidatnya.

__ADS_1


Ia melihat ke arah jarum jam yang menunjukkan waktu tengah malam. "Aku rasa Daddy kini pasti sedang dimintai laporan kepolisian mengenai masalah Amer dan Lilies. Sedangkan Mommy dan Minerva juga pastinya sudah beristirahat." gumam Austin pelan.


"Lebih baik kita serahkan saja urusan pemakaman pada pihak rumah sakit saja agar semua selesai tanpa menunda-nunda." ujar Emir memberikan saran.


"Nanti untuk setiap prosesnya, kita akan ikut dan meminta pihak rumah sakit untuk mendokumentasikannya dan kita perlihatkan pada keluargamu." lanjut Emir.


Akhirnya saran Emir pun disetujui oleh Austin. Mereka berdua turut serta dalam proses pemakaman dan setelah itu kembali ke Mansion Wycliff saat din hari.


...♣️♣️♣️...


Pagi ini Daddy Arthur dan semua anggota keluarganya beserta Emir dan Risa berkumpul di meja makan. Mata Emir dan Austin sama-sama masih sangat memerah karena mereka berdua kurang tidur.


Semuanya menunggu kabar dari Austin tentang keadaan Uncle Tio. Austin pun menceritakan dari awal perjalanan mereka sampai di rumah sakit dimana Uncle Tio memang sudah benar-benar kehabisan banyak darah sebelum tiba di rumah sakit.


Terlebih tancapan pisau tersebut memang tertancap sangat dalam menyebabkan pembuluh darah juga tercobek hingga darah mengucur dan tidak dapat dihentikan. Hingga akhirnya Uncle Tio pun tidak berhasil untuk diselamatkan.


Austin juga memperlihatkan prosesi pemulasaran jenazah Uncle Tio hingga pemakaman yang dilakukan tengah malam.


Mommy Moona terus meneteskan air matanya melihat kenyataan yang baru saja terjadi pada keluarganya. Ia berusaha menguatkan dirinya agar tetap kuat meski sangat berat untuknya menerima kematian kakak kandungnya dengan cara yang sangat menyedihkan.


"Lilies benar-benar bandit kejam yang pernah aku kenal. Aku tidak menyangka ia tega membunuh ayah kandungnya sendiri." ucap Moona dalam isak tangisnya.


"Kamu yang sabar ya Moona, anggap saja ini adalah sebuah kecelakaan yang tidak disengaja." ucap Risa.


Daddy Arthur yang tadinya hendak mengabarkan tentang Lilies pun kini menundanya melihat istrinya begitu terpukul atas kematian kakak kandungnya.


Setelah sarapan pagi, mereka semua pun memutuskan untuk mengunjungi makam Uncle Tio. Emir dan Austin juga memutuskan untuk tidak bekerja untuk hari ini, begitu juga dengan Minerva.


PoV Minerva


Semua terjadi memang begitu cepat. Aku sungguh sama sekali tidak mengira akan seperti ini jadinya. Hanya karena Nila setitik, rusak susu sebelanga. Aku sedikit merasa bersalah berada di lingkaran keluarga Wycliff.


Mungkin saja jika aku bukanlah putri kandung Wycliff, Lilies pasti akan menghakimi dan mencelakai diriku saja untuk membalaskan dendamnya. Tapi, sekarang yang terjadi membuat semua orang terpukul.


Kematian Uncle Tio tentunya sangat menyayatkan luka dalam untuk Mommy. Andai saja pisau itu tidak terlempar mengenai Uncle Tio.


Tapi tunggu, jika pisau itu tidak mengenai Uncle Tio, maka kak Austin yang akan tertikam. Dan Mommy pastinya akan lebih bersedih saat mengetahui hal tersebut.


Dan jika pisau itu tidak terlempar mengenai Uncle Tio, pisau itu bisa saja mengenai Kak Emir, Mommy Moona, Daddy Arthur dan juga Tante Risa.

__ADS_1


Huuuuh, mungkin ini adalah jalan yang terbaik untuk semuanya.


...****************...


"Kita pulang sayang." ajak Austin memegang tangan Minerva.


"Moona, aku turut berduka cita yaaa. Aku pulang dulu, kabari saja jika kau butuh teman karena aku akan datang untuk menghibur." ucap Risa berpamitan kepada sahabatnya.


"Thanks Risa. Kau selalu mengerti tentang keadaanku." ucap Moona.


Kini Emir dan Risa pun meninggalkan pemakaman terlebih dahulu dan kemudian disusul oleh keluarga Wycliff.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai Guys, mampir yuk ke Novel Author yang udah lama Hiatus tapi akan mulai author up lagi setiap harinya.


Judulnya CEWEK BERTALENTA


Author kasih cuplikannya sedikit yaa.


Devan langsung menarik pergelangan tangan Zyva dan menahannya agar tetap duduk. "Mau kemana kamu?" tanya Devan.


"Pulang." jawab Zyva ketus. "Lepasin tangan aku." Zyva menghempaskan tangan Devan. Sayangnya Devan memegang tangan Zyva sangat erat.


"Gak bisa." sarkas Devan. "Kamu mau makan gaji buta?" pertanyaan Devan kembali membuat Zyva makin kesal.


"Aku mau mengundurkan diri belajar sama kamu. Buang buang waktu aja." jawab Zyva membuat Devan memberanikan diri mengecup bibir Zyva sekilas.


Cup!


Zyva terdiam merasakan hal aneh yang belum pernah ia rasakan. Melihat Zyva terdiam, Devan semakin berani mengulanginya. Ia memegang tengkuk leher Zyva dan mencium bibirnya perlahan. Zyva kini mulai sadar saat Devan mulai membuka memagut nya pelan.


Zyva mencoba mendorong tubuh Devan dan menghentikan ciumannya. Sayangnya Devan malah semakin bermain dibibirnya. Dengan kesal Zyva menggigit bibir Devan kuat kuat hingga berdarah.


Akhirnya Devan melepaskan pagutannya dan Zyva langsung beranjak meninggalkan Devan yang sedang mengelap darah di bibirnya.


"Gila, bibir Zyva manis banget." gumam Devan tersenyum sambil menghentikan darah yang keluar dari bibirnya.


Sedangkan Zyva langsung mengumpat sikap Devan yang menurutnya sangat kelewatan.

__ADS_1



__ADS_2