Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Kepergok Mamanya Dwayne


__ADS_3

Setelah pemakaman Mami selesai, Dwayne mengantar Jovita dan Papi Aris ke rumah. Minerva sedikit terhenyak melihat rumah yang ditinggali papi Aris dan Jovita saat ini. Rumah mereka terlihat sangat kecil dengan ukuran rumah 4x8 meter.


Di depan rumah Jovita terlihat gerobak yang saat ini digunakan Papi Aris untuk berjualan martabak. Minerva sedikit miris melihat kehidupan Jovita saat ini.


"Jo, besok aku akan datang lagi. Papi dan Jovita selamat istirahat ya." ucap Minerva berpamitan.


"Terima kasih Minerva. Jangan sungkan untuk datang kemari. Jika Jovita bekerja, masih ada papi di rumah karena Papi berjualan di depan rumah saja." ucap Papi Aris.


Minerva dan Dwayne pun undur diri dari rumah Jovita. Selama perjalanan pulang, Minerva terus memikirkan permasalahan yang dialami Jovita saat ini. Persis seperti misi yang ia dapat dari sistem scorpio, yaitu untuk menyelesaikan polemik pinjaman online.


Lama kelamaan Minerva tidak kuasa menahan rasa kantuknya dan akhirnya mata Minerva terpejam. Dwayne melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul satu dini hari. Ia pun segera mengemudikan mobilnya sedikit kencang agar Minerva dapat beristirahat di apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Dwayne langsung membawa Minerva masuk ke dalam apartemennya karena ia sama sekali tidak mengetahui sandi pintu apartemen Minerva. Ia merebahkan Minerva ke atas tempat tidurnya dan menyelimuti tubuh Minerva.


"Wajahnya benar-benar sangat cantik seperti gadis belia yang berusia tujuh belas tahun." gumam Dwayne memandangi wajah Minerva yang tertidur pulas.


Minerva meregangkan tangannya dan berbalik hingga kini tangannya tepat di leher Dwayne dan tentu saja membuat jantung Dwayne berdegub kencang. Seketika rasa kantuk Dwayne hilang tak berbekas terlebih saat Minerva menarik tubuh Dwayne untuk lebih dekat dengannya.


Dwayne pun memberanikan dirinya naik ke atas tempat tidur dan Minerva langsung merengkuh memeluknya seperti guling. Dwayne tercekat sampai hampir tak bisa bernafas mendapati gadis yang sudah lama ia dambakan, kini justru memeluknya dengan sangat erat.


Akhirnya Dwayne meredam gemuruh dalam dadanya dengan membalas pelukan Minerva dan mencoba untuk memejamkan matanya. Baru saja mata Dwayne terpejam, tiba-tiba Minerva menggerakkan kakinya di antara kaki Dwayne hingga membuat Dwayne kembali terjaga.


Bukan hanya itu, barang miliknya pun juga ikut terbangun akibat gerakan Minerva. "Kau benar-benar sedang mengujiku, Minerva." gerutu Dwayne yang sedang berusaha keras menetralkan detak jantungnya.


Akhirnya Dwayne terjaga sampai pagi. Setidaknya malam ini ia mengobati segala kerinduannya selama ini yang terus diselimuti rasa kehilangan Minerva.


Tepat pukul lima pagi, alarm di ponsel Dwayne berdering. Dengan cekatan Dwayne mematikan alarm ponselnya agar tidak mengganggu tidur nyenyak Minerva. Perlahan-lahan ia melepaskan dekapan Minerva dan mengecup kening Minerva. Setelah itu ia membersihkan dirinya di kamar mandi.


Minerva mengerjapkan matanya saat mendengar gemericik air di kamar mandi. Matanya langsung terbuka sempurna saat Minerva sadar bahwa ia ketiduran saat pulang dari pemakaman Mami Peny. Ia pun duduk dan mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Tatanan kamar sama persis dengan kamar di apartemennya, hanya saja ia tidak memiliki gitar seperti yang tergantung di samping lemari pakaian.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan muncul Dwayne yang hanya berbalutkan handuk. Minerva terkesima melihat rambut basah Dwayne dan tubuh kekarnya yang masih ada beberapa tetesan air, membuat Minerva menelan ludahnya kasar.


"Kau sudah bangun, Minerva?" tanya Dwayne sambil berjalan ke arah Minerva.


Pertanyaan Dwayne kali ini membuat Minerva menyembunyikan mukanya di balik selimut. Kini Minerva sadar bahwa semalaman ia tidur di kamar Dwayne. Tiba-tiba pintu kamar Dwayne diketuk oleh Mama Risa.


"Dwayne, kau sudah bangun sayang?" tanya Mama Risa dari balik pintu.


Minerva makin menyembunyikan tubuhnya di balik selimut saat mendengar suara mamanya Dwayne.


"Sudah Maa. Aku juga sudah mandi." teriak Dwayne dari dalam kamar.


"Baiklah, mama akan membuatkan sarapan untukmu dan juga untuk tetangga barumu. Mama lihat semalam ia hanya makan makanan cepat saji. Jangan lupa nanti kau antarkan untuk Minerva." ucap Mama Risa.


"Baik Ma." Dwayne kembali berteriak sambil membuka selimut yang menutupi tubuh Minerva.


"Tuan, maaf sepertinya aku harus segera pulang." ucap Minerva sedikit grogi karena jaraknya dengan Dwayne kini sangat dekat sekali. Terlebih Dwayne masih belum menggunakan baju sehelai pun.


"Terima kasih atas bantuan anda semalam, Tuan. Maaf sudah merepotkan anda." Minerva mendorong tubuh Dwayne pelan agar sedikit menjauh darinya. Tapi sentuhan tangan Minerva di tubuh Dwayne justru kembali membangunkan senjata milik Dwayne di balik balutan handuk.


Dwayne langsung berbalik menjauh dari Minerva dan kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya.


"Si*l, sentuhan tangan Minerva saja bisa membangunkan senjataku." gerutu Dwayne yang segera memakai kaos casual dan celana boxernya.


Sedangkan Minerva buru-buru keluar dari kamar Dwayne untuk segera kembali ke apartemennya. Sayangnya ia justru kepergok oleh Mama Risa saat membuka pintu kamar Dwayne.


"Minerva!" pekik Mama Risa dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. "Kau disini?" tanya Mama Risa.


Kini Mama Risa melihat penampilan Minerva dari atas sampai bawah. Ia sedikit curiga dengan keberadaan Minerva di kamar putranya. Terlebih tadi Dwayne mengatakan pada dirinya bahwa dia baru saja mandi.

__ADS_1


"Oh iya, tante. Maaf tadi malam saya .... "


"Apa yang sudah kalian lakukan di sini? Kalian baru semalam mengaku jika tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi pagi ini ternyata sudah tidur bersama."


"Mama bukannya tidak setuju jika kalian menjalin hubungan, mama justru sangat senang. Tapi seharusnya kalian bicara terus terang pada kami."


"Kau tahu Minerva, Papa Dwayne akan langsung menikah kan kalian jika dia melihat seperti ini." ucap Mama Risa panjang lebar membuat Minerva terkejut dan menutup mulutnya.


"Tante, ini tidak seperti yang tante kira. Saya tidak melakukan apa-apa dengan putra tante." ucap Minerva yang kini bingung harus bagaimana menjelaskannya pada mama Risa tentang keadaannya karena ia terus saja bicara panjang lebar.


Akhirnya Dwayne keluar dari kamarnya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi tadi malam. Dwayne menceritakan pada Mama Risa secara detail mulai dari meninggalnya Mami Peny, sampai Minerva yang tertidur saat pulang dari pemakaman dan Dwayne tidak tahu password apartemen Minerva. Akhirnya Dwayne membawa Minerva ke dalam kamarnya.


"Jadi kalian tidak melakukan apa-apa tadi malam?" tanya mama Risa dengan raut wajah yang terlihat sangat kecewa.


"Tidak Ma. Mana mungkin aku melakukan hal di luar batasan. Lagi pula aku juga tidak tidur semalaman." Jawab Dwayne.


"Lalu bagaimana dengan hubungan kalian saat ini?" tanya mama Risa berharap jika putranya memang memiliki hubungan khusus dengan Minerva.


"Kami tidak ada hubungan apa-apa, tante. Minerva mohon maaf sudah membuat keributan pagi pagi di sini. Kalau begitu Minerva pamit dulu ya tante." Minerva menundukkan kepalanya dan segera keluar dari apartemen Dwayne.


"Mama kecewa sama kamu!" gerutu mama Risa saat Minerva sudah keluar dari apartemen Dwayne.


"Baru kali ini mama mendapati putra mama sangat bodoh." Dwayne tersentak saat mamanya mengatakan dirinya bodoh.


"Ada gadis cantik di depan mata kamu biarkan saja. Bisa-bisanya kamu tidak melakukan apa-apa dengan Minerva padahal semalaman berada dalam satu kamar yang sama. Sepertinya mama harus benar-benar membawamu ke psikiater." gerutu Mama Risa yang kemudian berlalu berjalan ke arah pantry.


Sedangkan Dwayne mengusap wajahnya kasar. Dia bingung dengan sikap mamanya yang menurutnya sangat labil. Tadi mamanya terlihat sangat terkejut saat melihat Minerva keluar dari kamarnya dan mengoceh seperti rel kereta api tidak ada hentinya. Tapi ketika ia tau bahwa putranya tidak melakukan apa-apa, ia justru terlihat sangat kecewa.


"Sepertinya mama sendiri yang harus ke psikiater. Karena mama sepetinya terkena penyakit bipolar, yang memiliki dua kepribadian yang sangat membingungkan." celetuk Dwayne membuat mamanya kembali meneriakinya dari pantry.

__ADS_1


"Jangan jadi anak kurang ajar ya kamu, Dwayne.!" ancam mama Risa dan Dwayne hanya terkekeh geli.


__ADS_2