
Setelah memilih gaun yang akan dikenakannya untuk memenuhi undangan Tante Moona, Minerva pun diantar menuju ke salon untuk perawatan kilat, menata rambut dan juga memoles sedikit wajahnya karena Minerva memang sudah terlihat cantik dari sananya.
Austin kali ini juga mengikuti perawatan yang ditawarkan untuknya dari pada hanya diam saja menunggu Minerva. Keduanya pun siap dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Tuan Austin, Nona Minerva gets ready." ucap salah satu pegawai salon. Austin yang sedang mengancingkan jasnya langsung berbalik dan tercengang melihat kecantikan Minerva.
Gaun selutut berwarna navy yang dipilih oleh Minerva membuat kulit putihnya nampak sangat bersinar. Tatanan model rambut bob baru Minerva juga membuatnya makin terlihat sangat cantik, terlebih ia memiliki leher yang sedikit panjang. Polesan make up di wajah Minerva juga sangat natural hingga membuat Minerva malam ini terlihat sangat sempurna.
"Kaaaak." panggil Minerva membuyarkan lamunan Austin.
"Oh, I __ iya Minerva, aku akan membayarnya dulu ke kasir." ucap Austin salah tingkah.
Minerva mengerutkan dahinya dan menarik tangan Austin yang hendak menuju ke meja kasir.
"Kata pegawai salon, hari ini kita adalah customer yang beruntung. Aku mendapatkan voucher couple karena tadi sempat memenangkan kuis yang diadakan salon ini." jelas Minerva.
"Benarkah?" tanya Austin terkejut.
"Benar, Tuan. Anniversary Salon kita memang mengadakan kuis keberuntungan dan Nona Minerva berhasil menjawab kuis tersebut dengan sangat tepat." jelas salah satu pegawai salon.
"Selamat ya untuk keberuntungan kalian hari ini. Kami tunggu kedatangannya di lain waktu." Pegawai Salon pun menundukkan kepalanya sekilas kepada Austin dan juga Minerva.
"Terima kasih kembali." balas Austin dan Minerva beriringan.
Austin kini memegang tangan Minerva dan mengajaknya untuk meninggalkan salon. Minerva sama sekali tidak menolak genggaman tangan Austin karena ia mulai terbiasa dengan ini semua.
"You look so pretty, Minerva." bisik Austin. "Aku akan mengenalkanmu pada Mommy dan Daddy jika engkau adalah wanita yang sangat aku cintai." jelas Austin.
"Tapi Kak, aku kan __"
__ADS_1
"Aku tidak memaksa mu untuk membalas perasaan cintaku, Minerva. Biarkan perasaan itu mengalir begitu saja karena aku yakin, cinta tidak akan pernah salah memilih tempat untuk berlabuh." jelas Austin.
"Katakan padaku, apa kau nyaman berada di sampingku?" tanya Austin.
Minerva menganggukkan kepalanya, "Tapi aku rasa itu bukan perasaan cinta kak." jelas Minerva.
"Tidak masalah, Minerva. Aku akan sabar menunggu rasa itu tumbuh subur dalam hatimu." balas Austin.
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dan Pak Mamat langsung membawa mereka menuju ke Mansion utama.
"Kak, aku gugup." ucap Minerva sambil menggenggam kedua telapak tangannya.
"It will be okey, Minerva." ucap Austin menenangkan Minerva.
"Tolong jangan kenalkan aku sebagai wanita yang kau cintai. Aku mohon." pinta Minerva sambil menatap Austin secara intens.
Austin pun membalas tatapan Minerva yang kali ini memang terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu. "Berikan aku alasannya, Minerva."
Kata-kata Minerva kali ini membuat Austin terdiam dan menghela nafasnya pelan. Ia kembali teringat saat daddynya melarangnya untuk jatuh cinta dengan Minerva.
"Oke, aku setuju dengan permintaanmu, Minerva." jawab Austin yang kini memikirkan jika nantinya Daddy benar-benar menolak Minerva.
"Thanks a lot kaaaak." tukas Minerva dengan senyum lebarnya. Setidaknya kini ia lebih tenang dan siap untuk memenuhi undangan dari Tante Moona.
...☘️☘️☘️...
Sesampainya di halaman Mansion, tampak beberapa mobil sudah terparkir rapi, menandakan beberapa tamu khusus keluarga Wycliff sudah berkumpul di sana.
Mobil yang dikemudikan Pak Mamat berhenti dengan sempurna tepat di depan pintu mansion. Austin turun lebih dahulu dan siap untuk membukakan mobil untuk Minerva.
__ADS_1
Austin mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Minerva dan Minerva keluar dari mobil tanpa membalas uluran tangan Austin. "Bersikaplah biasa di depan mereka semua kak. Aku mohon." bisik Minerva yang mulai gugup untuk melangkahkan kakinya.
Sayangnya Austin tidak mengindahkan permintaan Minerva kali ini dan tetap menggenggam tangan Minerva yang sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Aku akan selalu berada di sampingmu Minerva. Jangan takut!"
Kini keduanya melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansion. Kedatangan mereka berdua seperti membisu semua tamu undangan yang hadir di sana tanpa terkecuali. Semua mata para tamu undangan kini menatap ke arah mereka berdua membuat Minerva semakin gugup.
Austin langsung mengajak Minerva untuk bertemu dengan Daddy dan Mommy nya. Sedangkan di sudut ruangan ada sepasang mata yang tak sanggup memandang kebersamaan antara Austin dan Minerva saat ini.
"Minerva benar-benar sangat cantik dan menawan, Emir." celetuk Mama Risa pada putranya. "Lihatlah nak, dia seperti bidadari yang turun dari langit. Benarkan pah?" Mama Risa kini meminta persetujuan dari suaminya.
Belum juga suaminya menimpali pertanyaannya, Mama Risa sudah mulai bergumam lagi. "Aduh, Emir. Mama rasanya ingin melamar Minerva untuk menjadi istrimu. Jujur saja mama tidak sabar untuk memasak bersama Minerva, belanja dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya."
"Sssstttt, Mama. Jangan berisik deh. Gak enak kan didengar sama tamu yang lainnya." bisik Emir. "Mama juga jangan mikir terlalu jauh deh. Ntar kalo jatuh, sakit!" tambahnya lagi.
Sejujurnya bukan mamanya yang kini merasa sakit, melainkan Emir lah yang merasa jatuh dari tangga yang paling tinggi dan kini ia sedang merasakan bagaimana sakitnya. Dia merasa bukan kalah satu langkah saja dari Austin, tetapi kalah ratusan bahkan ribuan langkah darinya.
Minerva memang sangat bahkan teramat cantik malam ini. Sayangnya bukan dia yang berada di samping Minerva, melainkan Austin. Saingan yang menurut Emir bukanlah saiangan yang berat namun cukup handal dan cekatan untuk lebih dulu mendapatkan Minerva.
Emir membuang nafasnya kasar dan mengalihkan pandangan ke arah yang lain. 'Pantas saja tadi sore Minerva menolak untuk dijemput denganku.' gumam Emir dalam hati. 'Ternyata dia sedang mempersiapkan untuk menghadiri acara ini bersama Austin.'
'Kau harus kuat, Emir. Siapa pun yang Minerva pilih untuk mengisi ruang di hatinya, yang terpenting adalah dia selalu bahagia dan juga dalam keadaan yang baik-baik saja.' kali ini Emir terus saja menyemangati dirinya sendiri yang sedang rapuh.
Dari jauh terlihat Daddynya Austin begitu wellcome dengan Minerva. Tidak hanya itu, Minerva pun tampak tersenyum lepas saat mengobrol dengan Daddynya Austin dan ini membuat Emir makin rapuh melihat kedekatan mereka.
"Emir, gabung ke sana yuk sama Austin. Mama juga mau kasih selamat sama Moona yang sudah sembuh dari sakitnya." ajak Mama Risa.
Emir tidak beranjak dari tempat dia berdiri dan menarik tangan mama Risa untuk tempat tinggal di tempat. "Nanti dulu, Ma." cegah Emir.
__ADS_1
"Aku takut mama nanti pingsan saat mendengar Daddynya Austin memperkenalkan calon menantunya pada kita semua." lanjut Emir saat melihat Tuan Arthur dan Tante Moona memegang mic dan nampak seperti hendak menyampaikan sesuatu.