
Pak Mamat langsung menuju ke kantor polisi untuk menemui Austin dan juga sepupu Lilies. Jarak yang ditempuh tidak begitu jauh dari apartemen Minerva dan kini Pak Mamat sudah sampai di halaman parkir kantor polisi.
"Den, ini ada titipan makan siang dari Non Minerva." Pak Mamat menyodorkan satu box meal untuk Austin.
Austin yang memang sudah sangat lapar pun langsung tersenyum dan menerima box meal yang disodorkan padanya.
"Minerva memang sangat perhatian. Tau aja kalo aku belum makan dan sedang lapar." Austin lalu mencari tempat yang nyaman untuk menyantap makan siangnya.
Hatinya merasa sangat berbunga-bunga mendapat perhatian khusus dari Minerva. Tapi bunga di hatinya yang baru saja bermekaran kini mulai kembali kuncup melihat Pak Mamat juga makan siang sama persis dengan menu yang Minerva belikan untuknya.
"Kok menunya sama?" tanya Austin dengan harapan jawaban dari Pak Mamat adalah membeli sendiri. Tapi Austin tidak yakin Pak Mamat membeli makanan itu sendiri.
"Iya Den, tadi Non Minerva juga membelikan untuk saya. Sama persis sama menu punya Den Austin." jawab Pak Mamat membuat rasa makanan milik Austin jadi terasa hambar.
"Yaaah, aku kira Minerva khusus beliin cuma buat aku. Ternyata buat Pak Mamat juga." batin Austin sedikit kecewa.
"Non Lilies gimana Den kabarnya?" tanya Pak Mamat.
"Belum bisa ditemui, bahkan kata polisi Lilies baru saja sadar dari pingsannya." Austin menjawab pertanyaan Pak Mamat dengan terus melahap makanannya.
"Kata polisi setengah jam lagi baru aku bisa menemuinya."
Pak Mamat pun menceritakan kegiatan Minerva hari ini bersamanya pada Austin. Mulai dari barang apa saja yang di beli Minerva sampai dimana sekarang posisi Minerva dan itu justru membuat Austin terkejut.
"Mengapa tidak diusulkan untuk mencari apartemen yang sama denganku. Bukankah aku juga tinggal di apartemen?" protes Austin dengan nada tidak suka.
"Maaf Den, saya tidak kepikiran sampai di situ. Mendengar Non Minerva membutuhkan apartemen yang nyaman, akhirnya saya usulkan di Green luxury apartment." jelas Pak Mamat merasa sedikit bersalah.
Tak lama kemudian polisi membawa Direktur Lilies yang terlihat masih sangat pucat untuk menemui Austin. Lilies langsung menghambur memeluk Austin dan tangisnya langsung pecah.
"Ini pasti gara-gara Yolanda. Aku yakin dia yang melaporkan aku ke kantor polisi." Lilies terisak-isak dalam kalimatnya. "Kumohon Austin, tangkap Yolanda. Balasan dendamku padanya."
"Tidak seluruhnya salah Yolanda, jika kau juga mengikuti perkataanku." timpal Austin mengusap punggung sepupunya.
"Berubahlah untuk menjadi yang baik, aku akan menyewa pengacara untukmu."
"Aku bukan orang jahat, Austin. Aku hanya membuat produk seperti perusahaan lainnya. Bukan hanya perusahaan ku yang melakukan ini." ungkap Lilies.
__ADS_1
"Kau masih saja keras kepala. Aku tidak tahu bagaimana nanti jika Mommy Moona mendapati mu duduk di penjara seperti ini."
Direktur Lilies terdiam mencerna kata-kata sepupunya. Selama ini ia memang sangat keras kepala dan kerap berselisih pendapat dengan Austin karena tentunya kesalahan yang ia perbuat.
"Maafkan aku." Kali ini ucapan maaf keluar dari bibir Lilies. "Bawa aku keluar dari tempat ini dan aku akan menurut padamu."
"Good Girl." Austin mengusap kepala Lilies. "Aku akan mengurus yang terbaik untukmu. Kau tenang saja."
Setelah waktu yang diberikan habis, Lilies kembali dibawa oleh polisi jaga untuk masuk ke dalam sel. Austin dan sopir ya pun segera pergi dari kantor polisi.
"Kita akan kemana, Den?" tanya Pak Mamat.
"Ke hotel saja. Aku butuh istirahat. Pekerjaanku juga sangat menumpuk. Besok pagi baru aku akan mengunjungi Minerva." jawab Austin yang terlihat sudah sangat lelah memikirkan masalah sepupunya.
...☘️☘️☘️...
Yolanda segera mengemas meja kerjanya saat melihat jam di ruangannya menunjukkan pukul empat sore. Tiba-tiba ponsel Yolanda berdering dan muncul notifikasi pesan dari Andre.
^^^Andre^^^
^^^Buruan ke lobby, Tuan Dwayne udah nunggu. Kata dia pulang bareng mumpung satu arah.^^^
Yolanda
Setelah membalas pesan dari Andre, Yolanda buru-buru turun ke lobby. Tapi ia tidak menemukan Dwayne dan juga Andre. Ia pun menuju parkiran mobil dan tidak ada tanda-tanda mobil Tuan Dwayne terparkir di sana.
Yolanda
Kamu dimana? Aku udah di lobby.
Yolanda menunggu balasan dari Andre sambil bertanya pada satpam yang menjaga di Lobby.
"Liat Andre gak pak?" tanya Yolanda.
"Tadi sih berdiri di sini sebentar terus pergi sama Tuan Dwayne." jawab Pak Satpam.
Yolanda langsung berbalik dan keluar dari lobby sambil menggerutu kesal. "Dasar yaaa. Emang orang gak tau diri. Katanya nungguin, tapi udah pergi. Awas aja ntar, aku bakal ngerjain kalian berdua."
__ADS_1
Yolanda langsung mengetikkan pesan untuk Andre.
Yolanda
Dasar orang gila!!! Besok lagi gak usah sok sokan nungguin kalo ujung ujungnya kamu tinggal!!!
Sedangkan Andre yang sedang memegang kemudi belum membuka pesan dari Yolanda.
"Andre, antarkan aku ke apartemen saja. Barang-barangku yang ada di hotel nanti tolong kamu ambil. Sepertinya aku tidak akan kembali ke hotel karena mama akan mengunjungiku." ucap Dwayne setelah membaca pesan dari mamanya yang akan berkunjung ke apartemen.
"Nyonya akan berkunjung?" Andre memastikan ucapan Dwayne mengingat ia sudah membuat janji dengan Yolanda.
"Bukankah anda biasanya selalu membuat alasan ketika Nyonya akna berkunjung? Anda selalu malas jika Nyonya bertanya kapan anda menikah." Andre berusaha membuat Dwayne agar tidak bertemu dengan mamanya.
"Kali ini aku sudah punya jawaban saat mama bertanya padaku. Jika kau masih ingin menikmati fasilitas hotel, gunakan saja sampai esok." ucap Dwayne.
Mendengar tawaran Dwayne, Andre pun langsung bersemangat. Artinya, ia bisa terus mendekati Minerva, mengenalnya lebih dekat lagi, dan tentunya ia akan menang satu sampai lima langkah lebih cepat dari pada Tuannya sendiri.
"Terima kasih banyak, Tuan. Anda sangat baik sekali. Saya akan menikmati fasilitas hotel sepuas-puasnya." jawab Andre bersemangat.
Sesampainya di apartemen Dwayne, Andre pun memarkirkan mobil Tuannya dan menuju ke hotel menggunakan motor sportnya yang ia sengaja tinggal di parkiran apartemen Dwayne.
Sepanjang perjalanan ke hotel, Andre terus saja membayangkan bagaimana jika Minerva duduk di belakangnya dan memeluknya hingga Andre terkekeh sendiri. Ia pun langsung menuju ke salon untuk memangkas rambut gondrongnya.
Tidak hanya itu, Andre pun sengaja membeli kaos dan celana baru untuk bertemu dengan Minerva malam ini.
"Waaah, sepertinya Tuan tampan ini akan berkencan dengan pacarnya ya?" tanya salah satu pegawai butik.
"Apa aku terlihat tampan?" Andre balik bertanya pada pegawai butik.
"Tentu saja, Tuan. Anda bisa melihatnya sendiri di cermin. Outfit yang anda pilih juga sangat cocok dengan anda." puji pegawai butik membuat Andre makin percaya diri.
"Terima kasih atas pujianmu."
"Apalagi jika anda memakai salah satu produk parfum dari kami. Pasti membuat anda semakin cool dengan wangi maskulin di tubuh anda. Dan kami pastikan pacar anda akan sangat suka berada di dekat anda." Kali ini pegawai butik mulai meluncurkan promosinya.
"Baiklah, pilihan aku satu parfum yang harumnya disukai kaum hawa." pinta Andre.
__ADS_1
Pegawai tadi langsung memilihkan parfum untuk Andre dan Andre langsung membayar semua belanjaannya kali ini.