Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Keluar dari Bui


__ADS_3

Sesampainya di Ruang inap Mommy Moona, Minerva bertemu dengan Tante Risa, Mama Dwayne yang sedang menjenguk Sahabatnya. Tante Risa langsung tersenyum melihat kedatangan Minerva.


"Hai sayang, waaaah, mama tidak mengira bisa bertemu denganmu di sini." Risa langsung berdiri memeluk Minerva.


Minerva pun membalas pelukan Mamanya Dwayne. "Hai Tante. Nice to meet you." sapa Minerva.


"Ini gadis cantik yang aku ceritakan padamu tadi, Risa." ucap Mommy Moona.


Minerva langsung duduk di sofa bersama Austin, sedangkan Risa kembali duduk di kursinya tadi.


"Waaaah aku sangat senang mendengarnya. Ternyata kita satu selera ya." timpal Risa dan Moona hanya tersenyum.


"Baiklah Moona, aku pamit dulu ya. Nanti aku akan mengunjungimu lagi."


"Minerva, lain kali kau harus main ke Mansion mama ya. Nanti mama akan meminta Dwayne untuk membawamu."


Minerva hanya tersenyum dan mengangguk. Risa pun bergegas meninggalkan ruangan Moona. Setelah Risa pergi, Austin dan Minerva pun mendekat ke arah Moona.


"Kau tampak sangat cantik, Minerva." puji Moona. "Kau tahu sayang, Hari ini Mommy sudah lebih baik dari kemarin. Bahkan dokter saja sangat takjub dengan perkembangan Mommy." ucap Moona dengan raut wajah yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.


"Aku sangat senang mendengarnya tante. Semoga tante cepat pulih dan diperbolehkan pulang. " balas Minerva.


"Mommy sungguh menantikan hal itu, Minerva. Oh iya, kau harus juga harus datang berkunjung ke Mansion Mommy ya jika Mommy sudah pulih nanti." pinta Mommy Moona dan Minerva langsung mengangguk setuju.


"Apa keberadaanku di sini tidak terlihat oleh Mommy? kenapa Mommy hanya mengajak Minerva bicara bahkan Mommy tidak melihat ke arahku sama sekali?" gerutu Austin.


"Hai, kenapa kau tidak bekerja dan malah berdiri mematung di sini, Austin?" tanya Mommy Moona.


"Segeralah pergi bekerja, Austin. Mommy yakin Minerva bisa menjaga Mommy dengan baik."


Kata-kata Mommy Moona terdengar seperti mengusir Austin dengan sangat jelas.


"Mom!" Austin sangat terkejut mendengar Mommy nya lebih memilih mengusirnya dari pada memintanya untuk tetap tinggal menemaninya.


"Aku tidak salah dengar kan? Bahkan Mommy juga tidak minta persetujuan dari Minerva apakah dia mau menjaga Mommy atau tidak." ucap Austin sedikit kesal.


"Kak, aku sendiri yang manawarkan diri untuk menjaga Tante Moona. Karena aku sangat paham jika kau sibuk." Kali ini Minerva angkat bicara agar Austin tidak menyalahkan Mommy nya.


"Pergilah bekerja kak, Tante Moona akan baik - baik saja bersamaku."


Kali ini Austin menyerah karena sekarang Minerva juga mengusirnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku pamit ya Mom." Austin menyalami tangan Mommy nya dan langsung keluar dari ruangan.


PoV Austin


Aku sangat tidak paham dengan Mommy kali ini. Bisa-bisanya dia lebih memperhatikan Minerva dari pada aku sendiri. Bahkan dia sampai terkesan tidak melihat ke arahku sama sekali.


Apa sekarang kehadiranku begitu tidak berarti untuk Mommy? Bukankah Mommy kembali ke sini karena ingin dekat dengan putranya sendiri?


Tapi tunggu, sepertinya aku sudah salah terka. Mommy sudah sangat mendambakan seorang menantu. Ya! Itu adalah alasan Mommy lebih memperhatikan Minerva.


Ya Ampuuuun, kenapa aku baru sadar jika Mommy ternyata selangkah lebih maju dari pada aku?


Aku sangat mendukungmu, Mommy. Aku yakin kau akan membantu putra kesayanganmu untuk mendapatkan Minerva. Hanya saja ini sedikit lucu. Tante Risa yang cerewet itu juga pasti mendambakan Minerva menjadi menantunya.


Bagaimana bisa mereka berdua sama-sama bersaing seperti aku dan Dwayne? Aneh sekali persahabatan mereka.


...♦️♦️♦️...


Sedangkan di sisi lain, Dwayne dan Andre menuju ke Kantor Polisi mengurus pencabutan gugatan yang ditujukan kepada Lilies. Dwayne langsung menemui KaPolRes Ruben dan mengemukakan niat kedatangannya.


Tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk melakukan itu karena Ruben juga sudah diberitahu sebelumnya. Setelah urusan selesai, Dwayne langsung menghubungi Austin untuk segera menjemput Lilies. Tapi karena Austin benar-benar sangat sibuk, kini Amer yang datang untuk menjemput Lilies.


"Baik, Tuan Dwayne. Saya akan segera membawa Lilies menuju ke Kantor anda." ucap Amer.


Dwayne pun langsung meninggalkan kantor polisi dan segera kembali ke perusahaannya.


Amer kini masih setia menunggu Lilies keluar dari bui. Dia sudah menyiapkan pizza dan jus strawberry kesukaan Lilies. Sudah satu jam menunggu, akhirnya Lilies keluar dan langsung menemui Amer.


"Amer, benarkah Dwayne sudah mencabut tuntutannya terhadapku?" tanya Lilies setengah tidak percaya.


"Benar Nona. Dan dia meminta kita segera bertemu dengannya setelah ini di perusahaannya untuk membicarakan persyaratan yang harus anda penuhi." jawab Amer.


Lilies pun tersenyum dan langsung menggandeng tangan Amer. "Ayo Amer, cepat bawa aku pergi dari sini."


Dengan sigap Amer pun langsung membawa Lilies menuju ke mobil.


"Saya membawakan makanan kesukaan anda, Nona. Anda pasti sangat lapar."


Amer menyodorkan pizza dan jus strawberry kepada Lilies dan mata Lilies pun langsung berbinar.


"Terima kasih, Amer. Kau benar-benar sangat mengerti aku." Lilies langsung menerima pemberian Amer dan memakannya.

__ADS_1


Sedangkan Amer langsung menjalankan mobilnya menuju ke Perusahaan milik Dwayne. Kali ini Lilies benar-benar terlihat sudah jera dengan segala yang ia perbuat.


"Amer, tidak bisakah kau pinjam aku uang untuk membeli baju di butik? aku tidak mungkin kan datang ke Kantor Dwayne dengan pakaian tahanan seperti ini." pinta Lilies.


"Baik Nona, kita akan segera menuju ke butik Nyonya Moona." Amer pun akhirnya mengajak Lilies ke butik milik Tante Moona.


Lilies juga tidak banyak bicara selama perjalanan. Dia sudah sangat lega tidak berada di dalam tahanan lagi.


Sesampainya di butik milik tante nya sendiri, Lilies langsung memilih baju dan segera mengganti baju tahanannya di ruang ganti. Setelah itu ia menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya agar tidak terlihat lusuh di depan Dwayne.


"Tunggu, Nona." cegah Amer dan Lilies langsung berbalik.


"Sepertinya anda membutuhkan beberapa peralatan make up ini. Meskipun mungkin saya..."


Lilies langsung merebut alat make up yang dibawa Amer. "Kau benar-benar sangat mengerti aku, Amer. Lama-lama aku bisa jatuh cinta padamu."


"Aku akan segera kembali menemuimu. Tunggu aku di mobil." ucap Lilies membuat Amer kini tersipu malu.


Amer benar-benar tidak menyangka Lilies mengatakan hal tentang cinta padanya. Wajah Amer seketika langsung merona. Ia pun berbalik dan langsung menuju ke mobil.


Sedangkan Lilies kini tengah mencuci mukanya dan membuka perlengkapan make up yang diberikan oleh Amer tadi.


"Ya Ampuun, Amer. Ini kan make up Yang sering aku pakai. Bagaimana dia bisa tahu." gumam Lilies sambil mulai memoles wajahnya.


"Amer, kau benar-benar sangat mengerti aku." tak terasa air mata Lilies mulai berlinang.


Setelah Lilies selesai merias wajahnya, ia pun segera keluar dari butik dan menuju ke mobil yang dikendarai Amer.


Lilies yang awalnya tadi duduk di belakang, kini memilih duduk di depan di samping Amer.


"Nona," panggil Amer terkejut melihat Bosnya duduk di samping kemudi.


"Kenapa? Aku cantik bukan?" Lilies kini mendekatkan tubuhnya ke arah Amer dan membuat Amer salah tingkah dan langsung membuang mukanya.


"Sangat cantik, Nona." jawab Amer yang sudah tidak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.


"Silahkan dipakai seat beltnya, Nona. Kita akan segera menuju ke Kantor Tuan Dwayne. Anda pasti juga merindukannya, bukan?" ucap Amer menutupi rasa gugup nya.


Mendengar ucapan Amer, Lilies pun langsung mundur dan memasang seat beltnya.


"Bahkan untuk urusan perasaan pun kau sangat mengerti diriku, Amer. Tapi sayang kali ini kau salah!" ucap Lilies kesal dan membuang wajahnya keluar jendela.

__ADS_1


__ADS_2