
Dwayne terus saja mengikuti Minerva membeli beberapa makanan ringan dan minuman. Ia justru menawarkan dirinya untuk membantu barang belanjaan Minerva.
"Biar aku saja yang bawa keranjangnya. Kau pilih saja apa yang mau kau beli." ucap Dwayne memegang keranjang belanjaan yang dibawa oleh Minerva.
"Tidak perlu, Tuan. Itu pasti sangat merepotkan anda." tolak Minerva mengingat Dwayne adalah atasan Yolanda.
"Aku kali ini bukan Tuanmu! Berikan keranjangmu!" sanggah Dwayne dengan nada ketus sambil merebut keranjang belanja Minerva.
Minerva hanya mengedikkan bahunya melihat sikap Dwayne. "Pantas saja di ponsel Yolanda dituliskan namanya Direktur Ga-Nas. Ternyata kega-nasannya melebihi dugaanku." gumam Minerva dalam hati sambil terus berbelanja dan segera menuju ke meja kasir.
"Anda tidak jadi membeli sesuatu, Tuan?" tanya Minerva melihat Dwayne tidak membeli satu barang pun dari tadi.
"Oh iya, aku hampir saja lupa." jawab Dwayne yang langsung berbalik dan mengambil satu botol air mineral di lemari pendingin. Setelah itu ia bergegas menuju ke meja kasir.
"Air mineral?" tanya Minerva. "Bukankah di kamarku sangat banyak air mineral? Kenapa anda turun ke bawah hanya untuk membeli ini?"
"Benarkah?" Dwayne justru balik bertanya. "Kalau begitu aku ambil minuman yang lain saja."
Dwayne kembali menuju lemari pendingin dan mengambil minuman botol dan segera menuju ke meja kasir. Kali ini Minerva diam saja sambil menahan senyumnya melihat minuman yang diambil Dwayne adalah jamu pereda nyeri haid.
Minerva sudah selesai membayar barang belanjaannya dan kini giliran Dwayne membayar minumannya.
"Anda membeli ini, Tuan?" tanya kasir tersebut dengan raut muka heran.
"Tentu saja."
"Tapi minuman ini untuk siapa, Tuan?" tanya kasir lagi membuat Dwayne jengah.
"Bisa diem gak? Tentu saja untuk ____"
"Buat pacarnya mbak. Pacar Tuan ini sedang datang bulan dan memerlukan minuman ini." jawab Minerva memotong ucapan Dwayne.
Kini giliran Dwayne yang terkejut dan sangat malu setelah mengetahui bahwa minuman yang diambil adalah jamu pereda nyeri haid. Setelah membayar jamu peredam nyeri haid, Dwayne langsung mensejajarkan jalannya di samping Minerva.
"Saya baru tahu, ternyata Bos Besar seperti anda juga pandai melucu." tukas Minerva.
__ADS_1
"Aku hanya salah mengambil botol." balas Dwayne menyembunyikan rasa malunya.
"Kenapa anda tidak menukarnya?" tanya Minerva sambil menekan tombol lift.
"Aku hanya harus segera bertemu dengan Yolanda dan menanyakan informasi yang didapat olehnya. Waktuku tidak banyak jika harus kembali menukar botol." jawab Dwayne yang sebenarnya sangat takut jika Minerva kembali meninggalkannya.
"Dasar Aneh! Kalau begitu kenapa anda susah-susah turun ke bawah dan mengikutiku berbelanja jika waktumu tidak banyak, Tuan?"
Ucapan Minerva kali ini membuat Dwayne terdiam seribu bahasa. Sampai keduanya berada di dalam lift pun tidak lagi saling berbicara. Padahal banyak hal yang ingin Dwayne tanyakan tentang Minerva.
Sampai keduanya sampai di pintu kamar pun masih sama-sama terdiam. Minerva membuka pintu kamar dan melihat Yolanda meringkuk di ujung sofa sambil memegangi perutnya.
"Hai Yolanda, ada apa denganmu?" tanya Minerva yang langsung mendekat dan memeriksa keadaan Yolanda.
"Aku tidak tau Minerva, setelah membuka laptopnya tiba-tiba ia meringkuk seperti itu dan tidak menjawab pertanyaanku." jelas Andre yang terlihat sedikit panik.
"Apa kau sedang dismenorea?" tanya Minerva dan Yolanda menganggukkan kepalanya.
"Andre, bisa kau membantuku membawa Yolanda ke tempat tidur?" tanya Minerva dan Andre langsung sigap memapah Yolanda menuju tempat tidur.
"Tentu saja." Dwayne pun menyodorkan botol yang sudah membuat dirinya sangat malu di hadapan Minerva.
Minerva segera memberi jamu pereda nyeri pada Yolanda dan memberi pijatan relaksasi untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh Yolanda hingga ia tertidur.
Kini Minerva pun kembali menemui Tuan Dwayne dan Andre setelah menyelimuti Yolanda. Ia menceritakan apa yang terjadi pada Yolanda yang disekap di gudang belakang ruang produksi.
Tidak hanya itu, Minerva juga menceritakan apa yang ia alami di ruang produksi saat Dwayne datang ke Lies Food Company dan memeriksa di ruang pengemasan makanan.
Mendengar cerita dari Minerva membuat Dwayne makin menggebu-gebu untuk melaporkan kegilaan Direktur Lies, terlebih Minerva juga hampir kehilangan nyawa yang kedua kalinya karena Direktur Lilies.
Andre langsung mengecek beberapa barang bukti yang sempat dikumpulkan Minerva dari ruang produksi, gambar dan kumpulan video yang sempat terekam oleh Minerva.
"Bukti-buktinya sangat lengkap, Tuan. Kita bisa langsung melaporkan kejadian ini sesegera mungkin. Terlebih tadi saya melihat ada berita viral di media sosial tentang beberapa anak yang mengeluh tenggorokan sakit setelah mengkonsumsi Lies Snack, produk dari Lies Food Company." jelas Andre sambil terus mengcopy bukti dalam laptop tersebut ke dalam beberapa flashdisk.
"Kerja bagus, Minerva. Kau benar-benar berhasil mengumpulkan bukti bukti yang sangat jelas ini." puji Dwayne sambil melihat hasil tangkapan gambar dan rekaman Yolanda dan Minerva.
__ADS_1
"Rekamanmu sangat jelas dan padat, bagaimana kau bisa merekam sehebat ini tanpa diketahui oleh karyawan lainnya?" tanya Dwayne yang sangat kagum dengan hasil rekaman Minerva.
Tidak ada jawaban dari Minerva membuat Dwayne melirik ke arah Minerva yang ternyata sudah terlelap dengan menyandarkan dirinya di sofa.
"Andre, kau urus semuanya dan jaga Yolanda dengan baik. Aku akan menidurkan Minerva di kamar yang aku pesan." ucap Dwayne yang langsung mengangkat tubuh Minerva dan membawanya ke kamar 709.
Minerva tampak benar-benar sudah terlelap dalam tidurnya saat Dwayne merebahkan Minerva dan kemudian menyelimuti tubuhnya.
"Kau tidak berubah sama sekali, Minerva. Masih seperti yang dulu. Cantik dan sangat mengemaskan." batin Dwayne yang terus memandangi wajah Minerva.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu dan makin mencintaimu, Minerva. Apakah kau tidak mengingatku sedikit pun?" batin Dwayne.
Kali ini ia tidak ingin melewatkan kesempatan bersama Minerva. Hingga Dwayne pun tertidur tepat di samping Minerva.
...***...
Di sisi lain, kini Direktur Lilies, Romy, dan juga Amer tengah kebingungan menanggapi berita yang sedang viral akibat makanan yang di produksi oleh Lies Food Company. Tak lama kemudian, Austin pun datang memenuhi panggilan sepupunya.
"Kita harus lawan berita viral yang menjatuhkan produksi kita. Amer, segera cari lima orang anak dan buat video iklan bahwa produksi kita aman untuk kalangan mereka." perintah Direktur Lilies yang saat ini tengah kalut.
"Romy, kau harus menangkap anak dan orang tua yang menjatuhkan bisnis kita ke hadapanku. Aku sendiri yang akan memaksanya untuk meminta maaf." perintah Lilies pada Romy.
"Lilies semakin kau tutupi kesalahanmu, kau pasti akan merasa tidak tenang sepanjang harimu. Kau akan terus dihantui dengan rasa bersalah, Lilies."
"Kau hanya perlu mengganti bahannya saja yang berbahaya dengan bahan makanan yang sehat. Setelah itu, aku pastikan kau akan meraih kesuksesanmu." jelas Austin dan Lilies masih saja keras kepala.
"Aku memanggilmu datang kemari bukan untuk menasehati aku, sepupu. Aku hanya ingin mengembalikan berkas milik Minerva padamu. Dan aku harap kau tidak begitu mencampuri urusan perusahaanku." balas Lilies.
"Baiklah, kau ternyata tidak butuh saran dan nasehatku."
"Berikan berkas milik Minerva. Aku akan menyimpannya dalam kantorku." pinta Austin kemudian dan setelah itu ia berbalik meninggalkan Lilies sendirian.
...🍒🍒🍒...
Hai Pembaca Setiaku, mampir yuk ke karya teman Author.
__ADS_1