
Yolanda sudah duduk di depan rias saat Andre masuk ke dalam kamar.
"Tuan Dwayne meminta aku untuk segera menemuinya di apartemen. Aku harus segera mandi. Kau tunggu disini." ucap Andre yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Yolanda hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Andre sama sekali.
'Nah, benar kan dugaan aku. Andre sama sekali tidak membahas masalah yang baru saja terjadi sebelum dia menerima telfon dari Tuan Dwayne.' gumam Yolanda dalam hati.
Kali ini ia merutuki kebodohannya yang sudah terbuai dengan permainan yang dia mulai sendiri.
...πΎπΎπΎ...
Sedangkan pagi ini, Austin mandi lebih awal dari Dwayne dan langsung menuju apartemen Minerva.
"Mau kemana?" tanya Dwayne melihat Austin sudah sangat rapi sepagi ini.
Austin tersenyum smirk menatap Dwayne. "Tentu saja menemui pujaan hatiku, Tuan Dwayne yang terhormat. Aku tidak mau menjadi orang bodoh seperti anda, maka dari itu Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas di depan mata."
Jawaban Austin membuat Dwayne seketika mengepalkan tangannya.
"Oh, iya. Satu lagi Tuan Dwayne. Terima kasih atas kebaikan anda kali ini. See you." ucap Austin sambil beranjak keluar dari apartemen Dwayne.
"Dasar Gila! Bisa-bisanya dia mengatakan aku bodoh!" gerutu Dwayne sambil bersungut-sungut menyambar handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Dwayne melepas semua pakaiannya dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. Tapi kini ia kembali kesal saat mengetahui sabun mandinya dan juga shamponya habis.
"Duuuh, aku bahkan tidak tahu jika sabun dan shampo ku sudah habis." keluh Dwayne dan langsung mengambil handuknya pindah ke kamar mandi yang satu.
Ternyata sabun dan shampo disitu juga sama. KOSONG.
"Perasaan Aku baru saja mengisinya kemarin. Kenapa cepat sekali habis?" gerutu Dwayne yang kali ini terpaksa mandi tanpa sampho dan sabun.
...π π π ...
Sedangkan Austin kini sudah duduk manis di pantry dan menunggu Minerva yang sedang memasak nasi goreng.
"Waaaah, bau masakan kamu aja udah menggugah selera." puji Austin.
"Diiih, bisa aja kakak." timpal Minerva.
Tanpa menunggu lama, nasi goreng buatan Minerva sudah siap di atas meja.
__ADS_1
"Kok ada 3 piring?" tanya Austin.
"Tentu saja, karena Minerva juga mengundangku untuk sarapan bersamanya." jawab Dwayne yang tiba-tiba muncul dari belakang Austin dan duduk di sampingnya.
Kedatangan Dwayne tidak hanya membuat Austin dan Minerva sama-sama terkejut.
"Kak Emir! Bagaimana kau bisa masuk begitu saja tanpa memanggilku atau memencet bel?" tanya Minerva.
Dwayne tersenyum kecil mendengar pertanyaan Minerva. "Bukankah kau sendiri yang memberikan passwordnya padaku?"
"Haaaaah???!!!" Austin menatap Minerva dengan tatapan penuh pertanyaan.
Sedangkan Minerva menepuk jidatnya sendiri. Dia baru ingat kalau kemarin Dwayne memang sudah menanyakan password pintu apartemennya.
"Kakak kemarin menjebakku ya?" tanya Minerva pada Dwayne sambil menepuk bahu Dwayne.
"Aku tidak menjebakmu, karena aku hanya ingin menjagamu, Minerva. Aku sama sekali tidak ingin terjadi apa-apa denganmu." jawab Dwayne sengaja membuat Austin kesal.
Dwayne menarik tangan Minerva untuk duduk di sampingnya. "Yuk, sarapan. Aku sudah lapar."
Austin kini benar-benar kebakaran jenggot dan mencoba mencari cara agar Dwayne tidak lebih unggul dari dia.
"Dwayne!" panggil Austin. "Kau sudah mandi bukan?" tanya nya kemudian. "Tapi kenapa tidak ada bau harum dari tubuhmu?"
"Mana ada? Apa kau tidak mencium bau harum di tubuhku?" Tanya Dwayne yang sudah menyemprotkan parfum ke tubuhnya.
"Sepertinya penciuman Kak Austin sedang bermasalah ya?" tanya Minerva sambil mengunyah nasi goreng buatannya sendiri. Bagi Minerva harum tubuh Dwayne bahkan sangat menyengat menusuk dalam penciumannya.
Dwayne terkekeh mendengar celetukan Minerva yang terdengar membelanya. Kini terlihat bahwa Minerva ada di pihaknya.
Sedangkan Austin tidak tinggal diam. "Ini jelas bau parfum yang sangat menyengat bukan? Tidak ada wangi sabun atau shampo sedikit pun." timpal Austin yang dengan santainya mulai menyantap nasi goreng.
Ternyata saat bangun pagi tadi, Austin tidak menemukan sabun di kamar mandi dan ia langsung masuk ke kamar mandi di kamar Dwayne untuk menukar tempat sabun yang kosong saat Dwayne masih terlelap. Tidak hanya itu, Austin juga sengaja menghabiskan sabun dan shampo Dwayne.
Dwayne langsung meletakkan sendoknya dan menatap tajam ke arah Austin. "Kaaau!" pekik Dwayne kesal. Kini ia sadar Austin sedang mengerjainya. Pantas saja Austin mengucapkan terima kasih tadi.
Austin tertawa dan Minerva hanya menggelengkan kepalanya. Minerva sama sekali tidak paham dengan apa yang Austin dan Dwayne bicarakan.
"Kalian ini kenapa sih. Yuk buruan dihabiskan sarapannya. Kalian harus segera bekerja bukan?" tanya Minerva.
Dwayne pun melanjutkan sarapannya dengan bersungut-sungut. Sedangkan kali ini giliran Austin yang membuat Dwayne salah tingkah di depan Minerva.
__ADS_1
"Minerva, kau tau. Sabun dan shampo milik Dwayne sudah habis saat aku pakai tadi. Dan aku yakin dia mandi tidak menggunakan itu."
Kata-kata Austin langsung ditimpali oleh Minerva. "Oooooh, jadi itu alasannya. Kak Emir mau mandi lagi? Aku ada stok sabun dan shampo kok." tawar Minerva yang langsung membuat pipi Dwayne seketika merah padam.
"Tidak perlu, aku akan segera pergi ke kantor. Andre sudah menunggu ku di Loby." jawab Dwayne yang buru-buru menghabiskan sarapannya.
"Aku sudah selesai. Terima kasih atas sarapannya pagi ini, Minerva. Aku berangkat dulu." pamit Dwayne.
"Dan kau!" Dwayne menunjuk ke arah Austin. "Tidak akan kuperkenankan lagi berkunjung ke apartemenku!" sarkas Dwayne kesal dan Austin justru tertawa terbahak-bahak.
"Aku justru sangat suka itu, karena aku akan menginap di apartemen Minerva." jawab Austin yang tidak dihiraukan Dwayne sama sekali.
Austin tersenyum atas kemenangannya pagi ini. Tidak tidak menyangka bahwa bersaing dengan Dwayne begitu menyenangkan.
Setelah Minerva selesai sarapan, Austin mengajaknya untuk menemui Mommy Moona.
"Apa hari ini kau ada acara?" tanya Austin dan Minerva langsung menggeleng.
"Kakak mau mengajakku menemui Tante Moona?" tanya Minerva balik dengan matanya yang berbinar.
"Apa kau bersedia untuk mengunjungi Moomy lagi?'
"Tentu saja. Tunggu, aku akan mengambil tasku dulu." Minerva langsung masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas dan merapikan rambutnya. Setelah itu ia pun langsung menuju ke rumah sakit bersama dengan Austin.
"Kau masih mengenal Daddy ku kan?" tanya Austin yang sudah mulai mengemudikan mobilnya.
"Tentu saja. Ada apa dengan Tuan Arthur?" timpal Minerva.
"Dia akan tiba besok pagi dan kemungkinan akan tinggal di Indonesia menemani Mommy."
"Emmm, Minerva. Bagaimana jika besok kita berdua yang menjemput Daddy di bandara?"
Minerva terdiam sesaat mendengar tawaran dari Austin. Kali ini ia merasa belum siap jika harus bertemu dengan Daddynya Austin yang dulu pernah berkali-kali hampir mencelakainya. Terlebih Minerva juga belum siap jika Tuan Arthur mengetahui bahwa dia masih hidup dan kemudian memberi informasi pada Titan Mack yang sampai saat ini masih menjadi musuhnya.
"Emmm kak, sepertinya aku tidak siap bertemu dengan Tuan Arthur." jawab Minerva.
Austin menghela nafasnya pelan, "Oh, baiklah Minerva. Aku paham kau masih trauma dengan beberapa kelakuan Daddy yang mengira kau mendapatkan sistem dari langit."
"Daddy memang pernah berbuat salah padamu. Ku mohon maafkanlah Daddy. Aku berjanji Daddy tidak akan berbuat seperti itu lagi padamu, Minerva." pinta Austin.
"Aku sudah memaafkannya kak. Lagi pula itu hanya salah paham saja." jawab Minerva.
__ADS_1
Kini keduanya terdiam sampai mereka tiba di rumah sakit.