Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Penyesalan


__ADS_3

Dengan semangat 45, Amer langsung menemui Pak Mamat yang duduk di taman dekat parkiran mobil.


"Ayo pak kita ke kantor polisi." ajak Amer. "Kali ini saya aja yang bawa mobilnya. Bapak duduk saja yang manis."


"Oke Den, Waaah Den Amer semangat sekali ini. Kayak mau ngapelin cewek aja." timpal Pak Mamat yang kemudian membuat Amer nyengir kuda.


"Tau aja Pak Mamat."


Mereka berdua langsung menuju ke mobil. Dan mobil yang dibawa Amer langsung melesat membelah jalanan kota yang lumayan padat. Amer saat ini memang sangat merindukan Lilies, terlebih selama bertemu Lilies dan menjadi karyawannya, Amer selalu saja menghabiskan waktu bersama Lilies. Meskipun dengan tanda kutip bekerja dan bukan yang lain.


Amer sangat paham kesalahan yang telah dibuat oleh Lilies, tapi dia sendiri tidak pernah memandang Lilies sebelah mata karena Lilies selalu memberikan gaji kepada karyawannya di atas rata-rata.


Sesampainya di kantor polisi, Lilies yang sudah menunggu kehadiran Austin langsung menghambur dan memeluk Amer dengan sangat erat. Sedangkan Amer yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Lilies langsung salah tingkah.


Muka Amer seketika merona merah dan jantungnya berdegub dengan sangat kencang. Dengan sedikit keberanian, Amer pun membalas pelukan Lilies dan mengusap punggungnya.


"Aku sangat menyesal dengan semua yang aku perbuat, Amer. Aku kapok Sudah tidak mendengarkan Austin setiap kali dia menasehati ku." isak Lilies yang kali ini membuat Amer sangat terkejut.


Awalnya Amer mengira bahwa Lilies salah memeluk orang karena Amer sangat paham bahwa orang yang sedang ditunggu oleh Lilies adalah sepupunya, Austin. Amer kini lebih mengeratkan pelukannya pada Lilies.


"Percayalah Nona, anda tidak akan lama mendekam di dalam penjara. Karena saya yakin bahwa anda adalah wanita yang baik." ucap Amer menenangkan Lilies.


"Kau berbohong! Aku jahat Mer. Aku sangat jahat. Bahkan kau sangat paham dengan kejahatan yang sudah aku lakukan." ucap Lilies.


Amer melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Lilies. "Terkadang anda sendiri tidak menyadari kebaikan yang sudah anda lakukan, nona. Perjuangan anda saat ini juga untuk mengurangi pengangguran di negara kita bukan? Bahkan anda memberi kami gaji di atas rata-rata." tukas Amer membuat Lilies tertegun. Baru kali ini ada seseorang yang menilainya baik.


"Maafkan aku, Amer. Seharusnya aku memikirkan kalian semua jika perusahaanku terkena masalah seperti saat ini. Aku benar-benar sangat menyesal. Aku yakin, Dwayne pasti akan memberi tuntutan yang kejam atas semua hal yang sudah aku lakukan." isak Lilies.


Amer benar-benar merasa iba terhadap keadaan Lilies saat ini. Area Matanya terlihat sangat cekung dan menghitam. Sudah dapat dipastikan bahwa Lilies sering menangisi keadaannya yang sekarang dan membuat dirinya jarang tidur.

__ADS_1


"Tuanku tidak sejahat yang anda duga, Nona Lilies." ucap Andre yang tiba-tiba datang bersama dengan Yolanda dari balik pintu.


Melihat kedatangan Yolanda, Lilies langsung bersimpuh tepat di kaki Yolanda sambil meminta maaf dan mengungkapkan segala rasa penyesalannya.


"Maafkan aku, Yolanda. Maafkan aku yang sudah berlaku jahat padamu. Aku benar-benar sangat menyesal sudah melakukan kejahatan padamu. Aku mohon maafkan aku Yolanda." ratap Lilies di kaki Yolanda sampai membuat Yolanda tidak enak hati.


Yolanda langsung mengangkat tubuh Lilies dan mendudukkannya di kursi. Lilies kali ini terus menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Lilies sama sekali.


"Aku benar benar sangat menyesal. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf padamu, Yolanda. Bahkan jika kau meminta aku untuk menjadi pelayan mu pun aku mau, asalkan keluarkan kau dari tempat ini. Aku mohon Yolanda." pinta Lilies yang masih terus menundukkan kepalanya.


"Aku sudah memaafkan anda, Nona. Yang jelas pesan dari Tuan Dwayne, dia akan mencabut tuntutannya dengan syarat tertentu yang akan Tuan berikan kepada anda nanti." jelas Yolanda.


Lilies langsung menganggukkan kepalanya dan menyetujui apa saja syarat yang akan diberikan oleh Dwayne.


Waktu yang diberikan oleh pihak kantor polisi untuk berkunjung pun habis. Kini Lilies harus kembali lagi ke dalam sel. Raut wajah Amer pun langsung berubah menjadi sendu.


Amer dan Pak Mamat pun langsung kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mommy Moona dan melaporkan keadaan Lilies pada Austin. Sedangkan Andre dan Yolanda pun kembali ke kantor mereka.


"Sepertinya ada yang mulai jatuh cinta nih sama penampilan aku." celetuk Andre membuat Yolanda terkesiap dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Diiih, narsis amat jadi orang.." timpal Yolanda sedikit tidak terima.


"Jelas dong, abis dari tadi aku liat kamu curi-curi pandang terus sama aku." ucap Andre sambil menatap ke arah Yolanda. "Kenapa? Aku tampan ya?"


"Mana ada tampan, bahkan level ketampanan seorang Andre itu jauh di bawah rata-rata. Apalagi kalau dibandingkan dengan Tuan Dwayne." balas Yolanda.


"Oh yaaaa?"


"Tapi kau sepertinya harus siap sakit hati jika mencintai Tuan Dwayne. Kau tahu kenapa?" tanya Andre dan Yolanda langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Karena Tuan Dwayne mencintai Minerva. Bahkan bukan hanya Tuan Dwayne, Tuan Austin pun juga mencintai Minerva. Dan mereka berdua sudah menyatakan diri untuk bersaing secara sehat."


"Dan aku tadi adalah saksi bisu persaingan antara mereka berdua." ucap Andre yang justru membuat Yolanda tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.


"Hei, kenapa kau justru tertawa? Dasar aneh." gerutu Andre mengerutkan dahinya melihat sikap Yolanda yang dirasanya tidak waras.


"Ayolah Andre. Ini jelas bukan aku yang sakit hati, tapi kamu!" ucap Yolanda ditengah tawanya.


"Aku sadar diri sejak Awal mengagumi Tuan Dwayne, aku seperti pungguk merindukan bulan." Yolanda membuang nafasnya kasar.


"Apalagi setelah mendengar ceritamu tadi, jelas saja aku tidak bisa bersaing dengan Minerva. Kau lihat sendiri kan kecantikan Minerva itu juah di atas rata-rata. Apalagi kebaikannya." tambah Yolanda.


"Aku kini juga sadar jika diriku juga tidak mampu bersaing dengan Tuan Dwayne dan Tuan Austin. Tapi aku tetap menerima dengan tangan terbuka jika Minerva nantinya akan memilih ku." Andre masih saja menyelipkan kalimat pengharapannya terhadap Minerva.


Yolanda kini hanya mencebik mendengar kata-kata Andre yang masih mengharapkan Minerva.


"Kau sampai kapan akan tinggal di hotel?" tanya Andre kemudian.


"Sepertinya sampai akhir pekan ini. Setelah itu aku akan kembali ke kontrakan, sepertinya keadaan sudah aman." jawab Yolanda.


"Baiklah, aku juga akan menikmati fasilitas yang Minerva tinggalkan untukmu, boleh kan?" tanya Andre.


"Hei, untuk apa? Tidak bisa! Mana mungkin aku tidur bersamamu." gerutu Yolanda.


"Yaa Ampuuuun Yolanda, kamu nih nethink mulu ya. Aku kan bisa tidur di sofa. Siapa juga yang mau tidur sama kamu."


"Aku cuma butuh teman untuk mengobati rasa sakit hati aku."


Yolanda memutar bola matanya malas. "Beuuuh, kamu mah hobinya nyusahin emang." gerutu Yolanda.

__ADS_1


Tak lama kemudian mereka sampai di EOEB.


__ADS_2