
Romy kini sudah mulai tenang setelah mengetahui bahwa semua karyawan produksi selamat. Ia pun langsung menghubungi tim medis perusahaan untuk mengecek keadaan para karyawannya. Sedangkan Minerva kini berjalan menuju kantin untuk membeli air mineral.
"Minerva," panggil Austin. "What's happened with you." tanya Austin saat melihat raut wajah Minerva yang terlihat sangat pucat.
Minerva kini duduk di depan Austin sambil meneguk minumannya. "Aku baru saja berolahraga, Kak." jawab Minerva.
"Berolahraga?" tanya Austin sambil mengerutkan dahinya. "Apa yang kau maksud? Katakan padaku apa yang membuatmu terlihat sangat pucat?"
Minerva kini bimbang untuk menceritakannya pada Austin atau tidak. Ia pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak tahu bisa menceritakannya pada kakak atau tidak. Aku rasa hal yang aku alami kali ini sangat berat." gumam Minerva pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Apa kau sudah mengetahui rahasia besar perusahaan ini, Minerva?" tanya Austin yang sangat paham dengan produk yang dihasilkan oleh Lilies.
"Yap, aku baru saja ruang produksi." ucap Minerva yang kemudian menceritakan apa yang terjadi di dalam ruang produksi tadi.
Austin sangat terkejut setelah mendengarkan cerita dari Minerva terlebih saat mengetahui nyawa Minerva hampir saja melayang.
"Aku harus menghentikan kegilaan Lilies kali ini. Ia sudah sangat keterlaluan." ucap Austin yang langsung berdiri dan menuju ke ruangan Lilies. Sedangkan Minerva mengikutinya dari belakang.
Saat mengetahui Minerva mengikutinya dari belakang, Austin pun berhenti mendadak dan berbalik hingga Minerva menabrak dada bidang Austin.
"Minerva, lebih baik kau tunggu di kantin dan pesan makanan. Nanti aku yang akan bayar." ucap Austin. "Ada yang harus aku bicarakan dengan Lilies empat mata dengannya."
"Oke," jawab Minerva singkat dan kembali menuju ke kantin dan memesan makanan.
Austin pun langsung mempercepat langkahnya menuju ruangan Lilies. "Lilies!" panggil Austin kencang sambil membuka pintu ruangan sepupunya dan menutupnya kencang.
"Hentikan semua kerja gilamu! Kau hampir saja membunuh banyak orang hanya karena tingkah gilamu selama ini!" gertak Austin mengingat Minerva hampir saja menjadi korban.
"Oke oke, tenang dulu Austin. Aku juga baru mendengar kecelakaan ini dari Romy. Maafkan aku, aku salah. Aku hampir saja mencelakai Minerva." ucap Lilies mencoba untuk merayu Austin.
"Aku akan memaafkanmu dengan syarat kau harus menggunakan bahan-bahan yang benar untuk semua produksimu."
"Ayolah Austin, kau sangat mengenalku bukan. Itu jelas jelas sangat merugikan perusahaanku." sanggah Lilies yang tidak setuju dengan ucapan Austin.
"Begini saja, aku berjanji hal ini tidak akan terluang lagi untuk kedua kalinya. Dan aku akan melarang Minerva untuk masuk ke ruang produksi, jadi Minerva aku pastikan akan selamat. Bagaimana?" tanya Lilies mengajukan banding pada Austin.
__ADS_1
"Kamu hanya bisa pastikan Minerva selamat? Lalu bagaimana dengan anak-anak lain yang mengkonsumsi produkmu. Apa bisa mereka selamat?"
Lilies sedikit terkejut mendapati Austin berbicara dengan nada tinggi padanya. Selama ini Austin tidak pernah menggertaknya meskipun Austin tetap menasehatinya bahwa yang ia lakukan salah.
"Austin, aku tahu kau sangat mencintai Minerva. Dan aku sadar telah membuatnya celaka. Tapi yang terpenting kini Minerva baik-baik saja bukan? Dan aku juga sudah pastikan untuk ke depannya hal ini tidak akan terulang lagi."
"Aku mohon maafkan aku. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima saranmu terkait apa yang kau sampaikan tadi."
Austin kini mulai mengatur nafasnya dan duduk di sofa sambil menyandarkan bahunya.
"Lilies, apa kau tidak takut jika ini suatu saat akan terkuak? Aku hanya mengkhawatirkanmu." ucap Austin mengusap wajahnya kasar. Ia paham betul bahwa sepupunya yang satu ini sangat keras kepala.
"Tenang saja. Karyawanku sudah memiliki pedoman bahwa menjaga rahasia perusahaan sama seperti menjaga nyawa mereka." timpal Lilies yang sama sekali tidak memiliki rasa takut sedikit pun.
"Kau tahu, Austin. Bahkan orang dari luar yang berupaya menyusup dan melaporkan tentang rahasia ini juga langsung aku tumpas habis." jelas Lilies membuat Austin penasaran.
"Siapa?"
"Yolanda, Manager perusahaan milik Dwayne. Dia tertangkap rekaman CCTV sedang merekam segala aktivitas di sini. Untungnya aku cepat menangkapnya sebelum dia melaporkan pada bosnya."
"Aku rasa Yolanda juga menyukai Dwayne dan aku yakin caranya kali ini tidak lain hanyalah untuk menarik perhatian Dwayne saja." jelas Lilies panjang lebar.
"Bukan mengerikan, aku hanya berjuang untuk menyelamatkan diriku, perusahaanku, dan juga para Karyawanku."
"Lalu dimana Yolanda sekarang?" tanya Austin penasaran.
Lilies mengerutkan dahinya, "Untuk apa kau bertanya tentang itu?" tanya Lilies.
"Aku hanya penasaran saja, sampai mana tingkat kejahatan sepupu perempuanku." jawab Austin.
Lilies langsung melemparkan bantal ke arah Austin. "Sial." umpat Lilies. "Aku masih menyekapnya di gudang belakang ruang produksi. Besok aku akan menjualnya ke Mami Lora."
Mami Lora adalah mucikari terkenal di kota besar dengan pelanggan kelas atas. Austin dan Lilies pernah beberapa kali bertandang ke Club milik Mami Lora untuk sekedar menghabiskan waktu.
"Baiklah, kalau begitu aku izin membawa Minerva pulang terlebih dahulu. Sepertinya ia butuh istirahat." ucap Austin sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Silahkan saja, biarkan Minerva beristirahat dan jangan suruh dia untuk meladeni pria gila sepertimu." ledek Lilies yang tidak begitu digubris oleh Austin.
__ADS_1
...***...
Sedangkan di sisi lain, Minerva yang tengah menikmati pesanannya oun sambil menyalakan sistem scorpio yang diatur menyadap CCTV di ruangan Direktur Lilies untuk mengetahui apa saja yang dibicarakan antara Austin dan Lilies.
Meskipun saat ini suasana di kantin sangat ramai, Minerva tetap saja mendengar percakapan antara Austin dan Direktur Lilies. Kini Minerva tahu dimana Yolanda disekap. Sayangnya Minerva belum tahu bagaimana caranya melepaskan Yolanda.
Saat Minerva tengah berfikir bagaimana cara menyelamatkan Yolanda, Austin datang menepuk bahu Minerva.
"Aku antar pulang yuk. Kamu harus istirahat, Minerva. Aku juga sudah mengizinkan mu untuk pulang lebih awal hari ini." ucap Austin.
Minerva langsung menggelengkan kepalanya, mengingat waktu untuk menyelamatkan Yolanda tidak sedikit. "Masih banyak hal yang harus aku kerjakan. Kakak pulanglah dulu."
"Tidak bisa, Minerva. Kau harus pulang bersamaku." ucap Austin. "Kalau tidak, berikan nomor ponselmu biar nanti aku jemput."
Minerva terdiam mengingat saat ini ia masih memegang ponsel milik Yolanda. "Emmmm, ponselku rusak saat di ruang produksi tadi." ucap Minerva berbohong.
"Baiklah, bekerjalah tapi jangan terlalu lelah. Aku akan menjemputmu jam empat dan jangan pergi sebelum aku datang." ucap Austin sambil mengusap kepala Minerva.
"Okey,"
Austin pun meninggalkan Minerva, dan Minerva kembali ke ruang kerjanya.
...🍒🍒🍒...
Readers setiaku, mampir yuk ke Novel Sekadar Istri Siri Karya Aisy Arbia.
Blurb
...Sashi Arandita, gadis 28 tahun yang selalu mendambakan pernikahan sekali seumur hidup harus rela mengubur dalam-dalam prinsip hidupnya. Pasalnya, sebelum ibunya meninggal, wanita paruh baya itu meminta putrinya untuk menikah dengan Puguh Amarta, 34 tahun. Pria yang sudah dijodohkan dengannya karena menjadi wasiat almarhum ayahnya, Abdul Mahesa....
...Di sisi lain, Puguh Amarta telah memiliki istri sah yaitu Nadya Ningrum, 30 tahun. Puguh ingin menolak, tetapi karena balas budinya kepada keluarga Abdul Mahesa sehingga pria beristri itu menerima pernikahan tersebut....
...Akankah Sashi mampu menerima pernikahan ini? Ataukah memilih bercerai karena tahu kenyataan kalau dia hanyalah istri siri?...
...
__ADS_1
...