Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Pertarungan Tanpa Perkelahian


__ADS_3

Nampak di depan banyak sekelompok orang berbaju hitam dengan mengenakan topeng menghadang mobil yang ditumpangi oleh Minerva, Lilies, dan juga Pak Mamat.


Salah satu lelaki yang paling besar dan merupakan ketua kelompok tersebut mengetuk kaca jendela Pak Mamat. Lilies tampak ketakutan dengan berteriak secara histeris sedangkan Minerva tampak diam saja tidak memperlihatkan ketakutannya sedikit pun.


"Buka jendelanya atau aku pecahkan!" hardik Ketua penjahat tersebut.


Pak Mamat tampak ketakutan sampai giginya bergemeletuk. Kini bukan hanya nyawanya saja yang menjadi taruhannya, melainkan nyawa kedua Nona Mudanya juga dalam bahaya.


"Buka saja jendelanya, Pak. Jangan melawan agar kita selamat." Jawab Minerva dengan nada yang sangat santai.


Perlahan Pak Mamat membuka kaca jendelanya dan ketua penjahat tadi langsung menodongkan pistolnya. "Berikan kepada kami Putri Tuan Arthur Wycliff atau kalian akan mati dengan sia-sia!" gertak Ketua penjahat tadi.


Minerva masih diam menunggu bagaimana reaksi Lilies. Lilies yang awalnya ketakutan, kini ia mengajukan dirinya sebagai putri Arthur Wycliff.


"Aku adalah putrinya. jika kalian mau, tangkap saja aku." ucap Lilies menyerahkan dirinya.


"Jangan Non!" Pak Mamat nampak ketakutan saat Lilies menyerahkan dirinya di tangan penjahat tersebut.


Ketua penjahat tadi langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Lilies. Sedangkan Minerva hanya tersenyum kecut melihat Lilies menyerahkan diri. "Drama kolot!" pekik Minerva membuat semua orang yang mendengarnya memandang ke arah Minerva.


"Kalian fikir bisa membawa wanita itu dengan cara bodoh seperti ini?" anya Minerva yang terlihat sangat menyepelekan penjahat tersebut.


"Banyak omong!" Gertak ketua penjahat tadi. "Bawa semua wanita ini ke dalam mobil dan sekap semuanya!" perintahnya kepada para anak buahnya.


Minerva pun dibawa keluar dan kini tinggal Pak Mamat yang berada di dalam mobil. Tangan Minerva dicengkeram kuat dengan dua orang Pria yang membawanya ke mobil.


Dengan kuat Minerva mencoba melepaskan dirinya saat lengannya sudah mulai memerah. "Jangan sentuh aku dengan kasar atau kalian akan menyesal seumur hidup!" gertak Minerva.


Kedua pria tadi langsung mengibaskan tangannya yang merasakan sakit saat Minerva berusaha melepaskan dirinya. Lama kelamaan, tangan mereka tiba-tiba terasa panas seperti terbakar.


Dengan santainya Minerva masuk ke dalam salah satu mobil jeep dan duduk tepat di samping Lilies. Para penjahat yang menghadang Minerva kini mulai geleng-geleng kepala melihat Minerva yang tidak kelihatan takut sama sekali.


Saat mobil hendak dijalankan, tiba-tiba Minerva menghardik dengan kencang.


"Bos kalian itu bodoh ya! Kenapa aku dengan Lilies didudukkan berdekatan tanpa ada penjaga, sedangkan penjahatnya justru duduk di depan? Apa kalian tidak takut jika kami berdua bersekongkol untuk melarikan diri?" tanya Minerva dengan nada menggertak.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan aku saat ini sedang dijaga oleh bos kalian sendiri haaah?!!!" tanya Minerva sambil memandang tajam ke arah Lilies.


Mendengar ucapan Minerva yang terakhir. Membuat Lilies naik pitam. "Jangan dengarkan dia dan cepat jalankan mobilnya!" perintah Lilies.


Seketika Minerva terbahak-bahak. Dengan mudahnya Lilies terpancing dengan ucapannya.


"Diam!" gertak Lilies yang amarahnya sudah memuncak. "Kau akan menyesal telah meremehkan aku, Minerva." ucap Lilies.


Minerva pun terdiam dan memperlihatkan raut wajahnya yang mulai ketakutan. Melihat perubahan wajah Minerva yang tampak mulai pucat membuat Lilies kini yang tertawa terbahak-bahak.


'Kita lihat saja siapa yang akan menyesal.' gumam Minerva dalam hati.


"Aaaarrrrgghhh!" pekik penjahat yang membawa mobil yang kemudian menginjak rem nya secara mendadak.


"Ada apa?" tanya Lilies.


"Tanganku tiba-tiba tidak bisa digerakkan." keluh penjahat tadi yang seketika tangannya seperti mati rasa.


"Huft! Dasar tidak berguna!" pekik Lilies kesal. "Kau!" Lilies menunjuk ke ketua penjahat yang duduk di samping kemudi. "Cepat gantikan dia meyupir. Buang saja anak buah mu yang tidak berguna ini dan segera jalankan mobilnya menuju markas mu!" perintah Lilies.


Bahkan kepura-puraan Lilies pun tidak berarti apa-apa di mata Minerva. Terlebih dari awal Minerva sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Dan ketua penjahat itu yakin bahwa Minerva kini pasti sedang berpura-pura memperlihatkan wajah ketakutannya.


Ketua penjahat tadi turun dari mobil dan membukakan pintu mobil Minerva.


"Turunlah! Aku tidak jadi menangkap mu." ucapnya kepada Minerva membuat Minerva mengerutkan dahinya.


"Benarkah?" tanya Minerva dan ketua penjahat tadi menganggukkan kepalanya.


Saat Minerva hendak keluar dari mobil, bahunya ditahan oleh Lilies dan dicengkeam dengan kuat. "Apa-apaan ini?! Aku sudah membayar kalian dengan uang muka yang besar!" gertak Lilies kencang.


"Lanjutkan perjalanan dan nikmati Minerva sesuka hati kalian, setelah itu lenyapkan sampai tidak ada sisa dan bekasnya!" pekik Lilies.


Minerva yang mulai kesakitan karena cengkeraman Lilies pun berbalik dan menepis tangan Lilies dengan memukulnya sangat kencang.


"Sekarang kau pilih turunkan aku di sini, atau mengikuti perintah bos bodoh yang sudah memberimu uang muka?" tanya Minerva kepada ketua penjahat tadi. "Karena polisi sudah berjaga - jaga di setiap tikungan jalan yang akan kita lewati. Bahkan mereka kini sudah terhubung dengan dimana GPS yang ada dalam ponsel ku." balas Minerva.

__ADS_1


"Si al!" pekik penjahat tadi yang kemudian membiarkan Minerva turun dari mobilnya. Sedangkan ia langsung memberi komando para ank buahnya untuk putar balik.


"Dan kau," ketua penjahat tadi menunjuk ke arah Lilies. "Turun dari mobil ku, dasar pembawa si al!" umatnya sambil menarik Lilies ke luar mobil dengan kasar.


Kini mobil jeep tersebut putar balik ke arah dimana mereka menghadang Minerva. Sedangkan Lilies makin geram karena usahanya kali ini gagal total.


"Apa kita mau bertarung di sini? satu lawan satu." tanya Minerva yang sudah mulai pasang kuda-kudanya hendak menyerang Lilies.


Kini Lilies mematung tidak dapat berbuat apa-apa. Mana mungkin ia melawan Minerva kali ini dengan tangan kosong dan sendirian. Sedangkan saat Minerva menepis tangannya tadi saja rasa perihnya masih sangat terasa.


Dengan kesal Lilies menghentakkan kakinya meninggalkan Minerva seorang diri, sedangkan dari belakang tampak mobil Emir yang mendekat ke arah Minerva yang berdiri di pinggir jalan.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Emir yang sangat mengkhawatirkan Minerva.


Minerva langsung menggelengkan kepalanya. "Aku baik kak, terima kasih sudah memberi tahukan aku." ucap Minerva.


Emir langsung merengkuh pundak Minerva dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. "Aku akan mengantarkan pulang sayang dan memastikan mu selamat sampai Mansion." ucap Emir.


Minerva tersenyum mendengar Emir yang sudah berkali-kali memanggilnya dengan panggilan - sayang -.


"Memangnya kakak tidak takut akan berhadapan dengan Daddy dan Mommy nanti?" tanya Minerva.


"Tentu saja tidak, bagaimana pun kan mereka adalah calon mertua kakak." jawab Emir sambil menjalankan mobilnya.


...❤️❤️❤️...


Halooo Guys.


Mampir juga yuk ke karya temen aku. Dijamin cerita bikin penasaran.


Nama Pena : M Anha


Judul Novel : Aku juga ingin bahagia


__ADS_1


__ADS_2