
Semua fokus pada layar yang memperlihatkan Minerva yang menggunakan penutup kepala menarik Amer ke dalam kamarnya dan memaksanya untuk menciumnya dengan sangat ber gai rah. Amer awalnya terlihat menolak permintaan Minerva, tetapi lama kelamaan ia pun membalas ciuman minerva dengan sangat ga nas pula.
Minerva terus saja mengajak Amer naik ke atas tempat tidur dan keduanya bersembunyi di balik selimut. Melihat penayangan tersebut, uncle Tio sangat geram dan mulai melayangkan tangannya ke arah Amer sampai membekas.
"Kau sama sekali tidak pantas untuk putriku!" pekik Tio dengan wajah yang sangat diliputi dengan amarah.
"Dan kau, Minerva!" Uncle Tio menunjuk ke arah Minerva dengan jari telunjuknya. "You're a b*tch!" umpat Uncle Tio sambil mendorong bahu Minerva.
Dengan sigap Emir memegang tangan Uncle Tio dan menariknya untuk kembali duduk. "Jangan gegabah Tuan! Aku yakin Minerva adalah gadis yang baik-baik dibandingkan dengan putri anda." ucap Emir membuat suasana makin memanas.
Tio sama sekali tidak sudi Putrinya dibandingkanoleh Minerva yang menurutnya sangat murah han.
"Apa matamu itu buta?" tanya Tio kepada Emir. "Sudah jelas dia menggoda calon suami putriku, Emir."
Lilies pun tidak tinggal diam. Kesempatan ini ia gunakan untuk mempengaruhi Mommy Moona yang sudah tampak pucat. "Tante Moona lihat sendiri kan bagaimana sikap putri temuan tante ini? Apa tante Moona tidak malu memiliki putri seperti Minerva?" tanya Lilies nampak sangat memojokkan Minerva.
Ia sangat yakin bahwa kali ini ia akan menendang Minerva keluar dari Mansion Wycliff, bahkan nama Minerva juga akan dicoret dari keluarga Wycliff.
Moona memandang ke arah Minerva dan kini Minerva menggelengkan kepalanya. "Trust me, Mommy. Aku tidak mungkin se rendah itu." ucap Minerva yang mulai mengkhawatirkan keadaan Mommynya yang sudah tampak pucat.
"Apa tante Moona tidak pernah tahu bagaimana keluarga Wycliff memegang prinsip nilai kehidupan yang tinggi?" sindir Lilies membuat suasana semakin panas.
"Jangan pernah merendahkan istriku dan juga putri kesayangan kami Lilies. Lebih baik kau jujur apa yang sebenarnya sudah terjadi." ucap Daddy Arthur yang sudah sangat jengah dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Lilies. Tapi kali ini ia masih akan memberikan kesempatan untuk Lilies mengakui perbuatannya.
"Apa maksud Uncle?" tanya Lilies sambil mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Apa kau juga tidak paham dengan perkataanku?" tanya Daddy Arthur dengan nada bicara yang mulai meninggi. Lilies menggelengkan kepalanya dan memegang tangan daddynya.
"Lihatlah Daddy, bahkan Uncle Arthur lebih membela Minerva yang baru ia kenal dari pada aku. Sudah jelas-jelas kita lihat bersama tayangannya bagaimana Minerva menggoda Amerku." ucap Lilies meminta pembelaan kepada Daddynya.
Austin yang sudah sangat kesal kini tidak mampu menahan amarahnya melihat sikap Lilies yang menurutnya sangat keterlaluan. "Jangan banyak drama Lilies!" bentak Austin membuat semua orang yang ada kini terdiam dan memandang ke arah Austin yang sudah diliputi amarah.
"Apa kau tidak mengenal siapa Daddy ku?" tanya Austin dengan nada menggertak. "Meskipun kau sudah menghapus rekaman CCTV di kamar Minerva, tetap saja kita masih bisa mengembalikan dan melihatnya yang asli." jelas Austin yang langsung mengganti Flashdisk dan menampilkan kebenaran yang sesungguhnya.
Semua mata kini terbelalak melihat tayangan dimana Lilies sudah merencanakan semuanya untuk menjebak Minerva. Mulai dari awal Lilies memberi obat tidur pada Minerva hingga ia berusaha menghapus rekaman CCTV yang ada di ruang kerja Daddy Arthur.
Melihat Austin menayangkan rekaman yang asli, Lilies makin tidak terkendalikan. Terlebih saat ini pasti tidak akan ada lagi yang percaya dengan ucapannya meskipun itu daddynya sendiri.
Tio pun sangat malu saat mengetahui bahwa putrinya sendiri yang melakukan hal memalukan tersebut. Tangan Lilies menggenggam erat menahan kesal dan Minerva diam-diam memperhatikan gerakan Lilies.
Untung saja gerakan Minerva lebih cepat dari pada Lilies. Minerva langsung menangkis tangan Lilies yang membawa pisau dan pisau tersebut justru terlempar mengenai bahu Uncle Tio.
"Aaaarrrrgghhh." pekik Uncle Tio dan bahunya yang tertancap pisau tajam itu langsung mengulurkan darah segar.
Semuanya langsung panik memberi pertolongan pertama pada Uncle Tio, sedangkan Minerva kini mengunci tangan Lilies ke belakang sampai Lilies meraung kesakitan.
Austin dan Emir segera melarikan Uncle Tio ke rumah sakit terdekat, sedangkan Amer kini duduk menerima serangan dari Mommy Moona dan juga Tante Risa yang menampar dan memukulnya bertubi-tubi.
"Kau bermain dengan orang yang salah Lilies." bisik Minerva membuat Lilies makin meronta-ronta. Sayangnya Minerva sangat kuat mengunci tubuh Lilies hingga Lilies tak mampu berbuat apa-apa.
"Kau benar-benar petaka, Minerva! Aku menyesal bertemu denganmu! Aku sangat membencimu!" teriak Lilies dan langsung mendapat sorotan kebencian dari binar mata Tante Moona.
__ADS_1
Plak!!!
Tamparan Moona kini mendarat di pipi Lilies. "Kau sangat keterlaluan Lilies. Tante sangat kecewa dengan sikapmu kali ini." ucap Mommy Moona.
Tak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi meraung-raung mendekat ke kediaman Wycliff. Lilies dan Amer makin nampak ketakutan. Amer langsung mendekat ke arah Minerva dan bersujud di kaki Minerva.
Amer terus memohon di kaki Minerva agar polisi tidak membawa mereka berdua. Sedangkan Lilies kini terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Daddy Arthur kini mengambil alih Lilies dari tangan Minerva yang masih mengunci nya.
Polisi datang pun segera meringkus Amer dan Lilies serta membawanya ke dalam mobil. Kepergian mereka membuat Moona dan Risa sama sama bernafas lega. Malam semakin larut, Tante Risa pun memutuskan untuk menginap di Mansion Wycliff.
Hari ini benar-benar membuat Minerva sangat lelah, sejak pulang dari kantor sampai selarut ini sudah banyak hal yang ia lewati. Namun ada hal yang benar-benar membuat Minerva sangat terpukul adalah saat ia mengetahui bahwa Amer memeluknya dan juga saat Mommynya nampak sangat pucat saat melihat tayangan yang pertama tadi.
Kini Minerva berada di dalam kamar ditemani oleh Mommynya. "Maaf sudah membuat Mommy kecewa." ucap Minerva sambil memandangi Mommynya.
Mommy Moona langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang, Mommy tidak merasa kecewa sedikit pun. Mommy percaya kau adalah putri Mommy yang baik." ucap Mommy sambil memeluk Minerva.
"Tapi Mom, tubuhku sudah tidak suci lagi. Amer sudah memelukku saat aku tidak mengenakan pakaian." ucap Minerva kembali terisak mengingat tangan Amer yang melingkar di perutnya.
Pelukan Mommy Moona semakin erat sambil mengusap punggung Minerva menenangkan Putrinya yang kini menangis. "Mommy akan buat perhitungan dengan Amer." ucap Mommy Moona.
"Bagi Mommy, putri kesayangan Mommy sama sekali belum ternodai. Jadi Mommy harap jangan bersedih sayang." ucap Mommy Moona terus menenangkan Putrinya.
Lama kelamaan, Minerva pun mulai tenang dan tertidur di dekapan Mommynya. Sedangkan Daddy Arthur kini masih mengurus laporan tentang Lilies dan Amer di kantor polisi.
Hingga dini hari, Daddy Arthur berada di kantor polisi dan kini sudah ada dalam perjalanan pulang bersama Pak Mamat. Sambil menahan rasa kantuk nya, Daddy Arthur menghubungi putranya dan menanyakan kabar tentang Tio. Sayangnya ponsel Austin sama sekali tidak bisa dihubungi.
__ADS_1