
Sedangkan Yolanda malam ini masih menemani Andre di selasar rumah sakit. Lelaki yang ditabrak oleh Andre ternyata mengalami patah tulang di lengannya dan harus segera diberi tindakan operasi pemasangan pen.
"Maaf sudah merepotkan mu, Yolanda." ucapan Andre terdengar merasa sangat bersalah.
"Sudahlah, yang penting kamu gak kenapa-napa. Kamu kenal siapa orang yang kamu tabrak?" tanya Yolanda.
"Gak kenal, cuma pernah melihatnya kalau tidak salah bekerja di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Tuan Dwayne." jelas Andre.
Yolanda sudah berkali-kali menguap, dan Andre pun menawarkan bahunya untuk sandaran Yolanda.
"Kalo ngantuk sandaran aku aja Yol. Gak papa sini." tawar Andre menarik tangan Yolanda.
"Aku tidur di pangkuan kamu aja ya, Ndre." Yolanda langsung meletakkan kepalanya di pangkuan Andre.
"Eh," Andre kali ini tidak bisa mengelak karena kepala Yolanda sudah ada di pangkuannya.
Tanpa menunggu lama, mata Yolanda sudah terpejam dan Andre memandangi Yolanda dari atas.
"Cantik!" satu kata keluar dari bibir Andre.
Yolanda yang belum sepenuhnya terlelap langsung tersenyum dalam hati. Ada desiran yang berbeda saat ia mendengar Andre mengatakan bahwa dirinya cantik.
"Sayangnya bawel dan gak jelas." ucap Andre kemudian.
Seketika rasa kantuk Yolanda langsung sirna tapi ia masih tetap memejamkan matanya. Yolanda sedikit menggerakkan posisi kepalanya sampai tersentuh sesuatu yang me nge ras di ba lik ce la na Andre.
"Oh My God, Yolanda. Kau benar-benar menguji kesabaranku kali ini." gerutu Andre dan membuat Yolanda kini menahan dirinya agar tidak tertawa.
'Rasain tuh! emang enak?' kekeh Yolanda dalam hati.
'Tapi tunggu, punya Andre be sar juga ya.' kali ini Yolanda menelan ludahnya kasar. Pikirannya langsung melayang kemana-mana.
Terlebih saat ini tangan Andre terulur mengusap kepala Yolanda dan seketika membuatnya me re mang.
'Ya Ampun, Yolanda. Please tahan. Jangan malu-maluin deh. Masa diusapin gini aja udah gemetaran sih,' keluh Yolanda dalam hati.
"Aku nyaman di dekat kamu, Yol. Gak tau kenapa, aku mulai ada perasaan yang sampai sekarang aku tidak paham itu perasaan semacam apa. Entahlah, kau mampu membuatku merasa sangat tenang dan damai berada di dekatmu." ucap Andre pelan sambil terus memandangi wajah Yolanda.
Mendengar pernyataan Andre barusan membuat wajah Yolanda langsung memerah. Ia pun membuka matanya dan ...
__ADS_1
Cup!
Bibir Yolanda meninggalkan jejak tipis di bi bir Andre.
Andre sangat terkejut mendapatkan serangan tiba-tiba dari Yolanda. Yolanda kini sudah duduk manis di sampingnya. Pintu ruangan operasi pun terbuka dan menggagalkan keinginan Andre yang ingin membalas ke cu pan singkat Yolanda.
"Bagaimana keadaan pasien yang ada di dalam Dokter?" tanya Andre yang langsung berdiri mendekati dokternya.
"Operasinya sudah berhasil. Pasien juga sudah sadar, tetapi kami memintanya untuk beristirahat lebih dahulu. Anda bisa menyelesaikan administrasinya di Loket Pembayaran. Anda juga sudah bisa menemui pasien untuk melihat keadaannya." jawab Dokter tadi dan kemudian undur diri dari hadapan Andre dan Yolanda.
"Aku akan mengurus administrasinya terlebih dahulu. Apakah kau bisa menemui orang yang aku tabrak Yolanda?." pinta Andre dan Yolanda langsung menganggukkan kepalanya.
Yolanda masuk ke dalam ruangan untuk mengecek keadaan korban yang sudah di tabrak Andre. Tapi langkah Yolanda terhenti saat mengetahui dengan jelas siapa pria yang ditabrak Andre.
"Romy!"
"Andre sudah menabrak Romy?"
Yolanda mengusap wajahnya kasar dan siap berbalik keluar dari ruangan rawat inap.
"Yolanda." panggil Romy dengan suara paraunya. "Kau kah itu?"
"Terima kasih, Yolanda." ucap Romy. "Aku senang kau ada di sini."
"Aku ingin meminta maaf padamu, Yolanda dengan apa yang sudah aku lakukan dan tentunya membuatmu sangat marah dan membenciku."
Yolanda tidak menanggapi permintaan maaf dari Romy. Ia sangat kesal jika harus mengingat bagaimana kegilaan Romy yang terus menerus mengejar cintanya.
Tapi sekarang, Yolanda sedikit tidak tega melihat keadaan Romy. Terlebih Romy tidak memiliki sanak saudara satu pun di kota ini.
"Aku mohon, maafkan aku Yolanda. Bahkan aku siap menerima hukuman apapun darimu asal kau memaafkan aku." pinta Romy dengan sungguh-sungguh.
Yolanda masih saja terdiam dan mengacuhkan Romy. Tiba - tiba Romy mengalami sesak nafas dan Yolanda dengan sigap langsung memasangkan selang oksigen ke hidungnya.
"Aku akan segera memanggil dokter." ucap Yolanda yang siap untuk memencet tombol emergency.
Tangan kiri Romy langsung menarik tangan Yolanda dan menggelengkan kepalanya memberi syarat agar Yolanda tidak melakukan itu.
"Apa kau sudah lebih baik dengan memakai ini?" tanya Yolanda menunjuk ke arah selang oksigen.
__ADS_1
Romy tersenyum dan mengangguk membuat Yolanda kembali duduk di samping Romy.
"Kenapa kau tidak hati-hati Romy sampai kau tertabrak seperti ini?" tanya Yolanda sambil memandang ke arah Romy.
Romy tersenyum mendengar pertanyaan Yolanda kali ini yang terdengar mengkhawatirkan dirinya.
"Aku sangat senang mendengar mu begitu mengkhawatirkan aku, Yolanda. Aku lebih baik seperti ini asal mendapat perhatian darimu."
Kata-kata Romy kali ini terdengar oleh Andre yang baru saja selesai dari bagian Administrasi. Andre juga sangat terkejut melihat kedekatan antara Romy dengan Yolanda.
Melihat kedatangan Andre, Yolanda berusaha melepas genggaman tangan Romy, tetapi Romy tetap terus memegang tangan Yolanda.
"Maaf, aku yang sudah menabrak mu sampai lenganmu patah. Tapi Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya ?" tanya Andre memandang Romy dan Yolanda secara bergantian.
Romy tersenyum mendengar pertanyaan Andre. "Aku justru sangat bersyukur sudah kau tabrak Tuan. Dengan begini aku bisa mendapatkan perhatian dari wanita yang sangat aku cintai." jelas Romy.
Andre langsung menelan ludahnya kasar mendengar jawaban dari Romy. Ia pun menatap ke arah Yolanda dengan tatapan penuh pertanyaan. Sedangkan Yolanda hanya mengedikkan bahunya.
"Andre, Sepertinya kau kurang keras menabrak Romy. Harusnya tabrak saja dia sampai mati." celetuk Yolanda membuat Romy makin mengeratkan genggamannya dan mengecup punggung tangan Yolanda.
"Romy!" pekik Yolanda menarik tangannya. Sayangnya tarikan Yolanda kalah dengan genggaman Romy.
"Aku sangat suka ucapan pedasmu itu sayang. Aku sampai tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya dirimu jika aku benar-benar mati."
"Aku pastikan kau akan tenggelam dalam rasa kecewa yang sangat dalam atas kematianku, bukan?" ucap Romy penuh percaya diri." Lenganku patah saja kau terdengar sangat khawatir."
Yolanda membuang nafasnya kasar dan berdecih kesal. "Cih, narsis!"
"Lepaskan tanganku atau ku buat saja yang satunya patah?" ancam Yolanda dan Romy melepaskan genggamannya.
"Aku rela kedua tanganku patah asal kau mencintaiku, Yolanda."
Yolanda memutar bola matanya malas mendengar ocehan Romy yang sangat tidak bermutu menurutnya. Sedangkan Andre merasa seperti obat nyamuk yang melihat kemesraan antara Yolanda dengan Romy.
"Lebih baik kau beristirahat, Romy. Dari pada mengucapkan hal yang tidak bermanfaat. Aku ingin keluar sebentar." Yolanda beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan Romy.
Setelah Yolanda keluar dari ruangan, Romy pun beralih kepada Andre.
"Anda tidak perlu merasa bersalah, Tuan." ucap Romy pada Andre. "Kau pasti teman kerja Yolanda, ya?" tebak Romy dan Andre pun mengangguk.
__ADS_1
Kini Romy pun bercerita pada Andre tentang perasaannya terhadap Yolanda. Setelah itu Romy beristirahat dan Andre keluar dari ruangan mencari Yolanda.