Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Kerja sama


__ADS_3

Minerva kini sudah siap untuk pergi ke bank tempat Jovita bekerja untuk membantu menyelesaikan permasalahan Jovita. Saat ia keluar dari apartemennya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Emir yang sudah siap pergi ke kantor.


"Pagi Kak Emir," sapa Minerva.


Sayangnya Emir tidak membalas sapaan Minerva dan hanya menyunggingkan senyum tipisnya dan berlalu begitu saja.


"Hei, Kak. tunggu." Minerva mengamit lengan Emir. "Ada apa denganmu?" tanya Minerva yang merasa tidak suka Emir mengacuhkannya.


"Nothing!" jawab Emir singkat dan buru-buru masuk ke dalam lift. Minerva akhirnya membiarkan Emir turun duluan dan pintu lift pun mulai tertutup.


Tapi tiba-tiba pintu lift kembali terbuka dan Emir langsung menarik tangan Minerva untuk ikut masuk ke dalam.


"Kak!" pekik Minerva terkejut dengan sikap Emir.


"Kau ini sebenarnya kenapa sih? Kau terkadang bersikap seperti Tuan Dwayne yang dingin dan ketus padaku. Tapi di waktu yang lain berubah menjadi Kak Emir ku yang begitu hangat dan memperhatikan." sarkas Minerva kesal.


"Apa aku salah jika aku merasa cemburu saat tahu kau bersama Austin?" tanya Emir memandang Minerva dengan tatapan tajam.


Minerva kini tercekat tidak mampu menjawab. Debaran jantungnya kembali berdegub dengan kencang saat Emir mulai mengunci tubuhnya.


"Katakan padaku, Minerva. Apa kau mencintai Austin?" pertanyaan ini kembali terlontar dari mulut Emir.


Belum sempat terjawab, pintu lift pun terbuka dan nampak Austin berdiri tepat di depan pintu lift.


Emir membuang nafasnya kasar. "Huuuh, kenapa kejadian tidak bermutu seperti ini kembali terulang?" gerutu Emir sambil keluar dari lift dan berjalan lebih dulu meninggalkan Minerva dengan Austin.


Tapi tiba-tiba Austin menarik lengan Emir dan mencegahnya untuk pergi. "Tunggu! ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua dan ini menyangkut tentang keselamatan Minerva." ucap Austin dan Emir seketika menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apa maksud kakak?" tanya Minerva sambil mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjelaskannya di sini. Kita harus mencari tempat untuk membicarakan hal pelik ini." ucap Austin membuat Minerva dan Emir penasaran.


"Tapi aku harus pergi sekarang, Jovita pasti sedang menunggumu." kilah Minerva mengingat dirinya sudah berjanji pada Jovita akan Datang jam 9.


"Kita bicarakan di mobil sambil mengantar Minerva." Emir langsung membuat keputusan sambil menarik tangan Minerva dan menggenggamnya dengan sangat erat.


"Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya." ucap Emir yang terdengar jelas di telinga Minerva.


"Thanks kak." jawab Minerva yang perlahan membalas genggaman Emir.


Melihat kedekatan keduanya, membuat Austin tidak mau kalah. Ia pun dengan berani merangkul pundak Minerva. "Aku pun tidak akan pernah membiarkanmu dalam bahaya, sayang." ucap Austin.


Mendengar kalimat Austin barusan membuat Emir perlahan melepaskan genggamannya. "Kalian tunggu di sini, aku akan mengambil mobil dulu."


Kepergian Emir kali ini membuat Austin tersenyum smirk. 'Kau kalah beberapa langkah dariku, Emir.' batin Austin.


Tak lama mobil Emir berhenti tepat di depan Austin dan Minerva. Cepat-cepat Austin membukakan pintu untuk Minerva. Tapi Emir langsung mengeluarkan suara baritonnya meminta Minerva duduk di sampingnya.


"Minerva duduk di sampingku atau kau tidak bisa ikut dengan mobilku, Austin!" gertak Emir.


Mendengar gertakan Emir, membuat Austin tidak ciut nyali. Ia pun balas mengancam Emir. "Kalau begitu aku tidak akan memberitahu tentang apa pun itu yang membahayakan Minerva saat ini." ancam Austin.


"Oh My God." kini gantian Minerva yang menepuk dahinya. "Sampai kapan kalian akan begini terus?" tanya Minerva yang langsung masuk dan duduk di kursi belakang.


Austin tersenyum saat Minerva memilih duduk di belakang dari pada di samping Emir. Ia pun bersiap-siap untuk duduk di samping Minerva. Tapi Minerva langsung mencegahnya.


"Kak Austin duduk di samping Kak Emir atau aku turun dan memesan taksi." Minerva mulai ikut-ikutan memberikan ancaman.


Akhirnya kini Austin mengalah dan duduk di samping Emir seperti permintaan dari Minerva. Kini Emir pun mulai mengemudikan mobilnya menuju tempat kerja Jovita.

__ADS_1


"Cepat katakan apa yang membahayakan Minerva?" tanya Emir yang sudah tidak sabar.


"Daddy kembali datang dan membawa para pakar rasi bintang lagi ke Indonesia. Ini seperti delapan tahun yang lalu." ucap Austin yang kemudian menceritakan tentang cerita delapan tahun yang lalu dimana kedatangan daddynya dan seluruh anak buahnya adalah untuk memastikan Minerva memang memiliki sistem yang mereka cari atau tidak.


Tidak hanya itu, Austin juga menceritakan kegagalan daddynya yang dua kali berusaha melenyapkan nyawa Minerva. Emir yang awalnya tidak tahu jadi sangat shock mendengarnya dan juga menjadi tidak suka dengan Austin.


Ia pun menepikan mobilnya dan meminta Austin segera keluar sekarang juga.


"Keluar dari mobil ku sekarang juga!" gertak Emir dengan sangat ketus. "Aku tidak menyangka kau begitu keji, Austin!" cibir Emir.


"Aku tidak melakukan itu semua Emir!" balas Austin tidak kalah ketus dengan Emir. "Aku juga sangat tidak setuju dengan Daddy saat itu hingga hubungan kami tidak baik sampai saat ini." jelas Austin tidak terima dengan penilaian Emir.


"Sama saja! Jika tidak karena kau bercerita tentang kehebatan Minerva, ayahmu tidak akan datang hingga mencelakai Minerva." timpal Emir.


"Daddy juga tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan meledaknya jet ski yang ditumpangi Minerva di pantai. Dan aku juga sudah membuktikan penjelasan Daddy ku saat itu. Bahkan dia juga merasa bersalah atas hilangnya Minerva." Austin makin menggebu-gebu membela dirinya sendiri.


"Lalu apa tujuan daddymu datang kemari? Untuk mencelakai Minerva lagi? Haaah!!??" gertak Emir membuat Austin kini terdiam.


"Tapi kak, bukankah Kak Austin sudah bercerita dengan jujur? Setidaknya kita menghargai kejujuran yang ia lontarkan tadi. Yang terpenting sekarang aku baik-baik saja bukan dan kini berada di antar kalian?" tanya Minerva yang terdengar membela Austin.


Emir terdiam sejenak dan mencoba mengatur emosinya. "Baiklah sekarang katakan padaku apa yang kau inginkan?" tanya Emir dengan nada bicara yang lebih halus dari sebelumnya.


"Aku hanya ingin kali ini kita bekerja sama untuk menjaga Minerva. Aku benar-benar tidak mau Minerva kenapa-napa." jelas Austin membuat Minerva sedikit termenung.


Emir masih terdiam dan kini ia mulai menjalankan mobilnya. "Aku akan menyewa body guard untuk Minerva. Kau tidak perlu khawatir. Cukup jaga dirimu baik-baik. Masalah Minerva biar aku yang mengurusnya." jelas Emir.


"Tidak bisa seperti itu, kita harus jaga bersama-sama. Aku sendiri akan mengawasi gerak gerik Daddy dan anak buahnya." timpal Austin.


Emir dan Minerva pun akhirnya setuju. Kini Minerva sudah sampai di bank dan didampingi oleh Austin. Sedangkan Emir langsung menuju ke perusahaannya.

__ADS_1


__ADS_2