Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Kayak Anak Kecil


__ADS_3

Minerva membuatkan minuman untuk Dwayne sambil menetralkan perasaannya. Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.


"Kaaak, bisa tolong lihat siapa yang datang." teriak Minerva dari pantry.


"Aku tidak tahu password pintunya Minerva." jawab Dwayne.


"Angka satu sampe delapan." teriak Minerva lagi dan Dwayne pun langsung tersenyum.


Menggunakan password kunci pintu hanya saat membuka pintu dari luar saja, kalau dari dalam tidak perlu mengetikkan passwordnya. Semua hanya akal-akalan Dwayne saja agar dia bisa bebas mengunjungi Minerva saja.


Sedangkan Minerva sendiri belum sadar jika ia sudah ditipu oleh Dwayne. Dwayne beranjak dari tempat duduknya dan mengintip siapa yang mengunjungi Minerva.


"Austin! Huft, ngapain lagi sih dipake baik lagi kesini." gerutu Dwayne sambil membukakan pintu untuk Austin.


"Ngapain balik lagi kesini? Nyesel ya udah salah sangka sama Minerva?" tanya Dwayne dengan nada bicara yang ketus.


"Mana Minerva?" Austin balik bertanya sambil masuk ke dalam apartemen begitu saja.


"Siapa yang datang kaak? Biar aku buatkan minum sekalian." Minerva berteriak lagi dari pantry. Dwayne dengan malas menyebutkan nama Austin, laki-laki yang tidak pernah akur dengannya dan kini menjadi saingannya.


"Apa Minerva sudah tau jika kau adalah Emir?" tanya Austin saat mendengar Minerva memanggil Dwayne dengan sebutan kakak.


"Aku tidak perlu menjawabnya bukan?"


Kata-kata Dwayne kali ini membuat Austin sedikit gusar. Tapi sebisa mungkin ia menutupi kegusarannya. Tanpa menunggu lama, Minerva keluar dari pantry membawa nampan dan menyuguhkan minuman dan kudapan yang baru dibuatnya.


"Kak Austin dari rumah sakit?" tanya Minerva sambil menyodorkan coklat hangat dan Austin mengangguk sambil menerima coklat hangat buatan Minerva.


"Maafkan aku, Minerva. Seharusnya aku berterima kasih denganmu, bukan justru marah dan meninggalkanmu seperti tadi. Kini Lilies sudah sadar berkat usahamu juga Minerva, padahal selama ini dia tidak pernah mendengarkan nasehatku."


"Sudahlah kak, tidak apa-apa. Aku jga paham kau sangat terkejut tadi. Oh iya, Bagaimana kabar Tante Moona?" tanya Minerva kemudian.


Kali ini Dwayne seperti kebakaran jenggot mendengar Minerva menanyakan kabar Mommy nya Austin.


"Bagaimana bisa kau mengenal Tante Moona?" timpal Dwayne dengan nada tidak suka.


Dwayne pikir Minerva lebih dulu mengenal mamanya, tapi ternyata ia sudah salah. Melihat Dwayne seperti itu membuat Austin sengaja membuat Dwayne cemburu.


"Mommy sudah jauh lebih baik, Minerva. Kedaanganmu tadi benar-benar memberikan obat terbaik untuk Mommy."


"Oh iya, Mommy sebenarnya ingin kau menjaganya malam ini. Sebenarnya dia sedikit kecewa tadi saat mengetahuimu pulang saat Mommy tidur." jelas Austin.

__ADS_1


Minerva merasa sedikit bersalah mendengar penjelasan Austin. "Maaf, besok akan aku sempatkan untuk menjaga Tante Moona." timpal Minerva.


"Huft, anak dan Mommy nya sama saja. Sama-sama menyusahkan." celetuk Dwayne tidak suka mendengar cerita Austin tadi.


"Bilang saja jika kau iri karena Mommy ku lebih dulu mengenal Minerva dan dekat dengannya." Austin kali ini sedikit merasa lebih unggul dari Dwayne.


"Mama ku justru sudah membuatkan Minerva sarapan dan makan bersamanya. Tidak merepotkan seperti Mommy mu bukan?" tukas Dwayne tidak mau kalah.


"Aku sungguh sangat tidak percaya jika mamamu yang cerewet itu tidak merepotkan." celetuk Austin yang sangat mengenal Tante Risa, mamanya Dwayne.


Tante Risa dan Mommy Moona adalah sahabat dekat sejak mereka duduk di bangku SMP hingga sekarang. Keduanya sempat terpisah saat Mommy Moona harus mengikuti suaminya ke Amerika. Tapi mereka bersama lagi saat Moona kembali pulang ke Indonesia.


"Suara mamamu saja sangat membisingkan dan pastinya membuat Minerva sangat repot untuk menutup telinganya." lanjut Austin dan Dwayne langsung melemparkan bantal ke arahnya.


"Hei, jaga mulutmu atau akan kusobek-sobek nanti agar kau tau rasa! Kau tidak sadar jika Mommy mu itu juga sangat cerewet?" ucap Dwayne mulai geram.


Minerva sedikit merasa geli dan juga ngeri melihat pertengkaran antara kedua pria dewasa di hadapannya.


"Kalian berdua ini sudah seperti anak kecil saja yang berebut mainan. Sudahlah, jangan bertengkar. Aku tidak mau tempat ini seperti kapal pecah." ujar Minerva sambil me nye sap coklat hangatnya yang sudah hampir dingin.


Mendengar suara Minerva membuat keduanya langsung terdiam. Dwayne yang duduk di samping Minerva langsung menggeser sedikit posisi duduknya agar lebih dekat dengan Minerva.


"Mama kami sahabatan sejak kecil Minerva, bagaimana kami tidak hafal dengan mereka berdua." balas Austin.


"Oh yaaa. Kalau begitu kalian berdua juga sahabatan bukan?" tanya Minerva.


Austin dan Dwayne langsung menjawab secara serentak. "Tidak!!!"


"Sangat tidak mungkin aku bersahabat dengan pria se dingin dia. Itu sangat tidak mengasyikkan." Austin menunjuk ke arah Dwayne.


"Cih, siapa juga yang mau bersahabat dengan pria tidak jelas sepertimu." balas Dwayne tidak mau kalah.


"Oke oke, begini saja. Sekarang lebih baik kita membahas tentang pencabutan gugatan terhadap Direktur Lilies." Minerva memberikan usulan yang tepat untuk melerai Austin dan Dwayne.


Akhirnya pembahasan mereka kini beralih ke masalah syarat yang akan diajukan untuk Lilies agar Dwayne mencabut gugatannya.


Dwayne meminta agar Lilies benar-benar berubah dan tidak mengulangi kesalahannya saat ini karena itu sangat merugikan banyak pihak. Bahkan ia juga meminta untuk menarik semua produk yang dihasilkan Lies Food Company dari pasaran.


Selain itu, Dwayne juga akan meminta Lilies untuk mengganti seluruh bahan pembuatannya menjadi bahan yang baik untuk dikonsumsi dan juga ramah lingkungan.


Austin pun juga berjanji akan selalu mengawasi secara detail seluruh kegiatan di Lies Food Company. Kini Austin dan juga Dwayne menunggu giliran Minerva untuk memberikan masukan.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu Minerva? Aku meminta kau juga berpendapat tentang masalah ini." pinta Dwayne.


"Aku hanya ingin Direktur Lilies juga menyebutkan perusahaan mana saja yang menggunakan bahan seperti produknya. Aku ingin bahan berbahaya ituu tidak lagi digunakan oleh perusahaan mana pun." ucap Minerva yang langsung disetujui oleh keduanya.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Austin, Dwayne dan juga Minerva sudah terlihat sangat lelah dan menguap berkali-kali.


"Baiklah, kalau begitu. Sepertinya aku harus segera kembali pulang." Austin mulai bersiap-siap untuk beranjak dari tempat duduknya.


"Kau terlihat sangat lelah, Kak. Lebih baik kau beristirahat saja di sini." tawar Minerva yang tidak tega melihat Austin pulang dengan keadaan yang sangat lelah dan mengantuk.


Tawaran Minerva kali ini membuat Austin berbinar. "Kau benar-benar sangat baik, Minerva. Terima kasih atas tawaran mu." timpal Austin dan kali ini membuat Dwayne tidak terima.


"Hei, kau dilarang menginap di sini. Itu sangat tidak baik untuk Minerva. Lebih baik kau menginap saja di apartemen ku." Dwayne langsung menarik lengan Austin dan mengajaknya ke apartemennya.


"Loh, aku kan diminta untuk tidur di sini menemani Minerva." ucap Austin tidak terima.


"Nah, begitu maksudku. Kak Austin lebih baik menginap di apartemen Kak Emir dan bisa tidur di kamar satunya lagi. Selamat istirahat ya." Minerva melambaikan tangannya.


"Aku pulang Minerva, Have a Nice dream." ucap Dwayne sambil terus menarik lengan Austin.


Sesampainya di apartemennya, Dwayne langsung melepaskan lengan Austin.


"Kau cukup tidur di sofa. Tidak buruk kan bagimu. Aku akan mengambilkan selimut untukmu." ucap Dwayne berjalan ke kamar yang satunya.


"Hei, aku tidak mau. Aku mau tidur di kamar saja. Kamarmu kan ada dua." Austin tidak terima dan terus mengikuti langkah Dwayne.


"Di sofa atau tidak sama sekali? Dan jika kau mau pulang, aku pastikan Minerva akan kecewa padamu karena kau sudah mengacuhkan perhatiannya."


Kata-kata Dwayne kali ini membuat Austin tidak berkutik. "Dasar Si*l! Awas aja ya. Aku akan membalas perbuatanmu!" gerutu Austin berbalik menuju sofa dan mulai me re bah kan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Tanpa menunggu lama akhirnya pun ia tertidur.


"Dasar kebo! Baru cium bantal aja udah molor." umpat Dwayne sambil memberikan selimut untuk Austin.


☘️☘️☘️


Hai pembaca setia ku, mampir juga yuk ke novel temen aku.


Judul : Belenggu Benang Kusut


Karya : Tie tik


__ADS_1


__ADS_2