
Minerva hari ini benar-benar menghabiskan waktunya bersama Mommy Moona. Bahkan Mommy Moona sudah makin pulih keadaannya. Keduanya saling bercerita tentang kehidupan keluarga mereka.
"Minerva, apakah Mommy boleh bertanya tentang keluargamu, sayang?" tanya Mommy Moona sambil mengusap kepala Minerva.
"Emmmh, tante. Aku hanyalah anak panti asuhan yang kemudian di asuh oleh satu keluarga. Tidak ada yang menarik tentang diriku selama ini." jawab Minerva.
Mendengar jawaban Minerva membuat Moona merasa tidak enak sudah bertanya hal demikian pada Minerva, tetapi ia sangat ingin mengetahui tentang Minerva lebih detail lagi.
"Maaf jika pertanyaan Mommy menyinggung perasaanmu, sayang. Tapi bolehkah Mom tahu bagaimana cerita ibu panti saat menemukan dirimu?" tanya Mommy Moona kemudian.
"Yang aku tahu, Ibu panti menemukan aku ketika aku masih sangat merah. Berarti itu aku baru saja lahir, dan langsung di bawa ke panti asuhan." jawab Minerva yang sebenarnya mendengar dan melihat cerita dari Dewi Metis.
"Mommy juga dulu sempat melahirkan bayi perempuan dan kalau ditaksir mungkin seumuran denganmu. Hanya saja waktu itu, Mommy benar-benar tidak tahu kalau Mommy sedang mengandung."
"Mommy kira perut besar Mommy hanya efek dari makan banyak. Karena Mommy tidak mengalami gejala hamil sedikit pun. Bahkan perut Mommy juga memang sudah buncit semenjak melahirkan Austin dulu."
Mommy Moona mengenang tubuhnya dulu yang memang sedikit gemuk.
"Tiba-tiba saja perut Mommy terasa sangat sakit seperti hendak melahirkan, akhirnya Daddy membawa Mommy ke rumah sakit dan setelah itu melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik." Mommy Moona langsung tersenyum, mengingat bagaimana dulu ia sangat bahagia saat melahirkan bayi perempuan yang sangat cantik.
Meskipun ia saat itu sangat terkejut karena sama sekali tidak menyadari bahwa ia hamil dan juga pastinya belum mempersiapkan nama.
"Mommy dan Daddy benar-benar sangat bahagia waktu itu, hanya saja Austin nampak sangat cemburu dengan adik perempuannya. Sampai dia berteriak pada suster untuk membawa adik perempuannya keluar."
"Lalu, apakah sekarang Kak Austin sudah menyayangi adik perempuannya?" tanya Minerva dan air mata Mommy Moona langsung terjatuh, mengalir begitu saja.
"Tante." Minerva langsung mengambilkan tissue untuk mengusap air mata Mommy Moona.
__ADS_1
"Maaf jika pertanyaanku membuat Tante jadi sedih." ucap Minerva merasa sangat bersalah.
"Tidak apa-apa, Minerva." balas Mommy Moona. "Tujuh hari setelah Mommy melahirkan, rumah Mommy kemasukan pencuri. Anehnya tidak ada barang-barang yang hilang, tetapi Mommy kehilangan bayi perempuan Mommy. Ia telah diculik dan dibawa pergi orang yang Mommy tidak tahu dimana sekarang bayi cantik Mommy."
"Padahal waktu itu Austin juga sudah menyayanginya dan menerima bayi cantik itu sebagai adiknya." Mommy Moona memaksa dirinya untuk tersenyum meskipun sebenarnya hatinya sangat sakit untuk mengingatnya.
"Maaf, Mommy jadi curhat masalah ini. Mommy hanya masih sangat berharap bertemu dengan bayi cantik Mommy." ucap Mommy.
"It's okey, tante. Sekarang sudah waktunya minum obat dan setelah itu tante bisa istirahat agar lebih cepat pulih dan kembali ke rumah."
Minerva menyiapkan obat yang harus diminum Mommy Moona dan setelah itu ia mempersilahkan Mommy Moona untuk beristirahat.
Saat Mommy Moona beristirahat, Austin datang ke rumah sakit dan mengajak Minerva untuk makan siang.
"Aku dengar perkembangan kesehatan Mommy sangat baik. Kau tahu kenapa, Minerva?" tanya Austin dan Minerva langsung membalasnya dengan gelengan kepala.
"Karena Mommy sudah sangat lama mendambakan seorang menantu untuknya." lanjut Austin.
"Tentu saja. Apa kau tidak percaya?" tanya Austin kemudian.
"Kalo menurut aku sih tante Moona itu masih mengharapkan anak perempuannya kembali."
Austin sedikit terkejut mendengar ucapan Minerva kali ini.
"Apa Mommy bercerita tentang bayi cantiknya yang hilang saat berusia tujuh hari?" Minerva langsung menganggukkan kepala mendengar pertanyaan Austin.
"Huft, selalu seperti ini. Mommy selalu saja mengungkit tentang bayi cantik setiap kembali ke Indonesia. Maka dari itu, Daddy lebih suka jika Mommy tinggal di Amerika dari pada disini. Karena itu hanya mengorek luka lama mommy." ujar Austin.
__ADS_1
"Bahkan Mommy terkadang juga diam - diam melakukan tes DNA dengan anak perempuan yang kira-kira mirip dengannya. Lucu sekali bukan?" Austin kini terkekeh mengingat sikap abstrak Mommy nya yang selalu melakukan hal yang sia sia menurutnya.
Tetapi Minerva sama sekali tidak menganggapnya begitu. Ia juga sangat merasakan bagaimana saat pertama kali ia berjumpa dengan Dewi Metis. Betapa Dewi Metis sangat bahagia bertemu dengan dirinya setelah sekian lama tidak bersua. Terlebih saat itu beberapa hari setelah dewi Metis melahirkan, bayinya juga langsung dibawa pergi oleh panglima saat Perang Titan berlangsung.
'Kisahnya sangat mirip, ternyata ada juga kisah seperti kehidupanku.' gumam Minerva dalam hati.
"Mungkin aku juga akan melakukan hal seperti tante Moona jika aku mengalami seperti itu." gumam Minerva pelan membuat Austin langsung mengerutkan dahinya.
"Benarkah? Apa setiap wanita itu memang tidak bisa move on dari masa lalu? Bahkan kejadian ini sudah lebih dari dua puluh tahun." timpal Austin.
"Bisa jadi begitu, sekarang coba aku tanya dengan kakak. Contoh ya, sepuluh tahun yang lalu ada seorang wanita yang kakak sangat suka atau sayang dan mungkin Bisa dikatakan kakak sangat mencintainya. Tiba-tiba wanita itu pergi menghilang tanpa kabar."
"Apa kakak akan terus mencarinya, Karena hati kakak sudah terpaut dengannya. Atau kakak akan melupakannya begitu saja dan mencari wanita pengganti yang lain?" tanya Minerva membuat Austin tersentak kaget.
"Jika kakak memilih yang kedua, berarti cinta dan sayang tidak tulus dan itu hanya Perasaan dusta yang berlabelkan cinta."
Kini Austin membisu membenarkan ucapan Minerva. Selama delapan tahun yang lalu ia terus saja mencari keberadaan Minerva, meskipun lewat jejaring sosial. Sayangnya usahanya selalu nihil, tidak mendapatkan apa-apa.
Bahkan Austin tidak pernah terima jika Minerva dikatakan sudah meninggal dunia karena tidak ada bukti sama sekali. Hingga ia mendirikan cafe yang diberi nama dengan nama belakang Minerva.
Austin juga selalu berdoa agar dapat bertemu kembali dengan Minerva meskipun hanya lewat mimpi. Hingga akhirnya doanya benar-benar terkabul dan membawa kembali Minerva di hadapannya.
"Kau benar, Minerva. Kali ini aku faham dengan apa yang Mommy lakukan." ucap Austin.
"Kalau begitu, bantu Tante Moona kapan pun Tante Moona membutuhkanmu, Kak." pinta Minerva dan Austin pun langsung setuju.
...🐾🐾🐾...
__ADS_1
Sedangkan di ruangan Dwayne, kini sudah ada KaPolRes Ruben dan Pengacara Ega yang akan mengurai masalah Perusahaan milik Lilies. Lilies pun juga sudah menyebutkan perusahaan mana saja yang sudah melakukan kecurangan seperti perusahaannya.
Setelah semuanya selesai, Lilies langsung pulang bersama daddynya diantar oleh Amer. Selama perjalanan, Amer hanya menjadi pendengar setia antara Lilies dan daddynya. Keduanya nampak saling bercerita mengobati kerinduan mereka selama ini.