Gadis Scorpio

Gadis Scorpio
Salah Sangka


__ADS_3

"Aku maunya jadi pacar kamu, gimana?" tanya Andre.


❤️❤️❤️


Pertanyaan Andre kali ini membuat Yolanda tersentak. Ia mencoba menguasai dirinya untuk tidak terlihat peduli dengan pertanyaan Andre barusan. Yolanda tampak mengacuhkan sambil menikmati makan siangnya.


'Andre apaan sih pake nanyain hal yang gak penting gituh. Aku nya kan jadi keki kalo begini.' gumam Yolanda dalam hati.


Yolanda terus menghabiskan makanannya tanpa menjawab pertanyaan dari Andre. Sedangkan Andre pun kini sedang merutuki kebodohannya yang sudah mengatakan hal yang kini membuatnya sangat malu.


'Duuuh, Bisa-bisanya sih aku asal ngomong di depan Yolanda kayak gini. Udah Yolanda malah diem aja lagi Gag respect sama sekali.' gerutu Andre dalam hati.


Setelah membayar semua pesanannya, Andre dan Yolanda pun berjalan beriringan kembali keruangannya.


"Kamu tadi ngasih aku pertanyaan apa, Ndre yang belum sempat aku jawab?" tanya Yolanda memecah keheningan antara keduanya.


"Emang perlu aku ulangi?" Andre justru balik bertanya pada Yolanda untuk menutupi rasa malunya.


"Gak perlu deh." jawab Yolanda yang justru bingung harus menjawab apa jika Andre mengulangi pertanyaannya.


"Ha ha ha, kamu pasti kira aku serius kan tadi?" tawa Andre pecah seketika melihat mimik wajah Yolanda. "Aku cuma bercanda kok. Jangan dianggap serius deh." ucap Andre.


'Whatttt??!!!, ternyata Andre cuma bercanda?' pekik Yolanda dalam hati. 'Si*lan banget sih ni orang.' batin Yolanda yang kemudian jalan mendahului Andre sambil menghentak-hentakkan kakinya.


"Eh, Yolanda. Tungguin dong. Buru-buru amat." panggil Andre sambil mengikuti langkah Yolanda. Sayangnya kali ini Yolanda sama sekali tidak menghiraukan Andre dan langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.


***


Yolanda terdiam di meja kerjanya sambil menatap ke monitor komputernya. Ia masih diliputi rasa kesal saat Andre sudah bercanda di luar batas menurutnya. Ia pun berniat mengunjungi Minerva sepulang kerja dan mengetikkan pesan pada Minerva.


^^^Yolanda^^^


^^^Minerva, aku merindukanmu. Bolehkah aku datang untuk mengunjungimu? ^^^


Minerva


Tentu saja, datanglah nanti malam. Aku tinggal di Green Luxury Apartment Fourth Floor No 44B.


Balasan pesan dari Minerva setidaknya membuat Yolanda sedikit terhibur.


***

__ADS_1


Sore harinya di Rumah Sakit Gezond, Mommy Moona kembali beristirahat setelah menikmati buah delima yang dibawakan oleh Minerva dan bercerita panjang lebar pada Minerva. Perlahan-lahan, Minerva keluar dari ruangan Mommy Moona.


"Terima kasih banyak Minerva. Maaf sudah sangat merepotkanmu." ucap Austin saat Minerva keluar dari ruangan Mommy nya.


"Ayo aku antarkan pulang." tawar Austin.


Minerva pun langsung menganggukkan kepalanya karena merasa dirinya sangat lelah hari ini. Austin langsung menggandeng tangan Minerva dan keduanya berjalan bersama memasuki lift.


"Jika kakak selalu memegang tanganku seperti ini saat berjalan, nanti orang yang melihat mengira aku adalah wanita buta." ucap Minerva sambil memandang ke arah Austin.


Austin terkekeh mendengar ucapan Minerva. "Bagaimana jika seperti ini?" Kali ini Austin meletakkan tangan Minerva di lengannya dan posisi mereka makin dekat dari sebelumnya.


"Kaaaak." Minerva langsung menarik tangannya dari lengan Austin. "Nanti meraka justru mengira aku ini Mommy nya kakak." gerutu Minerva membuat Austin kali ini justru terpegun.


"Mommy?" tanya Austin mengulang kalimat Minerva.


"Hu-um" jawab Minerva sambil menganggukkan kepalanya.


Tawa Austin seketika langsung pecah. Ia baru menyadari bahwa Minerva benar - benar sangat polos.


"Hei, kenapa kakak malah tertawa? aku bicara benar bukan?"


"Ternyata bukan wajahmu saja yang imut seperti anak tujuh belas tahun. Tapi kau juga sangat polos. But, nevermind coz I like it." tukas Austin dan Minerva langsung memukul lengan kekar Austin.


Austin memegang tangan Minerva yang terus memukulinya. "Jangan marah, aku hanya bercanda. Lagi pula mana ada anak kecil yang secerdas dirimu?"


Minerva membuang wajahnya kesal dan itu justru membuatnya terlihat sangat imut. Ia terus berjalan sambil menggerutu. Sesampainya di parkiran mobil, Austin pun membukakan mobil untuk Minerva.


"Kau pasti lapar. Bagaimana jika kita mampir makan dulu. Ada menu baru di restoranku dan aku pastikan kau akan menyukainya." tawar Austin sambil mulai menjalankan mobilnya.


Mendengar tawaran dari Austin, seketika senyum Minerva merekah dan ia langsung menganggukkan kepalanya.


"Aku setuju kak." ucap Minerva girang dan Austin segera menjalankan mobilnya menuju Restorannya yang jaraknya tidak jauh dari rumah sakit.


"Oh iya kak, aku ingin membicarakan denganmu tentang tawaran kakak tadi."


"Hah!" Austin terkejut. Dia belum siap mendengarkan jawaban dari Minerva tentang perasaannya yang sempat ia utarakan tadi.


"Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang Minerva. Aku juga tidak terburu-buru untuk itu." ucap Austin gugup.


"Waaah, kebetulan sekali kalau begitu. Aku juga belum siap untuk bekerja menjadi sekretaris di perusahaan kakak. Aku sebenarnya ingin pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi aku saat ini. Jika harus jadi sekretaris, berarti aku harus belajar dari awal lagi."

__ADS_1


Penjelasan Minerva kali ini lebih membuat Austin terkejut sampai ia menginjak remnya tiba-tiba.


"Jadi yang kau maksud tawaran bekerja menjadi sekretaris?" tanya Austin dengan nada bicara yang agak tinggi.


Karena Austin mengerem mendadak, beberapa mobil yang ada di belakangnya ikut berhenti dan membunyikan klaksonnya berkali-kali. Austin pun kembali menjalankan mobilnya sambil menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya dari tadi ia berfikir bahwa Minerva akan membicarakan tentang ungkapan perasaan yang sempat kelepasan tadi pagi.


"Memang kakak tawarin aku apa lagi selain bekerja menjadi sekretaris?" tanya Minerva.


"Oh, eeeemm, iya, itu, emmm, sebenarnya...." Austin kali ini bingung harus menjawab apa.


"Ada kerjaan lain ya kak selain jadi sekretaris?" tanya Minerva.


"Oh iya, ada. Nanti kita bicarakan lagi ya. Sekarang kita makan dulu." ucap Austin karena kini mereka sudah sampai di restoran milik Austin.


Minerva pun menerima ajakan Austin. Ia pun langsung masuk ke dalam restoran dan disajikan menu yang paling spesial di Restoran saat baru saja duduk di kursi yang sudah direservasi oleh Austin.


Austin dan Minerva sama-sama menikmati makan siang mereka yang tertunda.


"Cafe Newbie kakak berubah menjadi restoran bintang 5 yang sekarang. Menunya juga sangat pas di lidah aku." puji Minerva.


"Tentu saja. Dan namanya pun sekarang berubah menjadi Lovebee Restaurant." timpal Austin bangga.


"Sepertinya kau begitu mencintaiku ya kak sampai semua usahamu saat ini selalu menggunakan nama belakangku?" celetuk Minerva dan langsung membuat Austin tersedak.


Dengan sigap Minerva menyodorkan air ke arah Austin dan Austin langsung meminumnya sambil menetralkan degub jantungnya.


"Lain kali makannya hati-hati dong kak." ucap Minerva sambil menepuk nepuk punggung Austin.


"Aku memang begitu mencintaimu, Minerva." timpal Austin dan kali ini Minerva sangat santai menanggapi pernyataan dari Austin yang ia dengar kedua kalinya.


"Terima kasih ya sudah mencintaiku dan menganggapku sebagai seorang adik. Meski kita baru bersama beberapa hari terakhir ini, aku juga sudah mengaggapmu sebagai kakakku." ucap Minerva dengan senyumnya yang merekah dari bibir indah Minerva.


Austin langsung membuang nafasnya kasar. Ia ingin sekali memperjelas perasaannya terhadap Minerva. Sayangnya lidahnya kelu untuk menyampaikannya pada Minerva.


'Oh My God, Minerva. Mana ada aku mengaggapmu sebagai adik, aku ingin lebih dari itu. Aku justru sangat ingin mempersuntingmu menjadi kekasih dan istriku.' gerutu Austin dalam hati.


Ia pun menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. 'Huuuuft, tenang Austin. Jangan terburu-buru dan kau harus sedikit lebih bersabar.' batin Austin menyemangati dirinya sendiri.


...☘️☘️☘️...


Guys, mampir yuk ke novel temen aku.

__ADS_1



__ADS_2